We are currently addressing the prophetic line of the controversies within Advent history that have taken place concerning the various symbols of Rome. We are currently addressing “the daily” in the book of Daniel. That controversy represents a rejection of the foundations of Adventism, the rejection of the authority of the Spirit of Prophecy, and the rejection of the messenger that was chosen by God. Rejecting the work of Miller also represents a rejection of the instruction that had been given to Miller by heavenly angels, who led Miller to his understanding of the message produced by the increase of knowledge when the book of Daniel was unsealed in 1798.

Saat ini kami sedang membahas garis nubuatan dari kontroversi-kontrolversi dalam sejarah Advent yang telah terjadi mengenai berbagai simbol Roma. Saat ini kami sedang membahas “yang sehari-hari” dalam Kitab Daniel. Kontroversi itu merupakan penolakan terhadap dasar-dasar Adventisme, penolakan terhadap otoritas Roh Nubuatan, dan penolakan terhadap utusan yang dipilih oleh Allah. Menolak karya Miller juga merupakan penolakan terhadap petunjuk yang telah diberikan kepada Miller oleh malaikat-malaikat surgawi, yang menuntun Miller kepada pemahamannya tentang pesan yang dihasilkan oleh pertambahan pengetahuan ketika Kitab Daniel dibuka meterainya pada tahun 1798.

Those that reject the truth identifying the power (pagan Rome) that restrained the papal power from being revealed in Second Thessalonians, manifest that they do not love the truth, and for rejecting the love of truth, they receive a lie. The lie in turn brings strong delusion upon them. The lie is the cause, and the strong delusion they receive is the effect. The lack of love of the truth is their motivation. The lie represents the choice of a pluralistic acceptance of biblical doctrine, as opposed to those who believe in absolute truth. This is why Isaiah’s representation of Paul’s strong delusion is represented as delusions, not simply a delusion. The other class are those who do love the truth, accept the premise of absolute truth, and are identified by Isaiah as those who tremble at God’s word.

Mereka yang menolak kebenaran yang mengidentifikasi kuasa (Roma kafir) yang menahan kuasa kepausan agar tidak dinyatakan dalam 2 Tesalonika, menunjukkan bahwa mereka tidak mengasihi kebenaran; dan karena menolak kasih akan kebenaran, mereka menerima suatu dusta. Dusta itu pada gilirannya mendatangkan kesesatan yang kuat atas mereka. Dusta itu adalah sebabnya, dan kesesatan yang kuat yang mereka terima adalah akibatnya. Kurangnya kasih akan kebenaran itulah motivasi mereka. Dusta itu mewakili pilihan untuk menerima doktrin Alkitab secara pluralistis, berlawanan dengan mereka yang percaya pada kebenaran absolut. Inilah sebabnya penggambaran Yesaya tentang kesesatan yang kuat menurut Paulus dinyatakan sebagai kesesatan-kesesatan, bukan sekadar satu kesesatan. Golongan lainnya adalah mereka yang mengasihi kebenaran, menerima premis kebenaran absolut, dan oleh Yesaya diidentifikasi sebagai orang-orang yang gemetar terhadap firman Allah.

Thus saith the Lord, The heaven is my throne, and the earth is my footstool: where is the house that ye build unto me? and where is the place of my rest? For all those things hath mine hand made, and all those things have been, saith the Lord: but to this man will I look, even to him that is poor and of a contrite spirit, and trembleth at my word. He that killeth an ox is as if he slew a man; he that sacrificeth a lamb, as if he cut off a dog’s neck; he that offereth an oblation, as if he offered swine’s blood; he that burneth incense, as if he blessed an idol. Yea, they have chosen their own ways, and their soul delighteth in their abominations. I also will choose their delusions, and will bring their fears upon them; because when I called, none did answer; when I spake, they did not hear: but they did evil before mine eyes, and chose that in which I delighted not. Hear the word of the Lord, ye that tremble at his word; Your brethren that hated you, that cast you out for my name’s sake, said, Let the Lord be glorified: but he shall appear to your joy, and they shall be ashamed. Isaiah 66:1–5.

Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhta-Ku, dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku; di manakah rumah yang kamu bangun bagi-Ku? dan di manakah tempat perhentian-Ku? Sebab semua itu dibuat oleh tangan-Ku, dan semuanya itu telah ada, demikian firman TUHAN; tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada yang miskin dan remuk hati, yang gentar akan firman-Ku. Orang yang menyembelih seekor lembu sama seperti membunuh seorang manusia; yang mempersembahkan seekor domba, seolah-olah mematahkan leher anjing; yang mempersembahkan korban sajian, seolah-olah mempersembahkan darah babi; yang membakar ukupan, seolah-olah memberkati berhala. Ya, mereka telah memilih jalan mereka sendiri, dan jiwa mereka bersukacita dalam kekejian mereka. Aku juga akan memilih hukuman bagi mereka, dan akan mendatangkan atas mereka apa yang mereka takuti; sebab ketika Aku memanggil, tidak ada yang menjawab; ketika Aku berfirman, mereka tidak mendengar; melainkan mereka melakukan yang jahat di hadapan mata-Ku dan memilih apa yang tidak Kusukai. Dengarkanlah firman TUHAN, kamu yang gentar akan firman-Nya: Saudara-saudaramu yang membenci kamu dan yang mengusir kamu demi nama-Ku berkata, “Biarlah TUHAN dimuliakan!” tetapi Ia akan menampakkan diri untuk sukacitamu, dan mereka akan dipermalukan. Yesaya 66:1-5.

Those who tremble at God’s Word are the outcasts of Israel, who in the last days are those who are represented as the ensign.

Mereka yang gentar terhadap Firman Tuhan adalah orang-orang Israel yang terbuang, yang pada hari-hari terakhir digambarkan sebagai panji.

And he shall set up an ensign for the nations, and shall assemble the outcasts of Israel, and gather together the dispersed of Judah from the four corners of the earth. Isaiah 11:12.

Dan Ia akan mengangkat panji bagi bangsa-bangsa, dan akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan menghimpun orang-orang Yehuda yang tercerai-berai dari keempat penjuru bumi. Yesaya 11:12.

God identifies that it is He who made the house that the class who are presenting corrupted offerings claim to have made. It is that house they trust in when they proclaim “the temple of the Lord are these.”

Allah menyatakan bahwa Dialah yang membangun rumah itu, yang diklaim telah dibangun oleh golongan yang mempersembahkan persembahan yang tercemar. Pada rumah itulah mereka menaruh kepercayaan ketika mereka berseru, "Inilah bait-bait TUHAN itu."

Stand in the gate of the Lord’s house, and proclaim there this word, and say, Hear the word of the Lord, all ye of Judah, that enter in at these gates to worship the Lord. Thus saith the Lord of hosts, the God of Israel, Amend your ways and your doings, and I will cause you to dwell in this place. Trust ye not in lying words, saying, The temple of the Lord, The temple of the Lord, The temple of the Lord, are these. Jeremiah 7:2–4.

Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, dan sampaikanlah di sana firman ini, katakanlah: Dengarkanlah firman TUHAN, hai seluruh Yehuda, yang masuk melalui pintu-pintu gerbang ini untuk beribadah kepada TUHAN. Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah jalan hidup dan perbuatanmu, maka Aku akan membuat kamu tinggal di tempat ini. Janganlah percaya kepada kata-kata dusta yang berkata: Inilah bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN! Yeremia 7:2-4.

Those who “trust” in lying words, are those who believe a lie. The house which the Lord built was raised upon the foundation which He also made. The class who refused to answer when God called, chose their own ways and delighted in abominations. They chose “ways,” and “abominations,” in the plural, when Jeremiah stated that there was only one way to walk within.

Mereka yang "percaya" pada kata-kata dusta adalah mereka yang mempercayai kebohongan. Rumah yang dibangun Tuhan didirikan di atas fondasi yang juga Ia buat. Golongan yang menolak menjawab ketika Tuhan memanggil, memilih jalan mereka sendiri dan menyenangi kekejian. Mereka memilih "jalan-jalan" dan "kekejian-kekejian", dalam bentuk jamak, padahal Yeremia menyatakan bahwa hanya ada satu jalan untuk ditempuh di dalamnya.

Thus saith the Lord, Stand ye in the ways, and see, and ask for the old paths, where is the good way, and walk therein, and ye shall find rest for your souls. But they said, We will not walk therein. Also I set watchmen over you, saying, Hearken to the sound of the trumpet. But they said, We will not hearken. Therefore hear, ye nations, and know, O congregation, what is among them. Hear, O earth: behold, I will bring evil upon this people, even the fruit of their thoughts, because they have not hearkened unto my words, nor to my law, but rejected it. To what purpose cometh there to me incense from Sheba, and the sweet cane from a far country? your burnt offerings are not acceptable, nor your sacrifices sweet unto me. Jeremiah 6:16–20.

Beginilah firman TUHAN: Berdirilah di jalan-jalan, lihatlah, dan tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu: manakah jalan yang baik; berjalanlah di situ, maka kamu akan mendapat ketenangan bagi jiwamu. Tetapi mereka berkata: Kami tidak akan berjalan di situ. Juga Aku menempatkan para penjaga atas kamu, dengan berkata: Dengarkanlah bunyi sangkakala. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau mendengarkan. Sebab itu, dengarlah, hai bangsa-bangsa, dan ketahuilah, hai jemaat, apa yang ada di antara mereka. Dengarlah, hai bumi: sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas bangsa ini, yakni buah pikiran mereka, karena mereka tidak mengindahkan firman-Ku maupun hukum-Ku, melainkan menolaknya. Untuk apa datang kepada-Ku kemenyan dari Syeba dan tebu wangi dari negeri yang jauh? Korban bakaranmu tidak berkenan, dan korban-korbanmu tidak menyenangkan Aku. Yeremia 6:16-20.

In chapter fifteen, Jeremiah calls the evil congregation that would not hearken, though they had ears, the “assembly of mockers.” This congregation was given a “watchman” in both the history of the first and second angels’ messages, and again in the history of the third angel, but they refused to walk in the good way, which is the old paths. Instead, they walked in the “ways.” For this reason, Isaiah identifies that God will choose multiple delusions, for they chose a plurality of false paths instead of the absolute way of the old paths. As with Isaiah’s testimony the assembly of mockers’ worship is rejected by the Lord. Sister White directly associates Isaiah’s plurality of delusions with Paul’s strong delusion, and she places it in the context of the rejection of the foundational truths, the foundation which the Lord built and builds His house upon.

Dalam pasal lima belas, Yeremia menyebut jemaat yang jahat yang tidak mau mendengarkan, sekalipun mereka bertelinga, sebagai "perhimpunan para pencemooh." Jemaat ini diberi seorang "penjaga" baik dalam sejarah pekabaran malaikat pertama dan kedua, maupun sekali lagi dalam sejarah pekabaran malaikat ketiga, tetapi mereka menolak berjalan di jalan yang baik, yaitu jalan-jalan yang dahulu. Sebaliknya, mereka berjalan dalam "jalan-jalan." Karena alasan ini, Yesaya menyatakan bahwa Allah akan memilih berbagai penyesatan, sebab mereka memilih keberagaman jalan-jalan palsu alih-alih jalan yang tunggal, yakni jalan-jalan yang dahulu. Menurut kesaksian Yesaya, ibadah perhimpunan para pencemooh ditolak oleh Tuhan. Nyonya White secara langsung mengaitkan keberagaman penyesatan menurut Yesaya dengan penyesatan yang kuat menurut Paulus, dan ia menempatkannya dalam konteks penolakan terhadap kebenaran-kebenaran dasar, dasar yang di atasnya Tuhan membangun dan terus membangun rumah-Nya.

“One who sees beneath the surface, who reads the hearts of all men, says of those who have had great light: ‘They are not afflicted and astonished because of their moral and spiritual condition.’ Yea, they have chosen their own ways, and their soul delighteth in their abominations. I also will choose their delusions, and will bring their fears upon them; because when I called, none did answer; when I spake, they did not hear: but they did evil before Mine eyes, and chose that in which I delighted not.’ ‘God shall send them strong delusion, that they should believe a lie,’ because they received not the love of the truth, that they might be saved,’ ‘but had pleasure in unrighteousness.’ Isaiah 66:3, 4; 2 Thessalonians 2:11, 10, 12.

Dia yang melihat di balik permukaan, yang membaca hati semua manusia, berkata tentang mereka yang telah menerima terang besar: 'Mereka tidak berdukacita dan tercengang karena keadaan moral dan rohani mereka.' Ya, mereka telah memilih jalan mereka sendiri, dan jiwa mereka bersukacita dalam kekejian mereka. Aku juga akan memilih kesesatan mereka, dan akan mendatangkan apa yang mereka takuti atas mereka; sebab ketika Aku memanggil, tak seorang pun menjawab; ketika Aku berbicara, mereka tidak mendengar; melainkan mereka melakukan kejahatan di hadapan mata-Ku, dan memilih apa yang tidak Kusenangi.' 'Allah akan mengirimkan kepada mereka kesesatan yang kuat, supaya mereka percaya kepada dusta,' karena mereka tidak menerima kasih akan kebenaran, supaya mereka diselamatkan,' 'melainkan menyenangi ketidakbenaran.' Yesaya 66:3, 4; 2 Tesalonika 2:11, 10, 12.

“The heavenly Teacher inquired: ‘What stronger delusion can beguile the mind than the pretense that you are building on the right foundation and that God accepts your works, when in reality you are working out many things according to worldly policy and are sinning against Jehovah? Oh, it is a great deception, a fascinating delusion, that takes possession of minds when men who have once known the truth, mistake the form of godliness for the spirit and power thereof; when they suppose that they are rich and increased with goods and in need of nothing, while in reality they are in need of everything.’

Guru surgawi itu bertanya: 'Tipuan apa yang lebih kuat dapat memperdaya pikiran daripada kepura-puraan bahwa engkau sedang membangun di atas dasar yang benar dan bahwa Allah menerima pekerjaanmu, padahal kenyataannya engkau mengatur banyak hal menurut siasat duniawi dan berdosa terhadap Jehovah? Oh, itu adalah penipuan besar, suatu khayalan yang memikat, yang menguasai pikiran ketika orang-orang yang pernah mengenal kebenaran keliru menyamakan rupa kesalehan dengan roh dan kuasanya; ketika mereka menyangka bahwa mereka kaya dan telah bertambah dalam harta benda dan tidak memerlukan apa-apa, padahal sesungguhnya mereka memerlukan segala sesuatu.'

“God has not changed toward His faithful servants who are keeping their garments spotless. But many are crying, ‘Peace and safety,’ while sudden destruction is coming upon them. Unless there is thorough repentance, unless men humble their hearts by confession and receive the truth as it is in Jesus, they will never enter heaven. When purification shall take place in our ranks, we shall no longer rest at ease, boasting of being rich and increased with goods, in need of nothing.

Tuhan tidak berubah terhadap hamba-hamba-Nya yang setia, yang menjaga pakaian mereka tetap tak bernoda. Namun banyak yang berseru, “Damai dan aman,” sementara kebinasaan yang mendadak datang menimpa mereka. Kecuali ada pertobatan yang menyeluruh, kecuali manusia merendahkan hati melalui pengakuan dan menerima kebenaran sebagaimana adanya di dalam Yesus, mereka tidak akan pernah masuk surga. Ketika pemurnian terjadi di kalangan kita, kita tidak lagi berpuas diri, membanggakan diri bahwa kita kaya dan telah memperkaya diri dengan harta, tidak membutuhkan apa-apa.

“Who can truthfully say: ‘Our gold is tried in the fire; our garments are unspotted by the world’? I saw our Instructor pointing to the garments of so-called righteousness. Stripping them off, He laid bare the defilement beneath. Then He said to me: ‘Can you not see how they have pretentiously covered up their defilement and rottenness of character? ‘How is the faithful city become an harlot!’ My Father’s house is made a house of merchandise, a place whence the divine presence and glory have departed! For this cause there is weakness, and strength is lacking.’” Testimonies, volume 8, 249, 250.

"Siapakah yang dengan jujur dapat berkata: 'Emas kami telah diuji dalam api; pakaian kami tidak bernoda oleh dunia'? Aku melihat Pengajar kita menunjuk kepada pakaian yang disebut-sebut sebagai kebenaran. Sambil menanggalkannya, Dia menyingkapkan kenajisan yang ada di bawahnya. Lalu Dia berkata kepadaku: 'Tidakkah engkau melihat bagaimana mereka dengan munafik menutupi kenajisan dan kebusukan tabiat mereka? 'Bagaimana kota yang setia itu telah menjadi perempuan sundal!' Rumah Bapa-Ku telah dijadikan rumah perdagangan, suatu tempat yang telah ditinggalkan oleh kehadiran dan kemuliaan ilahi! Karena itu ada kelemahan, dan kekuatan tidak ada.'" Testimonies, jilid 8, 249, 250.

In the passage, Jeremiah’s assembly of mockers is identified as Laodiceans, who are foolish virgins.

Dalam bagian itu, perhimpunan para pencemooh Yeremia diidentifikasi sebagai orang-orang Laodikia, yang adalah gadis-gadis bodoh.

“The state of the Church represented by the foolish virgins, is also spoken of as the Laodicean state.” Review and Herald, August 19, 1890.

"Keadaan Jemaat yang diwakili oleh gadis-gadis bodoh juga disebut sebagai keadaan Laodikia." Review and Herald, 19 Agustus 1890.

The foolish virgins manifest their lack of oil at the arrival of the Midnight Cry, when they receive a delusion that aligns with their own previous choice of which way to take, while rejecting Jeremiah’s old paths. The old paths are where rest and refreshing are to be found, and the rest and refreshing is the latter rain.

Gadis-gadis bodoh menampakkan kekurangan minyak mereka ketika Seruan Tengah Malam datang, saat mereka menerima suatu kesesatan yang sejalan dengan pilihan mereka sebelumnya tentang jalan mana yang hendak ditempuh, sambil menolak jalan-jalan lama yang diserukan Yeremia. Jalan-jalan lama itulah tempat di mana perhentian dan penyegaran dapat ditemukan, dan perhentian serta penyegaran itu adalah hujan akhir.

“I was pointed down to the time when the third angel’s message was closing. The power of God had rested upon His people; they had accomplished their work and were prepared for the trying hour before them. They had received the latter rain, or refreshing from the presence of the Lord, and the living testimony had been revived. The last great warning had sounded everywhere, and it had stirred up and enraged the inhabitants of the earth who would not receive the message.” Early Writings, 279.

Aku ditunjukkan pada masa ketika pekabaran malaikat ketiga sedang ditutup. Kuasa Allah telah turun atas umat-Nya; mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka dan telah dipersiapkan untuk masa ujian di hadapan mereka. Mereka telah menerima hujan akhir, atau penyegaran dari hadirat Tuhan, dan kesaksian yang hidup telah dihidupkan kembali. Amaran besar yang terakhir telah bergema ke seluruh penjuru, dan hal itu telah menggemparkan serta membangkitkan amarah para penduduk bumi yang tidak mau menerima pekabaran itu. Early Writings, 279.

It is during the outpouring of the Holy Spirit that the strong delusion is poured out upon the foolish Laodicean virgins who do not love the truth, and therefore chose a lie to believe instead of the truth. The rejection of the truth is equated with rejecting the law, for God’s law is embodied in His prophetic rules.

Justru pada saat pencurahan Roh Kudus, kesesatan yang dahsyat dicurahkan atas gadis-gadis Laodikia yang bodoh, yang tidak mengasihi kebenaran, dan karena itu memilih untuk mempercayai dusta, bukannya kebenaran. Penolakan terhadap kebenaran disamakan dengan menolak hukum, sebab hukum Allah terjelma dalam ketetapan-ketetapan kenabian-Nya.

“Revelation is not the creation or invention of something new, but the manifestation of what was, until revealed, unknown to human beings. The great and eternal truths contained in the gospel are revealed through diligent searching and humbling of ourselves before God. The divine Teacher leads the mind of the humble seeker for truth; and by the Holy Spirit’s guidance, the truths of the Word are made known to him. And there can be no more certain and efficient way of knowledge than in being thus guided. The promise of the Saviour was, ‘When he, the Spirit of truth, is come, he will guide you into all truth.’ It is through the impartation of the Holy Spirit that we are made to understand the Word of God.

Wahyu bukanlah penciptaan atau penemuan sesuatu yang baru, melainkan penyingkapan atas apa yang, sampai dinyatakan, tidak diketahui manusia. Kebenaran-kebenaran besar dan kekal yang terkandung dalam Injil dinyatakan melalui pencarian yang tekun dan kerendahan hati kita di hadapan Allah. Guru ilahi menuntun pikiran si pencari kebenaran yang rendah hati; dan melalui tuntunan Roh Kudus, kebenaran-kebenaran Firman dinyatakan kepadanya. Dan tidak ada cara memperoleh pengetahuan yang lebih pasti dan efektif daripada dituntun demikian. Janji Sang Juruselamat adalah, “Apabila Ia, Roh Kebenaran, datang, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” Melalui pencurahan Roh Kuduslah kita dimampukan untuk memahami Firman Allah.

“The psalmist writes, ‘Wherewithal shall a young man cleanse his way? by taking heed thereto according to thy word. With my whole heart have I sought thee: O let me not wander from thy commandments. . . . Open thou mine eyes, that I may behold wondrous things out of thy law.’

"Pemazmur menulis, 'Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau; oh, jangan biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. . . . Bukalah mataku, supaya aku memandang hal-hal yang ajaib dari Taurat-Mu.'"

“We are admonished to seek for the truth as for hid treasure. The Lord opens the understanding of the true seeker after truth; and the Holy Spirit enables him to grasp the truths of revelation. This is what the psalmist means when he asks that his eyes may be opened to behold wondrous things out of the law. When the soul pants after the excellencies of Jesus Christ, the mind is enabled to grasp the glories of the better world. Only by the aid of the divine Teacher can we understand the truths of the Word of God. In Christ’s school we learn to be meek and lowly because there is given to us an understanding of the mysteries of godliness.” Sabbath School Worker, December 1, 1909.

Kita dinasihati untuk mencari kebenaran seperti mencari harta tersembunyi. Tuhan membukakan pengertian orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran; dan Roh Kudus memampukannya memahami kebenaran-kebenaran wahyu. Inilah yang dimaksud pemazmur ketika ia memohon agar matanya dibukakan untuk melihat hal-hal yang ajaib dari hukum itu. Ketika jiwa merindukan keagungan Yesus Kristus, pikiran dimampukan untuk memahami kemuliaan dunia yang lebih baik. Hanya dengan pertolongan Guru ilahi kita dapat memahami kebenaran-kebenaran Firman Allah. Di sekolah Kristus kita belajar menjadi lemah lembut dan rendah hati karena kepada kita diberikan pengertian tentang rahasia-rahasia kesalehan. Sabbath School Worker, 1 Desember 1909.

To reject the message or the methodology of the latter rain is to reject the law of God. When Jeremiah stated that “they have not hearkened unto my words, nor to my law, but rejected it,” he is agreeing with Hosea.

Menolak pesan atau metodologi hujan akhir berarti menolak hukum Allah. Ketika Yeremia menyatakan bahwa “mereka tidak mendengarkan firman-Ku, ataupun hukum-Ku, melainkan menolaknya,” ia sependapat dengan Hosea.

My people are destroyed for lack of knowledge: because thou hast rejected knowledge, I will also reject thee, that thou shalt be no priest to me: seeing thou hast forgotten the law of thy God, I will also forget thy children. Hosea 4:6.

Umat-Ku binasa karena kurangnya pengetahuan; karena engkau telah menolak pengetahuan, Aku pun akan menolak engkau, sehingga engkau tidak akan menjadi imam bagi-Ku; karena engkau telah melupakan hukum Allahmu, Aku juga akan melupakan anak-anakmu. Hosea 4:6.

The knowledge the foolish reject is the increase of knowledge, identified by Daniel as occurring at the time of the end. At the time of the end in 1798, and then again at the time of the end in 1989, there was an increase of knowledge that was formalized by the messenger which God chose to employ as He erected the foundation for each of those two parallel generations. Those foundational truths were organized by certain biblical rules which were revealed to the chosen messengers of their respective histories, and those foundational truths are Jeremiah’s old paths, and they are the truths which ultimately represent the oil of the midnight and the loud cry messages. The latter rain, produces the Midnight Cry message in the history of the sealing of the one hundred and forty-four thousand, and thereafter produces the loud cry message in the history of the gathering of God’s other flock that is still in Babylon. The latter rain is both a message and the methodology that produces the message. Daniel’s increase of knowledge initiates a three-step testing process.

Pengetahuan yang ditolak oleh orang-orang bodoh itu adalah peningkatan pengetahuan, yang diidentifikasi oleh Daniel sebagai terjadi pada waktu kesudahan. Pada waktu kesudahan tahun 1798, dan kemudian lagi pada waktu kesudahan tahun 1989, terjadi peningkatan pengetahuan yang dirumuskan oleh utusan yang dipilih Allah untuk dipakai ketika Ia meletakkan fondasi bagi masing-masing dari dua generasi yang paralel itu. Kebenaran-kebenaran dasar itu diatur oleh aturan-aturan Alkitab tertentu yang diwahyukan kepada para utusan pilihan dalam sejarah mereka masing-masing, dan kebenaran-kebenaran dasar itu adalah jalan-jalan yang dahulu menurut Yeremia, dan itulah kebenaran-kebenaran yang pada akhirnya mewakili minyak dari pesan Seruan Tengah Malam dan Seruan Nyaring. Hujan Akhir menghasilkan pesan Seruan Tengah Malam dalam sejarah pemeteraian seratus empat puluh empat ribu, dan sesudah itu menghasilkan pesan Seruan Nyaring dalam sejarah pengumpulan kawanan lain milik Allah yang masih berada di Babel. Hujan Akhir itu sekaligus merupakan pesan dan metode yang menghasilkan pesan tersebut. Peningkatan pengetahuan menurut Daniel memulai proses pengujian tiga tahap.

And he said, Go thy way, Daniel: for the words are closed up and sealed till the time of the end. Many shall be purified, and made white, and tried; but the wicked shall do wickedly: and none of the wicked shall understand; but the wise shall understand. Daniel 12:9, 10.

Dan ia berkata, “Pergilah, Daniel; sebab perkataan itu ditutup dan dimeteraikan sampai waktu kesudahan. Banyak orang akan disucikan, diputihkan, dan diuji; tetapi orang-orang fasik akan berbuat fasik; dan tidak seorang pun dari orang-orang fasik itu akan mengerti, tetapi orang-orang bijaksana akan mengerti.” Daniel 12:9, 10.

Daniel’s wicked are Matthew’s foolish virgins who choose to retain their Laodicean condition. Their condition is manifested in the third step of Daniel’s three tests, when both the wise and wicked are tried. The final test is where judgment is executed, and both classes manifest whether they have the oil.

Orang-orang fasik menurut Daniel adalah para gadis bodoh menurut Matius yang memilih untuk mempertahankan keadaan Laodikia mereka. Keadaan mereka terlihat pada langkah ketiga dari tiga ujian Daniel, ketika baik yang bijaksana maupun yang fasik diuji. Pada ujian terakhir, penghakiman dilaksanakan, dan kedua golongan memperlihatkan apakah mereka memiliki minyak itu.

“Again these parables teach that there is to be no probation after the judgment. When the work of the gospel is completed, there immediately follows the separation between the good and the evil, and the destiny of each class is forever fixed.” Christ’s Object Lessons, 123.

"Sekali lagi, perumpamaan-perumpamaan ini mengajarkan bahwa tidak akan ada masa percobaan setelah penghakiman. Ketika pekerjaan Injil telah selesai, segera menyusul pemisahan antara yang baik dan yang jahat, dan nasib setiap golongan ditetapkan untuk selama-lamanya." Christ's Object Lessons, 123.

The manifestation of character at the third test identifies the worshippers as either a foolish Laodicean or a wise Philadelphian. The final test is accomplished in conjunction with the latter rain message, which has been brought to light by the methodology of the latter rain. To reject the methodology of the latter rain places a soul in the position where they cannot understand the message of the latter rain. The message and methodology are identified by Isaiah as the final test.

Manifestasi tabiat pada ujian ketiga mengidentifikasi para penyembah sebagai orang Laodikia yang bodoh atau orang Filadelfia yang bijaksana. Ujian terakhir terjadi bersamaan dengan pekabaran hujan akhir, yang telah dinyatakan melalui metodologi hujan akhir. Menolak metodologi hujan akhir menempatkan seseorang pada posisi di mana ia tidak dapat memahami pekabaran hujan akhir. Pekabaran dan metodologi itu diidentifikasi oleh Yesaya sebagai ujian terakhir.

Whom shall he teach knowledge? and whom shall he make to understand doctrine? them that are weaned from the milk, and drawn from the breasts. For precept must be upon precept, precept upon precept; line upon line, line upon line; here a little, and there a little: For with stammering lips and another tongue will he speak to this people. To whom he said, This is the rest wherewith ye may cause the weary to rest; and this is the refreshing: yet they would not hear. But the word of the Lord was unto them precept upon precept, precept upon precept; line upon line, line upon line; here a little, and there a little; that they might go, and fall backward, and be broken, and snared, and taken. Wherefore hear the word of the Lord, ye scornful men, that rule this people which is in Jerusalem. Because ye have said, We have made a covenant with death, and with hell are we at agreement; when the overflowing scourge shall pass through, it shall not come unto us: for we have made lies our refuge, and under falsehood have we hid ourselves: Therefore thus saith the Lord God, Behold, I lay in Zion for a foundation a stone, a tried stone, a precious corner stone, a sure foundation: he that believeth shall not make haste. Judgment also will I lay to the line, and righteousness to the plummet: and the hail shall sweep away the refuge of lies, and the waters shall overflow the hiding place. And your covenant with death shall be disannulled, and your agreement with hell shall not stand; when the overflowing scourge shall pass through, then ye shall be trodden down by it. Isaiah 28:9–18.

Siapakah yang akan Ia ajar pengetahuan? Dan kepada siapa Ia akan memberi pengertian tentang ajaran? Kepada mereka yang telah disapih dari susu dan dilepaskan dari payudara. Sebab aturan harus atas aturan, aturan atas aturan; baris atas baris, baris atas baris; di sini sedikit, dan di sana sedikit. Sebab dengan bibir yang gagap dan dengan bahasa lain Ia akan berbicara kepada bangsa ini. Kepada mereka Ia berkata, Inilah perhentian, supaya kamu memberi perhentian kepada yang letih; dan inilah penyegaran: namun mereka tidak mau mendengar. Tetapi firman Tuhan bagi mereka menjadi: aturan atas aturan, aturan atas aturan; baris atas baris, baris atas baris; di sini sedikit, dan di sana sedikit; supaya mereka pergi, jatuh telentang, hancur, terjerat, dan tertangkap. Sebab itu dengarkanlah firman Tuhan, hai orang-orang pencemooh, para penguasa atas bangsa ini yang ada di Yerusalem. Karena kamu berkata, Kami telah membuat perjanjian dengan maut, dan dengan dunia orang mati kami telah bersepakat; ketika dera yang membanjir itu melintas, itu tidak akan mengenai kami; sebab kami telah menjadikan dusta sebagai tempat perlindungan kami, dan di bawah kepalsuan kami bersembunyi. Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sebagai dasar, batu yang teruji, batu penjuru yang berharga, dasar yang teguh; siapa yang percaya tidak akan tergesa-gesa. Keadilan pun akan Kujadikan tali pengukur, dan kebenaran bandul pengukur; dan hujan es akan menyapu bersih tempat perlindungan dari dusta, dan air akan meluapi tempat persembunyian itu. Dan perjanjianmu dengan maut akan dibatalkan, dan persetujuanmu dengan dunia orang mati tidak akan bertahan; ketika dera yang membanjir itu melintas, kamu akan diinjak-injak olehnya. Yesaya 28:9-18.

The “overflowing scourge” of Bible prophecy is the progressive Sunday law crisis which begins at the soon-coming Sunday law in the United States. Those foolish, wicked Laodiceans who do not possess the “love of the truth,” and therefore reject the increase of knowledge, believe the “overflowing scourge” will “not come” upon them, for among other things, they chose to accept a false definition of a symbol of Rome in Bible prophecy. In doing so, they produced a false prophetic model based upon their own prophetic foundation. Their foundation is built upon sand, which represents a multitude of tiny crushed rocks. The foundation of the wise is built upon the singular Rock.

"‘Bencana yang meluap’ dari nubuatan Alkitab adalah krisis hukum hari Minggu yang berkembang secara bertahap, yang dimulai pada hukum hari Minggu yang akan segera diberlakukan di Amerika Serikat. Mereka yang bodoh dan jahat dari kalangan Laodikia, yang tidak memiliki ‘kasih akan kebenaran’ dan karena itu menolak pertambahan pengetahuan, percaya bahwa ‘bencana yang meluap’ itu ‘tidak akan datang’ atas mereka, sebab, antara lain, mereka memilih menerima definisi yang keliru tentang suatu simbol Roma dalam nubuatan Alkitab. Dengan demikian, mereka menghasilkan model nubuatan yang palsu berdasarkan landasan nubuatan mereka sendiri. Landasan mereka dibangun di atas pasir, yang melambangkan sekumpulan besar batu-batu kecil yang remuk. Landasan orang bijak dibangun di atas Batu yang tunggal."

According to the grace of God which is given unto me, as a wise masterbuilder, I have laid the foundation, and another buildeth thereon. But let every man take heed how he buildeth thereupon. For other foundation can no man lay than that is laid, which is Jesus Christ. Now if any man build upon this foundation gold, silver, precious stones, wood, hay, stubble; Every man’s work shall be made manifest: for the day shall declare it, because it shall be revealed by fire; and the fire shall try every man’s work of what sort it is. 1 Corinthians 3:10–13.

Sesuai dengan kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepadaku, sebagai seorang ahli bangunan yang bijaksana aku telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun di atasnya. Tetapi hendaklah setiap orang memperhatikan bagaimana ia membangun di atasnya. Sebab tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entah ada orang yang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu-batu berharga, kayu, rumput kering, atau jerami, pekerjaan masing-masing orang akan menjadi nyata, karena hari itu akan menyatakannya; sebab hal itu akan dinyatakan dengan api, dan api itu akan menguji pekerjaan setiap orang, apa macamnya. 1 Korintus 3:10-13.

The false foundations are contrasted with the true foundation, which is Christ Jesus—the Rock. The true or false foundation is revealed in the final of Daniel’s three tests. It is “revealed by fire”—the fire of the Messenger of the Covenant, who will suddenly come to His temple. Then a class is manifested who have made a covenant with death, and a class is manifested who have made a covenant of life.

Dasar-dasar yang palsu dikontraskan dengan dasar yang benar, yaitu Yesus Kristus—Sang Batu Karang. Dasar yang benar atau yang palsu itu dinyatakan dalam ujian terakhir dari tiga ujian Daniel. Hal itu "dinyatakan oleh api"—api dari Utusan Perjanjian, yang akan datang dengan tiba-tiba ke bait-Nya. Kemudian dinyatakan suatu golongan yang telah mengikat perjanjian dengan maut, dan dinyatakan pula suatu golongan yang telah mengikat perjanjian kehidupan.

Behold, I will send my messenger, and he shall prepare the way before me: and the Lord, whom ye seek, shall suddenly come to his temple, even the messenger of the covenant, whom ye delight in: behold, he shall come, saith the Lord of hosts. But who may abide the day of his coming? and who shall stand when he appeareth? for he is like a refiner’s fire, and like fullers’ soap: And he shall sit as a refiner and purifier of silver: and he shall purify the sons of Levi, and purge them as gold and silver, that they may offer unto the Lord an offering in righteousness. Then shall the offering of Judah and Jerusalem be pleasant unto the Lord, as in the days of old, and as in former years. And I will come near to you to judgment; and I will be a swift witness against the sorcerers, and against the adulterers, and against false swearers, and against those that oppress the hireling in his wages, the widow, and the fatherless, and that turn aside the stranger from his right, and fear not me, saith the Lord of hosts. Malachi 3:1–5.

Sesungguhnya, Aku akan mengutus utusan-Ku, dan ia akan mempersiapkan jalan di hadapan-Ku; dan Tuhan yang kamu cari akan dengan tiba-tiba datang ke bait-Nya, yakni utusan perjanjian yang kamu rindukan; sesungguhnya, ia akan datang, firman TUHAN semesta alam. Tetapi siapakah yang dapat bertahan pada hari kedatangannya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk sebagai pemurni dan penyuci perak; Ia akan memurnikan anak-anak Lewi dan menyucikan mereka seperti emas dan perak, supaya mereka mempersembahkan kepada TUHAN persembahan dalam kebenaran. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan berkenan kepada TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti pada tahun-tahun yang lampau. Dan Aku akan mendekat kepadamu untuk penghakiman; Aku akan menjadi saksi yang segera melawan para penyihir, melawan para pezina, melawan orang-orang yang bersumpah palsu, melawan mereka yang menindas pekerja upahan dalam hal upahnya, janda, dan anak yatim, dan yang memalingkan orang asing dari haknya, dan yang tidak takut kepada-Ku, firman TUHAN semesta alam. Maleakhi 3:1-5.

The Messenger of the Covenant comes near in judgment when the testing process of Daniel reaches the third test, and the wise and wicked are tried. The three-step testing process of Daniel begins at the time of the end, when the book of Daniel is unsealed and knowledge is increased. The increase of knowledge is brought into clarity through the work of the chosen messenger who sounds a trumpet. That messenger is addressed by Malachi as the “messenger” that “prepares the way” before the arrival of the Messenger of the Covenant who reveals by fire who has entered into covenant with Him, or who chose to make a covenant with death. In Millerite history Christ came suddenly to His temple on October 22, 1844, a waymark which prefigures the soon-coming Sunday law.

Utusan Perjanjian mendekat untuk penghakiman ketika proses pengujian dalam Kitab Daniel mencapai ujian ketiga, dan orang-orang bijak serta orang-orang fasik diuji. Proses pengujian tiga tahap dalam Daniel dimulai pada waktu kesudahan, ketika Kitab Daniel dibuka segelnya dan pengetahuan bertambah. Peningkatan pengetahuan itu menjadi jelas melalui pekerjaan utusan pilihan yang meniup sangkakala. Utusan itu disebut oleh Maleakhi sebagai “utusan” yang “mempersiapkan jalan” sebelum kedatangan Utusan Perjanjian yang menyatakan dengan api siapa yang telah masuk ke dalam perjanjian dengan-Nya, atau yang memilih mengikat perjanjian dengan maut. Dalam sejarah Kaum Millerit, Kristus datang secara tiba-tiba ke bait-Nya pada 22 Oktober 1844, suatu tonggak yang melambangkan Hukum Hari Minggu yang segera datang.

“The coming of Christ as our high priest to the most holy place, for the cleansing of the sanctuary, brought to view in Daniel 8:14; the coming of the Son of man to the Ancient of Days, as presented in Daniel 7:13; and the coming of the Lord to His temple, foretold by Malachi, are descriptions of the same event; and this is also represented by the coming of the bridegroom to the marriage, described by Christ in the parable of the ten virgins, of Matthew 25.” The Great Controversy, 426.

Kedatangan Kristus sebagai Imam Besar kita ke ruang Mahakudus, untuk pentahiran bait suci, yang ditunjukkan dalam Daniel 8:14; kedatangan Anak Manusia kepada Yang Lanjut Usianya, sebagaimana dipaparkan dalam Daniel 7:13; dan kedatangan Tuhan ke bait-Nya, yang dinubuatkan oleh Maleakhi, merupakan uraian tentang peristiwa yang sama; dan hal ini juga dilambangkan oleh kedatangan pengantin pria ke pernikahan, yang digambarkan oleh Kristus dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis, dalam Matius 25. Kontroversi Besar, 426.

The final of Daniel’s three tests occurs at the soon-coming Sunday law, when the Messenger of the Covenant arrives to reveal by fire who has made a covenant with life or death which is placed in the context of the Levites. When Malachi describes Matthew’s wise and foolish virgins, who are John’s Laodiceans and Philadelphians, and Daniel’s wise and wicked, both groups are tested by fire, and they then manifest who is, or who is not, a Levite.

Yang terakhir dari tiga ujian Daniel terjadi pada saat undang-undang hari Minggu yang akan segera datang, ketika Utusan Perjanjian tiba untuk menyatakan dengan api siapa yang telah mengikat perjanjian dengan kehidupan atau dengan kematian, yang ditempatkan dalam konteks kaum Lewi. Ketika Maleakhi menggambarkan para gadis bijaksana dan bodoh menurut Matius, yang oleh Yohanes disebut jemaat Laodikia dan Filadelfia, serta orang bijak dan fasik menurut Daniel, kedua kelompok itu diuji oleh api, dan kemudian mereka menunjukkan siapa yang adalah, atau bukan, seorang Lewi.

The Levites are the symbol of those who stood faithfully in the two rebellions of the golden calves. The first rebellion being that of Aaron, and the second being the rebellion of Jeroboam. In both illustrations the Levites represented the faithful, and both illustrations provide two witnesses of the faithfulness of a group represented by the Levites at the soon coming Sunday law. Aaron made a golden calf. Gold is the symbol of Babylon, and a calf is an image of a beast. He then ordained a feast and the foolish people danced naked around the calf. All their rebellion was premised and motivated in their rejection of Moses, the chosen messenger.

Orang Lewi melambangkan mereka yang tetap setia dalam dua pemberontakan anak lembu emas. Pemberontakan yang pertama adalah pemberontakan Harun, dan yang kedua adalah pemberontakan Yerobeam. Dalam kedua ilustrasi tersebut, orang Lewi mewakili orang-orang yang setia, dan kedua ilustrasi itu memberikan dua saksi atas kesetiaan suatu kelompok yang diwakili oleh orang Lewi pada saat hukum hari Minggu segera datang. Harun membuat seekor anak lembu emas. Emas adalah simbol Babel, dan anak lembu adalah gambaran seekor binatang. Ia kemudian menetapkan suatu hari raya dan orang-orang bodoh itu menari telanjang di sekeliling anak lembu itu. Seluruh pemberontakan mereka berlandaskan dan didorong oleh penolakan mereka terhadap Musa, utusan yang dipilih.

And Moses said unto Aaron, What did this people unto thee, that thou hast brought so great a sin upon them? And Aaron said, Let not the anger of my lord wax hot: thou knowest the people, that they are set on mischief. For they said unto me, Make us gods, which shall go before us: for as for this Moses, the man that brought us up out of the land of Egypt, we wot not what is become of him. And I said unto them, Whosoever hath any gold, let them break it off. So they gave it me: then I cast it into the fire, and there came out this calf. And when Moses saw that the people were naked; (for Aaron had made them naked unto their shame among their enemies:) Then Moses stood in the gate of the camp, and said, Who is on the Lord’s side? let him come unto me. And all the sons of Levi gathered themselves together unto him. And he said unto them, Thus saith the Lord God of Israel, Put every man his sword by his side, and go in and out from gate to gate throughout the camp, and slay every man his brother, and every man his companion, and every man his neighbour. And the children of Levi did according to the word of Moses: and there fell of the people that day about three thousand men. Exodus 32:21–28.

Dan Musa berkata kepada Harun, “Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa yang begitu besar atas mereka?” Dan Harun berkata, “Janganlah kiranya murka tuanku bernyala-nyala; engkau tahu bangsa ini, bahwa mereka cenderung pada kejahatan. Sebab mereka berkata kepadaku: Buatkanlah bagi kami ilah-ilah yang akan berjalan di depan kami; sebab mengenai Musa ini, orang yang membawa kami keluar dari tanah Mesir, kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.” Dan aku berkata kepada mereka, “Siapa yang mempunyai emas, tanggalkanlah.” Maka mereka memberikannya kepadaku; lalu aku melemparkannya ke dalam api, maka keluarlah anak lembu ini. Dan ketika Musa melihat bahwa bangsa itu telanjang (sebab Harun telah membuat mereka telanjang sehingga memalukan mereka di antara musuh-musuh mereka), maka Musa berdiri di pintu gerbang perkemahan dan berkata, “Siapa yang memihak kepada TUHAN? Datanglah kepadaku.” Maka semua bani Lewi berkumpul kepadanya. Dan ia berkata kepada mereka, “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Hendaklah setiap orang menyandang pedangnya pada pinggangnya; pergilah keluar masuk dari pintu gerbang ke pintu gerbang di seluruh perkemahan, dan bunuhlah setiap orang saudaranya, setiap orang temannya, dan setiap orang tetangganya.” Maka bani Lewi melakukan sesuai dengan perkataan Musa; dan pada hari itu gugurlah dari bangsa itu kira-kira tiga ribu orang. Keluaran 32:21-28.

Those who danced were Laodiceans who manifested the “shame of their nakedness,” which is the warning of the sixth plague, a warning of the necessity to correctly understand the threefold makeup of modern Rome as the dragon, the beast and the false prophet. That warning sharply contradicts Uriah Smith’s private interpretation that destroyed the truths associated with the six plague and Armageddon.

Mereka yang menari adalah orang-orang Laodikia yang menampakkan "aib ketelanjangan mereka", yang merupakan peringatan dari malapetaka keenam, yakni peringatan akan perlunya memahami dengan benar susunan tiga serangkai Roma modern sebagai naga, binatang, dan nabi palsu. Peringatan itu sangat bertentangan dengan tafsiran pribadi Uriah Smith yang menghancurkan kebenaran-kebenaran yang berkaitan dengan malapetaka keenam dan Harmagedon.

Those who manifested their Laodicean condition had rejected the authority of the chosen messenger and manifested the same confused understanding as those who choose to identify the satanic symbol of “the daily” as the godly symbol of Christ’s sanctuary ministry. They attributed their deliverance to a symbolic god, but the god they chose to worship was a symbol of the god of Egypt, and Egypt is a symbol of the dragon. As with Laodicean Adventism they rejected the truth that “the daily” is a symbol of pagan Rome, the dragon, and identified the satanic symbol as a symbol of Christ.

Mereka yang menampakkan keadaan Laodikia mereka telah menolak otoritas utusan yang dipilih dan menunjukkan pemahaman yang sama kacau seperti mereka yang memilih untuk mengidentifikasi simbol setan dari "the daily" sebagai simbol ilahi dari pelayanan tempat kudus Kristus. Mereka mengaitkan pelepasan mereka pada sebuah ilah simbolis, tetapi ilah yang mereka pilih untuk disembah adalah simbol dari ilah Mesir, dan Mesir adalah simbol dari naga. Seperti halnya Adventisme Laodikia, mereka menolak kebenaran bahwa "the daily" adalah simbol Roma kafir, sang naga, dan mengidentifikasi simbol setan itu sebagai simbol Kristus.

Son of man, set thy face against Pharaoh king of Egypt, and prophesy against him, and against all Egypt: Speak, and say, Thus saith the Lord God; Behold, I am against thee, Pharaoh king of Egypt, the great dragon that lieth in the midst of his rivers, which hath said, My river is mine own, and I have made it for myself. Ezekiel 29:2, 3.

Anak manusia, hadapkanlah wajahmu menentang Firaun, raja Mesir, dan bernubuatlah melawan dia dan melawan seluruh Mesir. Berkatalah, dan katakan: Beginilah firman Tuhan Allah: Sesungguhnya, Aku menentang engkau, hai Firaun, raja Mesir, naga besar yang berbaring di tengah-tengah sungai-sungainya, yang berkata: Sungai itu milikku, dan aku telah membuatnya bagi diriku sendiri. Yehezkiel 29:2, 3.

Aaron’s rebels believed the lie that a symbol of the dragon, represented by the golden calf was the god that had delivered them from the bondage of Egypt. Laodicean Adventism believes the lie that a symbol of pagan Rome (the dragon), represented by “the daily,” is a symbol of Christ whose work is to deliver men from the bondage of sin in His ministry in the heavenly sanctuary. They also rejected the chosen messenger, as did Laodicean Adventism in the controversy over the symbolism of “the daily.”

Para pemberontak yang bersama Harun mempercayai dusta bahwa sebuah simbol naga, yang dilambangkan oleh anak lembu emas, adalah ilah yang telah membebaskan mereka dari belenggu perbudakan di Mesir. Adventisme Laodikia mempercayai dusta bahwa suatu simbol Roma kafir (naga), yang diwakili oleh "the daily", adalah simbol Kristus yang pekerjaannya adalah membebaskan manusia dari belenggu dosa dalam pelayanan-Nya di Bait Suci surgawi. Mereka juga menolak utusan yang terpilih, sebagaimana Adventisme Laodikia juga menolaknya dalam kontroversi mengenai simbolisme "the daily".

In the first generation (1844 to 1888) of Laodicean Adventism, they rejected Miller’s work in identifying the seven times. In the second generation (1888 to 1919) they began the process of rejecting the truth of “the daily.” In their third generation (1919 to 1957) they had reverted to the understanding of apostate Protestantism that the robbers of thy people is Antiochus Epiphanes. On September 11, 2001 they rejected the role of Islam in Bible prophecy when the third woe arrived on that date. Each of those four truths were upheld by Miller and are represented upon Habakkuk’s two tables, and each are foundational truths attributed to the work of Miller, who Sister White calls the “chosen one.”

Dalam generasi pertama (1844 hingga 1888) dari Adventisme Laodikia, mereka menolak pekerjaan Miller dalam mengidentifikasi “tujuh kali”. Dalam generasi kedua (1888 hingga 1919) mereka mulai menolak kebenaran tentang “yang sehari-hari”. Dalam generasi ketiga (1919 hingga 1957) mereka kembali kepada pemahaman Protestantisme murtad bahwa “perampok dari bangsamu” adalah Antiokhus Epifanes. Pada 11 September 2001 mereka menolak peran Islam dalam nubuatan Alkitab ketika celaka yang ketiga tiba pada tanggal itu. Keempat kebenaran itu ditegakkan oleh Miller dan diwakili di atas dua loh Habakuk, dan masing-masing merupakan kebenaran dasar yang dikaitkan dengan pekerjaan Miller, yang oleh Saudari White disebut “yang terpilih”.

Jeroboam’s rebellion began at the beginning of the northern kingdom which consisted of the ten tribes who made Jeroboam their first king. Jeroboam made two golden calves and placed one in Bethel, meaning house of God, and the other at Dan, meaning judgment. Together Bethel and Dan represent the combination of church (Bethel) and state (Dan.) And as with Aaron’s rebellion the calves were made of gold, a symbol of Babylon, and both were an image of a beast. As with Aaron, Jeroboam ordained an annual feast and identified the calves as the god’s that delivered God’s people out of Egypt.

Pemberontakan Yerobeam dimulai pada awal berdirinya kerajaan utara yang terdiri dari sepuluh suku, yang mengangkat Yerobeam sebagai raja pertama mereka. Yerobeam membuat dua anak lembu emas dan menempatkan yang satu di Betel, yang berarti rumah Allah, dan yang lain di Dan, yang berarti penghakiman. Bersama-sama, Betel dan Dan melambangkan gabungan gereja (Betel) dan negara (Dan). Dan seperti dalam pemberontakan Harun, anak-anak lembu itu dibuat dari emas, lambang Babel, dan keduanya merupakan gambar seekor binatang. Sebagaimana Harun, Yerobeam menetapkan suatu perayaan tahunan dan menyatakan bahwa anak-anak lembu itu adalah allah-allah yang telah melepaskan umat Allah dari Mesir.

And Jeroboam said in his heart, Now shall the kingdom return to the house of David: If this people go up to do sacrifice in the house of the Lord at Jerusalem, then shall the heart of this people turn again unto their lord, even unto Rehoboam king of Judah, and they shall kill me, and go again to Rehoboam king of Judah. Whereupon the king took counsel, and made two calves of gold, and said unto them, It is too much for you to go up to Jerusalem: behold thy gods, O Israel, which brought thee up out of the land of Egypt. And he set the one in Bethel, and the other put he in Dan. And this thing became a sin: for the people went to worship before the one, even unto Dan. And he made an house of high places, and made priests of the lowest of the people, which were not of the sons of Levi. And Jeroboam ordained a feast in the eighth month, on the fifteenth day of the month, like unto the feast that is in Judah, and he offered upon the altar. So did he in Bethel, sacrificing unto the calves that he had made: and he placed in Bethel the priests of the high places which he had made. So he offered upon the altar which he had made in Bethel the fifteenth day of the eighth month, even in the month which he had devised of his own heart; and ordained a feast unto the children of Israel: and he offered upon the altar, and burnt incense. 1 Kings 12:26–33.

Dan Yerobeam berkata di dalam hatinya, “Sekarang kerajaan itu akan kembali kepada keluarga Daud. Jika bangsa ini pergi untuk mempersembahkan korban di Bait TUHAN di Yerusalem, maka hati bangsa ini akan berbalik lagi kepada tuan mereka, yaitu kepada Rehabeam, raja Yehuda; mereka akan membunuh aku dan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.” Maka raja berunding, lalu membuat dua anak lembu emas. Ia berkata kepada mereka, “Terlalu berat bagimu untuk pergi ke Yerusalem; lihatlah ilah-ilahmu, hai Israel, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir.” Yang satu ditempatkannya di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan. Maka hal itu menjadi dosa, sebab rakyat pergi menyembah di depan yang satu itu, bahkan sampai ke Dan. Ia mendirikan rumah di tempat-tempat tinggi dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat jelata, yang bukan dari bani Lewi. Dan Yerobeam menetapkan suatu perayaan pada bulan kedelapan, pada hari kelima belas bulan itu, seperti perayaan yang ada di Yehuda, dan ia mempersembahkan korban di atas mezbah. Demikianlah ia berbuat di Betel, mempersembahkan kepada anak-anak lembu yang telah dibuatnya; dan ia menempatkan di Betel imam-imam dari tempat-tempat tinggi yang telah didirikannya. Pada hari kelima belas bulan kedelapan, yaitu bulan yang direkakannya menurut isi hatinya sendiri, ia mempersembahkan korban di atas mezbah yang telah dibuatnya di Betel; ia menetapkan suatu perayaan bagi orang Israel, dan ia mempersembahkan korban di atas mezbah itu serta membakar ukupan. 1 Raja-raja 12:26-33.

Jeroboam “devised in his own heart,” which represents the work of Uriah Smith in introducing a “private interpretation” in which to build his prophetic model. Jeroboam followed the pattern of Aaron and thereby misrepresented a god of Egypt as the true God. The god that both Aaron and Jeroboam produced was based upon a misapplication of a symbol of Rome’s twofold nature as a symbol of statecraft and churchcraft. Aaron and Jeroboam were both identifying an image of the dragon power, with the symbolism of an image of a beast. Thus, both those sacred histories of rebellion represent the great test of the people of God, by which their eternal destiny will be decided. That test according to inspiration is the test of the formation of the image of the beast.

Yerobeam "merancang dalam hatinya sendiri," yang melambangkan pekerjaan Uriah Smith dalam memperkenalkan "tafsiran pribadi" sebagai dasar untuk membangun model nubuantinya. Yerobeam mengikuti pola Harun dan dengan demikian menggambarkan secara keliru dewa Mesir sebagai Allah yang benar. Dewa yang dihasilkan baik oleh Harun maupun Yerobeam didasarkan pada penyalahterapan terhadap suatu simbol sifat ganda Roma, yakni sebagai lambang siasat kenegaraan dan siasat kegerejaan. Harun dan Yerobeam sama-sama menunjuk kepada gambar kuasa naga, dengan simbolisme gambar binatang. Dengan demikian, kedua kisah kudus tentang pemberontakan itu mewakili ujian besar bagi umat Allah, yang olehnya nasib kekal mereka akan ditentukan. Ujian itu, menurut ilham, adalah ujian pembentukan gambar binatang.

The first controversy over the symbol of Rome as the robbers of thy people, which made its way on to the 1843 pioneer chart argued that Antiochus Epiphanes was the robber, in place of the fact that the robbers are Rome. The first controversy represented the last controversy over the robbers of thy people being Rome, where it is now argued that the United States is the robbers, and not Rome. However, Antiochus is a symbol of the United States in verses ten through fifteen of Daniel eleven, so the beginning lie and the ending lie about who is represented is identical.

Kontroversi pertama mengenai simbol Roma sebagai para perampok dari umatmu, yang tercantum pada bagan perintis tahun 1843, menyatakan bahwa Antiochus Epiphanes adalah perampok itu, alih-alih mengakui bahwa para perampok itu adalah Roma. Kontroversi pertama itu mencerminkan kontroversi terakhir tentang apakah para perampok dari umatmu adalah Roma, di mana kini dikemukakan bahwa Amerika Serikatlah para perampok itu, bukan Roma. Namun, Antiochus adalah simbol Amerika Serikat dalam Daniel pasal sebelas, ayat sepuluh sampai lima belas, sehingga kebohongan pada awal dan kebohongan pada akhir tentang siapa yang diwakili adalah identik.

The darkness and confusion over what Antiochus represented in the last days, produces a confusion over the image of the beast, as did the rebellion of Aaron and Jeroboam. The confusion over the image of the beast is occurring at the very time when the great test for the people of God is the formation of the image of the beast.

Kegelapan dan kebingungan mengenai apa yang diwakili oleh Antiokhus pada akhir zaman menimbulkan kebingungan tentang patung binatang itu, sebagaimana halnya pemberontakan Harun dan Yerobeam. Kebingungan tentang patung binatang itu terjadi tepat pada saat ketika ujian besar bagi umat Allah adalah pembentukan patung binatang itu.

“The Lord has shown me clearly that the image of the beast will be formed before probation closes; for it is to be the great test for the people of God, by which their eternal destiny will be decided. Your position is such a jumble of inconsistencies that but few will be deceived.

Tuhan telah menunjukkan kepadaku dengan jelas bahwa patung binatang itu akan dibentuk sebelum masa kasihan berakhir; sebab hal itu akan menjadi ujian besar bagi umat Allah, melaluinya nasib kekal mereka akan diputuskan. Pendirianmu begitu kacau oleh ketidakkonsistenan sehingga hanya sedikit yang akan tertipu.

“In Revelation 13 this subject is plainly presented; [Revelation 13:11–17, quoted].

Dalam Wahyu 13 hal ini dipaparkan dengan jelas; [Wahyu 13:11-17, dikutip].

“This is the test that the people of God must have before they are sealed. All who proved their loyalty to God by observing His law, and refusing to accept a spurious sabbath, will rank under the banner of the Lord God Jehovah, and will receive the seal of the living God. Those who yield the truth of heavenly origin and accept the Sunday sabbath, will receive the mark of the beast.” Manuscript Releases, volume 15, 15.

Ini adalah ujian yang harus dialami umat Allah sebelum mereka dimeteraikan. Semua yang membuktikan kesetiaan mereka kepada Allah dengan memelihara hukum-Nya, dan menolak menerima Sabat palsu, akan berbaris di bawah panji Tuhan Allah Yehova, dan akan menerima meterai Allah yang hidup. Mereka yang melepaskan kebenaran yang berasal dari surga dan menerima Sabat hari Minggu, akan menerima tanda binatang itu. Manuscript Releases, jilid 15, 15.

When Sister White endorsed Miller’s view of “the daily” representing pagan Rome, she stated that since 1844, “other views”, in the plural, have been embraced which produced “darkness and confusion.” The confusion produced by false views of “the daily,” which is a symbol of pagan Rome, as the “robbers of thy people,” produces confusion and darkness concerning the distinction between Rome and Rome’s image.

Ketika Saudari White mendukung pandangan Miller bahwa "the daily" mewakili Roma kafir, ia menyatakan bahwa sejak 1844, "pandangan-pandangan lain", dalam bentuk jamak, telah dianut yang menimbulkan "kegelapan dan kebingungan." Kebingungan yang ditimbulkan oleh pandangan-pandangan keliru tentang "the daily"—yang merupakan simbol Roma kafir—sebagai "perampok dari bangsamu", menimbulkan kebingungan dan kegelapan mengenai perbedaan antara Roma dan citra Roma.

The first and last controversies over a symbol of Rome occurred between a former covenant people who were being passed by and a people who were then becoming the new covenant people of God. The controversy included an unwillingness to be governed by the established rules of grammar, for the word “also” in verse fourteen, was disallowed by the Protestants, thus claiming that the robbers must be the same power represented within the previous verses.

Kontroversi pertama dan terakhir mengenai suatu lambang Roma terjadi antara umat perjanjian lama yang sedang ditinggalkan dan umat yang pada waktu itu sedang menjadi umat perjanjian baru Allah. Kontroversi itu mencakup ketidakbersediaan untuk tunduk pada kaidah tata bahasa yang telah baku, sebab kata "also" pada ayat empat belas ditolak oleh kaum Protestan, sehingga mereka menyatakan bahwa para penyamun itu haruslah kekuasaan yang sama yang digambarkan dalam ayat-ayat sebelumnya.

It represented a wresting of the Scriptures when Antiochus was forced to be the robbers. It was a private interpretation, for any false doctrine in opposition to truth is a private interpretation. The controversy itself became a foundational truth, for it was recorded upon the 1843 pioneer chart. The ratification of the chart by inspiration confirmed and validated “the robbers” as a symbol of Rome, and magnified the seriousness of the truth, for to reject the doctrine was to reject both, the foundations and the authority of the Spirit of Prophecy.

Hal itu merupakan pemutarbalikan terhadap Kitab Suci ketika Antiokhus dipaksakan untuk ditafsirkan sebagai "para perampok". Itu adalah penafsiran pribadi, sebab setiap doktrin palsu yang bertentangan dengan kebenaran adalah penafsiran pribadi. Kontroversi itu sendiri menjadi suatu kebenaran dasar, karena hal itu dicatat pada bagan perintis tahun 1843. Pengesahan bagan itu melalui ilham menegaskan dan mengesahkan "para perampok" sebagai simbol Roma, dan menegaskan betapa seriusnya kebenaran tersebut, sebab menolak doktrin itu berarti menolak baik dasar-dasarnya maupun otoritas Roh Nubuatan.

The correct understanding of the robbers of thy people representing Rome, added to the prophetic model which angels gave unto William Miller, for it agreed with the prophetic model he came to understand and present, that being: that pagan and papal Rome were the foundation of all his prophetic applications.

Pemahaman yang benar tentang perampok umatmu yang mewakili Roma, ditambahkan pada model nubuatan yang diberikan para malaikat kepada William Miller, sebab hal itu sejalan dengan model nubuatan yang kemudian ia pahami dan sampaikan, yakni bahwa Roma kafir dan Roma kepausan merupakan dasar bagi semua penerapan nubuatannya.

Uriah Smith’s private interpretation identifying the king of the north in verse thirty-six of Daniel eleven as France, and then as Turkey in verse forty, consisted of two false identifications of the king of the north. Smith’s rejection of the foundations in 1863, produced a blindness that disallowed him from seeing a most basic rule of prophecy, that being: that roughly at the time of Christ prophecy illustrated the modern spiritual entities that were typified by the ancient literal entities. Paul specifically taught this truth as he identified that what came first was the literal and afterward the spiritual.

Penafsiran pribadi Uriah Smith yang mengidentifikasi raja utara pada Daniel pasal sebelas ayat tiga puluh enam sebagai Prancis, dan kemudian sebagai Turki pada ayat empat puluh, merupakan dua identifikasi yang keliru tentang raja utara. Penolakan Smith terhadap dasar-dasar pada tahun 1863 menghasilkan kebutaan yang membuatnya tidak mampu melihat kaidah paling mendasar dalam nubuatan, yaitu bahwa sekitar masa Kristus nubuatan menggambarkan entitas-entitas rohani modern yang ditipologikan oleh entitas-entitas literal kuno. Paulus secara khusus mengajarkan kebenaran ini ketika ia menyatakan bahwa yang datang terlebih dahulu adalah yang literal, dan sesudah itu yang rohani.

Howbeit that was not first which is spiritual, but that which is natural; and afterward that which is spiritual. 1 Corinthians 15:46.

Namun yang mula-mula bukanlah yang rohaniah, melainkan yang alamiah; kemudian barulah yang rohaniah. 1 Korintus 15:46.

Smith was of the covenant people who had replaced apostate Protestantism as God’s people, but he championed their rebellion when he rejected the seven times, and introduced his 1863 chart. Applying his private interpretation produced a false understanding of Armageddon in Revelation chapter sixteen, which is another test over the correct understanding of Rome.

Smith termasuk umat perjanjian yang telah menggantikan Protestantisme yang murtad sebagai umat Allah, tetapi ia mendukung pemberontakan mereka ketika ia menolak tujuh kali dan memperkenalkan bagan tahun 1863 miliknya. Penerapan tafsiran pribadinya menghasilkan pemahaman yang keliru tentang Armagedon dalam Kitab Wahyu pasal enam belas, yang merupakan ujian lain mengenai pemahaman yang benar tentang Roma.

With the first controversy over the robbers, Smith represented those who had been involved with the first fulfillment of the parable of the ten virgins. Thus, with his personal view of the king of the north, he represents a covenant people who were being passed by between 1856 and 1863, as they became the Laodicean Seventh-day Adventist Church. As with the Protestants in the controversy of the robbers, Smith disregarded the grammatical authority of the passage he wrested with his private interpretation, because grammatically the king of the north from verse thirty-one to verse forty-five is always and only the papal power.

Dalam kontroversi pertama mengenai para perampok, Smith mewakili mereka yang telah terlibat dalam penggenapan pertama perumpamaan tentang sepuluh gadis. Dengan demikian, melalui pandangan pribadinya tentang raja utara, ia mewakili umat perjanjian yang sedang diabaikan antara tahun 1856 dan 1863, ketika mereka menjadi Gereja Advent Hari Ketujuh Laodikea. Seperti halnya kaum Protestan dalam kontroversi tentang para perampok, Smith mengabaikan otoritas gramatikal dari bagian yang ia putarbalikkan dengan tafsiran pribadinya, karena secara gramatikal raja utara dari ayat tiga puluh satu sampai ayat empat puluh lima selalu dan hanya merupakan kuasa kepausan.

With the controversy of “the daily,” lies were introduced into Advent history by Willie White and A. G. Daniells to uphold the old Protestant view that “the daily” represented Christ’s sanctuary ministry. That particular history has been identified in Habakkuk’s Tables, but is important to note the false witness associated with the promotion and establishment of the incorrect view, for the correct understanding was recognized by Miller in Second Thessalonians, where the issue is the contrast between those who love the truth and those who believe a lie.

Sehubungan dengan kontroversi mengenai "the daily", kebohongan diperkenalkan ke dalam sejarah Advent oleh Willie White dan A. G. Daniells untuk mempertahankan pandangan Protestan lama bahwa "the daily" mewakili pelayanan Kristus di Bait Suci. Sejarah tertentu itu telah diidentifikasi dalam Tabel Habakuk, namun penting untuk dicatat kesaksian palsu yang terkait dengan promosi dan pengukuhan pandangan yang keliru, sebab pemahaman yang benar itu diakui oleh Miller dalam 2 Tesalonika, di mana persoalannya adalah kontras antara mereka yang mengasihi kebenaran dan mereka yang mempercayai dusta.

“The daily” controversy adds to the line upon line understanding that the final controversy of Rome takes place in the time of the outpouring of the Holy Spirit. As the Holy Spirit is being poured out from above, a power from beneath is rising up and possessing those who receive it as the power of God, though it is a strong delusion.

Kontroversi "the daily" menambah pemahaman baris demi baris bahwa kontroversi terakhir Roma terjadi pada masa pencurahan Roh Kudus. Sementara Roh Kudus dicurahkan dari atas, sebuah kuasa dari bawah bangkit dan merasuki mereka yang menerimanya sebagai kuasa Allah, padahal itu adalah penyesatan yang kuat.

“The two great powers in controversy are working, one from beneath, the other from above. Every man is under the secret influence of the one or the other, and his acts will reveal the character of the inspiration from which they proceed. Those who are united with Christ will work always in Christ’s lines. Those who are in union with Satan will work under the inspiration of their leader, opposed to the Holy Spirit’s power and action. The will of man is left free to act, and by action is revealed what spirit is moving upon the heart. ‘By their fruits ye shall know them.’” The 1888 Materials, 1508.

Dua kuasa besar yang berada dalam pertentangan sedang bekerja, yang satu dari bawah, yang lain dari atas. Setiap orang berada di bawah pengaruh tersembunyi salah satu dari keduanya, dan tindakannya akan menyingkapkan sifat ilham yang menjadi sumbernya. Mereka yang bersatu dengan Kristus akan selalu bekerja sejalan dengan Kristus. Mereka yang bersatu dengan Setan akan bekerja di bawah ilham pemimpin mereka, menentang kuasa dan pekerjaan Roh Kudus. Kehendak manusia dibiarkan bebas untuk bertindak, dan melalui tindakan itu dinyatakan roh apa yang menggerakkan hati. 'Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.' The 1888 Materials, 1508.

The prophetic contrast in the controversy of “the daily” is the identification of a symbol of the dragon as a symbol of Christ. Those who reject the truth, are also rejecting the role of Miller who discovered this truth, and in so doing they are rejecting the Holy Spirit and accomplishing the unpardonable sin.

Kontras kenabian dalam kontroversi tentang "the daily" adalah penyamaan simbol naga sebagai simbol Kristus. Mereka yang menolak kebenaran itu juga menolak peran Miller yang menemukan kebenaran ini, dan dengan demikian mereka menolak Roh Kudus dan melakukan dosa yang tak terampuni.

We will take up a controversy over Rome that occurred shortly after September 11, 2001 in the next article.

Kami akan membahas kontroversi seputar Roma yang terjadi tak lama setelah 11 September 2001 dalam artikel berikutnya.

“We are living in a time when life is most precious and most interesting. The end of all things is at hand. Startling developments will be continually unfolding before us; for unseen agencies are at work, manifesting intense activity. The powers of darkness from beneath are moving upon human agents, and evil men are cooperating with evil angels to war against the commandments of God and the faith of Jesus; at the same time a power from above is moving upon those who will yield to divine influences, and the people of God are cooperating with heavenly intelligences. Nothing short of real, genuine faith will survive the strain that will come upon every soul of man in these last days to test and try him. God must be our refuge; we cannot trust in form, profession, ceremony, or position, or think that because we have a name to live, we shall be able to stand in the day of trial. Everything that can be shaken will be shaken, and those things that cannot be shaken by the deceptions and delusions of these last days, will remain. Rivet the soul to the eternal Rock; for in Christ alone there will be safety. Jesus described the days in which we are living as days of peril. He said, ‘As the days of Noe were, so shall also the coming of the Son of man be. For as in the days that were before the flood they were eating and drinking, marrying and giving in marriage, until the day that Noe entered into the ark, and knew not until the flood came, and took them all away; so shall also the coming of the Son of man be.’ ‘Likewise also as it was in the days of Lot; they did eat, they drank, they bought, they sold, they planted, they builded; but the same day that Lot went out of Sodom it rained fire and brimstone from heaven, and destroyed them all. Even thus shall it be in the day when the Son of man is revealed.’ ‘When the Son of man shall come in his glory, and all the holy angels with him, then shall he sit upon the throne of his glory: and before him shall be gathered all nations: and he shall separate them one from another, as a shepherd divideth his sheep from the goats: and he shall set the sheep on his right hand, but the goats on the left. Then shall the King say unto them on his right hand, Come, ye blessed of my Father, inherit the kingdom prepared for you from the foundation of the world.’ Our course in this life will decide our eternal destiny there; it is left with us to say whether we shall be with those who inherit the kingdom of God, or with those who go away into outer darkness. God has made every provision for our salvation; then let us avail ourselves of that which has been purchased at infinite cost. ‘For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.’” Youth Instructor, August 3, 1893.

Kita hidup pada masa ketika hidup ini paling berharga dan paling menarik. Akhir dari segala sesuatu sudah dekat. Perkembangan-perkembangan yang mengejutkan akan terus-menerus tersingkap di hadapan kita; sebab kuasa-kuasa yang tak kelihatan sedang bekerja, memperlihatkan aktivitas yang sangat intens. Kuasa-kuasa kegelapan dari bawah sedang menggerakkan agen-agen manusia, dan orang-orang jahat bekerja sama dengan malaikat-malaikat jahat untuk memerangi perintah-perintah Allah dan iman Yesus; pada saat yang sama suatu kuasa dari atas sedang menggerakkan mereka yang mau berserah kepada pengaruh ilahi, dan umat Allah bekerja sama dengan makhluk-makhluk surgawi. Tidak ada yang kurang dari iman yang nyata dan sejati yang akan sanggup bertahan terhadap tekanan yang akan datang atas setiap jiwa manusia pada hari-hari terakhir ini untuk menguji dan mencobanya. Allah harus menjadi perlindungan kita; kita tidak dapat percaya pada bentuk, pengakuan, upacara, atau kedudukan, atau berpikir bahwa karena kita memiliki nama untuk hidup, kita akan mampu berdiri pada hari pencobaan. Segala sesuatu yang dapat digoncangkan akan digoncangkan, dan hal-hal yang tidak dapat digoncangkan oleh tipu daya dan penyesatan pada hari-hari terakhir ini akan tetap tinggal. Paku jiwa pada Batu Kekal; sebab hanya di dalam Kristus akan ada keamanan. Yesus menggambarkan hari-hari di mana kita hidup sebagai hari-hari yang berbahaya. Dia berkata, 'Seperti pada zaman Noe, demikian juga kedatangan Anak Manusia kelak. Sebab sebagaimana pada hari-hari sebelum air bah mereka makan dan minum, menikah dan menikahkan, sampai pada hari ketika Noe masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu sampai air bah datang dan menyapu mereka semua; demikian pula akan halnya kedatangan Anak Manusia.' 'Demikian juga seperti pada zaman Lot; mereka makan, mereka minum, mereka membeli, mereka menjual, mereka menanam, mereka membangun; tetapi pada hari yang sama ketika Lot keluar dari Sodom, turun hujan api dan belerang dari surga dan membinasakan mereka semua. Demikian pulalah halnya pada hari ketika Anak Manusia dinyatakan.' 'Ketika Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya, dan semua malaikat kudus bersama-Nya, maka Ia akan duduk di takhta kemuliaan-Nya; dan di hadapan-Nya akan dikumpulkan semua bangsa; dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, seperti seorang gembala memisahkan domba dari kambing; dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya, tetapi kambing-kambing di sebelah kiri. Lalu Raja akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya, Datanglah, kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, warisilah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.' Jalan yang kita tempuh dalam hidup ini akan menentukan nasib kekal kita di sana; kita sendiri yang menentukan apakah kita akan bersama mereka yang mewarisi kerajaan Allah, atau bersama mereka yang pergi ke kegelapan yang di luar. Allah telah menyediakan segala sesuatu bagi keselamatan kita; maka marilah kita memanfaatkan apa yang telah dibeli dengan harga yang tak terhingga. 'Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.' Youth Instructor, 3 Agustus 1893.