We ended the last article with the following paragraph:
Kami mengakhiri artikel sebelumnya dengan paragraf berikut:
“The miracle-working power manifested through spiritualism will exert its influence against those who choose to obey God rather than men. Communications from the spirits will declare that God has sent them to convince the rejecters of Sunday of their error, affirming that the laws of the land should be obeyed as the law of God. They will lament the great wickedness in the world and second the testimony of religious teachers that the degraded state of morals is caused by the desecration of Sunday. Great will be the indignation excited against all who refuse to accept their testimony.” The Great Controversy, 589, 590.
"Kuasa yang melakukan mujizat, yang dinyatakan melalui spiritisme, akan mengerahkan pengaruhnya melawan mereka yang memilih untuk lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Pesan-pesan dari roh-roh akan menyatakan bahwa Allah telah mengutus mereka untuk meyakinkan para penolak hari Minggu tentang kesalahan mereka, sambil menegaskan bahwa hukum-hukum negara harus ditaati sebagai hukum Allah. Mereka akan meratapi besarnya kejahatan di dunia dan mendukung kesaksian para pengajar agama bahwa kemerosotan moral disebabkan oleh penodaan hari Minggu. Besarlah kegeraman yang dibangkitkan terhadap semua orang yang menolak menerima kesaksian mereka." The Great Controversy, 589, 590.
The “testimony of religious teachers that the degraded state of morals is caused by the desecration of Sunday,” is a waymark of the history that leads to the enforcement of the worship of the sun in the United States. Pat Robertson, the American televangelist and founder of the Christian Broadcasting Network (CBN) and the Christian Coalition, ran for President of the United States in the Republican primaries in 1988. Robertson’s campaign focused on mobilizing conservative Christian voters and advocating for social and moral issues aligned with his evangelical beliefs. At the time of the end in 1989, in the history of the first of the eight final presidents, the leader and founder of the Christian Coalition ran for president. The presidential history of Reagan, typifies the history of the last Republican president.
“Kesaksian para pengajar agama bahwa kemerosotan moral disebabkan oleh penodaan hari Minggu,” adalah penanda dalam sejarah yang mengarah pada pemaksaan penyembahan matahari di Amerika Serikat. Pat Robertson, televangelis Amerika dan pendiri Christian Broadcasting Network (CBN) dan Christian Coalition, mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat dalam pemilihan pendahuluan Partai Republik pada tahun 1988. Kampanye Robertson berfokus pada memobilisasi pemilih Kristen konservatif dan memperjuangkan isu-isu sosial dan moral yang selaras dengan keyakinan evangelikalnya. Pada waktu akhir tahun 1989, dalam sejarah presiden pertama dari delapan presiden terakhir, pemimpin dan pendiri Christian Coalition mencalonkan diri sebagai presiden. Sejarah kepresidenan Reagan mencerminkan sejarah presiden Partai Republik terakhir.
The judgments of God are about to produce the environment that fulfills the previous passage from The Great Controversy, and which parallels the work of the Christian Coalition. The Christian Coalition came about to address the moral and social problems that Sister White identifies are unsolvable by those who hold the reins of government. The Christian Coalition in the history of Reagan, represents a similar movement in the very near future. Prophetically the Christian Coalition was typified by the National Reform Movement during the Sunday law crisis connected with the Blair Bills in the 1880’s and 1890’s. The National Reform Movement was formed in 1888, and Sister White specifically addressed that movement in her writings.
Hukuman-hukuman Allah akan segera menciptakan keadaan yang menggenapi petikan sebelumnya dari The Great Controversy, dan yang sejalan dengan pekerjaan Koalisi Kristen. Koalisi Kristen muncul untuk menangani masalah-masalah moral dan sosial yang dinyatakan oleh Nyonya White tidak dapat diselesaikan oleh mereka yang memegang kendali pemerintahan. Koalisi Kristen, dalam sejarah Reagan, mewakili sebuah gerakan serupa dalam waktu yang sangat dekat. Secara nubuatan, Koalisi Kristen diwakili oleh Gerakan Reformasi Nasional selama krisis undang-undang hari Minggu yang terkait dengan RUU Blair pada 1880-an dan 1890-an. Gerakan Reformasi Nasional dibentuk pada tahun 1888, dan Nyonya White secara khusus membahas gerakan itu dalam tulisan-tulisannya.
“A great crisis awaits the people of God. A crisis awaits the world. The most momentous struggle of all the ages is just before us. Events which for more than forty years we have upon the authority of the prophetic word declared to be impending are now taking place before our eyes. Already the question of an amendment to the Constitution restricting liberty of conscience has been urged upon the legislators of the nation. The question of enforcing Sunday observance has become one of national interest and importance. We well know what the result of this movement will be. But are we ready for the issue? Have we faithfully discharged the duty which God has committed to us of giving the people warning of the danger before them?
Sebuah krisis besar menanti umat Allah. Sebuah krisis menanti dunia. Pertempuran paling menentukan sepanjang zaman ada tepat di hadapan kita. Peristiwa-peristiwa yang selama lebih dari empat puluh tahun telah kami nyatakan, berdasarkan otoritas firman nubuatan, akan segera terjadi, kini sedang berlangsung di depan mata kita. Isu amandemen Konstitusi yang membatasi kebebasan hati nurani telah didesakkan kepada para pembuat undang-undang bangsa ini. Persoalan pemaksaan pemeliharaan hari Minggu telah menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian dan menjadi kepentingan nasional. Kita tahu benar apa hasil dari gerakan ini. Tetapi apakah kita siap menghadapi persoalan ini? Sudahkah kita dengan setia melaksanakan tugas yang Allah percayakan kepada kita untuk memberi peringatan kepada orang-orang tentang bahaya yang ada di hadapan mereka?
“There are many, even of those engaged in this movement for Sunday enforcement, who are blinded to the results which will follow this action. They do not see that they are striking directly against religious liberty. There are many who have never understood the claims of the Bible Sabbath and the false foundation upon which the Sunday institution rests. Any movement in favor of religious legislation is really an act of concession to the papacy, which for so many ages has steadily warred against liberty of conscience. Sunday observance owes its existence as a so-called Christian institution to “the mystery of iniquity;” and its enforcement will be a virtual recognition of the principles which are the very cornerstone of Romanism. When our nation shall so abjure the principles of its government as to enact a Sunday law, Protestantism will in this act join hands with popery; it will be nothing else than giving life to the tyranny which has long been eagerly watching its opportunity to spring again into active despotism.
Ada banyak orang, bahkan di antara mereka yang terlibat dalam gerakan pemaksaan hari Minggu ini, yang dibutakan terhadap akibat-akibat yang akan menyusul tindakan ini. Mereka tidak melihat bahwa mereka sedang menyerang langsung kebebasan beragama. Banyak yang belum pernah memahami tuntutan Sabat Alkitab dan dasar palsu yang menjadi tumpuan lembaga hari Minggu. Setiap gerakan yang mendukung perundang-undangan keagamaan pada hakikatnya adalah tindakan konsesi kepada kepausan, yang selama berabad-abad terus-menerus memerangi kebebasan hati nurani. Pemeliharaan hari Minggu berutang keberadaannya sebagai lembaga yang disebut Kristen kepada "rahasia kedurhakaan"; dan penegakannya akan merupakan pengakuan secara de facto terhadap prinsip-prinsip yang menjadi batu penjuru Romanisme. Ketika bangsa kita sedemikian rupa menyangkal prinsip-prinsip pemerintahannya sehingga menetapkan undang-undang hari Minggu, Protestantisme melalui tindakan ini akan bergandeng tangan dengan kepausan; ini tidak lain daripada memberi kehidupan kepada tirani yang telah lama dengan penuh hasrat menantikan kesempatan untuk bangkit kembali menjadi despotisme yang aktif.
“The National Reform movement, exercising the power of religious legislation, will, when fully developed, manifest the same intolerance and oppression that have prevailed in past ages. Human councils then assumed the prerogatives of Deity, crushing under their despotic power liberty of conscience; and imprisonment, exile, and death followed for those who opposed their dictates. If popery or its principles shall again be legislated into power, the fires of persecution will be rekindled against those who will not sacrifice conscience and the truth in deference to popular errors. This evil is on the point of realization.
Gerakan Reformasi Nasional, yang menjalankan kewenangan legislatif keagamaan, akan, ketika sepenuhnya berkembang, menunjukkan intoleransi dan penindasan yang sama seperti yang telah merajalela pada zaman-zaman lampau. Dewan-dewan manusia pada waktu itu mengambil alih prerogatif Ketuhanan, menindas kebebasan hati nurani di bawah kekuasaan despotik mereka; dan pemenjaraan, pengasingan, serta kematian menimpa mereka yang menentang ketetapan mereka. Jika kepausan atau prinsip-prinsipnya kembali diundangkan sehingga berkuasa, api penganiayaan akan dinyalakan kembali terhadap mereka yang tidak mau mengorbankan hati nurani dan kebenaran demi tunduk pada kekeliruan yang populer. Kejahatan ini hampir terwujud.
“When God has given us light showing the dangers before us, how can we stand clear in His sight if we neglect to put forth every effort in our power to bring it before the people? Can we be content to leave them to meet this momentous issue unwarned?
Ketika Tuhan telah memberikan kita terang yang menunjukkan bahaya-bahaya di hadapan kita, bagaimana kita dapat berdiri tak bercela di hadapan-Nya jika kita lalai mengerahkan segenap upaya yang ada dalam kuasa kita untuk menyampaikannya kepada orang banyak? Dapatkah kita puas membiarkan mereka menghadapi persoalan besar ini tanpa peringatan?
“There is a prospect before us of a continued struggle, at the risk of imprisonment, loss of property, and even of life itself, to defend the law of God, which is made void by the laws of men. In this situation worldly policy will urge an outward compliance with the laws of the land, for the sake of peace and harmony. And there are some who will even urge such a course from the Scripture: ‘Let every soul be subject unto the higher powers…. The powers that be are ordained of God.’
Terbentang di hadapan kita kemungkinan pergumulan yang berkelanjutan, dengan risiko pemenjaraan, kehilangan harta benda, bahkan nyawa itu sendiri, untuk membela hukum Allah, yang dibuat tidak berlaku oleh hukum-hukum manusia. Dalam situasi ini, kebijakan duniawi akan mendorong kepatuhan lahiriah kepada undang-undang negara, demi perdamaian dan keharmonisan. Dan ada sebagian yang bahkan akan menganjurkan langkah semacam itu dengan mengutip Kitab Suci: 'Hendaklah setiap orang takluk kepada penguasa-penguasa yang lebih tinggi.... Penguasa-penguasa yang ada ditetapkan oleh Allah.'
“But what has been the course of God’s servants in ages past? When the disciples preached Christ and Him crucified, after His resurrection, the authorities commanded them not to speak any more nor to teach in the name of Jesus. ‘But Peter and John answered and said unto them, Whether it be right in the sight of God to hearken unto you more than unto God, judge ye. For we cannot but speak the things which we have seen and heard.’ They continued to preach the good news of salvation through Christ, and the power of God witnessed to the message.” Testimonies, volume 5, 711–713.
“Tetapi bagaimana jalan yang ditempuh para hamba Allah pada zaman dahulu? Ketika para murid memberitakan Kristus dan Dia yang disalibkan, setelah kebangkitan-Nya, pihak berwenang memerintahkan mereka untuk tidak lagi berbicara maupun mengajar dalam nama Yesus. ‘Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab dan berkata kepada mereka, Apakah benar di hadapan Allah untuk lebih mendengarkan kamu daripada Allah, hakimilah sendiri. Sebab kami tidak dapat tidak berbicara tentang apa yang telah kami lihat dan dengar.’ Mereka terus memberitakan kabar baik tentang keselamatan melalui Kristus, dan kuasa Allah menyertai serta meneguhkan berita itu.” Testimonies, jilid 5, 711–713.
The judgments of God are about to produce an environment in the social, economic and religious sphere within the United States, that produces the logic for religious leaders to begin to call for a revival of public morality, as was typified in the 1880’s and 1890’s, and then again in the history of the president who marked the time of the end in 1989. “A great crisis awaits the people of God. A crisis awaits the world.” Sister White asks two questions, “When God has given us light showing the dangers before us, how can we stand clear in His sight if we neglect to put forth every effort in our power to bring it before the people? Can we be content to leave them to meet this momentous issue unwarned?”
Penghakiman Allah akan segera menghasilkan suatu lingkungan dalam ranah sosial, ekonomi, dan keagamaan di Amerika Serikat, yang memberikan dasar logis bagi para pemimpin agama untuk mulai menyerukan kebangkitan moralitas publik, sebagaimana dicontohkan pada tahun 1880-an dan 1890-an, dan kemudian kembali dalam sejarah presiden yang menandai waktu akhir pada tahun 1989. "Sebuah krisis besar menanti umat Allah. Sebuah krisis menanti dunia." Saudari White mengajukan dua pertanyaan, "Ketika Allah telah memberikan kepada kita terang yang menunjukkan bahaya-bahaya di hadapan kita, bagaimana kita dapat berdiri tak bercela di hadapan-Nya jika kita lalai mengerahkan segenap upaya yang ada pada kita untuk menyampaikannya kepada orang banyak? Dapatkah kita puas membiarkan mereka menghadapi perkara yang sangat penting ini tanpa peringatan?"
What light has there been showing the dangers before us, and if there has been no light, how could a loving God hold His people accountable for not presenting a warning message, if they had never heard that warning message? Dear Reader, you will be held accountable for the light represented by these articles.
Terang apa yang telah menunjukkan bahaya di hadapan kita, dan jika tidak ada terang, bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih meminta pertanggungjawaban umat-Nya karena tidak menyampaikan pesan peringatan, jika mereka belum pernah mendengar pesan peringatan itu? Pembaca yang budiman, Anda akan dimintai pertanggungjawaban atas terang yang diwakili oleh artikel-artikel ini.
The specific descriptions of the characteristics of the Democrat dragon power, the Republican false prophet power, the papal power, Islam and the Laodicean Adventist church, as well as literal Israel in these articles will be considered as hate speech by the powers that be, but they are the message from God’s Word that is established by the methodology of line upon line, and those lines are crying out that the judgments of God are about to increase and escalate in frequency.
Uraian spesifik tentang karakteristik kuasa naga Demokrat, kuasa nabi palsu Republikan, kuasa kepausan, Islam, dan Gereja Advent Laodikia, serta Israel literal dalam artikel-artikel ini akan dianggap sebagai ujaran kebencian oleh pihak yang berkuasa, namun uraian-uraian tersebut merupakan pesan dari Firman Tuhan yang diteguhkan melalui metodologi baris demi baris, dan baris-baris itu berseru bahwa penghakiman-penghakiman Allah akan segera bertambah dan kian sering terjadi.
Prophetically the Christian Coalition that came together in the history just prior to the time of the end in 1989, has a more significant application than simply the parallel to the 1880’s and the 1890’s. In the passage we just cited from Sister White she identifies spiritualism as one of two ways Satan takes the world captive, and then spends some words addressing the miracles that he will perform.
Secara nubuatan, Koalisi Kristen yang terbentuk dalam sejarah tepat sebelum waktu kesudahan pada tahun 1989 memiliki penerapan yang lebih signifikan daripada sekadar paralel dengan dekade 1880-an dan 1890-an. Dalam petikan yang baru saja kita kutip dari Saudari White, ia mengidentifikasi spiritisme sebagai salah satu dari dua cara Setan menawan dunia, lalu menguraikan mukjizat-mukjizat yang akan ia lakukan.
After the election of 1988, thus after the arrival of the Christian Coalition, there was a tremendous manifestation of satanic miracles in the realm of the dragon, the realm of the beast and the realm of the false prophet. It is important to align these phenomenon’s correctly, for they typify the arrival of Satan personating Christ after the soon coming Sunday law in the United States.
Sesudah pemilihan umum tahun 1988, jadi sesudah kemunculan Christian Coalition, terjadi manifestasi yang sangat dahsyat dari mukjizat-mukjizat satanik dalam ranah naga, ranah binatang, dan ranah nabi palsu. Adalah penting untuk menyelaraskan fenomena-fenomena ini secara tepat, sebab fenomena-fenomena itu melambangkan kedatangan Iblis yang menyamar sebagai Kristus setelah hukum Hari Minggu yang segera akan diberlakukan di Amerika Serikat.
In the realm of Catholicism, in the 1990’s the world watched as the apparitions of the so-called virgin Mary, with the accompanying miracles of bleeding statues of saints, miracles of apparitions in the sky, raining of flower petals from cloudless skies, and other absurd satanic miracles. Pilgrimages of thousands of people all around the world were carried out by the masses during those times, drawn into the delusions accomplished by these events. Books were written about them, journalists investigated, magazines such as Time and Newsweek illustrated these things on their front page.
Dalam dunia Katolik, pada tahun 1990-an dunia menyaksikan penampakan yang disebut-sebut sebagai Perawan Maria, dengan mukjizat-mukjizat yang menyertainya berupa patung-patung orang kudus yang mengeluarkan darah, penampakan di langit, turunnya kelopak bunga dari langit tak berawan, dan mukjizat-mukjizat satanik absurd lainnya. Pada masa itu, ribuan orang di seluruh dunia melakukan ziarah, terseret ke dalam delusi yang ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa ini. Buku-buku ditulis tentangnya, jurnalis menyelidikinya, majalah seperti Time dan Newsweek menampilkannya di sampul depan mereka.
In the realm of the dragon the Hindu statues of India manifested satanic miracles by the statues drinking spoons or glasses of drink offerings that were placed upon the statue’s mouths. The phenomenon that began in one small village in India spread, like the frogs of Egypt, across the whole country. The BBC television news did a commentary on the phenomenon, and as an afterthought the BBC reporter on television raised the question, “I wonder what would happen if we went to the London Museum tomorrow and offered one of the Hindu statues a glass of milk?” The next days evening news showed the very same reporter at the London Museum, and while the cameras rolled, he offered the large Hindu statue a glass of milk. When the glass touched the lips of the statue the milk was immediately sucked into the statue.
Dalam wilayah kekuasaan sang naga, patung-patung Hindu di India memanifestasikan mukjizat iblis dengan meminum persembahan minuman dari sendok atau gelas yang ditempelkan pada mulut patung-patung tersebut. Fenomena yang bermula di sebuah desa kecil di India itu menyebar, seperti katak-katak Mesir, ke seluruh negeri. Berita televisi BBC menayangkan ulasan mengenai fenomena itu, dan kemudian, sebagai pikiran yang muncul belakangan, wartawan BBC di televisi mengajukan pertanyaan, “Saya ingin tahu apa yang akan terjadi jika besok kita pergi ke Museum London dan mempersembahkan segelas susu kepada salah satu patung Hindu?” Berita malam keesokan harinya menayangkan wartawan yang sama berada di Museum London, dan sementara kamera terus merekam, ia mempersembahkan segelas susu kepada sebuah patung Hindu yang besar. Ketika gelas itu menyentuh bibir patung, susu itu seketika tersedot masuk ke dalam patung.
Within the spiritualism of the American Indian prophecies, the white buffalo known as “Miracle,” was born on August 20, 1994, on the farm of Dave and Valerie Heider near Janesville, Wisconsin. Miracle was born with white fur, and her birth was considered by some to be a fulfillment of a Native American prophecy. In various Native American traditions, the birth of a white buffalo is seen as a sacred and significant event, symbolizing unity, peace, and spiritual renewal. Miracle gained widespread attention and became a symbol of hope and spiritual significance for many people. The prophecy of the white buffalo is traced back, and directly associated with the most sacred relic of the native American’s spiritualistic religion, for it is in the initial story of the white buffalo, that the “piece pipe” was introduced into the culture.
Dalam spiritualisme nubuat-nubuat Penduduk Asli Amerika, kerbau putih yang dikenal sebagai "Miracle" lahir pada 20 Agustus 1994, di peternakan milik Dave dan Valerie Heider dekat Janesville, Wisconsin. Miracle lahir dengan bulu putih, dan kelahirannya oleh sebagian orang dianggap sebagai pemenuhan sebuah nubuat Penduduk Asli Amerika. Dalam berbagai tradisi Penduduk Asli Amerika, kelahiran seekor kerbau putih dipandang sebagai peristiwa yang sakral dan penting, melambangkan persatuan, perdamaian, dan pembaruan spiritual. Miracle mendapat perhatian luas dan menjadi simbol harapan serta makna spiritual bagi banyak orang. Nubuat tentang kerbau putih dapat ditelusuri kembali dan secara langsung dikaitkan dengan relikui paling suci dari agama spiritualistik Penduduk Asli Amerika, sebab dalam kisah awal tentang kerbau putih itulah "piece pipe" diperkenalkan ke dalam kebudayaan.
In 1994, in the realm of the false prophet of apostate Protestantism, the Holy Laughter movement, also known as the Toronto Blessing, began in January 1994 at the Toronto Airport Vineyard Church (now known as Catch The Fire Toronto) in Toronto, Ontario, Canada. It was during a series of revival meetings led by pastors John and Carol Arnott that the phenomenon of uncontrollable laughter, along with other manifestations such as shaking, crying, and falling down, or imitating animals and the animals sounds (often referred to as being “slain in the Spirit” or “drunk in the Lord”), began to occur among congregants.
Pada tahun 1994, dalam ranah nabi palsu dari Protestanisme murtad, gerakan Holy Laughter, yang juga dikenal sebagai Toronto Blessing, dimulai pada Januari 1994 di Toronto Airport Vineyard Church (kini dikenal sebagai Catch The Fire Toronto) di Toronto, Ontario, Kanada. Dalam serangkaian kebaktian kebangunan rohani yang dipimpin oleh para pendeta John dan Carol Arnott itulah fenomena tawa yang tak terkendali, bersama dengan manifestasi-manifestasi lain seperti gemetar, menangis, dan jatuh, atau menirukan binatang serta suara-suara binatang (sering disebut sebagai “rebah dalam Roh” atau “mabuk dalam Tuhan”), mulai terjadi di antara jemaat.
The laughter and other manifestations were attributed by participants to the presence and work of the Holy Spirit, leading to the term “Holy Laughter” being used to describe the phenomenon. The revival meetings at the Toronto Airport Vineyard Church attracted attention and visitors from around the world, leading to the spread of the movement to other churches and communities. People came from around the world to experience the laughter, and when they returned to their home churches, those churches would often then begin to manifest the same demonic manifestations.
Para peserta mengaitkan tawa dan berbagai manifestasi lainnya dengan kehadiran dan karya Roh Kudus, sehingga istilah "Tawa Kudus" digunakan untuk menggambarkan fenomena tersebut. Pertemuan-pertemuan kebangunan rohani di Toronto Airport Vineyard Church menarik perhatian serta pengunjung dari seluruh dunia, sehingga gerakan itu menyebar ke gereja-gereja dan komunitas-komunitas lain. Orang-orang datang dari berbagai penjuru dunia untuk mengalami tawa tersebut, dan ketika mereka kembali ke gereja-gereja asal mereka, gereja-gereja itu sering kali kemudian mulai menampilkan manifestasi demonik yang sama.
Pat Robertson founded the Christian Broadcasting Network (CBN) in 1960. CBN was one of the first television networks dedicated to Christian programming, and it played a significant role in the growth of the Christian broadcasting industry in the United States. Over the years, CBN has expanded its reach and influence through television, radio, and digital media, becoming one of the largest Christian media organizations in the world.
Pat Robertson mendirikan Christian Broadcasting Network (CBN) pada tahun 1960. CBN adalah salah satu jaringan televisi pertama yang didedikasikan untuk program-program Kristen, dan jaringan ini memainkan peran penting dalam pertumbuhan industri penyiaran Kristen di Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, CBN telah memperluas jangkauan dan pengaruhnya melalui televisi, radio, dan media digital, menjadi salah satu organisasi media Kristen terbesar di dunia.
In 1988, he founded the Christian Coalition, and ran for the presidency of the United States. His beliefs are traced back to the National Reform Movement and the Lord’s Day Alliance. Both of those organizations began in 1888, and advocated for various social reforms based on Christian principles, including the prohibition of alcohol, women’s suffrage, and the observance of the Sabbath (Sunday) as a day of rest and worship. The movement was influenced by evangelical Protestantism and sought to establish a “Christian nation” guided by biblical principles. Robertson represented the same principles as both the National Reform Movement, and the Lord’s Day Alliance. For that reason, he also established Regent University.
Pada tahun 1988, ia mendirikan Christian Coalition dan mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat. Keyakinannya dapat ditelusuri kembali ke National Reform Movement dan Lord's Day Alliance. Kedua organisasi tersebut berdiri pada tahun 1888 dan mengadvokasi berbagai reformasi sosial berdasarkan prinsip-prinsip Kristen, termasuk pelarangan alkohol, hak pilih perempuan, dan ketaatan pada Sabat (Minggu) sebagai hari istirahat dan ibadah. Gerakan itu dipengaruhi oleh Protestantisme injili dan berupaya membentuk sebuah "bangsa Kristen" yang dipandu oleh prinsip-prinsip Alkitab. Robertson mewakili prinsip-prinsip yang sama seperti National Reform Movement dan Lord's Day Alliance. Karena alasan itu, ia juga mendirikan Regent University.
Pat Robertson established Regent University in 1977, in agreement with the Catholic doctrine which William Miller so boldly opposed. Catholicism and apostate Protestantism employ a satanic biblical methodology that among other unsanctified fruits, produces the belief that there will be a thousand years of peace before Jesus actually returns. Robertson believes his university trains men and women to be those who will run Christ’s thousand-year government during the biblical Millennium. The term “regent” means, someone who acts as a representative or deputy for a ruler or monarch, who is out of the country.
Pat Robertson mendirikan Regent University pada tahun 1977, sejalan dengan doktrin Katolik yang dengan begitu berani ditentang oleh William Miller. Katolikisme dan Protestanisme murtad menggunakan metodologi Alkitabiah yang satanik yang, di antara buah-buahnya yang tidak dikuduskan lainnya, menghasilkan keyakinan bahwa akan ada seribu tahun damai sebelum Yesus benar-benar kembali. Robertson percaya universitasnya melatih pria dan wanita untuk menjadi mereka yang akan menjalankan pemerintahan seribu tahun Kristus selama Milenium Alkitabiah. Istilah "regent" berarti seseorang yang bertindak sebagai wakil atau deputi bagi seorang penguasa atau raja yang sedang berada di luar negeri.
Before the time of the end in 1989, beginning at least by 1960, the modern counterparts of the organizations who were pushing for Sunday legislation in 1888, arrived into history. After 1989, satanic manifestations rocked all three elements of the religious realm of the dragon, the beast, and the false prophet. Jesus always identifies the end of a thing with the beginning of a thing, and 1989, “the time of the end” in verse forty of Daniel eleven, begins a prophetic period that ends at the soon-coming Sunday law of verse forty-one. When that Sunday law arrives, Satan appears to “personate” Christ, and his crowning act of deception begins, with miracles and healings.
Sebelum waktu kesudahan pada tahun 1989, setidaknya sejak 1960, padanan modern dari organisasi-organisasi yang mendorong perundang-undangan hari Minggu pada tahun 1888 memasuki panggung sejarah. Setelah 1989, manifestasi Iblis mengguncang ketiga unsur dalam ranah keagamaan, yakni naga, binatang, dan nabi palsu. Yesus selalu mengidentikkan akhir suatu hal dengan permulaannya, dan tahun 1989, “waktu kesudahan” dalam ayat keempat puluh dari Daniel pasal sebelas, memulai suatu periode nubuatan yang berakhir pada undang-undang hari Minggu yang akan segera datang dalam ayat keempat puluh satu. Ketika undang-undang hari Minggu itu tiba, Iblis menampakkan diri untuk “menyamar” sebagai Kristus, dan dimulailah tindakan penipuan puncaknya, disertai mukjizat dan penyembuhan.
The history that begins that prophetic period identifies a work of an apostate Protestant movement, that leads to the Sunday law, which was typified by 1989, the beginning of that period. In 1989, the “wall” of “the iron curtain” came down, and at the end of this period the “wall of separation of Church and State” comes down. The beginning of the period marks the first two presidents of the eight final presidents. The beginning marks the papacy overcoming its enemy of atheism in the Soviet Union, and the last marks the papacy overcoming its enemy of Protestantism in the United States. The beginning identifies the first of those eight presidents (a Republican), joining hands with the antichrist of Bible prophecy, and the ending marks the last of those eight presidents joining hands with the antichrist of Bible prophecy. That first president is understood to be responsible for bringing down the wall, and the last is the one who will build the wall.
Sejarah yang mengawali periode nubuatan itu mengidentifikasi suatu tindakan dari gerakan Protestan yang murtad, yang mengarah kepada undang-undang Hari Minggu, yang dilambangkan oleh tahun 1989, awal dari periode itu. Pada tahun 1989, "tembok" dari "tirai besi" runtuh, dan pada akhir periode ini "tembok pemisah antara Gereja dan Negara" runtuh. Awal periode itu menandai dua presiden pertama dari delapan presiden terakhir. Awal itu menandai kepausan mengalahkan musuhnya, yakni ateisme, di Uni Soviet, dan yang terakhir menandai kepausan mengalahkan musuhnya, yaitu Protestanisme, di Amerika Serikat. Awal itu mengidentifikasi yang pertama dari delapan presiden tersebut (seorang Republikan), bergandengan tangan dengan antikristus dari nubuatan Alkitab, dan akhirnya menandai yang terakhir dari delapan presiden itu bergandengan tangan dengan antikristus dari nubuatan Alkitab. Presiden pertama itu dipahami sebagai pihak yang bertanggung jawab meruntuhkan tembok itu, dan yang terakhir adalah orang yang akan membangun tembok.
In 1960, through to the time of the end in 1989, the modern National Reform Movement began. After the election, satanic miracles began. Before the Sunday law the final manifestation of the national reformers will raise their political head again. At the Sunday law, the time has come for the marvelous working of Satan. In advance of the Sunday law there will, of prophetic necessity, need to be judgments which not only remove the national prosperity of the United States, but those judgments will of prophetic necessity need to be so severe and fearful that the logic is put in place that allows for those in the final national reform movement, the Christian Nationalists, to be identifying the reason for those judgments, as the citizens who are desecrating what they call the Lord’s Day.
Pada tahun 1960 dimulailah Gerakan Reformasi Nasional modern, yang berlanjut sampai pada Waktu Kesudahan pada tahun 1989. Setelah pemilihan, mukjizat-mukjizat Setan mulai terjadi. Sebelum Hukum Hari Minggu, manifestasi terakhir dari para reformis nasional akan kembali mengangkat kepala di ranah politik. Pada saat Hukum Hari Minggu, tibalah waktunya bagi pekerjaan Setan yang ajaib. Menjelang Hukum Hari Minggu akan, atas keharusan nubuatan, ada penghakiman-penghakiman yang bukan saja menghapuskan kemakmuran nasional Amerika Serikat, melainkan penghakiman-penghakiman itu, atas keharusan nubuatan, harus sedemikian berat dan menakutkan sehingga diletakkan suatu kerangka logika yang memungkinkan mereka dalam gerakan reformasi nasional terakhir itu—para Nasionalis Kristen—untuk mengidentifikasi alasan bagi penghakiman-penghakiman tersebut, yakni para warga yang menajiskan apa yang mereka sebut sebagai Hari Tuhan.
We will continue this study in the next article.
Kita akan melanjutkan kajian ini dalam artikel berikutnya.
“If our people continue in the listless attitude in which they have been, God cannot pour upon them His Spirit. They are unprepared to co-operate with Him. They are not awake to the situation and do not realize the threatened danger. They should feel now, as never before, their need of vigilance and concerted action.
Jika umat kita terus berada dalam sikap lesu yang selama ini mereka tunjukkan, Tuhan tidak dapat mencurahkan Roh-Nya atas mereka. Mereka tidak siap untuk bekerja sama dengan-Nya. Mereka tidak tanggap terhadap situasi dan tidak menyadari bahaya yang mengancam. Sekarang, lebih daripada sebelumnya, mereka seharusnya merasakan kebutuhan akan kewaspadaan dan tindakan terpadu.
“The peculiar work of the third angel has not been seen in its importance. God meant that His people should be far in advance of the position which they occupy today. But now, when the time has come for them to spring into action, they have the preparation to make. When the National Reformers began to urge measures to restrict religious liberty, our leading men should have been alive to the situation and should have labored earnestly to counteract these efforts. It is not in the order of God that light has been kept from our people—the very present truth which they needed for this time. Not all our ministers who are giving the third angel’s message really understand what constitutes that message. The National Reform movement has been regarded by some as of so little importance that they have not thought it necessary to give much attention to it and have even felt that in so doing they would be giving time to questions distinct from the third angel’s message. May the Lord forgive our brethren for thus interpreting the very message for this time.
Pekerjaan khas malaikat ketiga belum dipahami pentingnya. Allah bermaksud agar umat-Nya jauh lebih maju daripada posisi yang mereka duduki sekarang. Tetapi kini, ketika waktunya telah tiba bagi mereka untuk bergerak, mereka justru masih harus mempersiapkan diri. Ketika para Reformis Nasional mulai mendesakkan langkah-langkah untuk membatasi kebebasan beragama, para pemimpin kita seharusnya peka terhadap situasi itu dan seharusnya bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menangkal upaya-upaya ini. Bukanlah kehendak Allah bahwa terang—kebenaran masa kini yang justru mereka perlukan pada waktu ini—telah dijauhkan dari umat kita. Tidak semua pendeta kita yang menyampaikan pekabaran malaikat ketiga benar-benar memahami apa yang sesungguhnya merupakan pekabaran itu. Gerakan Reformasi Nasional telah dipandang oleh sebagian orang demikian tidak penting sehingga mereka tidak menganggap perlu memberinya banyak perhatian, dan bahkan merasa bahwa dengan berbuat demikian mereka hanya akan mencurahkan waktu pada persoalan-persoalan yang terpisah dari pekabaran malaikat ketiga. Kiranya Tuhan mengampuni saudara-saudara kita karena menafsirkan sedemikian rupa pekabaran yang justru untuk masa ini.
“The people need to be aroused in regard to the dangers of the present time. The watchmen are asleep. We are years behind. Let the chief watchmen feel the urgent necessity of taking heed to themselves, lest they lose the opportunities given them to see the dangers.
Masyarakat perlu disadarkan akan bahaya pada masa kini. Para penjaga tertidur. Kita tertinggal bertahun-tahun. Hendaklah para penjaga utama merasakan kebutuhan mendesak untuk memperhatikan diri mereka, supaya jangan sampai mereka kehilangan kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk melihat bahaya-bahaya itu.
“If the leading men in our conferences do not now accept the message sent them by God, and fall into line for action, the churches will suffer great loss. When the watchman, seeing the sword coming, gives the trumpet a certain sound, the people along the line will echo the warning, and all will have opportunity to make ready for the conflict. But too often the leader has stood hesitating, seeming to say: ‘Let us not be in too great haste. There may be a mistake. We must be careful not to raise a false alarm.’ The very hesitancy and uncertainty on his part is crying: “‘Peace and safety.” Do not get excited. Be not alarmed. There is a great deal more made of this religious amendment question than is demanded. This agitation will all die down.’ Thus he virtually denies the message sent from God, and the warning which was designed to stir the churches fails to do its work. The trumpet of the watchman gives no certain sound, and the people do not prepare for the battle. Let the watchman beware lest, through his hesitancy and delay, souls shall be left to perish, and their blood shall be required at his hand.
Jika para pemimpin terkemuka dalam konferensi-konferensi kita sekarang tidak menerima pekabaran yang diutus Allah kepada mereka dan tidak masuk dalam barisan untuk bertindak, gereja-gereja akan mengalami kerugian besar. Ketika sang penjaga, melihat pedang datang, meniup sangkakala dengan bunyi yang pasti, orang-orang di sepanjang barisan akan menggemakan peringatan itu, dan semua akan mendapat kesempatan untuk bersiap menghadapi konflik. Namun terlalu sering pemimpin berdiri ragu-ragu, seakan berkata: 'Janganlah kita terlalu tergesa-gesa. Mungkin ada kekeliruan. Kita harus berhati-hati agar tidak mengeluarkan peringatan palsu.' Keragu-raguan dan ketidakpastiannya itu sendiri seakan berteriak: 'Damai dan aman. Jangan terlampau bersemangat. Jangan cemas. Masalah amandemen keagamaan ini dibesar-besarkan jauh melampaui yang semestinya. Gejolak ini akan mereda.' Dengan demikian ia pada hakikatnya menyangkal pekabaran yang diutus Allah, dan peringatan yang dimaksudkan untuk membangkitkan gereja-gereja gagal menjalankan tugasnya. Sangkakala sang penjaga tidak memberikan bunyi yang pasti, dan umat tidak bersiap untuk pertempuran. Hendaklah sang penjaga waspada, jangan sampai, karena keragu-raguan dan kelambatannya, jiwa-jiwa dibiarkan binasa, dan darah mereka akan dituntut dari tangannya.
“We have been looking many years for a Sunday law to be enacted in our land; and, now that the movement is right upon us, we ask: Will our people do their duty in the matter? Can we not assist in lifting the standard and in calling to the front those who have a regard for their religious rights and privileges? The time is fast approaching when those who choose to obey God rather than man will be made to feel the hand of oppression. Shall we then dishonor God by keeping silent while His holy commandments are trodden underfoot?
Kami telah bertahun-tahun menantikan diberlakukannya undang-undang hari Minggu di negeri kita; dan sekarang, ketika gerakan itu telah berada di ambang pintu, kami bertanya: Akankah umat kita menjalankan kewajiban mereka dalam hal ini? Tidakkah kita dapat membantu mengangkat panji dan mengajak tampil ke depan mereka yang menghargai hak dan keistimewaan keagamaan mereka? Waktunya segera tiba ketika mereka yang memilih untuk taat kepada Allah daripada kepada manusia akan merasakan cengkeraman penindasan. Akankah kita kemudian menghinakan Allah dengan berdiam diri sementara perintah-perintah-Nya yang kudus diinjak-injak?
“While the Protestant world is by her attitude making concessions to Rome, let us arouse to comprehend the situation and view the contest before us in its true bearings. Let the watchmen now lift up their voice and give the message which is present truth for this time. Let us show the people where we are in prophetic history and seek to arouse the spirit of true Protestantism, awaking the world to a sense of the value of the privileges of religious liberty so long enjoyed.
Sementara dunia Protestan melalui sikapnya membuat konsesi kepada Roma, marilah kita bangkit untuk memahami situasi dan memandang pertarungan di hadapan kita dalam hakikatnya yang sebenarnya. Biarlah para penjaga kini meninggikan suara mereka dan menyampaikan pesan yang merupakan kebenaran masa kini bagi saat ini. Mari kita tunjukkan kepada orang-orang di mana posisi kita dalam sejarah nubuatan dan berupaya membangkitkan semangat Protestanisme yang sejati, membangunkan dunia kepada kesadaran akan nilai hak-hak istimewa kebebasan beragama yang telah sekian lama dinikmati.
“God calls upon us to awake, for the end is near. Every passing hour is one of activity in the heavenly courts to make ready a people upon the earth to act a part in the great scenes that are soon to open upon us. These passing moments, that seem of so little value to us, are weighty with eternal interests. They are molding the destiny of souls for everlasting life or eternal death. The words we utter today in the ears of the people, the works we are doing, the spirit of the message we are bearing, will be a savor of life unto life or of death unto death.
Tuhan memanggil kita untuk bangun, karena kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Setiap jam yang berlalu dipenuhi aktivitas di balairung surgawi untuk mempersiapkan suatu umat di bumi agar mengambil bagian dalam peristiwa-peristiwa besar yang segera akan tersingkap di hadapan kita. Saat-saat yang berlalu ini, yang bagi kita tampak begitu kecil nilainya, sarat dengan kepentingan kekal. Saat-saat itu sedang menentukan nasib jiwa-jiwa bagi hidup yang kekal atau kematian yang kekal. Kata-kata yang kita ucapkan hari ini di telinga orang banyak, pekerjaan yang kita lakukan, roh dari pekabaran yang kita bawa, akan menjadi bau kehidupan yang memberi kehidupan atau bau kematian yang mematikan.
“My brethren, do you realize that your own salvation, as well as the destiny of other souls, depends upon the preparation you now make for the trial before us? Have you that intensity of zeal, that piety and devotion, which will enable you to stand when opposition shall be brought against you? If God has ever spoken by me, the time will come when you will be brought before councils, and every position of truth which you hold will be severely criticized. The time that so many are now allowing to go to waste should be devoted to the charge that God has given us of preparing for the approaching crisis.” Testimonies, volume 5, 714–716.
"Saudara-saudaraku, apakah kalian menyadari bahwa keselamatan kalian sendiri, juga nasib jiwa-jiwa lain, bergantung pada persiapan yang sekarang kalian lakukan untuk ujian yang ada di hadapan kita? Apakah kalian memiliki kesungguhan semangat, kesalehan, dan pengabdian yang akan memampukan kalian untuk tetap teguh ketika perlawanan bangkit melawan kalian? Jika Allah pernah berbicara melalui saya, akan tiba waktunya ketika kalian akan dibawa ke hadapan dewan-dewan, dan setiap pendirian kebenaran yang kalian pegang akan dikritik dengan tajam. Waktu yang kini dibiarkan terbuang oleh begitu banyak orang seharusnya dicurahkan untuk tugas yang telah Allah berikan kepada kita, yakni mempersiapkan diri menghadapi krisis yang mendekat." Testimonies, jilid 5, 714–716.