Ketika perumpamaan tentang sepuluh gadis digenapi dalam sejarah Millerit, peristiwa itu terjadi selama pekabaran malaikat kedua. Pekabaran malaikat kedua mewakili dua pekabaran yang berbeda, baik dalam hal rentang waktu yang dicakup maupun dalam hal khalayak yang dituju. Pekabaran malaikat kedua ditujukan kepada gereja-gereja Protestan yang baru saja kembali kepada Roma dan menjadi anak-anak Babel. Seruan Tengah Malam ditujukan kepada para Millerit yang tertidur. Pekabaran pertama ditujukan kepada pihak di luar kalangan Millerit, sedangkan yang kedua ditujukan kepada kalangan itu sendiri. Hal ini akan digenapi secara harfiah pada zaman kita.

Perbedaan yang perlu diperhatikan dalam pengulangan pada zaman kita adalah bahwa pada awal Adventisme pekabaran malaikat kedua pertama-tama disampaikan kepada mereka di luar kaum Millerit, lalu bagian kedua dari pekabaran itu disampaikan ke dalam kalangan kaum Millerit. Pada akhir Adventisme, ketika perumpamaan itu diulangi lagi, demikian pula pekabaran malaikat kedua. Kita diberitahu hal itu secara langsung lebih dari beberapa kali. Namun sifat dua bagian dari pekabaran itu dibalikkan pada akhirnya. Pekabaran pertama ditujukan kepada Adventisme dan yang kedua kepada mereka di luar Adventisme. Kita diberitahu bahwa pekerjaan dan pekabaran yang diwakili oleh malaikat Wahyu 18 merupakan pengulangan dari pekabaran malaikat kedua.

Nabi itu berkata, "Aku melihat malaikat lain turun dari surga, memiliki kuasa besar; dan bumi diterangi oleh kemuliaannya. Dan ia berseru dengan suara yang kuat, katanya, Babel yang besar telah jatuh, telah jatuh, dan telah menjadi tempat kediaman setan-setan" (Wahyu 18:1, 2). Ini adalah pesan yang sama yang diberikan oleh malaikat kedua. Babel telah jatuh, "karena ia telah membuat semua bangsa minum dari anggur amarah percabulannya" (Wahyu 14:8). Apakah anggur itu?-Ajaran-ajarannya yang palsu. Ia telah memberikan kepada dunia sebuah sabat palsu sebagai pengganti Sabat dari perintah keempat, dan telah mengulang kebohongan yang pertama kali dikatakan Iblis kepada Hawa di Eden-keabadian jiwa yang alami. Banyak kesalahan sejenis telah ia sebarkan jauh dan luas, "mengajarkan perintah-perintah manusia sebagai ajaran" (Matius 15:9).

"Ketika Yesus memulai pelayanan-Nya di muka umum, Ia menyucikan Bait Allah dari penodaan terhadap kekudusannya. Di antara tindakan terakhir dari pelayanan-Nya adalah penyucian Bait Allah untuk kedua kalinya. Demikian pula dalam pekerjaan terakhir untuk memberi peringatan kepada dunia, dua seruan yang berbeda ditujukan kepada gereja-gereja. Pekabaran malaikat yang kedua adalah, 'Babel telah jatuh, telah jatuh, kota besar itu, karena ia telah membuat segala bangsa minum dari anggur murka percabulannya' (Wahyu 14:8). Dan dalam seruan nyaring dari pekabaran malaikat yang ketiga terdengar suara dari surga yang berkata, 'Keluarlah daripadanya, hai umat-Ku, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan menerima tulah-tulahnya. Sebab dosa-dosanya telah sampai ke surga, dan Allah telah mengingat kejahatan-kejahatannya' (Wahyu 18:4, 5)." Selected Messages, buku 2, 118.

Pekabaran malaikat kedua pada permulaan Adventisme adalah pekabaran yang sama seperti yang diwakili oleh malaikat dalam Wahyu pasal delapan belas, dan dalam peringatan itu ada dua suara yang menyampaikan pekabaran. Suara pertama dinyatakan ketika bumi diterangi oleh kemuliaannya, dan pada ayat empat Yohanes mendengar suara lain berkata, "Keluarlah daripadanya."

Dalam sejarah kaum Millerit, panggilan untuk keluar dari Babel datang lebih dahulu dan pesan kepada kaum Millerit datang kemudian. Dalam Wahyu pasal delapan belas, suara kedua, atau pesan kedua, ditujukan kepada mereka yang berada di luar Adventisme. Sejalan dengan pernyataan bahwa ada "dua panggilan yang berbeda yang diberikan kepada gereja-gereja", kita mendapati bahwa kedua peristiwa ketika Kristus menyucikan Bait Suci (pada awal dan akhir pelayanan-Nya) juga merupakan gambaran tentang awal dan akhir Adventisme.

Permulaan Adventisme menggambarkan suatu pemurnian para pekerja yang membantu membangun dasar yang didirikan melalui William Miller. Dasar itu diselesaikan pada akhir pesan malaikat kedua, sebab dengan kedatangan malaikat ketiga pada 22 Oktober 1844, kebenaran-kebenaran yang membentuk dasar-dasar Adventisme menjadi dapat dipahami oleh mereka yang bersedia mendengar.

Pekerjaan membangun fondasi berakhir pada puncak sejarah malaikat kedua, ketika “dua panggilan yang berbeda diserukan kepada gereja-gereja.” Panggilan pertama ditujukan kepada pihak di luar kaum Millerites, yang kedua ditujukan kepada kaum Millerites. Namun permulaan lain yang selaras dengan permulaan Adventisme adalah pelayanan Kristus ketika Ia menyucikan bait-Nya untuk pertama kalinya. Gambaran kenabian tentang bait yang disucikan menandai suatu pemurnian pada awal dan akhir pelayanan-Nya, yang pada gilirannya melambangkan pemurnian Adventisme pada awal dan akhirnya. Dua kali penyucian bait oleh Kristus selaras dengan awal dan akhir Adventisme, tetapi pesan-Nya hanya ditujukan kepada umat perjanjian-Nya yang sedang dalam proses menceraikan diri mereka dari Allah untuk selama-lamanya.

Permulaan Adventisme menyampaikan pekabaran yang mengumumkan dibukanya penghakiman, dan akhir Adventisme sedang mengumumkan berakhirnya penghakiman. Yesus menyucikan Bait Suci untuk pertama kalinya dan menegur orang-orang Yahudi karena menjadikan rumah-Nya sarang penyamun, tetapi penyucian Bait Suci yang kedua termasuk "di antara tindakan-tindakan terakhir dari pelayanan-Nya." Pada akhir pelayanan-Nya, Ia tidak lagi mengatakan kepada orang Yahudi bahwa mereka telah menjadikan rumah Bapa-Nya sarang penyamun; Ia kemudian mengatakan kepada mereka bahwa rumah mereka "ditinggalkan bagi mereka menjadi sunyi sepi."

"Sementara itu para penyembah dari segala bangsa mencari Bait Suci yang telah didedikasikan untuk ibadah kepada Allah. Berkilauan dengan emas dan batu-batu berharga, bait itu merupakan pemandangan keindahan dan keagungan. Namun Jehova tidak lagi dapat ditemukan di istana keindahan itu. Israel sebagai bangsa telah menceraikan diri dari Allah. Ketika Kristus, menjelang akhir pelayanan-Nya di bumi, untuk terakhir kalinya memandang ke bagian dalam Bait itu, Ia berkata, 'Sesungguhnya rumahmu ditinggalkan dan menjadi sunyi.' Matius 23:38. Sampai saat itu Ia menyebut Bait itu rumah Bapa-Nya; tetapi ketika Anak Allah keluar dari dinding-dinding itu, kehadiran Allah ditarik kembali untuk selama-lamanya dari Bait yang dibangun bagi kemuliaan-Nya." Kisah Para Rasul, 145.

Pada awalnya, bait yang Ia sucikan berbeda dengan bait yang Ia sucikan pada akhirnya. Bait yang pertama adalah rumah Bapa-Nya, tetapi bait yang kedua adalah rumah orang-orang Yahudi. Tuhan masuk dalam perjanjian dengan Adventisme pada awalnya, dan orang-orang Advent menjadi para imam di bait-Nya. Pada akhir Adventisme, mereka tidak lagi menjadi imam, dan rumah mereka akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.

Malaikat kedua mewakili dua pesan. Inilah salah satu alasan pesan itu digambarkan sebagai Babilon jatuh dua kali. Ini bukan alasan utama atas pengumuman yang diulang dua kali tentang kejatuhan Babilon, tetapi merupakan salah satu alasannya. Bagaimana itu merupakan dua pesan?

Malaikat kedua datang sebagai tanggapan atas penolakan terhadap pekabaran malaikat pertama. Ketika ramalan yang keliru—yang menetapkan tahun 1843 sebagai akhir dari nubuatan 2300 tahun—gagal, gereja-gereja Protestan menggunakan ramalan yang keliru itu untuk menolak pekabaran Miller. Pekabaran Miller adalah pekabaran malaikat pertama. Pada saat pekabaran itu ditolak, gereja-gereja Protestan, yang telah menjadi gereja Allah di padang gurun selama lebih dari 1260 tahun, ditolak dan menjadi anak perempuan Babel. Pada saat itulah malaikat kedua datang dengan pekabarannya.

Ada beberapa poin yang sangat penting terkait dengan berbagai unsur dari sejarah yang sedang kita pertimbangkan ini. Setidaknya ada satu poin yang harus diuraikan secara bertahap karena hal itu jelas berkontribusi pada pemahaman akan pesan Wahyu Yesus Kristus yang saat ini sedang disingkapkan. Karena itu, saya menyertakan sebuah bagian yang sangat penting tentang sejarah tersebut. Yang saya rujuk adalah dua pasal, tetapi ada juga pasal ketiga yang penting di tengah-tengah kedua pasal itu. Saat ini saya tidak memasukkannya untuk membatasi ruang lingkup pembahasan kita.

Perhatikan malaikat mana yang sedang dituju saat Anda membaca; carilah proses pengujian yang progresif; dan catat dalam paragraf pertama bahwa ciri-ciri kenabian dari malaikat dalam Wahyu pasal delapan belas juga merupakan ciri-ciri malaikat pertama. Perhatikan bahwa menyalibkan salah satu pesan adalah menyalibkan Kristus, dan perhatikan bahwa ketiga malaikat itu semuanya digambarkan sebagai malaikat tunggal, tetapi pesan Seruan Tengah Malam merupakan kumpulan besar malaikat.

Kepadaku diperlihatkan betapa seluruh surga menaruh perhatian terhadap pekerjaan yang sedang berlangsung di bumi. Yesus menugaskan seorang malaikat yang kuat dan perkasa untuk turun dan memperingatkan para penghuni bumi agar bersiap untuk kedatangan-Nya yang kedua. Aku melihat malaikat perkasa itu meninggalkan hadirat Yesus di surga. Mendahuluinya suatu terang yang amat cemerlang dan mulia. Kepadaku diberitahukan bahwa misinya adalah menerangi bumi dengan kemuliaan-Nya, dan memperingatkan manusia akan murka Allah yang akan datang. Banyak orang menerima terang itu. Sebagian tampak sangat khidmat, sementara yang lain bersukacita dan terpesona. Terang itu dicurahkan atas semua orang, tetapi ada yang hanya berada di bawah pengaruh terang itu dan tidak menerimanya dengan sepenuh hati. Namun semua yang menerimanya menengadah ke surga dan memuliakan Allah. Banyak yang dipenuhi amarah besar. Para pendeta dan orang-orang bersatu dengan kaum bejat, dan dengan gigih menentang terang yang dicurahkan oleh malaikat perkasa itu. Tetapi semua yang menerimanya menarik diri dari dunia dan erat bersatu satu sama lain.

Setan dan malaikat-malaikatnya giat berusaha memalingkan pikiran sebanyak mungkin orang dari terang. Mereka yang menolaknya ditinggalkan dalam kegelapan. Aku melihat seorang malaikat mengamati dengan perhatian yang sangat besar umat yang mengaku milik Allah, untuk mencatat tabiat yang mereka kembangkan, ketika pesan yang berasal dari surga diperkenalkan kepada mereka. Dan ketika sangat banyak orang yang mengaku mengasihi Yesus berpaling dari pesan surgawi itu dengan cemooh, ejekan, dan kebencian, seorang malaikat dengan selembar perkamen di tangannya mencatat hal-hal yang memalukan. Seluruh surga dipenuhi dengan kemarahan, karena Yesus diremehkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikut-Nya.

Aku melihat kekecewaan orang-orang yang percaya. Mereka tidak melihat Tuhan mereka pada waktu yang diharapkan. Adalah maksud Allah untuk menyembunyikan masa depan, dan membawa umat-Nya pada titik keputusan. Tanpa titik waktu ini, pekerjaan yang dirancang Allah tidak akan terlaksana. Setan menuntun pikiran banyak orang jauh ke masa depan. Suatu kurun waktu yang diwartakan untuk kedatangan Kristus harus mendorong pikiran untuk dengan sungguh-sungguh mencari persiapan pada masa kini. Ketika waktu itu berlalu, mereka yang tidak sepenuhnya menerima terang malaikat, bersatu dengan mereka yang telah meremehkan pekabaran surgawi, dan mereka berbalik mencemooh orang-orang yang kecewa. Aku melihat para malaikat di surga bermusyawarah dengan Yesus. Mereka telah memperhatikan keadaan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Berlalunya waktu yang tertentu itu telah menguji dan membuktikan mereka, dan sangat banyak yang ditimbang dalam neraca dan didapati kurang. Mereka semua dengan lantang mengaku sebagai orang Kristen, namun gagal mengikuti Kristus dalam hampir segala hal. Setan bersorak gembira melihat keadaan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus. Ia telah menjerat mereka. Ia telah menuntun mayoritas untuk meninggalkan jalan yang lurus, dan mereka berusaha naik ke surga dengan cara lain. Para malaikat melihat yang murni, yang bersih, dan yang kudus semuanya tercampur dengan orang-orang berdosa di Sion, serta para munafik yang mencintai dunia. Mereka telah menjaga para pencinta Yesus yang sejati; tetapi yang rusak sedang mempengaruhi yang kudus.

Mereka yang hatinya menyala dengan kerinduan, hasrat yang kuat untuk melihat Yesus, dilarang oleh mereka yang menyebut diri sebagai saudara seiman untuk berbicara tentang kedatangan-Nya. Malaikat menyaksikan seluruh peristiwa itu dan bersimpati dengan sisa umat yang mengasihi kedatangan Yesus. Seorang malaikat perkasa yang lain ditugaskan untuk turun ke bumi. Yesus menaruh sebuah tulisan di tangannya, dan ketika malaikat itu datang ke bumi, ia berseru, "Babel telah jatuh! telah jatuh!" Lalu aku melihat orang-orang yang kecewa itu kembali tampak ceria, dan menengadah ke surga, memandang dengan iman dan harapan akan kedatangan Tuhan mereka. Namun banyak yang tampak tetap dalam keadaan seakan mati rasa, seolah-olah tertidur; tetapi aku dapat melihat jejak dukacita yang mendalam pada raut wajah mereka. Orang-orang yang kecewa itu melihat dari Alkitab bahwa mereka berada dalam masa penantian, dan bahwa mereka harus dengan sabar menunggu penggenapan penglihatan itu. Bukti yang sama yang menuntun mereka untuk menantikan Tuhan mereka pada tahun 1843, menuntun mereka untuk mengharapkan-Nya pada tahun 1844. Aku melihat bahwa mayoritas tidak lagi memiliki semangat yang menandai iman mereka pada tahun 1843. Kekecewaan mereka telah meredupkan iman mereka. Namun ketika orang-orang yang kecewa itu bersatu dalam seruan malaikat kedua, bala tentara surga memandang dengan perhatian yang sedalam-dalamnya dan memperhatikan dampak dari pesan itu. Mereka melihat orang-orang yang menyandang nama Kristen berbalik dengan cemooh dan hinaan terhadap mereka yang telah kecewa. Ketika kata-kata itu jatuh dari bibir si pengejek, "Kalian belum naik juga!" seorang malaikat menuliskannya. Kata malaikat itu, "Mereka mengejek Allah."

Aku diingatkan kembali akan pengangkatan Elia. Jubahnya jatuh ke atas Elisa, dan anak-anak (atau orang-orang muda) yang jahat mengikutinya, mengejek sambil berteriak, “Naiklah, hai kepala botak! Naiklah, hai kepala botak!” Mereka mengejek Allah dan menerima hukuman mereka di sana. Mereka telah mempelajarinya dari orang tua mereka. Dan mereka yang telah mencemooh dan mengejek gagasan bahwa orang-orang kudus akan terangkat akan ditimpa tulah-tulah Allah, dan akan menyadari bahwa mempermainkan Dia bukanlah hal sepele.

Yesus menugaskan malaikat-malaikat lain untuk terbang dengan cepat guna membangkitkan dan menguatkan iman umat-Nya yang lesu, serta mempersiapkan mereka untuk memahami pekabaran malaikat kedua dan langkah penting yang segera akan diambil di surga. Saya melihat malaikat-malaikat ini menerima kuasa dan terang yang besar dari Yesus, lalu segera terbang ke bumi untuk melaksanakan tugas mereka, menolong malaikat kedua dalam pekerjaannya. Suatu terang besar menyinari umat Allah ketika para malaikat berseru, "Lihat, Mempelai datang; pergilah keluar untuk menyongsong dia." Kemudian saya melihat orang-orang yang kecewa itu bangkit, dan sejalan dengan malaikat kedua, menyatakan, "Lihat, Mempelai datang; pergilah keluar untuk menyongsong dia." Terang dari para malaikat menembus kegelapan di mana-mana. Iblis dan malaikat-malaikatnya berusaha menghalangi agar terang ini tidak menyebar dan tidak mencapai dampak yang dimaksudkan. Mereka melawan malaikat-malaikat Allah dan berkata kepada mereka bahwa Allah telah menipu umat itu, dan bahwa dengan semua terang dan kuasa mereka, mereka tidak dapat meyakinkan umat bahwa Yesus akan datang. Malaikat-malaikat Allah meneruskan pekerjaan mereka, meskipun Iblis berusaha merintangi jalan dan mengalihkan pikiran orang-orang dari terang itu. Mereka yang menerimanya tampak sangat bahagia. Mereka menatap ke langit dan merindukan kedatangan Yesus. Sebagian berada dalam kesesakan besar, menangis dan berdoa. Mata mereka seakan tertuju pada diri mereka sendiri, dan mereka tidak berani memandang ke atas.

Sebuah cahaya yang berharga dari surga menyingkirkan kegelapan dari mereka, dan mata mereka, yang sebelumnya terpaku pada diri sendiri dalam keputusasaan, tertuju ke atas, sementara rasa syukur dan sukacita kudus terpancar pada setiap raut wajah. Yesus dan seluruh bala malaikat memandang dengan penuh perkenan kepada orang-orang setia yang menanti.

Mereka yang menolak dan menentang terang dari pekabaran malaikat pertama, kehilangan terang dari yang kedua, dan tidak dapat memperoleh manfaat dari kuasa dan kemuliaan yang menyertai pekabaran, “Lihatlah, Mempelai itu datang.” Yesus berpaling dari mereka dengan wajah berkerut. Mereka telah meremehkan dan menolak Dia. Mereka yang menerima pekabaran itu diliputi oleh awan kemuliaan. Mereka menanti, berjaga, dan berdoa untuk mengetahui kehendak Allah. Mereka sangat takut menyakiti hati-Nya. Saya melihat Setan dan malaikat-malaikatnya berusaha menutup terang ilahi ini dari umat Allah; namun selama orang-orang yang menanti itu memelihara terang tersebut, dan mengangkat pandangan mereka dari bumi kepada Yesus, Setan tidak mempunyai kuasa untuk merampas dari mereka terang yang berharga ini. Pekabaran yang diberikan dari surga membuat Setan dan malaikat-malaikatnya murka, dan mereka yang mengaku mengasihi Yesus tetapi meremehkan kedatangan-Nya, mencemooh dan mengejek orang-orang yang setia dan percaya. Tetapi seorang malaikat mencatat setiap penghinaan, setiap sikap meremehkan, setiap perlakuan kasar yang mereka terima dari saudara-saudara yang mengaku sebagai saudara. Sangat banyak yang mengangkat suara mereka untuk berseru, “Lihatlah, Mempelai itu datang,” dan meninggalkan saudara-saudara mereka yang tidak mengasihi kedatangan Yesus, dan yang tidak mau membiarkan mereka membicarakan kedatangan-Nya yang kedua. Saya melihat Yesus memalingkan wajah-Nya dari mereka yang menolak dan meremehkan kedatangan-Nya, lalu Ia memerintahkan para malaikat untuk menuntun umat-Nya keluar dari antara yang najis, supaya mereka jangan dicemarkan. Mereka yang taat kepada pekabaran-pekabaran itu berdiri merdeka dan bersatu. Sebuah terang yang kudus dan mulia bersinar atas mereka. Mereka melepaskan dunia, mencabut kasih sayang mereka darinya, dan mengorbankan kepentingan-kepentingan duniawi mereka. Mereka melepaskan harta duniawi mereka, dan pandangan mereka yang rindu diarahkan ke surga, mengharapkan untuk melihat Sang Pembebas yang mereka kasihi. Sukacita yang sakral dan kudus memancar di wajah-wajah mereka, menyatakan damai dan sukacita yang berkuasa di dalam hati. Yesus memerintahkan para malaikat-Nya pergi dan menguatkan mereka, karena saat ujian mereka sudah mendekat. Saya melihat bahwa orang-orang yang menanti ini belum diuji sebagaimana seharusnya. Mereka belum bebas dari kekeliruan. Dan saya melihat kemurahan dan kebaikan Allah dalam mengirimkan suatu peringatan kepada penduduk bumi, dan pekabaran-pekabaran yang berulang untuk membawa mereka kepada suatu titik waktu, untuk menuntun mereka kepada pemeriksaan diri yang tekun, supaya mereka dapat menanggalkan kekeliruan-kekeliruan yang telah diwariskan dari kaum kafir dan penganut kepausan. Melalui pekabaran-pekabaran ini Allah telah membawa keluar umat-Nya ke tempat di mana Ia dapat bekerja bagi mereka dengan kuasa yang lebih besar, dan di mana mereka dapat menuruti semua perintah-Nya. . . .

Ketika pelayanan Yesus di Tempat Suci berakhir, dan Ia masuk ke Tempat Maha Kudus, dan berdiri di hadapan tabut yang berisi hukum Allah, Ia mengutus seorang malaikat lain yang perkasa ke bumi dengan pekabaran ketiga. Ia menaruh selembar perkamen di tangan malaikat itu, dan ketika malaikat itu turun ke bumi dengan keagungan dan kuasa, ia memaklumkan suatu peringatan yang menakutkan, ancaman paling mengerikan yang pernah disampaikan kepada manusia. Pekabaran ini dimaksudkan untuk membangkitkan kewaspadaan umat Allah, dan menunjukkan kepada mereka masa pencobaan dan kesesakan yang ada di hadapan mereka. Kata malaikat itu, “Mereka akan dibawa ke dalam pergumulan yang sengit dengan binatang itu dan gambarnya. Satu-satunya harapan mereka akan hidup kekal adalah tetap teguh. Meskipun nyawa mereka menjadi taruhannya, namun mereka harus berpegang teguh pada kebenaran.” Malaikat ketiga menutup pekabarannya dengan kata-kata ini, “Di sinilah ketekunan orang-orang kudus; inilah mereka yang menuruti perintah-perintah Allah dan iman kepada Yesus.” Ketika ia mengulang kata-kata ini, ia menunjuk kepada Bait Suci surgawi. Pikiran semua orang yang menerima pekabaran ini diarahkan kepada Tempat Maha Kudus, di mana Yesus berdiri di hadapan tabut, melakukan pengantaraan terakhir-Nya bagi semua orang yang masih dinaungi oleh kemurahan, dan bagi mereka yang dengan tidak sadar telah melanggar hukum Allah. Pendamaian ini dilakukan bagi orang-orang benar yang telah mati maupun bagi orang-orang benar yang masih hidup. Yesus mengadakan pendamaian bagi mereka yang telah mati tanpa menerima terang tentang perintah-perintah Allah, yang telah berdosa karena ketidaktahuan.

Setelah Yesus membuka pintu Tempat Maha Kudus, terang Sabat tampak, dan umat Allah akan diuji dan dicobai, sebagaimana Allah dahulu menguji anak-anak Israel, untuk melihat apakah mereka akan memelihara hukum-Nya. Aku melihat malaikat yang ketiga menunjuk ke atas, menunjukkan kepada mereka yang kecewa jalan ke Tempat Maha Kudus di Bait Suci surgawi. Mereka mengikuti Yesus dengan iman ke dalam Tempat Maha Kudus. Sekali lagi mereka menemukan Yesus, dan sukacita serta pengharapan bersemi kembali. Aku melihat mereka menoleh ke belakang meninjau masa lalu, mulai dari pemberitaan tentang kedatangan kedua Yesus, melalui perjalanan mereka hingga lewatnya waktu pada tahun 1844. Mereka melihat kekecewaan mereka dijelaskan, dan sukacita serta kepastian kembali membangkitkan semangat mereka. Malaikat ketiga telah menerangi masa lalu, masa kini, dan masa depan, dan mereka tahu bahwa Allah sungguh telah menuntun mereka melalui pemeliharaan-Nya yang ajaib.

Kepadaku diperlihatkan bahwa umat sisa itu mengikuti Yesus masuk ke Ruang Mahakudus, dan memandang tabut dan tutup pendamaian, serta terpikat oleh kemuliaannya. Yesus mengangkat penutup tabut itu, dan lihatlah! loh-loh batu, dengan Sepuluh Perintah tertulis di atasnya. Mereka menelusuri firman yang hidup itu; tetapi mereka mundur dengan gemetar ketika melihat perintah yang keempat hidup di antara sepuluh ketetapan kudus itu, sementara cahaya yang lebih terang menyinarinya daripada sembilan yang lain, dan suatu lingkaran kemuliaan mengelilinginya. Mereka tidak menemukan apa pun di sana yang memberitahukan bahwa Sabat telah ditiadakan, atau diubah menjadi hari pertama dalam minggu. Bunyi perintah itu sama seperti ketika diucapkan oleh mulut Allah dengan kebesaran yang khidmat dan dahsyat di atas gunung, sementara kilat menyambar dan guruh mengguntur, dan seperti ketika ditulis dengan jari-Nya yang kudus pada loh-loh batu. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu; tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Mereka takjub ketika menyaksikan pemeliharaan terhadap Sepuluh Perintah itu. Mereka melihatnya ditempatkan dekat dengan TUHAN, dinaungi dan dilindungi oleh kekudusan-Nya. Mereka melihat bahwa mereka telah menginjak-injak perintah keempat dari Sepuluh Perintah, dan telah memelihara suatu hari yang diwariskan oleh orang-orang kafir dan kaum kepausan, bukannya hari yang disucikan oleh TUHAN. Mereka merendahkan diri di hadapan Allah, dan meratapi pelanggaran-pelanggaran mereka yang lalu.

Aku melihat kemenyan di dalam pedupaan mengepulkan asap ketika Yesus mempersembahkan pengakuan dan doa-doa mereka kepada Bapa-Nya. Dan ketika asap itu naik, terang yang cemerlang bersemayam atas Yesus dan atas tutup pendamaian; dan orang-orang yang tekun berdoa, yang gelisah karena mereka mendapati diri mereka sebagai pelanggar hukum Allah, diberkati, dan wajah mereka bersinar dengan harapan dan sukacita. Mereka bergabung dalam pekerjaan malaikat ketiga, dan mengangkat suara mereka serta memaklumkan peringatan yang khidmat. Namun pada mulanya hanya sedikit yang menerima pekabaran itu, tetapi mereka terus dengan giat memberitakan peringatan tersebut. Lalu aku melihat banyak orang menerima pekabaran malaikat ketiga, dan menyatukan suara mereka dengan orang-orang yang mula-mula telah memaklumkan peringatan itu, dan mereka meninggikan Allah serta memuliakan-Nya dengan memelihara Hari Perhentian-Nya yang telah dikuduskan.

Banyak yang menerima pekabaran ketiga tidak memiliki pengalaman dalam dua pekabaran sebelumnya. Setan memahami hal ini, dan ia mengarahkan mata jahatnya kepada mereka untuk menjatuhkan mereka; tetapi malaikat yang ketiga mengarahkan mereka ke Tempat Maha Kudus, dan mereka yang memiliki pengalaman dalam pekabaran-pekabaran yang lampau menunjukkan kepada mereka jalan menuju Bait Suci surgawi. Banyak yang melihat rantai kebenaran yang sempurna dalam pekabaran para malaikat, dan dengan sukacita menerimanya. Mereka menerimanya menurut urutannya, dan oleh iman mengikuti Yesus masuk ke Bait Suci surgawi. Pekabaran-pekabaran ini digambarkan kepada saya sebagai sauh untuk menahan jemaat. Dan ketika masing-masing orang menerimanya dan memahaminya, mereka terlindung dari berbagai penyesatan Setan.

Setelah kekecewaan besar pada tahun 1844, Setan dan malaikat-malaikatnya sibuk memasang jerat untuk menggoyahkan iman jemaat. Ia memengaruhi pikiran orang-orang yang memiliki pengalaman pribadi dalam hal-hal ini. Mereka tampak rendah hati. Mereka mengubah pekabaran pertama dan kedua, dan menunjuk ke masa depan untuk penggenapannya, sementara yang lain menunjuk jauh ke masa lalu, menyatakan bahwa di sanalah itu telah digenapi. Orang-orang ini menarik pikiran mereka yang belum berpengalaman menjauh dan menggoncangkan iman mereka. Sebagian menyelidiki Alkitab untuk mencoba membangun iman mereka sendiri, terlepas dari jemaat. Setan bersukacita atas semua ini; sebab ia tahu bahwa mereka yang melepaskan diri dari jangkar dapat ia pengaruhi dengan berbagai kesesatan dan diombang-ambingkan oleh angin-angin ajaran. Banyak yang telah memimpin dalam pekabaran pertama dan kedua, menyangkalnya, dan perpecahan serta tercerai-berai terjadi di seluruh jemaat. Lalu aku melihat Wm. Miller. Ia tampak bingung, dan tertunduk oleh dukacita dan kesusahan karena umatnya. Ia melihat kelompok yang pada tahun 1844 bersatu dan saling mengasihi, kehilangan kasih satu terhadap yang lain, dan saling menentang. Ia melihat mereka jatuh kembali ke keadaan yang dingin dan kemunduran rohani. Kesedihan menguras kekuatannya. Aku melihat para pemimpin mengawasi Wm. Miller, dan takut kalau-kalau ia menerima pekabaran malaikat yang ketiga dan perintah-perintah Allah. Dan ketika ia condong kepada terang dari surga, orang-orang ini menyusun rencana untuk mengalihkan pikirannya. Aku melihat pengaruh manusia dijalankan untuk menahan pikirannya tetap dalam kegelapan, dan untuk mempertahankan pengaruhnya di tengah-tengah mereka. Akhirnya Wm. Miller mengangkat suaranya menentang terang dari surga. Ia gagal karena tidak menerima pekabaran yang akan sepenuhnya menjelaskan kekecewaannya, dan menyorotkan terang dan kemuliaan atas masa lalu, yang akan menghidupkan kembali semangatnya yang telah terkuras, mencerahkan pengharapannya, dan menuntunnya untuk memuliakan Allah. Namun ia bersandar pada hikmat manusia, bukannya ilahi; dan karena remuk oleh kerja berat dalam perkara Tuannya serta oleh usia, ia tidak sebertanggung jawab mereka yang menahannya dari kebenaran. Merekalah yang bertanggung jawab, dan dosa itu ditanggungkan atas mereka. Seandainya Wm. Miller dapat melihat terang pekabaran ketiga, banyak hal yang tampak gelap dan misterius baginya akan telah dijelaskan. Saudara-saudaranya menyatakan kasih dan perhatian yang begitu mendalam kepadanya, sehingga ia berpikir ia tidak dapat melepaskan diri dari mereka. Hatinya akan condong kepada kebenaran; tetapi kemudian ia memandang saudara-saudaranya. Mereka menentangnya. Mungkinkah ia melepaskan diri dari mereka yang telah berdiri bahu-membahu dengannya dalam memberitakan kedatangan Yesus? Ia berpikir mereka pasti tidak akan menyesatkannya.

Allah membiarkan dia berada di bawah kuasa Iblis, dan maut berkuasa atasnya. Ia menyembunyikannya di dalam kubur, jauh dari orang-orang yang terus-menerus menariknya menjauh dari Allah. Musa melakukan kesalahan tepat ketika ia hendak memasuki tanah perjanjian. Demikian juga, aku melihat bahwa Wm. Miller melakukan kesalahan ketika ia hampir memasuki Kanaan surgawi, dengan membiarkan pengaruhnya menentang kebenaran. Orang lain menuntunnya ke hal ini. Orang lain harus mempertanggungjawabkannya. Namun malaikat-malaikat menjaga debu yang berharga dari hamba Allah ini, dan ia akan bangkit pada bunyi sangkakala terakhir.

Aku melihat suatu kelompok yang berjaga ketat dan berdiri teguh, dan tidak memberi dukungan kepada mereka yang hendak menggoyahkan iman jemaat yang telah mapan. Tuhan memandang mereka dengan berkenan. Kepadaku diperlihatkan tiga langkah—satu, dua, dan tiga—yakni pekabaran malaikat pertama, kedua, dan ketiga. Berkatalah malaikat, “Celakalah orang yang menggeser sebuah balok atau mengusik sebuah pasak dalam pekabaran-pekabaran ini.” Pengertian yang benar tentang pekabaran-pekabaran ini sangat penting. Nasib jiwa-jiwa bergantung pada cara pekabaran-pekabaran ini diterima. Aku sekali lagi dibawa melalui pekabaran-pekabaran ini, dan melihat betapa mahal harga yang dibayar umat Tuhan untuk memperoleh pengalaman mereka. Itu diperoleh melalui banyak penderitaan dan pergumulan yang berat. Selangkah demi selangkah Tuhan menuntun mereka, hingga Ia menempatkan mereka di atas suatu landasan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Kemudian aku melihat orang-orang, ketika mereka mendekati landasan itu, memeriksa fondasinya sebelum melangkah naik ke atasnya. Sebagian dengan sukacita segera naik ke atasnya. Yang lain mulai mencari-cari kesalahan pada peletakan fondasinya. Mereka menginginkan agar diadakan perbaikan, dan barulah landasan itu akan menjadi lebih sempurna, dan orang-orang jauh lebih bahagia. Beberapa orang turun dari landasan itu dan memeriksanya, lalu mencela, menyatakan bahwa itu diletakkan secara keliru. Aku melihat bahwa hampir semua berdiri teguh di atas landasan itu, dan menasihati mereka yang telah turun agar menghentikan keluhan mereka, karena Tuhan adalah pembangun utama, dan mereka sedang melawan-Nya. Mereka menceritakan kembali pekerjaan Tuhan yang ajaib, yang telah menuntun mereka ke landasan yang teguh itu, dan dengan sehati hampir semua mengangkat mata mereka ke surga, dan dengan suara nyaring memuliakan Tuhan. Hal ini menyentuh sebagian dari mereka yang telah mengeluh dan meninggalkan landasan itu, dan kembali mereka dengan wajah yang rendah hati melangkah naik ke atasnya.

Saya diarahkan kembali kepada pemberitaan tentang kedatangan pertama Kristus. Yohanes diutus dalam roh dan kuasa Elia untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus. Mereka yang menolak kesaksian Yohanes tidak memperoleh manfaat dari ajaran-ajaran Yesus. Penentangan mereka terhadap pemberitaan tentang kedatangan pertamanya menempatkan mereka pada keadaan di mana mereka tidak dapat dengan mudah menerima bukti terkuat bahwa ia adalah Mesias. Setan mendorong mereka yang menolak pekabaran Yohanes untuk melangkah lebih jauh lagi, menolak Yesus dan menyalibkan dia. Dengan melakukan hal ini, mereka menempatkan diri mereka pada posisi di mana mereka tidak dapat menerima berkat pada hari Pentakosta, yang seharusnya mengajarkan kepada mereka jalan masuk ke Bait Suci surgawi. Robeknya tabir Bait Suci menunjukkan bahwa korban-korban dan ketetapan-ketetapan Yahudi tidak akan lagi diterima. Korban Besar itu telah dipersembahkan, dan telah diterima, dan Roh Kudus yang turun pada hari Pentakosta mengarahkan pikiran para murid dari Bait Suci di bumi kepada yang surgawi, tempat Yesus telah masuk dengan darahnya sendiri, dan mencurahkan atas murid-muridnya berkat pendamaiannya. Orang-orang Yahudi dibiarkan dalam penyesatan yang sempurna dan kegelapan total. Mereka kehilangan segala terang yang seharusnya dapat mereka miliki tentang rencana keselamatan, dan masih menaruh kepercayaan pada korban-korban dan persembahan-persembahan mereka yang sia-sia. Mereka tidak dapat memperoleh manfaat dari perantaraan Kristus di Tempat Kudus. Bait Suci surgawi telah menggantikan yang di bumi, namun mereka tidak mengetahui jalan menuju yang surgawi.

Banyak orang memandang dengan ngeri tindakan orang-orang Yahudi terhadap Yesus dalam menolak dan menyalibkan-Nya. Dan ketika mereka membaca kisah penganiayaan-Nya yang memalukan, mereka berpikir bahwa mereka mengasihi Kristus, dan tidak akan menyangkal-Nya seperti Petrus, atau menyalibkan-Nya seperti orang-orang Yahudi. Tetapi Allah, yang telah menyaksikan simpati yang mereka nyatakan bagi Anak-Nya, telah menguji mereka, serta menguji kasih yang mereka nyatakan bagi Yesus.

Seluruh surga menyaksikan dengan minat yang paling dalam bagaimana pekabaran itu diterima. Tetapi banyak orang yang mengaku mengasihi Yesus, dan yang meneteskan air mata ketika membaca kisah salib, bukannya menerima pekabaran itu dengan sukacita, melainkan bangkit dalam kemarahan, mengejek kabar baik tentang kedatangan Yesus, dan menyatakannya sebagai khayalan. Mereka tidak mau bersekutu dengan orang-orang yang mengasihi kedatangan-Nya, malah membenci mereka dan mengusir mereka dari gereja-gereja. Mereka yang menolak pekabaran pertama tidak dapat memperoleh manfaat dari pekabaran kedua, dan tidak pula memperoleh manfaat dari seruan tengah malam, yang dimaksudkan untuk mempersiapkan mereka agar oleh iman masuk bersama Yesus ke Ruang Maha Kudus dari Bait Suci surgawi. Dan dengan menolak dua pekabaran yang terdahulu, mereka tidak melihat terang apa pun dalam pekabaran malaikat yang ketiga, yang menunjukkan jalan ke Ruang Maha Kudus. Aku melihat bahwa gereja-gereja nominal, sebagaimana orang-orang Yahudi menyalibkan Yesus, telah menyalibkan pekabaran-pekabaran ini; oleh karena itu mereka tidak mengetahui gerakan yang terjadi di surga ataupun jalan ke Ruang Maha Kudus, dan mereka tidak dapat memperoleh manfaat dari perantaraan Yesus di sana. Seperti orang-orang Yahudi yang mempersembahkan korban-korban mereka yang tak berguna, mereka menaikkan doa-doa yang tak berguna ke ruangan yang telah ditinggalkan Yesus; dan Iblis, yang senang dengan penipuan atas para pengikut Kristus yang hanya mengaku-aku, mencengkeram mereka dalam jeratnya, menampilkan diri dengan rupa yang religius, mengarahkan pikiran orang-orang Kristen yang hanya mengaku-aku itu kepada dirinya, dan bekerja dengan kuasanya, tanda-tandanya, dan mujizat-mujizat dustanya. Sebagian ia tipu dengan satu cara dan sebagian dengan cara yang lain. Ia telah menyiapkan berbagai tipu daya untuk mempengaruhi pikiran yang berbeda-beda. Sebagian memandang dengan ngeri satu penyesatan, sementara mereka dengan mudah menerima penyesatan yang lain. Iblis menipu sebagian dengan Spiritualisme. Ia juga datang sebagai malaikat terang dan menyebarkan pengaruhnya ke seluruh negeri. Aku melihat pembaruan-pembaruan palsu di mana-mana. Gereja-gereja bersorak-sorai dan menganggap bahwa Allah bekerja dengan ajaib bagi mereka, padahal itu roh yang lain. Hal itu akan pudar dan meninggalkan dunia dan gereja dalam keadaan yang lebih buruk daripada sebelumnya.

Saya melihat bahwa Allah memiliki anak-anak yang jujur di antara orang-orang Advent nominal dan gereja-gereja yang telah jatuh, dan bahwa para pendeta serta umat masih akan dipanggil keluar dari gereja-gereja ini sebelum tulah-tulah dicurahkan, dan mereka akan dengan sukacita memeluk kebenaran. Setan mengetahui hal ini, dan sebelum seruan nyaring malaikat ketiga, ia membangkitkan kegairahan di badan-badan keagamaan ini, supaya mereka yang telah menolak kebenaran menyangka bahwa Allah menyertai mereka. Ia berharap menipu orang-orang yang jujur, dan membuat mereka berpikir bahwa Allah masih bekerja bagi gereja-gereja itu. Tetapi terang itu akan bersinar, dan setiap orang yang jujur akan meninggalkan gereja-gereja yang telah jatuh, dan menyatukan diri dengan umat sisa. Spiritual Gifts, jilid 1, 151–172.

Bagian ini memuat begitu banyak kebenaran penting, tetapi saya menggunakan bagian ini untuk mengisolasi beberapa karakteristik dari pesan-pesan dalam sejarah kaum Millerit, untuk memahami bagaimana hal-hal itu menjadi gambaran bagi sejarah kita. Ketiga malaikat dalam Wahyu pasal empat belas memegang sebuah pesan di tangan mereka. Malaikat kedua dan ketiga diidentifikasi sebagai membawa "perkamen" bersama mereka ketika mereka turun menyampaikan pesan mereka. Setiap malaikat mewakili sebuah pesan, dan kedatangan setiap pesan menimbulkan suatu dampak.

Kita akan melanjutkan pembahasan ini pada artikel berikutnya.