Just as August 11, 1840, confirmed the rules adopted by Miller, after September 11, 2001 it was seen by those willing to see, that the prophetic principles adopted by Future for America were the true biblical methodology of the latter rain, as set forth in Isaiah chapter twenty-eight. The application of reform line upon reform line as set forth in sacred history established that September 11, 2001, was a repetition of August 11, 1840.

Sebagaimana tanggal 11 Agustus 1840 meneguhkan aturan-aturan yang diadopsi oleh Miller, setelah 11 September 2001, bagi mereka yang bersedia melihat, terlihat bahwa prinsip-prinsip kenabian yang diadopsi oleh Future for America merupakan metodologi Alkitabiah yang benar tentang hujan akhir, sebagaimana dipaparkan dalam Yesaya pasal dua puluh delapan. Penerapan garis reformasi demi garis reformasi sebagaimana dipaparkan dalam sejarah suci menegaskan bahwa 11 September 2001 merupakan pengulangan dari 11 Agustus 1840.

They saw that as the mighty angel of Revelation ten descended in 1840, He typified His descent in 2001. Both angels descended as a prophecy of Islam was fulfilled. The movement then grew as men and women responded to the effectiveness of the methodology. The leadership of Laodicean Seventh-day Adventism was passed by at the time of the end in 1989, and now that church entered into its final testing process, as the Lord began to select the movement of the third angel to be His last-day spokesmen.

Mereka melihat bahwa ketika malaikat perkasa dari Wahyu pasal sepuluh turun pada tahun 1840, turunnya itu melambangkan penurunan-Nya pada tahun 2001. Kedua malaikat itu turun ketika sebuah nubuatan tentang Islam digenapi. Gerakan itu kemudian berkembang ketika pria dan wanita menanggapi efektivitas metode tersebut. Kepemimpinan Adventisme Hari Ketujuh yang bersifat Laodikia diabaikan pada waktu kesudahan, pada tahun 1989, dan kini gereja itu memasuki proses ujian terakhirnya, ketika Tuhan mulai memilih gerakan malaikat ketiga untuk menjadi juru bicara-Nya pada hari-hari terakhir.

A premier rule of the rules given for the last days was the triple application of prophecy. Especially so at that time was the triple application of the three woes, which so clearly upheld the event of September 11, 2001. When that truth was honestly investigated, those who were then being led to Jeremiah’s “old paths,” by hearts seeking for the truth, the prophetic fulfillment, along with the validity of the rules of prophetic interpretation adopted by the movement of the third angel.

Salah satu kaidah utama dari kaidah-kaidah yang diberikan untuk akhir zaman adalah penerapan rangkap tiga nubuatan. Terutama pada waktu itu ialah penerapan rangkap tiga dari tiga celaka, yang begitu jelas menegaskan peristiwa 11 September 2001. Ketika kebenaran itu diselidiki dengan jujur, mereka yang pada waktu itu sedang dipimpin menuju "jalan-jalan lama" Yeremia, oleh hati yang mencari kebenaran, penggenapan nubuatan, serta keabsahan kaidah-kaidah penafsiran nubuatan yang diadopsi oleh gerakan malaikat ketiga.

It was seen that the correct pioneer understanding of the history of the first woe of Revelation chapter nine represented Islam. The false prophet Mohammed was seen to be the king of that history. In that history Islam would attack the Roman Empire, and their mode of warfare was specifically identified as striking suddenly and unexpectedly. In that regard it was understood that the very mode of warfare of Islam provided the etymological roots of the word “assassin.” In that history Islam would hurt the armies of Rome, and the period concluded under the line of a one-hundred-and-fifty-year time prophecy. When that time prophecy ended on July 27, 1449, the time prophecy and history of the second woe began.

Terlihat bahwa pemahaman para pelopor yang benar tentang sejarah celaka pertama dari Wahyu pasal sembilan mewakili Islam. Nabi palsu Mohammed dipandang sebagai raja dari sejarah itu. Dalam sejarah itu, Islam akan menyerang Kekaisaran Romawi, dan metode peperangan mereka secara khusus diidentifikasi sebagai menyerang secara tiba-tiba dan tak terduga. Sehubungan dengan itu, dipahami bahwa metode peperangan Islam itulah yang memberikan akar etimologis dari kata "assassin." Dalam sejarah itu, Islam akan melukai pasukan Roma, dan periode itu berakhir sesuai dengan garis nubuat waktu selama seratus lima puluh tahun. Ketika nubuat waktu itu berakhir pada 27 Juli 1449, nubuat waktu dan sejarah celaka yang kedua pun dimulai.

It began another time-prophecy of three hundred and ninety-one years and fifteen days, that ended on August 11, 1840. In that history the ruler that represented the prophetic work of Islam was Ottman, who had been typified by Mohammed in the history of the first woe. Chapter nine says that in the history of the second woe, Islam would kill the armies of Rome. They would still exercise the mode of warfare, attacking suddenly and unexpectedly, but in that history gunpowder was first invented and employed, so the second woe represented a mode of warfare represented by the assassin’s sudden attack, plus it included explosives.

Hal itu memulai nubuatan waktu lain selama tiga ratus sembilan puluh satu tahun dan lima belas hari, yang berakhir pada 11 Agustus 1840. Dalam sejarah itu, penguasa yang mewakili peran profetis Islam adalah Ottman, yang sebelumnya telah digambarkan secara tipologis oleh Mohammed dalam sejarah malapetaka pertama. Pasal sembilan menyatakan bahwa dalam sejarah malapetaka kedua, Islam akan membunuh pasukan Roma. Mereka tetap akan menerapkan cara berperang dengan menyerang secara tiba-tiba dan tak terduga, tetapi dalam sejarah itu mesiu pertama kali ditemukan dan digunakan, sehingga malapetaka kedua melambangkan cara berperang yang digambarkan oleh serangan mendadak seorang pembunuh, sekaligus mencakup bahan peledak.

On September 11, 2001 the third woe of Islam suddenly struck the spiritual armies of Rome with explosives. That event marked the beginning of several lines of prophetic truth, but it had clearly been established upon the two previous witnesses of the first and second woe. The event clearly demonstrated that just as the empowerment of the Millerite history of August 11, 1840, when the prophecy of Islam of the second woe was fulfilled and the angel of Revelation ten descended, that when the prophecy of Islam of the third woe arrived, it marked the descent of the angel of Revelation eighteen on that date.

Pada 11 September 2001, celaka ketiga Islam tiba-tiba menghantam pasukan rohani Roma dengan bahan peledak. Peristiwa itu menandai awal dari beberapa garis kebenaran nubuatan, namun jelas didasarkan pada dua saksi sebelumnya dari celaka pertama dan kedua. Peristiwa itu dengan jelas menunjukkan bahwa, sebagaimana penguatan sejarah Millerit pada 11 Agustus 1840, ketika nubuatan Islam mengenai celaka kedua digenapi dan malaikat Wahyu pasal 10 turun, maka ketika nubuatan Islam mengenai celaka ketiga tiba, hal itu menandai turunnya malaikat Wahyu pasal 18 pada tanggal tersebut.

“Now comes the word that I have declared that New York is to be swept away by a tidal wave? This I have never said. I have said, as I looked at the great buildings going up there, story after story, ‘What terrible scenes will take place when the Lord shall arise to shake terribly the earth! Then the words of Revelation 18:1–3 will be fulfilled.’ The whole of the eighteenth chapter of Revelation is a warning of what is coming on the earth. But I have no light in particular in regard to what is coming on New York, only that I know that one day the great buildings there will be thrown down by the turning and overturning of God’s power. From the light given me, I know that destruction is in the world. One word from the Lord, one touch of his mighty power, and these massive structures will fall. Scenes will take place the fearfulness of which we cannot imagine.” Review and Herald, July 5, 1906.

“Kini beredar kabar bahwa saya telah menyatakan bahwa New York akan disapu oleh gelombang pasang? Hal ini tidak pernah saya katakan. Saya telah berkata, ketika saya memandang bangunan-bangunan besar yang sedang didirikan di sana, lantai demi lantai, ‘Alangkah mengerikannya pemandangan-pemandangan yang akan terjadi ketika Tuhan bangkit untuk menggoncangkan bumi dengan dahsyat! Maka kata-kata dalam Wahyu 18:1-3 akan digenapi.’ Seluruh pasal ke-18 dari Wahyu adalah peringatan tentang apa yang akan datang atas bumi. Namun saya tidak memiliki petunjuk khusus mengenai apa yang akan menimpa New York, hanya saya tahu bahwa suatu hari bangunan-bangunan besar di sana akan ditumbangkan oleh kuasa Allah yang membalik dan menggulingkan. Dari terang yang diberikan kepada saya, saya tahu bahwa kehancuran ada di dunia. Satu kata dari Tuhan, satu sentuhan kuasa-Nya yang perkasa, dan bangunan-bangunan besar ini akan runtuh. Akan terjadi peristiwa-peristiwa yang kengerian yang tidak dapat kita bayangkan.” Review and Herald, 5 Juli 1906.

The movement of Future for America was then seen, by those willing to see, as the parallel of the Millerite movement. Islam of the third woe became a primary element of the message from that point onward. Inspiration plainly taught that when the angel of Revelation descended the latter rain would arrive.

Gerakan Future for America kemudian dipandang oleh mereka yang mau melihat sebagai paralel dengan gerakan Milerit. Islam dalam celaka ketiga menjadi unsur utama dari pekabaran itu sejak saat itu dan seterusnya. Ilham dengan jelas mengajarkan bahwa ketika malaikat dari Kitab Wahyu turun, hujan akhir akan tiba.

“The latter rain is to fall upon the people of God. A mighty angel is to come down from heaven, and the whole earth is to be lighted with his glory.” Review and Herald, April 21, 1891.

“Hujan akhir akan turun ke atas umat Allah. Seorang malaikat yang perkasa akan turun dari surga, dan seluruh bumi akan diterangi oleh kemuliaannya.” Review and Herald, 21 April 1891.

As the Lion of the tribe of Judah began to open the broader understanding of the latter rain, He led His people to the book of Joel, which is a primary point of reference of the latter rain. At that point some of those men who had joined the movement post September 11, 2001, determined that the insects of Joel that destroy God’s vine, leading up to the awakening of the Midnight Cry, represented Islam. They could not or would not see that the insects represented Rome.

Ketika Singa dari suku Yehuda mulai membuka pemahaman yang lebih luas tentang hujan akhir, Dia menuntun umat-Nya kepada Kitab Yoel, yang merupakan rujukan utama tentang hujan akhir. Pada saat itu, sebagian dari orang-orang yang telah bergabung dengan gerakan itu pasca 11 September 2001 menyimpulkan bahwa serangga-serangga dalam Kitab Yoel yang merusak pokok anggur Allah, yang mengarah kepada kebangkitan Seruan Tengah Malam, melambangkan Islam. Mereka tidak bisa atau tidak mau melihat bahwa serangga-serangga itu melambangkan Roma.

The powerful light that had been brought about by recognizing the triple application of prophecy in regards to the three woes added an unsanctified logical support to their claim that the insects represented Islam. As is always the case, once a private interpretation is entertained a wresting of the Scriptures takes place in an attempt to uphold the false premise. In their work to uphold their view they demonstrated that they did not understand the principle of type and antitype.

Pencerahan besar yang muncul dari pengenalan akan penerapan rangkap tiga nubuatan sehubungan dengan tiga celaka telah menambahkan dukungan logis yang tidak disucikan kepada klaim mereka bahwa serangga-serangga itu melambangkan Islam. Seperti biasanya, begitu tafsiran pribadi diberi tempat, terjadilah pemelintiran Kitab Suci dalam upaya mempertahankan premis yang keliru. Dalam usaha mereka menegakkan pandangan itu, mereka menunjukkan bahwa mereka tidak memahami prinsip tipe dan antitipe.

In theological and biblical studies, the terms “type” and “antitype” are used to describe a relationship between two elements, where one prefigures or foreshadows the other. This concept often falls under the broader categories of “shadow” and “substance.”

Dalam kajian teologi dan biblika, istilah "tipe" dan "antitipe" digunakan untuk menggambarkan hubungan antara dua unsur, di mana yang satu mendahului sebagai gambaran atau menjadi bayangan dari yang lain. Konsep ini sering termasuk dalam kategori yang lebih luas, yaitu "bayangan" dan "substansi".

A type is an event, person, or institution in the Old Testament that prefigures or foreshadows a corresponding event, person, or institution in the New Testament. It serves as a symbolic precursor. The antitype is the fulfillment or actualization of the type. It is the reality that was foreshadowed by the type. The concept of “shadow” and “substance” parallels the relationship between type and antitype. The “shadow” represents the (type), whereas the “substance” represents the (antitype).

Tipe adalah peristiwa, pribadi, atau lembaga dalam Perjanjian Lama yang mengisyaratkan atau membayangkan terlebih dahulu peristiwa, pribadi, atau lembaga yang bersesuaian dalam Perjanjian Baru. Tipe itu berfungsi sebagai pendahulu simbolis. Antitipe adalah penggenapan atau perwujudan dari tipe. Itulah realitas yang diisyaratkan oleh tipe. Konsep "bayangan" dan "wujud" sejajar dengan hubungan antara tipe dan antitipe. "Bayangan" mewakili (tipe), sedangkan "wujud" mewakili (antitipe).

Let no man therefore judge you in meat, or in drink, or in respect of an holyday, or of the new moon, or of the sabbath days: Which are a shadow of things to come; but the body is of Christ. Colossians 2:16, 17.

Karena itu, jangan ada seorang pun menghakimi kamu dalam hal makanan atau minuman, atau mengenai hari raya, atau bulan baru, atau hari-hari Sabat; semuanya itu hanyalah bayangan dari hal-hal yang akan datang, tetapi wujudnya adalah Kristus. Kolose 2:16, 17.

For the law having a shadow of good things to come, and not the very image of the things, can never with those sacrifices which they offered year by year continually make the comers thereunto perfect. Hebrews 10:1.

Sebab hukum Taurat, yang hanya bayangan dari hal-hal baik yang akan datang dan bukan wujud sebenarnya dari hal-hal itu, tidak pernah, dengan korban-korban yang setiap tahun terus-menerus mereka persembahkan, dapat menyempurnakan orang-orang yang datang menghampirinya. Ibrani 10:1.

In the post September 11, 2001 controversy over Joel, and the correct identification of papal Rome as symbolized by four insects, thus outlining the progressive destruction of Laodicean Adventism, those arguing that the insects were Islam, not only placed an unsanctified emphasis upon the triple application of the three woes, but they also pointed to types which pointed to the antitype of Rome, and claimed those types actually identified Islam. In doing so, they gave evidence that they either did not truly understand the principle of type and antitype, or they believed misrepresenting the types was a worthy means to justify the end.

Dalam kontroversi pasca 11 September 2001 mengenai Yoel dan identifikasi yang benar atas Roma kepausan yang dilambangkan oleh empat serangga, yang dengan demikian menggariskan penghancuran progresif Adventisme Laodikia, mereka yang berpendapat bahwa serangga-serangga itu adalah Islam bukan hanya memberikan penekanan yang tidak dikuduskan pada penerapan tiga kali lipat dari tiga celaka, tetapi juga menunjuk kepada tipe-tipe yang merujuk kepada antitipus Roma, dan mengklaim bahwa tipe-tipe itu sebenarnya mengidentifikasi Islam. Dengan melakukan hal itu, mereka memberikan bukti bahwa mereka entah tidak benar-benar memahami prinsip tipe dan antitipus, atau mereka percaya bahwa menyalahartikan tipe-tipe tersebut adalah sarana yang layak untuk membenarkan tujuan akhir.

In the current controversy over Rome, there is once again evidence that those holding to the flawed idea that the “robbers” of Daniel chapter eleven, verse fourteen is the United States do not correctly understand both the triple application of prophecy, or the principle of type and antitype.

Dalam kontroversi terkini mengenai Roma, sekali lagi ada bukti bahwa mereka yang menganut gagasan keliru bahwa “perampok” dalam Daniel pasal sebelas ayat empat belas adalah Amerika Serikat tidak memahami dengan benar baik penerapan rangkap tiga dari nubuatan maupun prinsip tipe dan antitipe.

When those who hold the view that the “robbers” are the United States seek to uphold their position they employ an application of a triple application of the three Rome’s, to supposedly prove that modern Rome, the third manifestation of Rome is the United States. Trusting that they are not purposely bearing false witness, and that they are only manifesting a blind ignorance of the rules of a triple application of prophecy, they employ a prophetic characteristic of the first two Rome’s and argue that a characteristic of Rome’s history identifies modern Rome.

Ketika mereka yang berpandangan bahwa “perampok” adalah Amerika Serikat berupaya mempertahankan posisi mereka, mereka menggunakan suatu penerapan dari penerapan rangkap tiga atas tiga Roma, untuk konon membuktikan bahwa Roma modern, manifestasi ketiga Roma, adalah Amerika Serikat. Dengan berprasangka baik bahwa mereka tidak sengaja bersaksi dusta, dan bahwa mereka hanya memperlihatkan ketidaktahuan yang membuta terhadap kaidah-kaidah penerapan rangkap tiga nubuatan, mereka menggunakan sebuah ciri kenabian dari dua Roma pertama dan berargumen bahwa sebuah ciri dari sejarah Roma mengidentifikasi Roma modern.

Pagan Rome is the first of three prophetic fulfillments of Rome. In Daniel chapter eight pagan Rome is the masculine little horn. In chapter two pagan Rome is statecraft. In Daniel seven pagan Rome divides into a ten-fold kingdom.

Roma kafir adalah yang pertama dari tiga penggenapan nubuatan tentang Roma. Dalam Daniel pasal delapan, Roma kafir adalah tanduk kecil yang maskulin. Dalam pasal dua, Roma kafir adalah politik kenegaraan. Dalam Daniel pasal tujuh, Roma kafir terbagi menjadi sebuah kerajaan sepuluh bagian.

The second manifestation of Rome is papal Rome, who in chapter eight is the feminine little horn, and who is churchcraft in chapter two, and who is the horn speaking blasphemies and plucks up three horns in chapter seven. Pagan Rome is a singular power, but papal Rome is a twofold power, representing the papal church as ruling over the statecraft of the previous political structures of pagan Rome. In 1798, the papal power received its deadly wound, but it did not cease to be a church, it only ceased to be a beast of Bible prophecy for the civil power it had previously controlled was removed.

Manifestasi kedua dari Roma adalah Roma kepausan, yang dalam pasal delapan adalah tanduk kecil feminin, dan yang dalam pasal dua adalah kekuasaan gereja, dan yang dalam pasal tujuh adalah tanduk yang mengucapkan penghujatan dan mencabut tiga tanduk. Roma kafir adalah kuasa tunggal, tetapi Roma kepausan merupakan kuasa yang bersifat ganda, menunjuk pada gereja kepausan yang memerintah atas urusan kenegaraan dari struktur-struktur politik Roma kafir sebelumnya. Pada tahun 1798, kuasa kepausan menerima luka mematikan, tetapi itu tidak berhenti menjadi gereja; itu hanya berhenti menjadi binatang dalam nubuatan Alkitab karena kuasa sipil yang sebelumnya dikendalikannya telah dicabut.

The second Rome is papal Rome and it only functioned as a power (beast) of Bible prophecy when it had the ability to control the power of the state to carry out its blasphemous plans. The first Rome was a singular power, the second Rome was a twofold power and the third Rome is a threefold power. The three manifestations of Rome are governed by the same principles as every triple application of prophecy. Prophetically there are three woes, three Babylon’s, three Rome’s and three Elijah’s. In terms of type and antitype the first two manifestation of any of the triple applications are types which provide the shadow of the third fulfillment, which is the antitype and substance of the triple application of prophecy.

Roma kedua adalah Roma kepausan dan hanya berfungsi sebagai suatu kuasa (binatang) dalam nubuatan Alkitab ketika ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan kekuasaan negara untuk melaksanakan rencana-rencana penghujatannya. Roma pertama adalah kuasa tunggal, Roma kedua adalah kuasa rangkap dua, dan Roma ketiga adalah kuasa rangkap tiga. Ketiga manifestasi Roma diatur oleh prinsip yang sama seperti setiap penerapan nubuatan yang rangkap tiga. Secara nubuatan ada tiga celaka, tiga Babel, tiga Roma, dan tiga Elia. Dalam hal tipe dan antitipe, dua manifestasi pertama dari setiap penerapan rangkap tiga adalah tipe yang memberikan bayangan bagi penggenapan ketiga, yang adalah antitipe dan substansi dari penerapan nubuatan rangkap tiga itu.

With Rome the characteristics of the first two Rome’s identify that both pagan and papal Rome gave the title of Pontifex Maximus to their ruler. Therefore, the title of the ruler of modern Rome would be Pontifex Maximus, a title never attributed to any president of the United States. The first two Rome’s would overcome three geographical obstacles in order to establish the authority upon the throne of their specific period of history. There is no evidence of the United States overcoming three geographical obstacles leading up to 1798.

Dalam kasus Roma, karakteristik dari dua Roma pertama menunjukkan bahwa baik Roma pagan maupun Roma kepausan memberikan gelar Pontifex Maximus kepada penguasanya. Karena itu, gelar penguasa Roma modern adalah Pontifex Maximus, sebuah gelar yang tidak pernah disematkan kepada presiden mana pun di Amerika Serikat. Dua Roma pertama mengatasi tiga rintangan geografis untuk menetapkan otoritas atas takhta pada periode sejarah mereka masing-masing. Tidak ada bukti bahwa Amerika Serikat mengatasi tiga rintangan geografis menjelang tahun 1798.

The first two Rome’s had a specific period of time identified when they would rule supremely. In verse twenty-four of Daniel eleven pagan Rome is identified ruling for a “time,” or three hundred and sixty years, which it did from the Battle of Actium in 31 BC, until the year 330 AD. Repeatedly papal Rome is identified as ruling for twelve hundred and sixty years after the three horns were removed, from 538 until 1798. In Isaiah chapter twenty-three the United States is identified as reigning for seventy symbolic years, as the days of one king, but it never removed three geographical obstacles in advance of its ruling for seventy symbolic years.

Dua Roma yang pertama memiliki suatu periode waktu tertentu yang diidentifikasi ketika mereka akan berkuasa secara mutlak. Dalam ayat dua puluh empat dari Daniel pasal sebelas, Roma kafir diidentifikasi memerintah selama "satu masa," atau tiga ratus enam puluh tahun, yang dilakukannya sejak Pertempuran Actium pada 31 SM, hingga tahun 330 M. Berkali-kali Roma kepausan diidentifikasi memerintah selama seribu dua ratus enam puluh tahun setelah tiga tanduk itu disingkirkan, dari 538 hingga 1798. Dalam Yesaya pasal dua puluh tiga, Amerika Serikat diidentifikasi memerintah selama tujuh puluh tahun simbolis, seperti masa seorang raja, tetapi negara itu tidak pernah menyingkirkan tiga rintangan geografis terlebih dahulu sebelum pemerintahannya selama tujuh puluh tahun simbolis.

Modern Rome is represented as overcoming the three geographical obstacles of the king of the south, the glorious land and Egypt in Daniel chapter eleven, verses forty to forty-two, and when those three obstacles are defeated and brought into the submission of Rome they then form the threefold union of the dragon, the beast and false prophet. John also informs us that the papal beast’s deadly wound is healed and that it then rules for forty-two symbolic months.

Roma modern digambarkan sebagai mengatasi tiga rintangan geografis raja dari selatan, tanah yang indah, dan Mesir dalam Daniel pasal sebelas, ayat 40 sampai 42. Ketika ketiga rintangan itu dikalahkan dan dibuat tunduk kepada Roma, mereka kemudian membentuk persatuan tiga serangkai: naga, binatang, dan nabi palsu. Yohanes juga memberitahukan bahwa luka mematikan pada binatang kepausan itu telah sembuh dan bahwa kemudian ia memerintah selama empat puluh dua bulan yang bersifat simbolis.

And I saw one of his heads as it were wounded to death; and his deadly wound was healed: and all the world wondered after the beast. And they worshipped the dragon which gave power unto the beast: and they worshipped the beast, saying, Who is like unto the beast? who is able to make war with him? And there was given unto him a mouth speaking great things and blasphemies; and power was given unto him to continue forty and two months. Revelation 13:3–5.

Dan aku melihat salah satu dari kepala-kepalanya seolah-olah terluka sampai mati; tetapi luka mautnya itu sembuh; dan seluruh dunia heran lalu mengikuti binatang itu. Dan mereka menyembah naga yang memberikan kuasa kepada binatang itu; dan mereka menyembah binatang itu sambil berkata, Siapakah yang seperti binatang itu? Siapakah yang sanggup berperang melawannya? Dan kepadanya diberikan mulut yang mengucapkan kata-kata sombong dan hujatan; dan kepadanya diberikan kuasa untuk bertindak selama empat puluh dua bulan. Wahyu 13:3-5.

The beast that rules for forty-two symbolic months after its deadly wound is healed is the Roman power.

Binatang yang memerintah selama empat puluh dua bulan simbolis setelah luka mematikannya disembuhkan adalah kekuasaan Romawi.

The prophecy of Revelation 13 declares that the power represented by the beast with lamblike horns shall cause ‘the earth and them which dwell therein’ to worship the papacy—there symbolized by the beast ‘like unto a leopard.’ . .. In both the Old and the New World, the papacy will receive homage in the honor paid to the Sunday institution, that rests solely upon the authority of the Roman Church.” The Great Controversy, 578.

Nubuat Wahyu 13 menyatakan bahwa kuasa yang diwakili oleh binatang yang bertanduk seperti anak domba akan membuat 'bumi dan mereka yang diam di dalamnya' menyembah kepausan—yang di sana dilambangkan oleh binatang 'serupa macan tutul.' . .. Baik di Dunia Lama maupun di Dunia Baru, kepausan akan menerima penghormatan dalam bentuk kehormatan yang diberikan kepada lembaga Hari Minggu, yang semata-mata bertumpu pada otoritas Gereja Roma. Kontroversi Besar, 578.

Pagan, the first Rome, ruled supremely for three hundred and sixty years in fulfillment of Daniel chapter eleven, verse twenty-four, and it did so after it removed three geographical obstacles in fulfillment of Daniel chapter eight, verse nine.

Pagan, Roma pertama, memerintah secara mutlak selama tiga ratus enam puluh tahun sebagai penggenapan Daniel pasal sebelas, ayat dua puluh empat, dan hal itu dilakukannya setelah ia menyingkirkan tiga rintangan geografis sebagai penggenapan Daniel pasal delapan, ayat sembilan.

Papal, the second Rome ruled supremely for twelve hundred and sixty years in fulfillment of several passages of Scripture, and it did so after it removed three geographical obstacles in fulfillment of Daniel chapter seven, verses eight and twenty.

Roma Kepausan, Roma kedua, memerintah secara mutlak selama seribu dua ratus enam puluh tahun sebagai penggenapan beberapa bagian Kitab Suci, dan hal itu dilakukannya setelah menyingkirkan tiga rintangan geografis sebagai penggenapan Daniel pasal tujuh, ayat delapan dan dua puluh.

Modern Rome overcomes the king of the south in verse forty of Daniel eleven, and then in verse forty-one it overcomes the glorious land and in verse forty-two it overcomes Egypt. Modern Rome is the king of the north of Daniel chapter eleven.

Roma modern mengalahkan raja dari selatan pada ayat keempat puluh dari Daniel pasal sebelas, lalu pada ayat keempat puluh satu ia mengalahkan tanah yang mulia dan pada ayat keempat puluh dua ia mengalahkan Mesir. Roma modern adalah raja dari utara dalam Daniel pasal sebelas.

Pagan, the first Rome, was a persecuting power, and papal, the second Rome, was a persecuting power and therefore modern Rome will be a persecuting power.

Roma kafir, Roma pertama, adalah suatu kuasa penganiaya, dan Roma kepausan, Roma kedua, adalah suatu kuasa penganiaya dan karena itu Roma modern akan menjadi suatu kuasa penganiaya.

The United States will participate in the third persecution accomplished by modern Rome, but this doesn’t identify the United States as the papal power, it simply identifies a characteristic of the United States’ relationship to the papal power in the last days.

Amerika Serikat akan turut serta dalam penganiayaan ketiga yang dilakukan oleh Roma modern, tetapi hal ini tidak mengidentifikasi Amerika Serikat sebagai kekuasaan kepausan; hal itu hanya menunjukkan sebuah karakteristik dari hubungan Amerika Serikat dengan kekuasaan kepausan pada hari-hari terakhir.

Those who wish to argue that the United States is the “robbers of thy people” in the last days employ the triple application of the three Rome’s to incorrectly identify the United States. The flawed method they employ in the context of a triple application is based upon identifying a characteristic of the first two Rome’s, and insisting that a prophetic characteristic of Rome, and not Rome itself, is the third Rome.

Mereka yang ingin berargumen bahwa Amerika Serikat adalah "perampok umatmu" pada akhir zaman menggunakan penerapan rangkap tiga dari tiga Roma untuk secara keliru mengidentifikasi Amerika Serikat. Metode yang cacat yang mereka gunakan dalam konteks penerapan rangkap tiga itu didasarkan pada pengidentifikasian suatu ciri dari dua Roma yang pertama, dan bersikeras bahwa ciri kenabian dari Roma—bukan Roma itu sendiri—adalah Roma ketiga.

They identify Constantine’s first historical Sunday law in 321 AD, and then papal Rome’s Sunday law in 538 AD, to claim the soon-coming Sunday law in the United States defines the United States as modern Rome, and they also mix their flawed application by associating Jesus’ warning to flee when the “abominations of desolation” spoken of by Daniel, as the Sunday law. The “abomination of desolation” Jesus spoke of, points to two Sunday laws in the last days, but it is a very different symbolism in that it is a warning to flee, not the warning to shun the mark of the beast. Their flawed idea doesn’t even address that there are two specific Sunday laws in the last days.

Mereka mengidentifikasi hukum hari Minggu historis pertama yang dikeluarkan Konstantinus pada tahun 321 M, lalu hukum hari Minggu Roma kepausan pada tahun 538 M, untuk menyatakan bahwa hukum hari Minggu yang segera datang di Amerika Serikat menjadikan Amerika Serikat sebagai Roma modern. Mereka juga mencampuradukkan penerapan yang keliru dengan mengaitkan peringatan Yesus untuk melarikan diri ketika "kekejian yang membinasakan" yang disebutkan oleh Daniel itu sebagai hukum hari Minggu. "Kekejian yang membinasakan" yang dikatakan Yesus menunjuk kepada dua hukum hari Minggu pada akhir zaman, namun makna simbolisnya sangat berbeda, karena itu adalah peringatan untuk melarikan diri, bukan peringatan untuk menjauhi tanda binatang. Gagasan mereka yang keliru bahkan tidak membahas bahwa ada dua hukum hari Minggu yang khusus pada akhir zaman.

When ye therefore shall see the abomination of desolation, spoken of by Daniel the prophet, stand in the holy place, (whoso readeth, let him understand:) Then let them which be in Judaea flee into the mountains: Let him which is on the housetop not come down to take any thing out of his house: Neither let him which is in the field return back to take his clothes. And woe unto them that are with child, and to them that give suck in those days! But pray ye that your flight be not in the winter, neither on the sabbath day. Matthew 24:15–20.

Karena itu, apabila kamu melihat kekejian yang membinasakan, yang disebutkan oleh nabi Daniel, berdiri di tempat kudus (siapa yang membaca, hendaklah ia memahaminya), maka orang-orang yang berada di Yudea hendaklah melarikan diri ke pegunungan. Orang yang berada di atas atap rumah jangan turun untuk mengambil apa pun dari rumahnya. Dan orang yang berada di ladang jangan kembali untuk mengambil pakaiannya. Celakalah perempuan-perempuan yang sedang hamil dan yang menyusui pada masa itu! Tetapi berdoalah supaya pelarianmu tidak terjadi pada musim dingin, dan tidak pada hari Sabat. Matius 24:15-20.

“The abomination of desolation, spoken of by Daniel the prophet,” was a sign which Jesus gave to His people that identified when they should flee from the coming destruction of Jerusalem as pagan Rome besieged and thereafter destroyed the sanctuary and city from the year 66 to the year 70 AD.

"“Kekejian yang membinasakan, yang disebutkan oleh nabi Daniel,” adalah tanda yang Yesus berikan kepada umat-Nya untuk menunjukkan kapan mereka harus melarikan diri dari kehancuran Yerusalem yang akan datang, ketika Roma kafir mengepung dan kemudian menghancurkan Bait Suci dan kota itu, dari tahun 66 hingga tahun 70 M."

“Jesus declared to the listening disciples the judgments that were to fall upon apostate Israel, and especially the retributive vengeance that would come upon them for their rejection and crucifixion of the Messiah. Unmistakable signs would precede the awful climax. The dreaded hour would come suddenly and swiftly. And the Saviour warned His followers: ‘When ye therefore shall see the abomination of desolation, spoken of by Daniel the prophet, stand in the holy place, (whoso readeth, let him understand:) then let them which be in Judea flee into the mountains.’ Matthew 24:15, 16; Luke 21:20, 21. When the idolatrous standards of the Romans should be set up in the holy ground, which extended some furlongs outside the city walls, then the followers of Christ were to find safety in flight. When the warning sign should be seen, those who would escape must make no delay. . ..

Yesus menyatakan kepada para murid yang mendengarkan tentang hukuman-hukuman yang akan menimpa Israel yang murtad, dan khususnya pembalasan yang setimpal yang akan datang atas mereka karena penolakan mereka terhadap Mesias dan penyaliban-Nya. Tanda-tanda yang tak salah lagi akan mendahului klimaks yang mengerikan itu. Saat yang ditakuti itu akan datang secara tiba-tiba dan cepat. Dan Sang Juruselamat memperingatkan para pengikut-Nya: 'Karena itu, apabila kamu melihat kekejian yang membinasakan, yang dibicarakan oleh nabi Daniel, berdiri di tempat kudus (siapa yang membaca, hendaklah ia mengerti), maka orang-orang yang berada di Yudea hendaklah melarikan diri ke pegunungan.' Matius 24:15, 16; Lukas 21:20, 21. Ketika panji-panji berhala Romawi didirikan di tanah kudus, yang meluas beberapa stadion di luar tembok kota, maka para pengikut Kristus harus mencari keselamatan dengan melarikan diri. Ketika tanda peringatan itu terlihat, mereka yang hendak melarikan diri tidak boleh menunda sedikit pun. . ..

“Not one Christian perished in the destruction of Jerusalem. Christ had given His disciples warning, and all who believed His words watched for the promised sign. . . . Without delay they fled to a place of safety—the city of Pella, in the land of Perea, beyond Jordan.” The Great Controversy, 25, 30.

"Tidak satu pun orang Kristen yang binasa dalam kehancuran Yerusalem. Kristus telah memberikan peringatan kepada murid-murid-Nya, dan semua yang mempercayai perkataan-Nya berjaga-jaga menantikan tanda yang dijanjikan. . . . Tanpa menunda, mereka melarikan diri ke tempat yang aman, yaitu kota Pella, di tanah Perea, di seberang Yordan." The Great Controversy, 25, 30.

As the year 538 approached, the Christians of that era recognized that the church had been corrupted by a compromise with the religion of paganism, and based upon the warning of Christ, and in conjunction with the light given through the apostle Paul’s testimony in Second Thessalonians chapter two, they fled into the prophetic wilderness of the twelve hundred and sixty years.

Menjelang tahun 538, orang-orang Kristen pada masa itu menyadari bahwa gereja telah tercemar oleh kompromi dengan paganisme, dan berdasarkan peringatan Kristus, serta bersamaan dengan terang yang diberikan melalui kesaksian rasul Paulus dalam 2 Tesalonika pasal dua, mereka melarikan diri ke padang gurun nubuatan selama seribu dua ratus enam puluh tahun.

“But before the coming of Christ, important developments in the religious world, foretold in prophecy, were to take place. The apostle declared: ‘Be not soon shaken in mind, or be troubled, neither by spirit, nor by word, nor by letter as from us, as that the day of Christ is at hand. Let no man deceive you by any means: for that day shall not come, except there come a falling away first, and that man of sin be revealed, the son of perdition; who opposeth and exalteth himself above all that is called God, or that is worshiped; so that he as God sitteth in the temple of God, showing himself that he is God.

Tetapi sebelum kedatangan Kristus, perkembangan penting di dunia keagamaan, yang telah dinubuatkan, akan terjadi. Sang rasul menyatakan: 'Janganlah kamu lekas goyah dalam pikiran atau gelisah, baik oleh roh, oleh perkataan, maupun oleh surat yang seolah-olah datang dari kami, seolah-olah hari Kristus sudah dekat. Janganlah seorang pun menyesatkan kamu dengan cara apa pun, sebab hari itu tidak akan datang sebelum terlebih dahulu terjadi kemurtadan dan dinyatakan manusia durhaka, anak kebinasaan; yang menentang dan meninggikan dirinya di atas segala yang disebut ilah atau yang disembah; sehingga ia duduk di bait Allah seolah-olah ia adalah Allah, sambil menyatakan dirinya sebagai Allah.'

Paul’s words were not to be misinterpreted. It was not to be taught that he, by special revelation, had warned the Thessalonians of the immediate coming of Christ. Such a position would cause confusion of faith; for disappointment often leads to unbelief. The apostle therefore cautioned the brethren to receive no such message as coming from him, and he proceeded to emphasize the fact that the papal power, so clearly described by the prophet Daniel, was yet to rise and wage war against God’s people. Until this power should have performed its deadly and blasphemous work, it would be in vain for the church to look for the coming of their Lord. ‘Remember ye not,’ Paul inquired, ‘that, when I was yet with you, I told you these things?’

Perkataan Paulus tidak boleh disalahartikan. Tidak boleh diajarkan bahwa ia, melalui wahyu khusus, telah memperingatkan jemaat di Tesalonika tentang kedatangan Kristus yang segera. Pandangan seperti itu akan menimbulkan kebingungan dalam iman; sebab kekecewaan sering kali membawa kepada ketidakpercayaan. Karena itu sang rasul memperingatkan saudara-saudara agar tidak menerima pesan semacam itu seolah-olah berasal darinya, dan ia kemudian menegaskan bahwa kuasa kepausan, yang begitu jelas digambarkan oleh nabi Daniel, masih akan bangkit dan memerangi umat Allah. Sampai kuasa ini menyelesaikan pekerjaan yang mematikan dan menghujat itu, sia-sialah bagi gereja untuk menantikan kedatangan Tuhan mereka. "Tidakkah kamu ingat," tanya Paulus, "bahwa ketika aku masih bersama kamu, aku telah mengatakan hal-hal ini kepadamu?"

“Terrible were the trials that were to beset the true church. Even at the time when the apostle was writing, the ‘mystery of iniquity’ had already begun to work. The developments that were to take place in the future were to be ‘after the working of Satan with all power and signs and lying wonders, and with all deceivableness of unrighteousness in them that perish.’

Betapa dahsyat cobaan-cobaan yang akan menimpa gereja yang sejati. Bahkan pada waktu rasul itu menulis, 'rahasia kedurhakaan' sudah mulai bekerja. Perkembangan-perkembangan yang akan terjadi kelak akan berlangsung 'menurut pekerjaan Iblis dengan segala kuasa dan tanda-tanda serta mujizat-mujizat palsu, dan dengan segala tipu daya kedurhakaan pada mereka yang binasa.'

Especially solemn is the apostle’s statement regarding those who should refuse to receive ‘the love of the truth.’ ‘For this cause,’ he declared of all who should deliberately reject the messages of truth, ‘God shall send them strong delusion, that they should believe a lie: that they all might be damned who believed not the truth, but had pleasure in unrighteousness.’ Men cannot with impunity reject the warnings that God in mercy sends them. From those who persist in turning from these warnings, God withdraws His Spirit, leaving them to the deceptions that they love.” Acts of the Apostles, 265, 266.

Betapa serius pernyataan rasul mengenai mereka yang menolak menerima 'kasih akan kebenaran.' 'Karena itu,' demikian katanya tentang semua yang dengan sengaja menolak pesan-pesan kebenaran, 'Allah akan mengirim kepada mereka kesesatan yang kuat, sehingga mereka percaya akan dusta, agar semua orang yang tidak percaya akan kebenaran, melainkan menyukai ketidakbenaran, dihukum.' Manusia tidak dapat tanpa konsekuensi menolak peringatan yang dalam kemurahan-Nya Allah kirimkan kepada mereka. Dari mereka yang terus-menerus berpaling dari peringatan ini, Allah menarik Roh-Nya, menyerahkan mereka kepada penyesatan-penyesatan yang mereka kasihi. Kisah Para Rasul, 265, 266.

The compromise between paganism and the church was the warning sign that led the Christians of that era to separate from papal Rome, but it should be noted that the light that Paul contributed to Jesus’ warning to flee, is the same passage that William Miller came to understand that “the daily” of the book of Daniel represented pagan Rome. The prophetic relationship between pagan Rome restraining, and then falling away in order for papal Rome to ascend to the throne was a truth that must be understood, for the consequences of not recognizing that the prophetic relationship would bring strong delusion upon those who did not love that truth. Sister White addresses the same history:

Kompromi antara paganisme dan gereja merupakan tanda peringatan yang mendorong orang-orang Kristen pada masa itu untuk memisahkan diri dari Roma kepausan, namun perlu dicatat bahwa terang yang Paulus tambahkan pada peringatan Yesus untuk melarikan diri adalah bagian yang sama yang kemudian dipahami William Miller, yakni bahwa “yang sehari-hari” dalam kitab Daniel mewakili Roma kafir. Hubungan nubuatan antara Roma kafir yang menahan, lalu disingkirkan agar Roma kepausan dapat naik ke takhta merupakan kebenaran yang harus dipahami, sebab konsekuensi tidak mengenali hubungan nubuatan itu akan mendatangkan daya kesesatan yang kuat atas mereka yang tidak mengasihi kebenaran tersebut. Saudari White membahas sejarah yang sama:

“It required a desperate struggle for those who would be faithful to stand firm against the deceptions and abominations which were disguised in sacerdotal garments and introduced into the church. The Bible was not accepted as the standard of faith. The doctrine of religious freedom was termed heresy, and its upholders were hated and proscribed.

Diperlukan perjuangan mati-matian bagi mereka yang hendak tetap setia untuk berdiri teguh melawan tipu daya dan kekejian yang disamarkan dalam jubah imamat dan dimasukkan ke dalam gereja. Alkitab tidak diterima sebagai standar iman. Ajaran tentang kebebasan beragama disebut ajaran sesat, dan para pendukungnya dibenci dan dilarang.

“After a long and severe conflict, the faithful few decided to dissolve all union with the apostate church if she still refused to free herself from falsehood and idolatry. They saw that separation was an absolute necessity if they would obey the word of God. They dared not tolerate errors fatal to their own souls, and set an example which would imperil the faith of their children and children’s children. To secure peace and unity they were ready to make any concession consistent with fidelity to God; but they felt that even peace would be too dearly purchased at the sacrifice of principle. If unity could be secured only by the compromise of truth and righteousness, then let there be difference, and even war.” The Great Controversy, 45, 46.

Setelah pertentangan yang panjang dan berat, segelintir orang yang setia memutuskan untuk mengakhiri segala persekutuan dengan gereja murtad, jika gereja itu masih menolak membebaskan diri dari kepalsuan dan penyembahan berhala. Mereka melihat bahwa pemisahan adalah suatu keharusan mutlak jika mereka hendak menaati firman Allah. Mereka tidak berani mentolerir kesalahan yang mematikan bagi jiwa mereka sendiri, atau memberi teladan yang akan membahayakan iman anak-anak mereka dan anak cucu mereka. Demi memperoleh perdamaian dan kesatuan, mereka bersedia memberikan kelonggaran apa pun yang tetap selaras dengan kesetiaan kepada Allah; tetapi mereka merasa bahwa bahkan perdamaian pun akan dibayar terlalu mahal bila harus mengorbankan prinsip. Jika kesatuan hanya dapat dicapai melalui kompromi terhadap kebenaran dan keadilan, maka biarlah ada pertentangan, bahkan perang. The Great Controversy, 45, 46.

The prophetic relationship between the United States and the papacy in the last days has been typified, and emphasized, by Paul’s identification of the relationship between pagan and papal Rome leading up to 538 AD. In the triple application of Rome, pagan Rome fulfilled Jesus words identifying the abomination of desolation as a sign to flee, and papal Rome also fulfilled Jesus’ words. Sister White identifies another fulfillment of Christ’s words.

Hubungan profetis antara Amerika Serikat dan kepausan pada hari-hari terakhir telah ditipologikan dan ditekankan oleh pengidentifikasian Paulus atas hubungan antara Roma kafir dan Roma kepausan menjelang tahun 538 M. Dalam penerapan rangkap tiga Roma, Roma kafir menggenapi perkataan Yesus yang menyebut kekejian yang membinasakan sebagai tanda untuk melarikan diri, dan Roma kepausan juga menggenapi perkataan Yesus. Saudari White mengidentifikasi penggenapan lain dari perkataan Kristus.

“It is no time now for God’s people to be fixing their affections or laying up their treasure in the world. The time is not far distant, when, like the early disciples, we shall be forced to seek a refuge in desolate and solitary places. As the siege of Jerusalem by the Roman armies was the signal for flight to the Judean Christians, so the assumption of power on the part of our nation in the decree enforcing the papal sabbath will be a warning to us. It will then be time to leave the large cities, preparatory to leaving the smaller ones for retired homes in secluded places among the mountains.” Testimonies, volume 5, 464.

"Sekarang bukan waktunya bagi umat Allah untuk menambatkan hati mereka atau menimbun harta di dunia ini. Waktunya tidak jauh lagi ketika, seperti para murid mula-mula, kita akan dipaksa mencari perlindungan di tempat-tempat yang sunyi dan terpencil. Sebagaimana pengepungan Yerusalem oleh pasukan Romawi menjadi isyarat untuk melarikan diri bagi orang-orang Kristen Yudea, demikian juga ketika bangsa kita menggunakan kekuasaannya dalam dekrit yang memaksakan Sabat kepausan, itu akan menjadi peringatan bagi kita. Saat itulah waktunya untuk meninggalkan kota-kota besar, sebagai persiapan untuk meninggalkan kota-kota yang lebih kecil menuju rumah-rumah terpencil di antara pegunungan." Kesaksian, jilid 5, 464.

For the Christians of Christ’s time period the warning identified when to flee Jerusalem. In the fifth and sixth century the warning for the Christians led them to flee into the wilderness.

Bagi orang-orang Kristen pada zaman Kristus, peringatan itu menunjukkan kapan harus melarikan diri dari Yerusalem. Pada abad kelima dan keenam, peringatan bagi orang-orang Kristen membuat mereka melarikan diri ke padang gurun.

And the woman fled into the wilderness, where she hath a place prepared of God, that they should feed her there a thousand two hundred and threescore days. . .. And to the woman were given two wings of a great eagle, that she might fly into the wilderness, into her place, where she is nourished for a time, and times, and half a time, from the face of the serpent. And the serpent cast out of his mouth water as a flood after the woman, that he might cause her to be carried away of the flood. And the earth helped the woman, and the earth opened her mouth, and swallowed up the flood which the dragon cast out of his mouth. And the dragon was wroth with the woman, and went to make war with the remnant of her seed, which keep the commandments of God, and have the testimony of Jesus Christ. Revelation 12:6, 15–17.

Dan perempuan itu melarikan diri ke padang gurun, di mana telah disediakan baginya suatu tempat oleh Allah, supaya ia dipelihara di sana selama seribu dua ratus enam puluh hari. Dan kepada perempuan itu diberikan dua sayap rajawali yang besar, supaya ia dapat terbang ke padang gurun, ke tempatnya, di mana ia dipelihara untuk satu masa, dua masa, dan setengah masa, jauh dari hadapan ular itu. Lalu ular itu memuntahkan dari mulutnya air bagaikan banjir mengejar perempuan itu, supaya ia dihanyutkan oleh banjir itu. Tetapi bumi menolong perempuan itu; bumi membuka mulutnya dan menelan banjir yang dimuntahkan naga itu dari mulutnya. Maka naga itu marah kepada perempuan itu, lalu pergi memerangi sisa keturunannya, yaitu mereka yang memelihara perintah-perintah Allah dan memiliki kesaksian Yesus Kristus. Wahyu 12:6, 15-17.

Jesus always illustrates the end of a thing with the beginning of the thing, for He is Alpha and Omega. The warning of the abomination of desolation in the history of papal Rome was recognized when the papal power was recognized as standing in the holy place.

Yesus selalu menggambarkan akhir dari sesuatu dengan permulaannya, sebab Ia adalah Alfa dan Omega. Peringatan tentang kekejian yang membinasakan dalam sejarah Roma kepausan dikenali ketika kekuasaan kepausan dipandang berdiri di tempat kudus.

The warning is recorded by Matthew, Mark and Luke, and each reference has a slight variation of words. Matthew states, “When ye therefore shall see the abomination of desolation, spoken of by Daniel the prophet, stand in the holy place,” and Mark states, “when ye shall see the abomination of desolation, spoken of by Daniel the prophet, standing where it ought not.” Luke states, “when ye shall see Jerusalem compassed with armies, then know that the desolation thereof is nigh. Then let them which are in Judaea flee to the mountains.”

Peringatan itu dicatat oleh Matius, Markus, dan Lukas, dan setiap rujukan memiliki sedikit variasi kata. Matius menyatakan, "Karena itu, apabila kamu melihat kekejian yang menimbulkan kehancuran, yang dibicarakan oleh nabi Daniel, berdiri di tempat kudus," dan Markus menyatakan, "apabila kamu melihat kekejian yang menimbulkan kehancuran, yang dibicarakan oleh nabi Daniel, berdiri di tempat yang tidak seharusnya." Lukas menyatakan, "apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh bala tentara, maka ketahuilah bahwa kehancurannya sudah dekat. Lalu hendaklah mereka yang berada di Yudea melarikan diri ke pegunungan."

All three testimonies apply together. I a more specific application Luke’s reference of Jerusalem being compassed with armies identifies the warning that when pagan Rome began its siege against Jerusalem in the year 66 AD, that Christians still in Jerusalem were to immediately flee. Matthew’s reference of “the holy place,” corresponds with Paul identifying the “man of sin” who “sitteth in the temple of God, showing himself that he is God,” thus representing the papal fulfillment of the “abomination of desolation.” Mark identifies the abomination of desolation standing where it ought not, and it corresponds to the warning to flee given to Adventism in the last days. Two of the warnings are associated with the command that whoever reads the warning should understand, and they all address a sign that was to inform the Christians of the era to flee.

Ketiga kesaksian itu diterapkan bersama-sama. Dalam penerapan yang lebih khusus, rujukan Lukas tentang Yerusalem yang dikepung oleh bala tentara mengidentifikasi peringatan bahwa ketika Roma kafir memulai pengepungannya atas Yerusalem pada tahun 66 M, orang-orang Kristen yang masih berada di Yerusalem harus segera melarikan diri. Rujukan Matius tentang “tempat kudus” berhubungan dengan Paulus yang mengidentifikasi “manusia durhaka” yang “duduk di bait Allah, menunjukkan diri bahwa ia adalah Allah,” sehingga mewakili penggenapan oleh kepausan dari “kekejian yang menimbulkan kehancuran.” Markus mengidentifikasi kekejian yang menimbulkan kehancuran berdiri di tempat yang tidak semestinya, dan hal itu berkaitan dengan peringatan untuk melarikan diri yang diberikan kepada Adventisme pada hari-hari terakhir. Dua dari peringatan itu dikaitkan dengan perintah agar siapa pun yang membacanya mengerti, dan semuanya membahas suatu tanda yang dimaksudkan untuk memberitahu orang-orang Kristen pada masa itu agar melarikan diri.

The false application of a triple application that is misrepresented by those who claim the “robbers of thy people” are the United States, identifies that when the “abomination of desolation” is fulfilled at the Sunday law in the United States, that the Sunday law that then is enforced identifies the United States as Modern Rome, for pagan and papal Rome both previously enforced a Sunday law.

Penerapan rangkap tiga yang keliru, yang digambarkan secara keliru oleh mereka yang mengklaim bahwa “perampok bangsamu” adalah Amerika Serikat, menyatakan bahwa ketika “kekejian yang membinasakan” digenapi pada undang-undang hari Minggu di Amerika Serikat, maka undang-undang hari Minggu yang kemudian diberlakukan itu menandai Amerika Serikat sebagai Roma Modern, sebab baik Roma kafir maupun Roma kepausan sebelumnya sama-sama pernah memberlakukan undang-undang hari Minggu.

The problem with that flawed application is that the Sunday law of pagan Rome took place in the year 321 AD, but pagan Rome’s fulfillment of the “abomination of desolation” was fulfilled in the year 66 AD, 255 years before the Sunday law of 321 AD. So too, the compromise that produced the “man of sin” was already occurring in the time of Paul, who said, “the mystery of iniquity doth already work,” yet the papal Sunday law came over four centuries later. The first two witnesses in a triple application of prophecy establish the characteristics of the third fulfillment of the last days. The “abomination of desolation” in the last days, upon two historical witnesses, and three biblical records of Christ’s words, represents a warning to flee, not the enforcement of a Sunday law.

Masalah dengan penerapan yang keliru itu adalah bahwa hukum hari Minggu dari Roma penyembah berhala terjadi pada tahun 321 M, tetapi penggenapan “kekejian yang membinasakan” oleh Roma penyembah berhala berlangsung pada tahun 66 M, 255 tahun sebelum hukum hari Minggu tahun 321 M. Demikian juga, kompromi yang melahirkan “manusia durhaka” sudah terjadi pada zaman Paulus, yang berkata, “rahasia kedurhakaan sudah bekerja,” namun hukum hari Minggu kepausan baru datang lebih dari empat abad kemudian. Dua saksi pertama dalam penerapan nubuatan rangkap tiga menetapkan ciri-ciri penggenapan ketiga pada akhir zaman. “Kekejian yang membinasakan” pada akhir zaman, berdasarkan dua saksi sejarah dan tiga catatan Alkitab tentang perkataan Kristus, merupakan peringatan untuk melarikan diri, bukan penegakan hukum hari Minggu.

In the next article we will break down why the application is flawed in the context of established rules associated with a triple application of prophecy, and why the identification of the Sunday law in the context of the warning given by Christ is a misrepresentation of prophetic history.

Dalam artikel berikutnya, kami akan menguraikan mengapa penerapan tersebut tidak tepat dalam konteks kaidah-kaidah yang telah mapan yang terkait dengan penerapan nubuatan secara rangkap tiga, dan mengapa identifikasi terhadap Hukum Hari Minggu dalam konteks peringatan yang diberikan oleh Kristus merupakan penggambaran yang keliru tentang sejarah nubuatan.

“This compromise between paganism and Christianity resulted in the development of ‘the man of sin’ foretold in prophecy as opposing and exalting himself above God. That gigantic system of false religion is a masterpiece of Satan’s power—a monument of his efforts to seat himself upon the throne to rule the earth according to his will.” The Great Controversy, 50.

"Kompromi antara paganisme dan Kekristenan ini mengakibatkan munculnya 'manusia durhaka' yang dinyatakan dalam nubuatan akan menentang dan meninggikan diri di atas Allah. Sistem agama palsu yang raksasa itu adalah mahakarya kuasa Iblis—sebuah monumen dari upayanya untuk mendudukkan dirinya di atas takhta guna memerintah bumi sesuai kehendaknya." The Great Controversy, 50.