The Millerite movement was represented in Isaiah chapter seven by a sixty-five year prophecy, that began in 742 BC. Those sixty-five years that took place in the history of Isaiah represent the sixty-five years from 1798 until 1863. Alpha and Omega will always portray the end, with the beginning. The sixty-five year prophecy identifies the curse of seven times against the northern and the southern kingdoms of Israel. The first seven times against the northern kingdom began in 723 BC, nineteen years after Isaiah presented the prediction to king Ahaz. The last seven times against the southern kingdom, began at the end of the sixty-five years in 677 BC.

Gerakan Millerite diwakili dalam Yesaya pasal tujuh oleh sebuah nubuatan selama enam puluh lima tahun, yang dimulai pada 742 SM. Enam puluh lima tahun yang terjadi pada masa Yesaya itu mewakili enam puluh lima tahun dari 1798 hingga 1863. Alfa dan Omega akan selalu menggambarkan akhir bersama permulaan. Nubuatan enam puluh lima tahun itu mengidentifikasi kutukan tujuh kali terhadap kerajaan Israel utara dan selatan. Tujuh kali yang pertama terhadap kerajaan utara dimulai pada 723 SM, sembilan belas tahun setelah Yesaya menyampaikan nubuat tersebut kepada Raja Ahas. Tujuh kali yang terakhir terhadap kerajaan selatan dimulai pada akhir enam puluh lima tahun itu, pada 677 SM.

The first curse of seven times against Ephraim ended in 1798, which was the time of the end when the vision of the Ulai River of chapters eight and nine of Daniel was unsealed. It prophetically marked both the arrival of the first angel’s message and the prophetic beginning of the Millerite movement. The last curse of seven times against Judah ended in 1844, which was the arrival of the third angel’s message. Nineteen years later in 1863, the sixty-five years represented in the beginning of the prediction marked the end of the Millerite movement, and the beginning of the Laodicean Seventh-day Adventist church. Seven years prior to 1863, in 1856, James White began to identify that the Millerite movement had ceased to be the church of Philadelphia and had become the church of Laodicea. His grandson, when writing Ellen White’s biography, writes about the history of 1856, and the Laodicean message.

Kutuk tujuh kali yang pertama terhadap Efraim berakhir pada tahun 1798, yang merupakan waktu kesudahan, ketika penglihatan Sungai Ulai dari pasal delapan dan sembilan kitab Daniel dibuka segelnya. Hal itu secara nubuatan menandai kedatangan pekabaran malaikat pertama sekaligus awal secara nubuatan gerakan Millerit. Kutuk tujuh kali yang terakhir terhadap Yehuda berakhir pada tahun 1844, yaitu kedatangan pekabaran malaikat ketiga. Sembilan belas tahun kemudian, pada tahun 1863, enam puluh lima tahun yang dilambangkan pada permulaan nubuat itu menandai berakhirnya gerakan Millerit dan dimulainya Gereja Advent Hari Ketujuh Laodikia. Tujuh tahun sebelum 1863, pada tahun 1856, James White mulai menyatakan bahwa gerakan Millerit telah berhenti menjadi jemaat Filadelfia dan telah menjadi jemaat Laodikia. Cucunya, ketika menulis biografi Ellen White, menulis tentang sejarah tahun 1856 dan pekabaran Laodikia.

“The Laodicean Message

Amanat Laodikia

“The Sabbathkeeping Adventists had taken the position that the messages to the seven churches in Revelation 2 and 3 pictured the experience of the Christian church down through the centuries. It was their conclusion that the message to the Laodicean church applied to those they now termed nominal Adventists, those who had not accepted the seventh-day Sabbath. In a short editorial in the Review of October 9, James White raised some thought provoking questions that he introduced by stating:

Kaum Adventis yang memelihara Sabat telah mengambil posisi bahwa pesan kepada tujuh jemaat dalam Wahyu 2 dan 3 menggambarkan pengalaman gereja Kristen selama berabad-abad. Mereka menyimpulkan bahwa pesan kepada jemaat Laodikia berlaku bagi mereka yang kini mereka sebut Adventis nominal, yaitu mereka yang tidak menerima Sabat hari ketujuh. Dalam sebuah tajuk rencana singkat di Review tanggal 9 Oktober, James White mengemukakan beberapa pertanyaan yang menggugah pikiran, yang ia awali dengan pernyataan:

“The inquiry is beginning to come up afresh, ‘Watchman, What of the night?’ At present there is space for only a few questions, asked to call attention to the subject to which they relate. A full answer, we trust, will soon be given.—Review and Herald, Oct. 9, 1856.

Pertanyaan itu mulai mengemuka kembali, “Penjaga, bagaimana dengan malam?” Untuk saat ini hanya ada ruang bagi beberapa pertanyaan, yang diajukan untuk menarik perhatian pada pokok yang mereka singgung. Kami percaya, jawaban yang lengkap akan segera diberikan.-Review and Herald, 9 Oktober 1856.

“Of the eleven questions he asked, it is the sixth that zeroed in on the Laodiceans.

Dari sebelas pertanyaan yang ia ajukan, pertanyaan keenamlah yang secara khusus menyasar orang-orang Laodikia.

“6. Does not the state of the Laodiceans (lukewarm, and neither cold nor hot) fitly illustrate the condition of the body of those who profess the third angel’s message?—Ibid.

6. Bukankah keadaan orang-orang Laodikia (suam-suam kuku, dan tidak dingin maupun panas) secara tepat menggambarkan kondisi umat yang mengaku menganut pekabaran malaikat ketiga?-Ibid.

“The last question lays the matter open:

Pertanyaan terakhir membuka masalah tersebut:

“11. If this be our condition as a people, have we any real grounds to hope for the favor of God unless we heed the ‘counsel’ of the True Witness? I counsel thee to buy of me gold tried in the fire, that thou mayest be rich; and white raiment, that thou mayest be clothed, and that the shame of thy nakedness do not appear; and anoint thine eyes with eyesalve, that thou mayest see. As many as I love, I rebuke and chasten: be zealous therefore, and repent. Behold, I stand at the door, and knock: if any man hear my voice, and open the door, I will come in to him, and will sup with him, and he with me. To him that overcometh will I grant to sit with me in my throne, even as I also overcame, and am set down with my Father in his throne. Revelation 3:18–21.—Ibid.

11. Jika inilah keadaan kita sebagai umat, adakah kita memiliki dasar yang nyata untuk berharap akan perkenanan Allah kecuali jika kita mengindahkan 'nasihat' dari Saksi yang Benar? Aku menasihatkan engkau untuk membeli dari-Ku emas yang diuji dalam api, supaya engkau menjadi kaya; dan pakaian putih, supaya engkau berpakaian, dan supaya aib ketelanjanganmu tidak kelihatan; dan urapi matamu dengan salep mata, supaya engkau dapat melihat. Semua yang Kukasihi, Kutegur dan Kudisiplinkan; sebab itu bersungguh-sungguhlah dan bertobatlah. Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jika ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu, Aku akan masuk kepadanya dan makan bersama dia, dan dia bersama-Ku. Kepada dia yang menang akan Kuberikan hak untuk duduk bersama-Ku di takhta-Ku, sebagaimana Aku juga telah menang dan duduk bersama Bapa-Ku di takhta-Nya. Wahyu 3:18-21.-Ibid.

“It is clear that the truth of the matter was just dawning on the mind of James White. The next issue of the Review carried a seven-column presentation of the seven churches, under that title. In his opening remarks he declared:

Jelas bahwa kebenaran perkara itu baru mulai disadari oleh James White. Edisi berikutnya dari Review memuat pemaparan sepanjang tujuh kolom tentang tujuh gereja, dengan judul tersebut. Dalam pembukaan tulisannya, ia menyatakan:

“We must agree with some modern expositors that these seven churches should be understood as representing seven conditions of the Christian church, in seven periods of time, covering the ground of the entire Christian age.—Ibid., Oct. 16, 1856.

Kita harus sependapat dengan beberapa penafsir modern bahwa ketujuh jemaat ini harus dipahami sebagai mewakili tujuh keadaan gereja Kristen, dalam tujuh kurun waktu, mencakup keseluruhan rentang zaman Kristen.-Ibid., 16 Okt. 1856.

“He then took up the prophecy, dealing with each church separately. Coming to the seventh, the Laodicean, he declared:

Ia kemudian menguraikan nubuat itu, membahas setiap jemaat satu per satu. Ketika sampai pada yang ketujuh, yakni jemaat Laodikia, ia menyatakan:

“How humbling to us as a people is the sad description of this church. And is not this dreadful description a most perfect picture of our present condition? It is; and it will be of no use to try to evade the force of this searching testimony to the Laodicean church. The Lord help us to receive it, and to profit by it.—Ibid.

Gambaran sedih tentang jemaat ini sungguh merendahkan hati kita sebagai umat. Dan bukankah gambaran yang mengerikan ini merupakan cerminan yang sempurna dari keadaan kita saat ini? Memang demikian; dan tidak ada gunanya mencoba menghindari kekuatan kesaksian yang menyelidik ini kepada jemaat Laodikia. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menerimanya, dan memperoleh manfaat darinya.-Ibid.

“After he devoted two columns to the Laodicean church, his closing remarks made a strong appeal:

Setelah ia menulis dua kolom tentang jemaat Laodikia, pernyataan penutupnya menyampaikan seruan yang kuat:

“Dear brethren, we must overcome the world, the flesh, and the devil, or we shall have no part in the kingdom of God. . . . Lay hold of this work at once, and in faith claim the gracious promises to the repenting Laodiceans. Arise in the name of the Lord, and let your light shine to the glory of His blessed name.—Ibid.

"Saudara-saudara terkasih, kita harus mengalahkan dunia, kedagingan, dan Iblis, atau kita tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. ... Segeralah mengerjakan hal ini, dan dengan iman tuntutlah janji-janji anugerah yang diperuntukkan bagi orang-orang Laodikia yang bertobat. Bangkitlah dalam nama Tuhan, dan biarkanlah terangmu bercahaya untuk kemuliaan nama-Nya yang terpuji.-Ibid."

“The response from the field was electrifying. Wrote G. W. Holt from Ohio on October 20:

"Tanggapan dari lapangan sangat menggetarkan. G. W. Holt dari Ohio menulis pada 20 Oktober:"

“Yes, I do believe that we who are in the third message with the commandments of God and the faith of Jesus are the church this language is addressed to; and we cannot be too soon in applying for tried gold and white raiment, and eyesalve, that we may see.—Ibid., Nov. 6, 1856.

Ya, saya sungguh percaya bahwa kita yang berada dalam pekabaran ketiga, dengan perintah-perintah Allah dan iman Yesus, adalah jemaat yang kepadanya kata-kata ini ditujukan; dan kita tidak boleh menunda untuk memohon emas yang teruji dan pakaian putih, serta salep mata, agar kita dapat melihat.-Ibid., 6 Nov. 1856.

“From the Northeast a new voice was heard on the subject, that of Stephen N. Haskell, of Princeton, Massachusetts. As a first-day Adventist he had begun to preach at the age of 20; now three years later he was in the third angel’s message. A thorough Bible student, after having seen White’s brief initial editorial introducing the question of the seven churches, he chose to write an extended piece for the Review:

Dari Timur Laut terdengar suara baru mengenai hal itu, yaitu Stephen N. Haskell, dari Princeton, Massachusetts. Sebagai seorang Adventis Hari Pertama ia mulai berkhotbah pada usia 20 tahun; kini, tiga tahun kemudian, ia berada dalam pesan malaikat ketiga. Seorang penelaah Alkitab yang saksama, setelah melihat editorial awal singkat oleh White yang memperkenalkan pokok bahasan tentang tujuh jemaat, ia memilih menulis sebuah artikel panjang untuk Review:

“The subject referred to has been one of deep interest to me for some months past. . . . I have for some time been led to believe that the message to the Laodiceans belongs to us; i.e., to those who believe in the third angel’s message, from many reasons which I consider to be good. I will mention two.—Ibid.

Pokok yang dimaksud telah menjadi perhatian mendalam bagi saya selama beberapa bulan terakhir. . . . Sudah sejak beberapa waktu saya terdorong untuk percaya bahwa pekabaran kepada orang-orang Laodikia itu berlaku bagi kita; yakni, bagi mereka yang percaya pada pekabaran malaikat ketiga, berdasarkan banyak alasan yang saya anggap baik. Saya akan menyebutkan dua.-Ibid.

“This he does, devoting two columns to his conclusions. As he closed he declared:

Itulah yang dilakukannya, dengan mengalokasikan dua kolom untuk kesimpulannya. Saat menutup, ia menyatakan:

“A theory of the third angel’s message never, no never, will save us, without the wedding garment, which is the righteousness of the saints. We must perfect holiness in the fear of the Lord.—Ibid.

Sebuah teori tentang pekabaran malaikat ketiga tidak, tidak akan pernah, menyelamatkan kita tanpa pakaian pernikahan, yang adalah kebenaran orang-orang kudus. Kita harus menyempurnakan kekudusan dalam takut akan Tuhan.-Ibid.

“As James White continued his editorials on the message to the Laodicean church the concepts the Sabbathkeeping Adventists were now reading in the Review were startling, but on thoughtful, prayerful consideration they were seen to be applicable. The letters to the editor showed quite general agreement and indicated that a revival was under way. That the stirring message was not the outgrowth of excitement was attested to by the first article in Testimony No. 3, published in April, 1857, titled Be Zealous and Repent. It opens, “The Lord has shown me in vision some things concerning the church in its present lukewarm state, which I will relate to you.”—1T, p. 141. In this Ellen White presented what was shown to her of Satan’s attacks on the church through earthly prosperity and possessions.” Arthur White, Ellen G. White: The Early Years, volume 1, 342–344.

Ketika James White melanjutkan tulisan-tulisan editorialnya tentang pesan kepada jemaat Laodikia, konsep-konsep yang kini dibaca oleh orang-orang Advent yang memelihara Sabat di Review terasa mengejutkan, tetapi setelah direnungkan dengan saksama dalam doa, terlihat bahwa konsep-konsep itu memang berlaku. Surat-surat kepada redaksi menunjukkan kesepakatan yang cukup umum dan mengindikasikan bahwa suatu kebangunan rohani sedang berlangsung. Bahwa pesan yang menggugah itu bukanlah hasil dari kegairahan sesaat dibuktikan oleh artikel pertama dalam Kesaksian No. 3, yang diterbitkan pada April 1857, berjudul "Bergiatlah dan Bertobat." Artikel itu dibuka dengan, "Tuhan telah menunjukkan kepadaku dalam penglihatan beberapa hal mengenai jemaat dalam keadaan suam-suam kuku sekarang ini, yang akan kusampaikan kepadamu." -1T, hlm. 141. Di sini Ellen White memaparkan apa yang diperlihatkan kepadanya tentang serangan Iblis terhadap jemaat melalui kemakmuran dan harta benda duniawi. Arthur White, Ellen G. White: The Early Years, jilid 1, 342-344.

The Millerite movement began prophetically as the Philadelphian church, and in 1856 it became the Laodicean church. Seven years later the movement ended, and the Seventh-day Adventist church began as the Laodicean church and will remain so, until it is spewed out of the mouth of the Lord. The movement of the one hundred and forty-four thousand came out of the fold of the Laodicean church, just as the Millerite movement came out of the fold of the church of Sardis. The movement of the one hundred and forty-four thousand parallels the Millerite movement in that the first movement changed from Philadelphia to Laodicea and the last movement changes from Laodicea to Philadelphia. The point of transition from Philadelphia unto Laodicea in Millerite history is specifically marked as 1856, so the point of transition must also be marked in the last movement, for God never changes. The point of transition is identified in Revelation eleven with the two prophets that are slain in the streets.

Gerakan Millerit mulai secara nubuatan sebagai jemaat Filadelfia, dan pada tahun 1856 beralih menjadi jemaat Laodikia. Tujuh tahun kemudian gerakan itu berakhir, dan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mulai sebagai jemaat Laodikia dan akan tetap demikian sampai ia dimuntahkan dari mulut Tuhan. Gerakan seratus empat puluh empat ribu keluar dari kalangan jemaat Laodikia, sama seperti gerakan Millerit keluar dari kalangan jemaat Sardis. Gerakan seratus empat puluh empat ribu sejalan dengan gerakan Millerit, dalam hal bahwa gerakan yang pertama berubah dari Filadelfia ke Laodikia dan gerakan yang terakhir berubah dari Laodikia ke Filadelfia. Titik peralihan dari Filadelfia ke Laodikia dalam sejarah Millerit secara khusus ditandai pada tahun 1856, karena itu titik peralihan itu juga harus ditandai dalam gerakan yang terakhir, sebab Allah tidak pernah berubah. Titik peralihan itu diidentifikasi dalam Wahyu pasal sebelas dengan dua nabi yang dibunuh di jalan-jalan.

And when they shall have finished their testimony, the beast that ascendeth out of the bottomless pit shall make war against them, and shall overcome them, and kill them. And their dead bodies shall lie in the street of the great city, which spiritually is called Sodom and Egypt, where also our Lord was crucified. Revelation 11:7, 8.

Dan ketika mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, binatang yang naik dari jurang tanpa dasar akan memerangi mereka, mengalahkan mereka, dan membunuh mereka. Dan mayat-mayat mereka akan tergeletak di jalan kota besar itu, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan kita disalibkan. Wahyu 11:7, 8.

The last movement would die, then stand and thereafter be resurrected as the ensign. In so doing it would align with the Republican horn. The Republican horn forms an image to the beast, and the beast that it forms the image of is addressed in Revelation seventeen, and that beast is identified as the fifth head that received a deadly wound, that would be resurrected as the eighth head. It would be resurrected as the eighth that was of the seven.

Gerakan terakhir itu akan mati, lalu berdiri dan setelah itu dibangkitkan sebagai panji-panji. Dengan demikian, itu akan selaras dengan tanduk Republik. Tanduk Republik membentuk suatu gambaran bagi binatang itu, dan binatang yang gambarnya dibentuk itu dibahas dalam Wahyu pasal tujuh belas, dan binatang itu diidentifikasi sebagai kepala kelima yang menerima luka mematikan, yang akan dibangkitkan sebagai kepala kedelapan. Ia akan dibangkitkan sebagai yang kedelapan yang berasal dari yang tujuh.

And the beast that was, and is not, even he is the eighth, and is of the seven, and goeth into perdition. Revelation 17:11.

Dan binatang yang dahulu ada dan sekarang tidak ada itu, ia sendiri adalah yang kedelapan dan berasal dari yang tujuh, dan ia akan masuk ke dalam kebinasaan. Wahyu 17:11.

The Republican horn would form an image of that beast, and it therefore would be killed and then resurrected. When it was resurrected it would be the eighth head that was of the seven previous heads. The Protestant horn, rides upon the same earth beast as the Republican horn and would need to possess the same prophetic dynamics. The transition from Philadelphia to Laodicea in the Millerite movement prefigures the transition from the Laodicea to Philadelphia in the last movement.

Tanduk Republikan akan membentuk gambar binatang itu, dan karena itu ia akan dibunuh lalu dibangkitkan. Ketika dibangkitkan, ia akan menjadi kepala kedelapan yang berasal dari tujuh kepala sebelumnya. Tanduk Protestan menunggangi binatang dari bumi yang sama dengan tanduk Republikan dan perlu memiliki dinamika kenabian yang sama. Transisi dari Philadelphia ke Laodicea dalam gerakan Millerite merupakan gambaran pendahuluan bagi transisi dari Laodicea ke Philadelphia dalam gerakan terakhir.

When the last movement received a deadly wound on July 18, 2020, it died as Laodicea. When, as represented in Revelation eleven it transitioned to Philadelphia, it would represent the eighth church, that is of the seven. The death in the year 2020, was paralleled by the Republican horn, for since the time of the end in 1989, there had been six presidents. The sixth president received a deadly wound, that will be healed in 2024. That head will then be the eighth head of the United States since the time of the end in 1989, and it will be of the seven. Both horns were the sixth that becomes the eighth. This truth is a large part of the message of the Revelation of Jesus Christ that is unsealed just before the close of probation.

Ketika gerakan terakhir menerima luka mematikan pada 18 Juli 2020, gerakan itu mati sebagai Laodikia. Ketika, sebagaimana digambarkan dalam Wahyu pasal sebelas, ia beralih ke Filadelfia, hal itu akan mewakili gereja kedelapan, yakni yang dari ketujuh. Kematian pada tahun 2020 itu sejajar dengan tanduk Partai Republik, sebab sejak waktu kesudahan pada tahun 1989, telah ada enam presiden. Presiden keenam menerima luka mematikan, yang akan disembuhkan pada 2024. Kepala itu kemudian akan menjadi kepala kedelapan Amerika Serikat sejak waktu kesudahan pada 1989, dan akan berasal dari ketujuh. Kedua tanduk itu adalah yang keenam yang kemudian menjadi yang kedelapan. Kebenaran ini merupakan bagian besar dari pekabaran Wahyu Yesus Kristus yang dibuka meterainya tepat sebelum penutupan masa kasihan.

For this reason, it is important to be clear about the Millerite history that typifies our current history. Sister White confirmed James White’s application of Laodicea upon the movement in 1856, so this is not an application that is derived by human logic. Seven years before the Seventh-day Adventist church was legally connected with the Republican horn, it was identified by inspiration as the Laodicean church. This means there has never been one day in the history of the Seventh-day Adventist church when it was anything other than naked, poor, blind, miserable and wretched. This prophetic reality provides the context and justification for recognizing the four escalating abominations of Ezekiel chapter eight as the four generations of Adventism.

Untuk alasan ini, penting untuk memahami dengan jelas sejarah Milerit yang menjadi tipe bagi sejarah kita saat ini. Saudari White meneguhkan penerapan Laodikia oleh James White kepada gerakan itu pada tahun 1856, jadi ini bukan penerapan yang berasal dari logika manusia. Tujuh tahun sebelum Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh secara hukum terhubung dengan tanduk republikanisme, gerakan itu telah diidentifikasi oleh ilham sebagai gereja Laodikia. Ini berarti tidak pernah ada satu hari pun dalam sejarah Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh ketika gereja itu menjadi apa pun selain telanjang, miskin, buta, sengsara, dan malang. Kenyataan profetis ini memberikan konteks dan pembenaran untuk mengenali empat kekejian yang meningkat dalam Yehezkiel pasal delapan sebagai empat generasi Adventisme.

When the Millerite history is approached from the structure of Isaiah seven’s sixty-five years, it is to be recognized that the prophecy of the seven times is the prophetic umbrella that covers the entire history of the Millerite movement. In 1856, the message to the Laodicean church became present truth for Millerite Adventism. The one who presents the message of Laodicea was not James or Ellen White, it was the Faithful and True Witness.

Ketika sejarah Millerite ditinjau dari struktur enam puluh lima tahun dalam Yesaya pasal tujuh, perlu diakui bahwa nubuat tujuh kali adalah payung kenabian yang menaungi seluruh sejarah gerakan Millerite. Pada tahun 1856, pekabaran kepada sidang Laodikia menjadi kebenaran masa kini bagi Adventisme Millerite. Yang menyampaikan pekabaran Laodikia bukanlah James atau Ellen White, melainkan Saksi yang Setia dan Benar.

And unto the angel of the church of the Laodiceans write; These things saith the Amen, the faithful and true witness, the beginning of the creation of God; I know thy works, that thou art neither cold nor hot: I would thou wert cold or hot. So then because thou art lukewarm, and neither cold nor hot, I will spue thee out of my mouth. Because thou sayest, I am rich, and increased with goods, and have need of nothing; and knowest not that thou art wretched, and miserable, and poor, and blind, and naked: I counsel thee to buy of me gold tried in the fire, that thou mayest be rich; and white raiment, that thou mayest be clothed, and that the shame of thy nakedness do not appear; and anoint thine eyes with eyesalve, that thou mayest see. As many as I love, I rebuke and chasten: be zealous therefore, and repent. Behold, I stand at the door, and knock: if any man hear my voice, and open the door, I will come in to him, and will sup with him, and he with me. To him that overcometh will I grant to sit with me in my throne, even as I also overcame, and am set down with my Father in his throne. He that hath an ear, let him hear what the Spirit saith unto the churches. Revelation 3:14–22.

Dan kepada malaikat jemaat Laodikia tuliskan: Beginilah firman Amin, saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu perbuatanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas. Jadi, karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin dan tidak panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya, aku telah memperkaya diri dan tidak kekurangan apa pun; dan engkau tidak tahu bahwa engkau sengsara, malang, miskin, buta, dan telanjang. Aku menasihatkan engkau untuk membeli dari-Ku emas yang dimurnikan dalam api, supaya engkau menjadi kaya; dan pakaian putih, supaya engkau berpakaian dan aib ketelanjanganmu tidak kelihatan; dan oleskan salep pada matamu, supaya engkau dapat melihat. Semua orang yang Kukasihi, Kutegur dan Kuhajar; karena itu bersemangatlah dan bertobatlah. Lihatlah, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jika ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu, Aku akan masuk kepadanya dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Kepada yang menang akan Kuberikan hak untuk duduk bersama-Ku di takhta-Ku, sebagaimana Aku juga telah menang dan duduk bersama Bapa-Ku di takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. Wahyu 3:14-22.

The True Witness identifies that if any man would “hear” His voice, He would come in and “sup with him.” If Laodicea would open the door, Christ would come in and sup with them. If Christ is allowed to enter, he brings a message, for the symbolism of eating represents the reception of a message. The message can be generalized as simply the Laodicean message, but that is a shallow consideration of what the message He offers represents. In 1856, Hiram Edson set forth a series of eight articles that contained the prophetic information that expands the understanding of the very first “time prophecy” the angels of God led William Miller to recognize and proclaim. In those eight articles, Edson correctly identifies the sixty-five years of Isaiah seven.

Saksi Sejati menyatakan bahwa jika ada orang yang mau "mendengar" suara-Nya, Ia akan masuk dan "makan bersama dengannya." Jika Laodicea mau membuka pintu, Kristus akan masuk dan makan bersama mereka. Jika Kristus diizinkan masuk, Ia membawa sebuah pekabaran, sebab simbolisme makan melambangkan penerimaan sebuah pekabaran. Pekabaran itu dapat digeneralisasi sebagai sekadar pekabaran Laodicea, tetapi itu merupakan pertimbangan yang dangkal terhadap apa yang diwakili oleh pekabaran yang Ia tawarkan. Pada tahun 1856, Hiram Edson mengemukakan serangkaian delapan artikel yang memuat informasi kenabian yang memperluas pemahaman tentang "nubuatan waktu" yang paling pertama, yang para malaikat Allah menuntun William Miller untuk mengenali dan memaklumkan. Dalam delapan artikel itu, Edson dengan tepat mengidentifikasi enam puluh lima tahun dari Yesaya pasal tujuh.

The beginning of Miller’s work was the discovery of the seven times, and seven years before the movement named after his service was to end, a deeper revelation of that very prophecy was offered to Millerite Adventism. It was offered in the same year they were identified by inspiration as Laodiceans. Prophetically, twenty-five hundred and twenty days later in 1863, Miller’s first discovery of prophetic time was rejected. The Laodicean message for the Advent movement arrived in 1856, and the Lord knocked on the door eight times, with eight articles to see if He could find entrance. At the ending of the movement, the True Witness wished to sup together with His people by dining upon the very first message of time from the beginning of the movement. His people refused to eat, and seven years, or twenty-five hundred and twenty prophetic days later, His people shut the door that had been opened with the key of David that had been placed into the hand of William Miller. They returned to an old Samaritan prophet who fed them a lie, sealing their fate to die between an ass and a lion.

Permulaan pekerjaan Miller adalah penemuan tentang tujuh masa, dan tujuh tahun sebelum berakhirnya gerakan yang menyandang nama pelayanannya, suatu penyataan yang lebih mendalam tentang nubuat itu sendiri ditawarkan kepada Adventisme Millerit. Hal itu ditawarkan pada tahun yang sama ketika mereka diidentifikasi oleh ilham sebagai orang-orang Laodikia. Secara nubuatan, dua ribu lima ratus dua puluh hari kemudian, pada tahun 1863, penemuan pertama Miller tentang waktu nubuatan ditolak. Pekabaran Laodikia bagi gerakan Advent datang pada tahun 1856, dan Tuhan mengetuk pintu sebanyak delapan kali, melalui delapan artikel, untuk melihat apakah Dia dapat masuk. Pada penutupan gerakan itu, Saksi Yang Benar berkeinginan untuk bersantap malam bersama umat-Nya dengan menyantap pekabaran waktu yang pertama-tama dari permulaan gerakan tersebut. Umat-Nya menolak untuk makan, dan tujuh tahun, atau dua ribu lima ratus dua puluh hari nubuatan kemudian, umat-Nya menutup pintu yang telah dibukakan dengan kunci Daud yang telah ditempatkan ke dalam tangan William Miller. Mereka kembali kepada seorang nabi Samaria tua yang memberi mereka makan dengan dusta, memeteraikan nasib mereka untuk mati di antara seekor keledai dan seekor singa.

In 1856, the Protestant horn was in the crisis of the valley of vision, for where there is no vision, the people perish. In 1856, the Republican horn was also in a crisis.

Pada tahun 1856, tanduk Protestan berada dalam krisis lembah penglihatan, sebab tanpa penglihatan, umat binasa. Pada tahun 1856, tanduk Republikan juga berada dalam krisis.

1856, marked a continuation of the violent conflict known as Bleeding Kansas, the Kansas-Missouri Border War. The struggle was over whether Kansas would enter the Union as a free state or a slave state. The conflict included violent clashes between pro-slavery and anti-slavery settlers.

Tahun 1856 menandai berlanjutnya konflik yang penuh kekerasan yang dikenal sebagai Bleeding Kansas, Perang Perbatasan Kansas–Missouri. Pertarungan itu berkisar pada apakah Kansas akan masuk ke Amerika Serikat sebagai negara bagian bebas atau negara bagian budak. Konflik tersebut mencakup bentrokan keras antara para pemukim pendukung perbudakan dan penentang perbudakan.

On May 22, 1856, a violent incident also occurred in the United States Senate chamber, when Congressman Preston Brooks, a pro-slavery advocate from South Carolina, brutally attacked Senator Charles Sumner of Massachusetts with his cane. Sumner had delivered an anti-slavery speech titled The Crime Against Kansas, which deeply offended Brooks. The caning incident highlighted the growing tensions between North and South over the issue of slavery.

Pada 22 Mei 1856, sebuah insiden kekerasan juga terjadi di ruang sidang Senat Amerika Serikat, ketika Anggota Kongres Preston Brooks, seorang pendukung perbudakan dari Carolina Selatan, dengan brutal menyerang Senator Charles Sumner dari Massachusetts menggunakan tongkatnya. Sumner telah menyampaikan pidato anti-perbudakan berjudul "The Crime Against Kansas" yang sangat menyinggung Brooks. Insiden pemukulan dengan tongkat itu menyoroti meningkatnya ketegangan antara Utara dan Selatan terkait isu perbudakan.

In 1856, the Republican Party was founded as a response to the political turmoil caused by the Kansas-Nebraska Act, passed in 1854, which produced the growing opposition to the spread of slavery into new territories. The party’s first national convention was held in Philadelphia, and John C. Fremont was chosen as their first presidential candidate in the 1856 election.

Pada tahun 1856, Partai Republik didirikan sebagai tanggapan terhadap gejolak politik yang disebabkan oleh Kansas-Nebraska Act, yang disahkan pada tahun 1854, yang memicu meningkatnya penentangan terhadap perluasan perbudakan ke wilayah-wilayah baru. Konvensi nasional pertama partai tersebut diadakan di Philadelphia, dan John C. Fremont dipilih sebagai calon presiden pertama mereka dalam pemilihan tahun 1856.

The Kansas-Nebraska Act organized the territories of Kansas and Nebraska and allowed the settlers in those territories to decide whether they would allow slavery within their borders. This concept, known as “popular sovereignty,” effectively repealed the Missouri Compromise of 1820, which had prohibited slavery north of the 36°30’ parallel in the Louisiana Territory. The act had a profound impact on the issue of slavery in the territories. It reignited sectional tensions because it opened the possibility that slavery could expand into areas that were previously considered free soil, such as Kansas. The passage of the Kansas-Nebraska Act led to a rush of pro-slavery and anti-slavery settlers into the Kansas Territory, each hoping to influence the outcome of the popular sovereignty vote. This competition for control of the territory led to violent clashes and a period of lawlessness known as Bleeding Kansas in 1856.

Undang-Undang Kansas-Nebraska membentuk Teritorial Kansas dan Teritorial Nebraska serta mengizinkan para pemukim di wilayah-wilayah tersebut untuk memutuskan apakah mereka akan mengizinkan perbudakan di dalam batas wilayah mereka. Konsep ini, yang dikenal sebagai "kedaulatan rakyat," secara efektif mencabut Kompromi Missouri tahun 1820, yang telah melarang perbudakan di utara garis paralel 36°30' di Teritorial Louisiana. Undang-Undang tersebut berdampak besar terhadap persoalan perbudakan di wilayah-wilayah teritorial. Undang-Undang ini kembali memicu ketegangan antar-wilayah karena membuka kemungkinan bahwa perbudakan dapat meluas ke wilayah yang sebelumnya dianggap bebas dari perbudakan, seperti Kansas. Pengesahan Undang-Undang Kansas-Nebraska menyebabkan membanjirnya pemukim pro-perbudakan dan anti-perbudakan ke Teritorial Kansas, masing-masing berharap dapat memengaruhi hasil pemungutan suara berdasarkan kedaulatan rakyat. Perebutan kendali atas wilayah tersebut memicu bentrokan kekerasan dan masa tanpa hukum yang dikenal sebagai Kansas Berdarah pada tahun 1856.

The presidential election of 1856 was a significant political event. It featured a three-way race between Democrat James Buchanan, Republican John C. Fremont, and former President Millard Fillmore of the American Party. James Buchanan won the election and became the 15th President of the United States.

Pemilihan presiden tahun 1856 merupakan peristiwa politik yang penting. Pemilihan itu menampilkan pertarungan tiga arah antara James Buchanan dari Partai Demokrat, John C. Fremont dari Partai Republik, dan mantan Presiden Millard Fillmore dari Partai Amerika. James Buchanan memenangkan pemilihan dan menjadi Presiden Amerika Serikat ke-15.

James Buchanan’s presidency is primarily known for its failure to effectively address the growing tensions and divisions between the North and the South, ultimately culminating in the outbreak of the American Civil War shortly after he left office. His presidency is often viewed as one of the least successful presidency in American history, due to these significant failures in leadership and crisis management.

Masa kepresidenan James Buchanan terutama dikenal karena kegagalannya untuk secara efektif menangani meningkatnya ketegangan dan perpecahan antara Utara dan Selatan, yang pada akhirnya memuncak pada pecahnya Perang Saudara Amerika Serikat tak lama setelah ia meninggalkan jabatannya. Masa kepresidenannya sering dipandang sebagai salah satu yang paling tidak berhasil dalam sejarah Amerika Serikat, akibat kegagalan-kegagalan signifikan dalam kepemimpinan dan penanganan krisis.

The infamous Dred Scott Decision in 1857, declared that slaves whether enslaved or free were not citizens and could not sue in federal courts. It also declared that Congress could not prevent slavery in the territories of the United States. The Democrat Buchanan publicly endorsed the pro-slavery Dred Scott Decision.

Putusan Dred Scott yang terkenal buruk pada tahun 1857 menyatakan bahwa budak, baik yang diperbudak maupun yang bebas, bukanlah warga negara dan tidak dapat menggugat di pengadilan federal. Putusan itu juga menyatakan bahwa Kongres tidak dapat mencegah perbudakan di teritori Amerika Serikat. Demokrat Buchanan secara terbuka mendukung Putusan Dred Scott yang pro-perbudakan.

Not only did the pro-slavery position of the Democrat Buchanan allow tensions to escalate into Civil War, but his inability to manage the economics of the country led to the Panic of 1857, which was one of the greatest economic downturns in American history prior to the great depression. The Panic of 1857 resulted in a severe economic depression that lasted several years. Businesses and banks closed, unemployment increased and the stock market declined.

Bukan hanya posisi pro-perbudakan dari Demokrat Buchanan yang membiarkan ketegangan meningkat menjadi Perang Saudara, tetapi ketidakmampuannya mengelola ekonomi negara juga menyebabkan Kepanikan 1857, yang merupakan salah satu kemerosotan ekonomi terbesar dalam sejarah Amerika sebelum Depresi Besar. Kepanikan 1857 mengakibatkan depresi ekonomi parah yang berlangsung selama beberapa tahun. Perusahaan dan bank tutup, pengangguran meningkat, dan pasar saham merosot.

During Buchanan’s presidency the Southern states began their process of seceding from the Union, and they broke away in response to the election of the Republican Abraham Lincoln, in 1860. Buchanan took a passive approach to the secession crisis, arguing that the federal government lacked the authority to forcibly prevent secession. This lack of decisive action allowed the secession movement to gain momentum. His lack of strong leadership and his reluctance to take decisive action to address the secession crisis contributed to the South’s perception that it could leave the Union without facing military opposition.

Selama masa kepresidenan Buchanan, negara-negara bagian Selatan mulai menjalankan proses pemisahan diri dari Amerika Serikat, dan mereka memisahkan diri sebagai tanggapan atas terpilihnya Abraham Lincoln dari Partai Republik pada tahun 1860. Buchanan mengambil pendekatan pasif terhadap krisis pemisahan diri, dengan berargumen bahwa pemerintah federal tidak memiliki kewenangan untuk secara paksa mencegah pemisahan diri. Ketiadaan tindakan tegas ini memungkinkan gerakan pemisahan diri mendapatkan momentum. Kurangnya kepemimpinan yang kuat dan keengganannya untuk mengambil tindakan tegas dalam menangani krisis pemisahan diri turut memperkuat persepsi pihak Selatan bahwa mereka dapat keluar dari Amerika Serikat tanpa menghadapi perlawanan militer.

In 1860, Abraham Lincoln the first Republican president, was elected. On January 1, 1863, President Lincoln signed and issued the final Emancipation Proclamation, which declared that all enslaved people in Confederate-held territory were to be set free. This executive order had a significant impact on the Civil War as it turned the conflict into a struggle not only to preserve the Union, but also to end slavery. The Emancipation Proclamation did not immediately free all enslaved individuals. It applied specifically to Confederate-held territory, where the Union had limited authority. As Union forces advanced and gained control over Confederate territory, the proclamation was enforced, and enslaved people in those areas were set free. The Emancipation Proclamation was a crucial step toward the eventual abolition of slavery in the United States and paved the way for the passage of the Thirteenth Amendment to the U.S. Constitution, which was passed and ratified on December 6, 1865.

Pada tahun 1860, Abraham Lincoln, presiden pertama dari Partai Republik, terpilih. Pada 1 Januari 1863, Presiden Lincoln menandatangani dan mengeluarkan versi final dari Proklamasi Emansipasi, yang menyatakan bahwa semua orang yang diperbudak di wilayah yang dikuasai Konfederasi harus dibebaskan. Perintah eksekutif ini berdampak besar pada Perang Saudara karena mengubah konflik tersebut menjadi perjuangan bukan hanya untuk mempertahankan Union, tetapi juga untuk mengakhiri perbudakan. Proklamasi Emansipasi tidak serta-merta membebaskan semua orang yang diperbudak. Dokumen itu berlaku secara khusus untuk wilayah yang dikuasai Konfederasi, tempat Union memiliki kewenangan terbatas. Seiring pasukan Union maju dan merebut kendali atas wilayah Konfederasi, proklamasi tersebut ditegakkan, dan orang-orang yang diperbudak di wilayah itu dibebaskan. Proklamasi Emansipasi merupakan langkah krusial menuju penghapusan perbudakan di Amerika Serikat dan membuka jalan bagi pengesahan Amandemen Ketiga Belas Konstitusi AS, yang disetujui dan diratifikasi pada 6 Desember 1865.

The Republican horn from the 1850’s onward was in the crisis of the issue of slavery. Two primary divisions in the country represented by two primary classes of political thought. A separation process began in 1856 as anti and pro slavery groups moved into the Kansas territory in attempt to uphold their views of slavery, at the very time Philadelphia was being separated from Laodicea. Democrats were pro-slavery and Republicans were anti-slavery.

Tanduk Republikan sejak tahun 1850-an berada dalam krisis mengenai isu perbudakan. Negeri itu terbelah menjadi dua kubu utama yang mencerminkan dua kelas utama pemikiran politik. Proses pemisahan dimulai pada tahun 1856 ketika kelompok anti dan pro perbudakan masuk ke wilayah Kansas dalam upaya menegakkan pandangan mereka tentang perbudakan, tepat pada saat Philadelphia sedang dipisahkan dari Laodicea. Kaum Demokrat mendukung perbudakan dan kaum Republikan menentang perbudakan.

In 1856, Bleeding Kansas represented a microcosm of the impending war. In that year a pro-slavery Democrat was elected as head of the Republican horn, and his ineffective leadership became the symbol of an ineffective presidency, until these recent last days. He preceded the first Republican president that was forced to clean up the mess left by Buchanan’s presidency.

Pada tahun 1856, Bleeding Kansas mewakili mikrokosmos dari perang yang akan datang. Pada tahun itu seorang Demokrat yang pro-perbudakan terpilih sebagai kepala tanduk Partai Republik, dan kepemimpinannya yang tidak efektif menjadi simbol dari sebuah kepresidenan yang tidak efektif, hingga hari-hari terakhir belakangan ini. Ia mendahului presiden dari Partai Republik pertama yang terpaksa membereskan kekacauan yang ditinggalkan oleh masa kepresidenan Buchanan.

By 1863, the Republican horn made the most significant executive order in the history of the earth beast of Revelation thirteen. The executive order was addressing slavery. One paragraph of the proclamation states, “That on the first day of January, in the year of our Lord one thousand eight hundred and sixty-three, all persons held as slaves within any State or designated part of a State, the people whereof shall then be in rebellion against the United States, shall be then, thenceforward, and forever free; and the Executive Government of the United States, including the military and naval authority thereof, will recognize and maintain the freedom of such persons, and will do no act or acts to repress such persons, or any of them, in any efforts they may make for their actual freedom.” Though the resolution of the problem of slavery was historically incomplete at that point, the essence of the Constitution is recognized when Lincoln wrote, “all persons held as slaves within any state … shall be then, thenceforward, and forever free.”

Pada tahun 1863, tanduk Partai Republik mengeluarkan perintah eksekutif yang paling signifikan dalam sejarah binatang dari bumi di Wahyu pasal tiga belas. Perintah eksekutif itu membahas perbudakan. Salah satu paragraf proklamasi itu menyatakan, "Bahwa pada hari pertama bulan Januari, pada tahun Tuhan kita seribu delapan ratus enam puluh tiga, semua orang yang ditahan sebagai budak di dalam negara bagian mana pun atau bagian yang ditunjuk dari suatu negara bagian, yang rakyatnya pada waktu itu sedang memberontak terhadap Amerika Serikat, pada saat itu juga, selanjutnya, dan untuk selamanya akan bebas; dan Pemerintah Eksekutif Amerika Serikat, termasuk otoritas militer dan angkatan lautnya, akan mengakui dan mempertahankan kebebasan orang-orang tersebut, dan tidak akan melakukan tindakan apa pun untuk menekan orang-orang tersebut, atau siapa pun di antara mereka, dalam upaya apa pun yang mungkin mereka lakukan demi kebebasan mereka yang sesungguhnya." Meskipun penyelesaian masalah perbudakan pada saat itu secara historis belum tuntas, esensi Konstitusi diakui ketika Lincoln menulis, "semua orang yang ditahan sebagai budak di dalam negara bagian mana pun ... pada saat itu, selanjutnya, dan untuk selamanya akan bebas."

Lincoln was returning to the foundational principle expressed in the Constitution, which identifies that “all men are created equal.” Lincoln was returning to the foundational truths at the same time the Protestant horn was rejecting its foundational prophecy, which is the prophecy of slavery. Therefore, at the very time the Republican horn was making its most significant “executive order” in history concerning slavery, the Protestant horn made the most significant executive order in its prophetic history concerning the prophecy of slavery, represented by Moses’ oath and curse. The Republican horn chose to return to the foundations, the Protestant horn chose to reject its foundation and return to those it had been instructed to never return unto.

Lincoln kembali kepada prinsip dasar yang dinyatakan dalam Konstitusi, yang menyatakan bahwa "semua manusia diciptakan setara." Lincoln kembali kepada kebenaran-kebenaran dasar pada saat yang sama ketika tanduk Protestan menolak nubuat dasarnya, yaitu nubuat tentang perbudakan. Karena itu, tepat pada saat tanduk Republikan mengeluarkan "perintah eksekutif" paling signifikan dalam sejarah mengenai perbudakan, tanduk Protestan mengeluarkan perintah eksekutif paling signifikan dalam sejarah kenabiannya mengenai nubuat tentang perbudakan, yang diwakili oleh sumpah dan kutuk Musa. Tanduk Republikan memilih untuk kembali kepada dasar-dasarnya, tanduk Protestan memilih untuk menolak dasarnya dan kembali kepada hal-hal yang telah diperintahkan agar ia tidak pernah kembali kepadanya.

In 1863, the Republican horn had been divided into two camps, as was ancient Israel’s kingdom divided in the time of Jeroboam and Rehoboam. In 1863, the Protestant horn became legally attached to the Republican horn, as represented by Jeroboam’s two altars at Bethel and Dan. The two horns move through history in parallel to each other, and the history of 1863, especially represents the history of the last days.

Pada tahun 1863, tanduk Republikan telah terbagi menjadi dua kubu, sebagaimana kerajaan Israel kuno terpecah pada zaman Yerobeam dan Rehabeam. Pada tahun 1863, tanduk Protestan menjadi terikat secara hukum pada tanduk Republikan, sebagaimana diwakili oleh dua mezbah Yerobeam di Betel dan Dan. Kedua tanduk itu bergerak sepanjang sejarah secara paralel satu sama lain, dan sejarah tahun 1863, khususnya, mewakili sejarah hari-hari terakhir.

Millerite history is repeated in the history of the one hundred and forty-four thousand with a few prophetic caveats. One of those caveats is that the target audience in Millerite history was first those outside the movement, and thereafter the movement itself. In the movement of the one hundred and forty-four thousand the two voices of Revelation eighteen, identify two target audiences, but those targets are in reverse of Millerite history. The first target is God’s people and the second voice is God’s other flock, that are still in Babylon.

Sejarah Millerit berulang dalam sejarah seratus empat puluh empat ribu, dengan beberapa catatan pengecualian bersifat nubuatan. Salah satu catatan itu adalah bahwa sasaran dalam sejarah Millerit pertama-tama adalah mereka yang di luar gerakan itu, dan sesudahnya barulah gerakannya sendiri. Dalam gerakan seratus empat puluh empat ribu, dua suara dari Wahyu pasal delapan belas menunjuk dua kelompok sasaran, tetapi sasaran-sasaran itu terbalik dibandingkan dengan sejarah Millerit. Sasaran pertama adalah umat Allah, dan suara kedua tertuju kepada kawanan lain milik Allah yang masih berada di Babel.

Another prophetic caveat is that though both histories transcend from one church unto another, the Millerites moved from Philadelphia to Laodicea, and the mighty movement of the third angel moves from Laodicea unto Philadelphia. This identifies that the Millerites went from the sixth unto the seventh church and the one hundred and forty-four thousand go from the seventh church unto the eighth church, which is of the seven.

Catatan profetis lainnya adalah bahwa meskipun kedua sejarah itu berpindah dari satu jemaat ke jemaat yang lain, kaum Millerite berpindah dari Philadelphia ke Laodicea, dan gerakan perkasa malaikat ketiga berpindah dari Laodicea ke Philadelphia. Hal ini menunjukkan bahwa kaum Millerite pergi dari jemaat keenam ke jemaat ketujuh dan seratus empat puluh empat ribu pergi dari jemaat ketujuh ke jemaat kedelapan, yang termasuk dalam ketujuh itu.

The Republican horn began its movement from a pro-slavery nation unto an anti-slavery nation in the history surrounding 1863. The crisis of that history established two political parties that are the same antagonists in these “last days.” Just as the first Republican president from that history was assassinated just days after the war ended, the last Republican president was symbolically assassinated and left in the street as dead while the world rejoiced. He was assassinated, not just days after the Civil War ended, but just before the final civil war begins.

Tanduk Partai Republik memulai pergerakannya dari sebuah bangsa yang pro-perbudakan menuju bangsa yang anti-perbudakan dalam sejarah seputar tahun 1863. Krisis dari sejarah itu membentuk dua partai politik yang merupakan antagonis yang sama pada “hari-hari terakhir” ini. Sama seperti presiden Partai Republik pertama dari sejarah itu dibunuh hanya beberapa hari setelah perang berakhir, presiden Partai Republik terakhir dibunuh secara simbolis dan dibiarkan tergeletak di jalan seolah-olah mati sementara dunia bersukacita. Ia dibunuh, bukan beberapa hari setelah Perang Saudara berakhir, melainkan tepat sebelum perang saudara terakhir dimulai.

The first Republican president was preceded by the most ineffective president of American history, and the last Republican president will be preceded by the same. The ineffectiveness of the Democratic president that preceded the first Republican president precipitated the crisis that evolved into the civil war, and the same ineffectiveness is now taking place. The Democratic president that precedes the last Republican president managed the economy in such a fashion that it produced the greatest economic crash in American history up until that point in time. The two horns run parallel unto the Sunday law. In 1863, the first generation of both horns began, and for both horns the fourth and final generation will be facing the east, and bowing down to the sun.

Presiden dari Partai Republik yang pertama didahului oleh presiden paling tidak efektif dalam sejarah Amerika, dan presiden dari Partai Republik yang terakhir akan didahului oleh presiden paling tidak efektif yang sama. Ketidakefektifan presiden dari Partai Demokrat yang mendahului presiden Partai Republik yang pertama memicu krisis yang berkembang menjadi perang saudara, dan ketidakefektifan yang sama sedang terjadi sekarang. Presiden dari Partai Demokrat yang mendahului presiden Partai Republik yang terakhir mengelola perekonomian sedemikian rupa sehingga menghasilkan kejatuhan ekonomi terbesar dalam sejarah Amerika sampai saat itu. Dua tanduk berjalan sejajar hingga hukum hari Minggu. Pada tahun 1863, generasi pertama dari kedua tanduk itu dimulai, dan bagi kedua tanduk itu generasi keempat dan terakhir akan menghadap ke timur dan sujud kepada matahari.

The Elijah message is always accompanied with the judgments of God confirming the message of warning. The society of the world is now living as the people before the flood. They are eating, drinking and expecting the globalist techno-giants to solve any problem that might arise. God’s Word is identifying that the world is now on the verge of a tremendous crisis.

Pesan Elia selalu disertai dengan penghakiman Allah yang meneguhkan pesan peringatan itu. Masyarakat dunia kini hidup seperti orang-orang sebelum air bah. Mereka makan, minum, dan mengharapkan para raksasa teknologi globalis untuk menyelesaikan setiap masalah yang mungkin timbul. Firman Tuhan menyatakan bahwa dunia kini berada di ambang krisis yang dahsyat.

“‘What of the night?’ Do I discern the import of these messages? Do I understand the place they occupy in the closing work of the great remedial system? Am I so familiar with the ‘sure word of prophecy’ that I can see in the events transpiring around me positive evidence that the coming King is even at the door? Do I sense the responsibility that rests upon me, in view of the light God has given? Am I using every talent entrusted to me as his steward, in well-directed effort to rescue the perishing? or am I lukewarm and indifferent, partly mixed up with a wicked world, using the means and ability God has given me, largely in self-gratification, caring more for my own ease and comfort than for the advancement of his cause? Am I by my course strengthening ‘the conviction that has been gaining ground in the world that Seventh-day Adventists are giving the trumpet an uncertain sound, and are following in the path of worldlings’?

'Apa keadaan malam?' Apakah aku menangkap makna dari pesan-pesan ini? Apakah aku memahami peran yang mereka miliki dalam pekerjaan penutup dari sistem pemulihan yang agung itu? Apakah aku sedemikian akrab dengan 'firman nubuat yang pasti' sehingga aku dapat melihat dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingku bukti positif bahwa Raja yang akan datang itu bahkan sudah di ambang pintu? Apakah aku merasakan tanggung jawab yang dipikulkan kepadaku, mengingat terang yang telah Allah berikan? Apakah aku menggunakan setiap talenta yang dipercayakan kepadaku sebagai penatalayan-Nya, dalam upaya yang terarah dengan baik untuk menyelamatkan mereka yang sedang binasa? Atau apakah aku suam-suam kuku dan acuh tak acuh, sebagian tercampur-baur dengan dunia yang jahat, menggunakan sarana dan kemampuan yang Allah telah berikan kepadaku, sebagian besar untuk pemuasan diri, lebih peduli pada kemudahan dan kenyamanan diriku sendiri daripada kemajuan pekerjaan-Nya? Apakah melalui cara hidupku aku memperkuat 'keyakinan yang semakin menguat di dunia bahwa umat Advent Hari Ketujuh memberikan bunyi sangkakala yang tidak pasti, dan sedang mengikuti jalan orang-orang duniawi'?

“We hear the footsteps of an approaching God to punish the world for their iniquity. The end of time is close upon us. The world’s inhabitants are being bound in bundles to be burned. Shall you be bound up with the tares? Do you realize that every year thousands and thousands and ten times ten thousand souls are perishing, dying in their sins? The plagues and judgments of God are already doing their work, and souls are going to ruin because the light of truth has not been flashed upon their pathway.” General Conference Daily Bulletin, April 1, 1897.

Kita mendengar derap langkah Allah yang sedang mendekat untuk menghukum dunia atas kedurhakaannya. Akhir zaman sudah di depan mata. Para penduduk dunia sedang diikat dalam berkas-berkas untuk dibakar. Akankah engkau diikat bersama lalang? Apakah engkau menyadari bahwa setiap tahun beribu-ribu dan beribu-ribu lagi, dan sepuluh kali sepuluh ribu jiwa sedang binasa, mati dalam dosa-dosa mereka? Tulah-tulah dan penghakiman-penghakiman Allah sudah bekerja, dan jiwa-jiwa sedang menuju kebinasaan karena terang kebenaran belum disinarkan atas jalan mereka. General Conference Daily Bulletin, 1 April 1897.

With my soul have I desired thee in the night; yea, with my spirit within me will I seek thee early: for when thy judgments are in the earth, the inhabitants of the world will learn righteousness. Isaiah 26:9.

Dengan jiwaku aku merindukan Engkau pada malam hari; ya, dengan roh yang ada di dalam diriku aku akan mencari Engkau pagi-pagi; sebab ketika penghakiman-Mu ada di bumi, para penduduk dunia akan belajar kebenaran. Yesaya 26:9.