In the book titled, Hitler’s Pope, the author John Cornwell starts the story of the future pope who reigned when Hitler ruled Germany, with his grandfather and Pope Pius IX, who were driven out of the City of Rome. When Pius IX fled from the city of Rome, disguised as a nun, the only man he took with him was the future pope’s grandfather. Cornwall addresses the close relationship of the two men, and thereafter identifies how the future pope’s father also was connected with the power center of the Catholic Church. In doing so he identifies the social, political and religious environment of the history from the time of Pius IX, through World War II. The overview of history is tremendously informative.

Dalam buku berjudul Hitler’s Pope, penulis John Cornwell memulai kisah tentang paus masa depan yang memerintah ketika Hitler berkuasa di Jerman, dengan kakeknya dan Paus Pius IX, yang diusir dari Kota Roma. Ketika Pius IX melarikan diri dari kota Roma, dengan menyamar sebagai seorang biarawati, satu-satunya pria yang dibawanya serta ialah kakek paus masa depan itu. Cornwell menyoroti hubungan erat kedua pria tersebut, dan selanjutnya menunjukkan bagaimana ayah paus masa depan itu juga terkait dengan pusat kekuasaan Gereja Katolik. Dengan demikian ia mengidentifikasi lingkungan sosial, politik, dan religius dalam sejarah sejak masa Pius IX hingga Perang Dunia II. Tinjauan sejarah itu sangat informatif.

“Another step in papal assumption was taken, when, in the eleventh century, Pope Gregory VII proclaimed the perfection of the Roman Church. Among the propositions which he put forth was one declaring that the church had never erred, nor would it ever err, according to the Scriptures. But the Scripture proofs did not accompany the assertion. The proud pontiff also claimed the power to depose emperors, and declared that no sentence which he pronounced could be reversed by anyone, but that it was his prerogative to reverse the decisions of all others.

Langkah lain dalam klaim kepausan diambil ketika, pada abad kesebelas, Paus Gregorius VII memaklumkan kesempurnaan Gereja Roma. Di antara proposisi yang ia kemukakan terdapat satu yang menyatakan bahwa gereja tidak pernah keliru, dan tidak akan pernah keliru, menurut Kitab Suci. Namun bukti Kitab Suci tidak menyertai pernyataan itu. Sang pontif yang congkak juga mengklaim kewenangan untuk melengserkan para kaisar, dan menyatakan bahwa tidak ada putusan yang ia jatuhkan dapat dibatalkan oleh siapa pun, melainkan bahwa merupakan hak prerogatifnya untuk membatalkan keputusan semua pihak lain.

“A striking illustration of the tyrannical character of this advocate of infallibility was given in his treatment of the German emperor, Henry IV. For presuming to disregard the pope’s authority, this monarch was declared to be excommunicated and dethroned. Terrified by the desertion and threats of his own princes, who were encouraged in rebellion against him by the papal mandate, Henry felt the necessity of making his peace with Rome. In company with his wife and a faithful servant he crossed the Alps in midwinter, that he might humble himself before the pope. Upon reaching the castle whither Gregory had withdrawn, he was conducted, without his guards, into an outer court, and there, in the severe cold of winter, with uncovered head and naked feet, and in a miserable dress, he awaited the pope’s permission to come into his presence. Not until he had continued three days fasting and making confession, did the pontiff condescend to grant him pardon. Even then it was only upon condition that the emperor should await the sanction of the pope before resuming the insignia or exercising the power of royalty. And Gregory, elated with his triumph, boasted that it was his duty to pull down the pride of kings.” The Great Controversy, 57.

Sebuah gambaran mencolok tentang sifat tiranik dari pendukung doktrin ketidakbersalahan ini tampak dalam perlakuannya terhadap kaisar Jerman, Henry IV. Karena dianggap berani mengabaikan otoritas paus, penguasa ini dinyatakan diekskomunikasi dan diturunkan dari takhta. Ketakutan oleh pembelotan dan ancaman dari para pangerannya sendiri, yang didorong untuk memberontak terhadapnya oleh mandat kepausan, Henry merasa perlu berdamai dengan Roma. Bersama istrinya dan seorang pelayan setia, ia menyeberangi Pegunungan Alpen pada pertengahan musim dingin, agar dapat merendahkan diri di hadapan paus. Setibanya di kastel tempat Gregorius menyingkir, ia, tanpa para pengawalnya, dibawa ke pelataran luar; dan di sana, dalam dingin musim dingin yang menggigit, dengan tanpa penutup kepala dan bertelanjang kaki, serta berpakaian lusuh, ia menunggu izin paus untuk menghadap. Baru setelah ia berpuasa dan mengaku dosa selama tiga hari, sang pontif berkenan memberinya pengampunan. Bahkan saat itu pun, hanya dengan syarat bahwa kaisar harus menunggu pengesahan paus sebelum mengenakan kembali tanda-tanda kebesaran atau menjalankan kekuasaan kekaisarannya. Dan Gregorius, bangga atas kemenangannya, menyombongkan diri bahwa tugasnyalah meruntuhkan kesombongan para raja. Kontroversi Besar, 57.

Gregory VII was an “advocate of infallibility,” but the ridiculous claim was not made an official doctrine (dogma), until Pius IX, who made the foolish claim an established doctrine at the first Vatican Council. The doctrine was passed July 18, 1870, one hundred and fifty years to the day before the first disappointment of the one hundred and forty-four thousand.

Gregory VII adalah seorang "penganjur infalibilitas", tetapi klaim yang menggelikan itu belum dijadikan doktrin resmi (dogma) sampai Pius IX, yang menjadikan klaim bodoh itu sebagai doktrin yang mapan pada Konsili Vatikan Pertama. Doktrin itu disahkan pada 18 Juli 1870, tepat seratus lima puluh tahun sebelum kekecewaan pertama dari seratus empat puluh empat ribu, pada tanggal yang sama.

What is informative about the history is that when Pius IX organized the first Vatican Council, and implemented his doctrine of infallibility, his motivation was brought about by his hatred of what was called “modernism.” It was not rooted in the idea that a pope could make no errors when defining biblical doctrines, it was a defense of the papal opposition to the influence that had been produced by the French Revolution. It was directed against what would ultimately be known as Communism.

Hal yang dapat dipelajari dari sejarah adalah bahwa ketika Pius IX menyelenggarakan Konsili Vatikan Pertama dan menerapkan doktrin infalibilitasnya, motivasinya didorong oleh kebenciannya terhadap apa yang disebut "modernisme." Hal itu tidak berakar pada gagasan bahwa seorang paus tidak mungkin melakukan kesalahan ketika merumuskan doktrin-doktrin Alkitab; melainkan merupakan pembelaan atas penentangan kepausan terhadap pengaruh yang ditimbulkan oleh Revolusi Prancis. Hal itu diarahkan melawan apa yang pada akhirnya akan dikenal sebagai Komunisme.

The French Revolution brought about an upheaval in the ruling structure of European nations, with a particular hatred for the monarchy that is the papacy. It was an Italian Republican revolt that had temporarily driven Pius IX, and his right-hand man out of Rome. The “modernism,” that was represented by the various philosophies that were produced by the French Revolution was Pius IX’s, arch enemy, and his doctrine of infallibility was designed to sustain every claim that the pope made against the modernists ideas that were produced by the French Revolution.

Revolusi Prancis mengguncang struktur pemerintahan negara-negara Eropa, dengan kebencian khusus terhadap monarki, yakni kepausan. Sebuah pemberontakan kaum Republikan Italia sempat mengusir Pius IX dan tangan kanannya dari Roma. Modernisme yang diwakili oleh berbagai filsafat yang lahir dari Revolusi Prancis merupakan musuh bebuyutan Pius IX, dan doktrin infalibilitasnya dirancang untuk menopang setiap klaim yang dibuat Paus terhadap gagasan-gagasan modernis yang lahir dari Revolusi Prancis.

Daniel chapter eleven, verse forty identifies that in 1798, the king of the south (atheistic France), delivered the deadly wound to the king of the north (the papacy).

Daniel pasal sebelas, ayat empat puluh menyatakan bahwa pada tahun 1798, raja dari selatan (Prancis ateis) menimpakan luka mematikan kepada raja dari utara (kepausan).

Pius IX’s doctrine of infallibility was connected with the war represented by verse forty of Daniel eleven, and from the latter part of 1869 to the following year Pius IX called together the first Vatican Council, known as Vatican 1, for the purpose of confirming that the pope was the head of Catholicism, and that Catholicism was the head of all the churches, as had been proclaimed by Justinian’s decree in the year 533.

Doktrin infalibilitas Pius IX berhubungan dengan peperangan yang dilambangkan oleh ayat empat puluh dari Daniel sebelas, dan dari bagian akhir tahun 1869 hingga tahun berikutnya Pius IX menghimpunkan Konsili Vatikan pertama, yang dikenal sebagai Vatikan I, dengan tujuan meneguhkan bahwa paus adalah kepala Katolisisme, dan bahwa Katolisisme adalah kepala dari semua gereja, sebagaimana telah diproklamasikan oleh dekret Yustinianus pada tahun 533.

The Second Vatican Council, also known as Vatican II, was held from 1962 to 1965. It was a landmark event in the history of the Catholic Church, and one of the most significant ecumenical councils in modern times. The council convened under the leadership of Pope John XXIII and continued during the pontificate of Pope Paul VI after John XXIII’s death in 1963. It is important to recognize the distinct difference between these two councils.

Konsili Vatikan Kedua, juga dikenal sebagai Vatikan II, berlangsung dari tahun 1962 hingga 1965. Peristiwa ini merupakan tonggak dalam sejarah Gereja Katolik, dan salah satu konsili ekumenis paling penting pada zaman modern. Konsili tersebut diselenggarakan di bawah kepemimpinan Paus Yohanes XXIII dan berlanjut selama masa kepausan Paus Paulus VI setelah wafatnya Yohanes XXIII pada tahun 1963. Penting untuk mengakui perbedaan yang jelas antara kedua konsili ini.

The first council was to establish what is called the “primacy,” of the pope, meaning that the pope is the supreme ruler, teacher and shepherd of the Church, responsible for preserving and interpreting the doctrines of faith. His authority consisted in defining dogmas, issuing doctrinal decrees, and making authoritative pronouncements on matters of faith and morals, known as papal infallibility. It includes the pope’s jurisdictional authority over the universal church, including the power to appoint bishops, regulate the sacraments, and govern the church’s administration.

Konsili yang pertama dimaksudkan untuk menetapkan apa yang disebut “primasi” paus, yang berarti bahwa paus adalah penguasa, pengajar, dan gembala tertinggi Gereja, yang bertanggung jawab untuk memelihara dan menafsirkan doktrin-doktrin iman. Wewenangnya mencakup penetapan dogma, penerbitan dekret-dekret doktrinal, dan penyampaian pernyataan-pernyataan yang berwibawa mengenai perkara-perkara iman dan moral, yang dikenal sebagai infalibilitas paus. Hal itu juga mencakup otoritas yuridiksional paus atas Gereja universal, termasuk kuasa untuk mengangkat uskup, mengatur sakramen-sakramen, dan memerintah administrasi Gereja.

The second council was to redirect the church into an ecumenical entity. The councils were directly opposite propositions. The conservative first council was contradicted by the liberal second council. Those two factions were as different as night and day, and the prophecy that is attributed to the three secrets of Fatima identify an internal war fitly represented by these two councils.

Konsili kedua dimaksudkan untuk mengarahkan ulang gereja menjadi entitas ekumenis. Kedua konsili itu bertolak belakang. Konsili pertama yang konservatif dibantah oleh konsili kedua yang liberal. Kedua faksi itu bagai siang dan malam, dan nubuat yang dikaitkan dengan tiga rahasia Fatima mengidentifikasi sebuah perang internal yang dengan tepat diwakili oleh kedua konsili ini.

The prophecy identifies a class who uphold the primacy represented by Pius IX as being represented by what is either called the “white pope,” the “good pope,” or the “good bishop”, and the other class, associated with Vatican II, are represented by the “black pope,” or the “bad pope,” or the “bad bishop.” The controversy of the two political concepts is represented when you visit the shrine of the miracle of Fatima, in Fatima, Portugal. When entering, the walkway is set between a statue of a black pope on one side, and a white pope on the other side.

Nubuat itu mengidentifikasi suatu golongan yang menjunjung primat yang diwakili oleh Pius IX, yang digambarkan sebagai "paus putih", "paus baik", atau "uskup baik"; sedangkan golongan lainnya, yang dikaitkan dengan Konsili Vatikan II, digambarkan sebagai "paus hitam", "paus jahat", atau "uskup jahat". Kontroversi antara dua konsep politik itu tercermin ketika Anda mengunjungi tempat suci mukjizat Fatima di Fatima, Portugal. Saat masuk, jalur pejalan kaki diapit oleh patung paus hitam di satu sisi dan paus putih di sisi lainnya.

It therefore becomes part of the heritage of the man that would ultimately become what the book identifies as Hitler’s pope, that his roots are entwined in the struggle between modernism (the king of the south), and papal primacy (the king of the north).

Karena itu, hal ini menjadi bagian dari warisan pria yang kelak menjadi sosok yang oleh buku itu disebut sebagai 'pausnya Hitler', yakni bahwa akar-akarnya terjalin dalam pergulatan antara modernisme (raja dari selatan) dan primat kepausan (raja dari utara).

It is to be understood that the author of the book we are considering was a Catholic of good standing, and his stated purpose for writing the book was to shed light upon the claim that the pope that reigned during World War 2 had supported Hitler, the Nazi’s or had any culpability in the holocaust against the Jews, and others. When Cornwell addresses Pius XII’s grandfather, who was the right-hand man that ordained the Vatican 1 council, the history of the struggle between the kings of the south and north is being acted out in that very history. When the “Republicanism” revolution reached Italy, for about a year, the Italians drove Pius IX out of the city of Rome, and from then on, even after he returned, all the papacy has ever owned was the one hundred and ten acres, known as Vatican City.

Perlu dipahami bahwa penulis buku yang sedang kita pertimbangkan adalah seorang Katolik yang berada dalam kedudukan baik, dan tujuan yang dinyatakannya dalam menulis buku itu adalah untuk menjelaskan tuduhan bahwa paus yang memerintah selama Perang Dunia II telah mendukung Hitler, kaum Nazi, atau memiliki keterlibatan apa pun dalam holokaus terhadap orang-orang Yahudi dan yang lainnya. Ketika Cornwell membahas kakek Pius XII, yang merupakan tangan kanan yang menyelenggarakan Konsili Vatikan I, sejarah pergumulan antara raja-raja selatan dan utara sedang diperagakan dalam sejarah itu sendiri. Ketika revolusi “Republikanisme” mencapai Italia, selama kira-kira satu tahun orang-orang Italia mengusir Pius IX dari kota Roma, dan sejak saat itu, bahkan setelah ia kembali, segala yang pernah dimiliki kepausan hanyalah seratus sepuluh ekar, yang dikenal sebagai Kota Vatikan.

The only way he was even able to return to the Vatican is with the help of French troops, and a loan from the Rothschilds, the infamous Jewish bankers. To intelligently understand the papal complicity in the holocaust during World War II, requires some basic understanding of Europe’s attitude towards the Jews since the crucifixion of Christ. The book suggests that antisemitism and racism are two different attitudes, claiming Hitler’s hatred of the Jews was racist, for Hitler viewed the Jews as a lesser category of human beings, whereas antisemitism was the hatred of the Jews because they killed God. Whether they are one and the same, or there is actually a distinction between the two, the reality of the plight of the Jews is worth understanding.

Satu-satunya cara ia bahkan dapat kembali ke Vatikan adalah dengan bantuan pasukan Prancis, dan pinjaman dari keluarga Rothschild, para bankir Yahudi yang termasyhur buruk namanya. Untuk memahami secara cerdas keterlibatan kepausan dalam holokaus selama Perang Dunia II, diperlukan suatu pemahaman dasar tentang sikap Eropa terhadap orang-orang Yahudi sejak penyaliban Kristus. Buku itu mengemukakan bahwa antisemitisme dan rasisme adalah dua sikap yang berbeda, dengan menyatakan bahwa kebencian Hitler terhadap orang-orang Yahudi bersifat rasial, sebab Hitler memandang orang-orang Yahudi sebagai kategori manusia yang lebih rendah, sedangkan antisemitisme adalah kebencian terhadap orang-orang Yahudi karena mereka membunuh Allah. Apakah keduanya sesungguhnya sama saja, atau memang ada perbedaan di antara keduanya, kenyataan mengenai penderitaan orang-orang Yahudi patut dipahami.

For instance, in America today if the word “ghetto,” is used most think it is the definition of the poor, run down side of town. But the term “ghetto,” originally referred to a section of a city, especially in Venice, Italy, where Jews were compelled to live during the Middle Ages. The first ghetto was established in Venice in 1516, when the Venetian Republic confined Jews to a designated area of the city known as the “geto nuovo” (new foundry), which eventually became known as the ghetto.

Sebagai contoh, di Amerika dewasa ini, jika kata “ghetto” digunakan, kebanyakan orang menganggapnya sebagai sebutan bagi kawasan kota yang miskin dan kumuh. Namun, istilah “ghetto” pada mulanya merujuk kepada suatu bagian kota, khususnya di Venesia, Italia, tempat orang-orang Yahudi dipaksa untuk tinggal pada Abad Pertengahan. Ghetto pertama didirikan di Venesia pada tahun 1516, ketika Republik Venesia membatasi orang-orang Yahudi pada suatu wilayah tertentu di kota itu yang dikenal sebagai “geto nuovo” (pengecoran baru), yang kemudian dikenal sebagai ghetto.

In Europe through the Middle Ages, Jews were restricted as to where they could live, and also the professions they were allowed to practice. The restrictions were based upon the old definition of antisemitism, which referred to the belief that the Jews had killed God, and that all of their subsequent problems had been brought upon themselves through their own actions.

Di Eropa selama Abad Pertengahan, orang Yahudi dibatasi mengenai di mana mereka boleh tinggal, dan juga profesi yang diizinkan untuk mereka tekuni. Pembatasan tersebut didasarkan pada definisi lama antisemitisme, yang merujuk pada keyakinan bahwa orang Yahudi telah membunuh Tuhan, dan bahwa semua masalah mereka selanjutnya menimpa diri mereka sendiri akibat tindakan mereka sendiri.

In the Middle Ages, it was an established tradition that Christians could not lend money or accept interest for a loan. The Jews were exempt from that restriction, and lending money became one of the professions that Jews were allowed to perform. The Jewish bankers, such as the Rothschild family, were the money changers in response to legal restrictions against what professions they were allowed to perform. When Pius IX needed funds to return to the Vatican, the frustration of no longer ruling the city of Rome was magnified by his need to reach out to the Jews for money.

Pada Abad Pertengahan, merupakan suatu tradisi yang mapan bahwa orang-orang Kristen tidak boleh meminjamkan uang ataupun menerima bunga atas suatu pinjaman. Orang-orang Yahudi dikecualikan dari pembatasan itu, dan meminjamkan uang menjadi salah satu profesi yang diizinkan bagi orang-orang Yahudi untuk dijalankan. Para bankir Yahudi, seperti keluarga Rothschild, menjadi para penukar uang sebagai akibat dari pembatasan hukum mengenai profesi-profesi apa saja yang diizinkan bagi mereka untuk dijalankan. Ketika Pius IX membutuhkan dana untuk kembali ke Vatikan, frustrasi karena tidak lagi memerintah kota Roma diperbesar oleh kebutuhannya untuk meminta uang kepada orang-orang Yahudi.

Prior to his being driven out of Rome Pius IX had appeared to be in one of two camps concerning the Jews and the church’s relation to the Jews. The two camps consisted of those who believed the Jews, no matter what happens to them, are simply getting what they deserve, and the other tended to show a little mercy towards the Jews. When Pius IX returned to the Vatican, after being driven out, the mercy he had sometimes manifested prior to his exile was never manifested again. Before his exile he had shut down the ghetto in the city of Rome, and after his return he re-established the ghetto, and began a taxation upon the Jews in order to regroup his financial losses.

Sebelum ia diusir dari Roma, Pius IX tampaknya berada dalam salah satu dari dua kubu berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan hubungan gereja dengan orang-orang Yahudi. Kedua kubu itu terdiri atas mereka yang percaya bahwa orang-orang Yahudi, apa pun yang terjadi atas mereka, semata-mata sedang menerima apa yang pantas mereka terima, dan kubu yang lain cenderung memperlihatkan sedikit belas kasihan terhadap orang-orang Yahudi. Ketika Pius IX kembali ke Vatikan setelah diusir, belas kasihan yang kadang-kadang telah ia nyatakan sebelum pengasingannya tidak pernah lagi dinyatakan. Sebelum pengasingannya ia telah menutup ghetto di kota Roma, dan setelah ia kembali ia memberlakukan kembali ghetto itu, serta mulai mengenakan pajak atas orang-orang Yahudi untuk memulihkan kembali kerugian-kerugian keuangannya.

Pope Pius IX’s right-hand man was Marcantonio Pacelli, the grandfather of Hitler’s pope. He was an attorney that belonged to a special class of attorneys that supported the papacy. His son became part of that same elite class of attorneys, as did his grandson, who would ultimately become Hitler’s pope. After the book runs through the history of Eugenio Pacelli’s grandfather, his father, and his youth and education, it addresses the position that Pacelli took up as he began his work for the papacy. As an attorney, descending from the elite papal attorneys, he was picked to head up a department that specialized in contracts, which are called concords. In 1901 Pacelli was brought into the office of the Papal Secretariat of State.

Tangan kanan Paus Pius IX adalah Marcantonio Pacelli, kakek dari pausnya Hitler. Ia adalah seorang pengacara yang termasuk dalam kelas khusus para pengacara yang mendukung kepausan. Putranya menjadi bagian dari kelas elit pengacara yang sama, begitu pula cucunya, yang pada akhirnya menjadi pausnya Hitler. Setelah buku itu menguraikan sejarah kakek dan ayah Eugenio Pacelli, serta masa muda dan pendidikannya, buku itu membahas jabatan yang diemban Pacelli ketika ia mulai bekerja untuk kepausan. Sebagai seorang pengacara, keturunan para pengacara elit kepausan, ia dipilih untuk memimpin sebuah departemen yang mengkhususkan diri dalam kontrak, yang disebut "concord". Pada tahun 1901 Pacelli dibawa masuk ke kantor Sekretariat Negara Kepausan.

Pacelli became the envoy to the nations. Prophetically Pacelli became the legal point of contact that consummated the fornication of the kings of the earth with the papacy. In 1903, Pius X was coronated as pope. Immediately he began to attack the “intellectual poison” that produced “relativism and skepticism.” The man who ran Pius X’s effort to eradicate “modernism” was Umberto Benigni, who worked in the same office as Pacelli. Benigni once stated of a group of world-class historians, that they were men for whom, “history is nothing but a continual desperate attempt to vomit. For this sort of human being there is only one remedy: the inquisition!” To Benigni, a historian that expressed any sympathy with the ideas that came from the French Revolution were to be executed.

Pacelli menjadi utusan kepada bangsa-bangsa. Secara nubuatan, Pacelli menjadi penghubung hukum yang meresmikan perzinahan raja-raja di bumi dengan kepausan. Pada tahun 1903, Pius X dinobatkan sebagai Paus. Segera ia mulai menyerang “racun intelektual” yang melahirkan “relativisme dan skeptisisme.” Orang yang memimpin upaya Pius X untuk memberantas “modernisme” adalah Umberto Benigni, yang bekerja di kantor yang sama dengan Pacelli. Benigni pernah menyatakan tentang sekelompok sejarawan kelas dunia, bahwa mereka adalah orang-orang yang, bagi mereka, “sejarah tidak lain hanyalah upaya putus asa yang terus-menerus untuk muntah. Bagi jenis manusia seperti ini hanya ada satu obat: inkuisisi!” Bagi Benigni, sejarawan yang menunjukkan simpati apa pun terhadap gagasan-gagasan yang berasal dari Revolusi Prancis harus dieksekusi.

Officially, Benigni ran the propaganda ministry for the papacy, but unofficially he also ran a clandestine spy network, designed to identify any Catholics that had any sympathy for the “modernism,” that had originated with the king of the south. Ultimately in 1910, his work produced a directive that obliged employees of the papacy to swear an oath, called the Antimodernist Oath. It is still in force. To be employed by the Vatican you must swear to a hatred of modernist ideas, which today we would call communistic ideas.

Secara resmi, Benigni memimpin kementerian propaganda bagi kepausan, tetapi secara tidak resmi ia juga menjalankan jaringan mata-mata rahasia yang dirancang untuk mengidentifikasi umat Katolik mana pun yang memiliki simpati terhadap “modernisme” yang berawal dari raja dari selatan. Pada akhirnya, pada tahun 1910, upayanya menghasilkan sebuah ketetapan yang mewajibkan para pegawai kepausan untuk mengucapkan sumpah, yang disebut Sumpah Anti-Modernis. Ketetapan itu masih berlaku. Untuk dapat bekerja di Vatikan, Anda harus bersumpah untuk membenci gagasan-gagasan modernis, yang kini kita sebut gagasan komunistik.

In the summary of Cronwell’s book, on the flyleaf it states, “In the first decade of the century, as a brilliant young Vatican lawyer, Pacelli helped shape an ideology of unprecedented papal power; during the 1920’s he employed cunning and blackmail to impose power in Germany. In 1933, Hitler became his perfect negotiating partner and a concordant was established that granted religious and educational advantages to the Catholic Church in exchange for Catholic withdrawal from social and political action. This ‘voluntary’ abdication of political Catholicism imposed from Rome facilitated the rise of Nazism.

Dalam ringkasan buku Cronwell, pada halaman sampul bagian dalam tertulis, "Pada dekade pertama abad itu, sebagai seorang pengacara Vatikan muda yang cemerlang, Pacelli membantu membentuk sebuah ideologi tentang kekuasaan kepausan yang belum pernah terjadi sebelumnya; selama tahun 1920-an ia menggunakan kelicikan dan pemerasan untuk memaksakan kekuasaan di Jerman. Pada 1933, Hitler menjadi mitra negosiasi yang ideal baginya dan sebuah konkordat ditandatangani yang memberikan hak-hak istimewa di bidang keagamaan dan pendidikan kepada Gereja Katolik sebagai imbalan atas penarikan diri kaum Katolik dari kegiatan sosial dan politik. Abdikasi 'sukarela' Katolik politik yang dipaksakan dari Roma ini mempermudah kebangkitan Nazisme."

At a cabinet meeting on July 14, 1933, Adolph Hitler expressed his opinion that very month that the concordance manufactured by Pacelli with the Nazi’s gave Germany created “an area of trust…. In the developing struggle against international Jewry.”

Dalam rapat kabinet pada 14 Juli 1933, Adolph Hitler menyatakan pendapatnya pada bulan itu juga bahwa konkordansi yang direkayasa oleh Pacelli dengan kaum Nazi memberikan kepada Jerman, menciptakan "sebuah wilayah kepercayaan.... Dalam perjuangan yang berkembang melawan kaum Yahudi internasional."

Cornwell’s book was not well received by Catholics who refused to accept the evidence that Pacelli was the primary reason that Hitler was able to rise to power, for Germany was a majority of Catholics. Pacelli had struck an agreement that prevented the Catholic publishing house, Catholic news agencies and Catholic schools from saying anything about the direction of Hitler from 1933 onward. The book traces the obvious anti-Semitic bent of Pacelli, who thereafter became the pope during World War II. At least three items can be established on very reliable historical sources from the book.

Buku Cornwell tidak diterima dengan baik oleh kalangan Katolik yang menolak menerima bukti bahwa Pacelli merupakan alasan utama Hitler dapat naik ke tampuk kekuasaan, sebab Jerman merupakan negara dengan mayoritas penduduk Katolik. Pacelli telah membuat suatu perjanjian yang mencegah penerbit Katolik, kantor-kantor berita Katolik, dan sekolah-sekolah Katolik untuk mengatakan apa pun mengenai arah yang ditempuh Hitler sejak tahun 1933 dan seterusnya. Buku itu menelusuri kecenderungan anti-Semit Pacelli yang nyata, yang kemudian menjadi paus selama Perang Dunia II. Setidaknya tiga hal dapat ditegakkan berdasarkan sumber-sumber sejarah yang sangat andal dari buku itu.

The first is the warfare of the king of the north and the king of the south, as represented in Daniel chapter eleven. In that warfare the enemies are Catholicism against atheism, the pope against Communism. The other point is that the pope employed Nazism as his proxy army against atheism during World War II, just as the pope employed apostate Protestantism in 1989, as its proxy army against the atheism of the USSR. The book also identifies the internal and external prophetic structure represented by the satanic messages that came forth from the miracle at Fatima.

Yang pertama adalah peperangan antara raja negeri utara dan raja negeri selatan, sebagaimana digambarkan dalam Daniel pasal sebelas. Dalam peperangan itu, musuh-musuhnya adalah Katolikisme melawan ateisme, paus melawan Komunisme. Pokok yang lain adalah bahwa paus menggunakan Nazisme sebagai tentara perantaranya melawan ateisme selama Perang Dunia II, sama seperti paus menggunakan Protestanisme yang murtad pada tahun 1989, sebagai tentara perantaranya melawan ateisme Uni Soviet. Buku itu juga mengidentifikasi struktur nubuat internal dan eksternal yang diwakili oleh pesan-pesan satanis yang muncul dari mukjizat di Fatima.

The borderline war of Raphia, represented in verses eleven and twelve of Daniel eleven, represent the war of the borderline currently playing out in the Ukraine. The ancient war was a hot war, the second is the second proxy war, with the proxy armies involved in mortal interaction. Raphia identifies the borderline war as being between the king of the north and the king of the south, but prophecy teaches that until the soon coming Sunday law, the whore of Tyre is forgotten, Jezebel is in Samaria, and Herodias skipped Herod’s birthday party. Those three witnesses of the role of the king of the north in this current history, is that she is behind the scenes pulling the strings. The hot wars, proxy wars and cold wars that happen while she is forgotten are accomplished by her proxy armies.

Perang perbatasan di Rafia, yang digambarkan dalam ayat-ayat sebelas dan dua belas dari Daniel sebelas, melambangkan perang perbatasan yang pada masa ini sedang berlangsung di Ukraina. Perang kuno itu adalah perang panas; yang kedua adalah perang proksi yang kedua, dengan bala tentara proksi yang terlibat dalam interaksi yang mematikan. Rafia mengidentifikasi perang perbatasan itu sebagai perang antara raja utara dan raja selatan, tetapi nubuat mengajarkan bahwa sampai kepada undang-undang hari Minggu yang segera datang, perempuan sundal dari Tirus dilupakan, Izebel berada di Samaria, dan Herodias melewatkan pesta ulang tahun Herodes. Ketiga saksi tentang peranan raja utara dalam sejarah masa kini ini menunjukkan bahwa ia berada di balik layar, menarik tali kendali. Perang-perang panas, perang-perang proksi, dan perang-perang dingin yang terjadi sementara ia dilupakan dilaksanakan oleh bala tentara proksinya.

Russia is the king of the south, and it is now involved in a borderline war that is being financed by the globalists of the Western world, primarily the progressive Democrats and RINO (Republican In Name Only) Republicans in the United States. When the United States is represented as the king of the north’s proxy army in verse forty of Daniel eleven, its two prophetic characteristics are military might and financial power. The United States is accomplishing the same work in Ukraine that it did in 1989, helping the Pope against Russia, and the proxy army on the ground, defending Ukraine, is so full of Nazi supporters that even the mainstream media cannot deny it. Rome is now using the same proxy armies that she used in the hot war that was World War II, and in 1989, to war against Russia. Read the book: Hitler’s Pope, the Secret History of Pius XII.

Rusia adalah raja selatan, dan sekarang terlibat dalam suatu perang di perbatasan yang dibiayai oleh kaum globalis dari dunia Barat, terutama Partai Demokrat progresif dan Partai Republik RINO (Republican In Name Only) di Amerika Serikat. Ketika Amerika Serikat digambarkan sebagai tentara proksi raja utara dalam ayat empat puluh dari Daniel sebelas, dua ciri kenabiannya adalah kekuatan militer dan kekuatan finansial. Amerika Serikat sedang melaksanakan pekerjaan yang sama di Ukraina seperti yang dilakukannya pada tahun 1989, yakni membantu Paus melawan Rusia, dan tentara proksi di lapangan yang membela Ukraina begitu dipenuhi para pendukung Nazi sehingga bahkan media arus utama pun tidak dapat menyangkalnya. Roma sekarang menggunakan tentara-tentara proksi yang sama seperti yang digunakannya dalam perang panas, yaitu Perang Dunia II, dan pada tahun 1989, untuk berperang melawan Rusia. Bacalah buku: Hitler’s Pope, the Secret History of Pius XII.

We will continue this study in the next article.

Kita akan melanjutkan kajian ini dalam artikel berikutnya.

“In like manner, when God was about to open to the beloved John the history of the church for future ages, He gave him an assurance of the Saviour’s interest and care for His people by revealing to him ‘One like unto the Son of man,’ walking among the candlesticks, which symbolized the seven churches. While John was shown the last great struggles of the church with earthly powers, he was also permitted to behold the final victory and deliverance of the faithful. He saw the church brought into deadly conflict with the beast and his image, and the worship of that beast enforced on pain of death. But looking beyond the smoke and din of the battle, he beheld a company upon Mount Zion with the Lamb, having, instead of the mark of the beast, the ‘Father’s name written in their foreheads.’ And again he saw ‘them that had gotten the victory over the beast, and over his image, and over his mark, and over the number of his name, stand on the sea of glass, having the harps of God’ and singing the song of Moses and the Lamb.

Demikian pula, ketika Allah hendak membukakan kepada Yohanes yang dikasihi sejarah gereja untuk zaman-zaman yang akan datang, Ia memberinya jaminan tentang perhatian dan pemeliharaan Juruselamat bagi umat-Nya dengan menyingkapkan kepadanya “Seorang yang serupa Anak Manusia,” yang berjalan di antara kaki dian, yang melambangkan ketujuh jemaat. Sementara Yohanes diperlihatkan pergumulan besar terakhir gereja dengan kuasa-kuasa duniawi, ia juga diizinkan menyaksikan kemenangan dan kelepasan terakhir orang-orang yang setia. Ia melihat gereja dibawa ke dalam konflik mematikan dengan binatang itu dan patungnya, dan penyembahan kepada binatang itu dipaksakan dengan ancaman hukuman mati. Tetapi, memandang melampaui asap dan hiruk-pikuk pertempuran, ia menyaksikan satu rombongan di Gunung Sion bersama Anak Domba, yang, bukannya tanda binatang itu, memiliki “nama Bapa tertulis pada dahi mereka.” Dan sekali lagi ia melihat “mereka yang telah menang atas binatang itu, dan atas patungnya, dan atas tandanya, dan atas bilangan namanya, berdiri di atas laut kaca, sambil memegang kecapi Allah” dan menyanyikan nyanyian Musa dan Anak Domba.

“These lessons are for our benefit. We need to stay our faith upon God, for there is just before us a time that will try men’s souls. Christ, upon the Mount of Olives, rehearsed the fearful judgments that were to precede His second coming: ‘Ye shall hear of wars and rumors of wars.’ ‘Nation shall rise against nation, and kingdom against kingdom: and there shall be famines, and pestilences, and earthquakes, in divers places. All these are the beginning of sorrows.’ While these prophecies received a partial fulfillment at the destruction of Jerusalem, they have a more direct application to the last days.

Pelajaran-pelajaran ini adalah untuk kebaikan kita. Kita perlu meneguhkan iman kita kepada Allah, sebab di hadapan kita ada suatu masa yang akan menguji jiwa manusia. Kristus, di Bukit Zaitun, menjelaskan kembali hukuman-hukuman yang menakutkan yang akan mendahului kedatangan-Nya yang kedua: 'Kamu akan mendengar tentang perang dan kabar-kabar tentang perang.' 'Bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan; dan akan terjadi kelaparan, wabah penyakit, dan gempa bumi di berbagai tempat. Semua ini barulah permulaan penderitaan.' Walaupun nubuat-nubuat ini sebagian tergenapi pada kehancuran Yerusalem, penerapannya yang lebih langsung ditujukan kepada hari-hari terakhir.

“We are standing on the threshold of great and solemn events. Prophecy is fast fulfilling. The Lord is at the door. There is soon to open before us a period of overwhelming interest to all living. The controversies of the past are to be revived; new controversies will arise. The scenes to be enacted in our world are not yet even dreamed of. Satan is at work through human agencies. Those who are making an effort to change the Constitution and secure a law enforcing Sunday observance little realize what will be the result. A crisis is just upon us.

Kita berdiri di ambang peristiwa-peristiwa besar dan khidmat. Nubuat-nubuat sedang cepat digenapi. Tuhan sudah di depan pintu. Segera akan terbentang di hadapan kita suatu masa yang sangat menarik perhatian bagi semua yang hidup. Perdebatan-perdebatan masa lalu akan dihidupkan kembali; perdebatan-perdebatan baru akan muncul. Peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di dunia kita bahkan belum terbayangkan. Setan sedang bekerja melalui perantaraan manusia. Mereka yang berupaya mengubah Konstitusi dan mengupayakan disahkannya undang-undang yang memaksakan pemeliharaan hari Minggu hampir tidak menyadari apa akibatnya. Sebuah krisis sudah di depan mata.

“But God’s servants are not to trust to themselves in this great emergency. In the visions given to Isaiah, to Ezekiel, and to John we see how closely heaven is connected with the events taking place upon the earth and how great is the care of God for those who are loyal to Him. The world is not without a ruler. The program of coming events is in the hands of the Lord. The Majesty of heaven has the destiny of nations, as well as the concerns of His church, in His own charge.” Testimonies, volume 5, 752, 753.

"Tetapi hamba-hamba Allah tidak boleh mengandalkan diri mereka sendiri dalam keadaan genting yang besar ini. Dalam penglihatan-penglihatan yang diberikan kepada Yesaya, Yehezkiel, dan Yohanes kita melihat betapa eratnya surga terhubung dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi dan betapa besarnya perhatian Allah terhadap mereka yang setia kepada-Nya. Dunia ini tidak tanpa penguasa. Rancangan peristiwa-peristiwa yang akan datang berada di tangan Tuhan. Keagungan surga memegang nasib bangsa-bangsa, demikian pula urusan gereja-Nya, dalam kendali-Nya sendiri." Testimonies, jilid 5, 752, 753.