The book of Joel is perhaps the most direct revelation of the latter rain in the Scriptures, and Joel opens up by first referencing the four generations of apostasy accomplished by the Laodicean Seventh-day Adventist church. Those four generations of escalating destruction represented in Joel’s opening verses align with the four escalating abominations of Ezekiel chapter eight. 1863 unto 1888 represents the first generation, and it represents the rejection of the foundational message of the Millerites as represented upon the 1843 and 1850 pioneer charts, represented in Habakkuk chapter two, and that symbolize the covenant as represented by the two tables of the Ten Commandments.
Kitab Yoel barangkali merupakan pewahyuan yang paling langsung mengenai hujan akhir di dalam Kitab Suci, dan Yoel memulai dengan terlebih dahulu merujuk kepada empat generasi kemurtadan yang digenapi oleh gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Laodikia. Keempat generasi kehancuran yang semakin meningkat yang dilukiskan dalam ayat-ayat pembuka Yoel itu selaras dengan empat kekejian yang semakin meningkat dalam Yehezkiel pasal delapan. Tahun 1863 hingga 1888 melambangkan generasi pertama, dan itu melambangkan penolakan terhadap pekabaran dasar kaum Millerit sebagaimana digambarkan pada bagan-bagan pelopor tahun 1843 dan 1850, sebagaimana dilukiskan dalam Habakuk pasal dua, dan yang melambangkan perjanjian sebagaimana diwakili oleh dua loh Sepuluh Perintah.
1888 to 1919 represent the generation that rejected the experience of righteousness by faith, that produces an experience represented by the church of Philadelphia. In the first generation the rebellion focused upon the work of leadership represented by William Miller, and in the second generation of 1888 the leadership of the Spirit of Prophecy was rebelled against. The third generation of 1919 began with William Warren Prescott’s book, The Doctrine of Christ and ended with the book, Questions on Doctrine in 1957. That third generation was the generation of compromise with the world as Adventism sought the accreditation of the medical practices of the American Medical Association, and the accreditation of their colleges by the academic scholars of apostate Protestantism and Roman Catholicism.
Tahun 1888 hingga 1919 melambangkan generasi yang menolak pengalaman pembenaran oleh iman, yang menghasilkan suatu pengalaman yang diwakili oleh gereja Filadelfia. Dalam generasi pertama, pemberontakan berpusat pada pekerjaan kepemimpinan yang diwakili oleh William Miller, dan dalam generasi kedua pada tahun 1888, kepemimpinan Roh Nubuatlah yang ditentang. Generasi ketiga, yakni tahun 1919, dimulai dengan buku William Warren Prescott, The Doctrine of Christ dan berakhir dengan buku Questions on Doctrine pada tahun 1956. Generasi ketiga itu adalah generasi kompromi dengan dunia ketika Adventisme berusaha memperoleh akreditasi praktik-praktik medisnya dari American Medical Association, dan akreditasi perguruan-perguruannya oleh para cendekiawan akademis Protestanisme murtad dan Katolik Roma.
In the third generation the educational counsel from the pen of Ellen White was rejected and replaced with the false educational practices of the world as represented by the educational philosophy of Greece. Greek education is represented by the goddess Athena who is enshrined in the duplicate Parthenon temple in Nashville, Tennessee.
Pada generasi ketiga, nasihat pendidikan yang berasal dari pena Ellen White ditolak dan digantikan dengan praktik-praktik pendidikan palsu dari dunia, sebagaimana diwakili oleh filsafat pendidikan Yunani. Pendidikan Yunani dilambangkan oleh dewi Athena yang dimuliakan dalam duplikat kuil Parthenon di Nashville, Tennessee.
True education was exemplified in the Bible with the schools of the prophets associated with the prophet Elisha. The Maccabean revolt of 167 BC and onward to the destruction of Jerusalem in 70 AD, was in large part a protest against the inroads of Greek education into the culture and nation of the ancient literal glorious land. The protest of the Maccabees was a revolt against Greek influence at every level, but the educational influence of Greece was so pervasive in the history and the motivations of the Maccabean zealots that it cannot be separated from the reality that Greek education was perhaps the largest factor associated with the Jewish rejection of Jesus Christ as their Messiah. Books have been written identifying the negative influence of Greek education upon the Jews and false educations contribution to the Jewish rejection and crucifixion of Christ.
Pendidikan yang sejati diteladankan dalam Alkitab melalui sekolah-sekolah para nabi yang berhubungan dengan nabi Elisa. Pemberontakan Makabe pada tahun 167 SM dan seterusnya hingga penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M, sebagian besar merupakan suatu protes terhadap penetrasi pendidikan Yunani ke dalam kebudayaan dan bangsa di negeri harfiah yang mulia pada zaman kuno. Protes orang-orang Makabe adalah suatu pemberontakan terhadap pengaruh Yunani pada setiap tingkatan, tetapi pengaruh pendidikan Yunani begitu meresap dalam sejarah dan motivasi para fanatik Makabe sehingga hal itu tidak dapat dipisahkan dari kenyataan bahwa pendidikan Yunani barangkali merupakan faktor terbesar yang berhubungan dengan penolakan orang Yahudi terhadap Yesus Kristus sebagai Mesias mereka. Buku-buku telah ditulis yang mengidentifikasi pengaruh negatif pendidikan Yunani atas orang Yahudi dan sumbangan pendidikan palsu terhadap penolakan dan penyaliban Kristus oleh orang Yahudi.
The Maccabean revolt aligns with the revolt of 1776 in the modern spiritual glorious land. There are currently over 4,000 registered universities in the United States that are built upon the philosophy of Greek and Jesuit educational practices. The anarchy and lawlessness of the past ten-plus years can be directly traced to the so-called educational centers in the United States that for decades have been indoctrinating students who were already conditioned by media and entertainment sources to accept the globalist philosophies derived from the satanic philosophies of the French Revolution period. The students of today’s universities were already conditioned into accepting the lifestyle represented by Sodom and Gomorrah before they entered the educational centers designed to attack white people, Christians and true American history. A citizen of the United States today who wishes to understand the constant two-tiered system of justice that fulfills the justice and truth being cast into the streets as identified in the Bible and Spirit of Prophecy, must understand that the current circumstances are being produced by a purposeful designed attack that is indoctrinated from the earliest years of life by a educational system designed to bring mankind under the control of elitist globalists–the dragon power!
Pemberontakan Makabe sejajar dengan pemberontakan tahun 1776 di negeri kemuliaan rohani modern. Saat ini terdapat lebih dari 4.000 universitas terdaftar di Amerika Serikat yang dibangun di atas filsafat pendidikan Yunani dan praktik pendidikan Jesuit. Anarki dan pelanggaran hukum selama lebih dari sepuluh tahun terakhir dapat ditelusuri secara langsung kepada apa yang disebut pusat-pusat pendidikan di Amerika Serikat yang selama beberapa dekade telah mengindoktrinasi para mahasiswa yang sebelumnya telah dikondisikan oleh sumber-sumber media dan hiburan untuk menerima filsafat-filsafat globalis yang berasal dari filsafat-filsafat setanis pada masa Revolusi Prancis. Para mahasiswa universitas masa kini telah lebih dahulu dikondisikan untuk menerima gaya hidup yang dilambangkan oleh Sodom dan Gomora sebelum mereka memasuki pusat-pusat pendidikan yang dirancang untuk menyerang orang kulit putih, orang-orang Kristen, dan sejarah Amerika yang sejati. Seorang warga Amerika Serikat pada masa kini yang ingin memahami sistem peradilan dua tingkat yang terus-menerus, yang menggenapi keadilan dan kebenaran yang dilemparkan ke jalan-jalan sebagaimana diidentifikasi dalam Alkitab dan Roh Nubuat, harus memahami bahwa keadaan-keadaan sekarang ini sedang dihasilkan oleh suatu serangan yang dirancang secara sengaja, yang diindoktrinasikan sejak tahun-tahun paling awal kehidupan oleh suatu sistem pendidikan yang dirancang untuk membawa umat manusia di bawah kendali kaum globalis elitis—kuasa naga!
There are five major themes in the writings of Ellen White; education, health reform, Christian living, The Great Controversy theme and practical godliness. Education is one of five major themes in the Spirit of Prophecy, and Ellen White was as much a biblical prophet as every prophet noted in God’s Word. Among other things, this means her life is an example of and for the one hundred and forty-four thousand. Before anyone thinks that Christ alone is to be our example; Paul states:
Ada lima tema utama dalam tulisan-tulisan Ellen White: pendidikan, reformasi kesehatan, kehidupan Kristen, tema Pertentangan Besar, dan kesalehan praktis. Pendidikan adalah salah satu dari lima tema utama dalam Roh Nubuat, dan Ellen White adalah nabi alkitabiah sama seperti setiap nabi yang dicatat dalam Firman Allah. Di antara hal-hal lain, ini berarti bahwa kehidupannya merupakan teladan tentang dan bagi seratus empat puluh empat ribu orang. Sebelum ada orang yang mengira bahwa hanya Kristus sajalah yang harus menjadi teladan kita, Paulus menyatakan:
For though ye have ten thousand instructors in Christ, yet have ye not many fathers: for in Christ Jesus I have begotten you through the gospel. Wherefore I beseech you, be ye followers of me. 1 Corinthians 4:15, 16.
Sebab sekalipun kamu mempunyai sepuluh ribu pengajar dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa; karena dalam Kristus Yesus aku telah memperanakkan kamu melalui Injil. Sebab itu aku menasihatkan kamu: jadilah pengikutku. 1 Korintus 4:15, 16.
As a prophet Ellen White is an example. There was only one time that Ellen White accepted the role as a board member, and that time was with the formation of a college that embraced the principles of true education as set forth as one of the five major themes of her ministry. That college in Madison, Tennessee is located within the metropolitan district of Nashville, Tennessee. Not only did she agree to be on the founding board of Madison college from 1904 until a year before her death in 1915, she was instrumental in selecting the land where the college was established. Nashville is the center of the Greek educational system that helped to prevent the Jews from accepting their Messiah in the history of the Maccabees, who typify the apostate Protestantism of the times in which we now live. The line of the Maccabees is firmly set forth in the hidden history of verse forty, representing the apostate Protestantism that has now been fully indoctrinated with the very same, (though a modern version) destructive fruits of Greek education.
Sebagai seorang nabi, Ellen White adalah suatu teladan. Hanya ada satu kali Ellen White menerima peran sebagai anggota dewan, dan saat itu adalah sehubungan dengan pendirian sebuah perguruan tinggi yang menganut prinsip-prinsip pendidikan sejati sebagaimana dikemukakan sebagai salah satu dari lima tema utama pelayanannya. Perguruan tinggi di Madison, Tennessee itu terletak di dalam distrik metropolitan Nashville, Tennessee. Bukan saja ia setuju untuk menjadi anggota dewan pendiri Madison College dari tahun 1904 sampai satu tahun sebelum kematiannya pada tahun 1915, ia juga berperan penting dalam memilih tanah tempat perguruan tinggi itu didirikan. Nashville adalah pusat sistem pendidikan Yunani yang turut menghalangi orang-orang Yahudi untuk menerima Mesias mereka dalam sejarah Makabe, yang melambangkan Protestantisme yang murtad pada zaman di mana kita sekarang hidup. Garis Makabe ditegaskan dengan kuat dalam sejarah tersembunyi dari ayat empat puluh, yang melambangkan Protestantisme murtad yang kini telah sepenuhnya didoktrinasikan dengan buah-buah merusak yang sama dari pendidikan Yunani itu, sekalipun dalam suatu versi modern.
In the third generation of Adventism, the leadership that had rejected the Spirit of Prophecy in 1888, chose to turn their educational system over to the accreditation structure of the world. Nashville represents the symbolic center of both true and false education. The prophet selected the same city that the world selected to enshrine Greek education, for unlike Greek education that is based upon separating truth into isolated subjects to destroy the whole. True education is the foundational basis of Sister White’s other four primary themes of health reform, practical godliness, Christian living, and especially the theme of The Great Controversy.
Pada generasi ketiga Adventisme, kepemimpinan yang telah menolak Roh Nubuat pada tahun 1888 memilih untuk menyerahkan sistem pendidikan mereka kepada struktur akreditasi dunia. Nashville melambangkan pusat simbolis bagi pendidikan yang benar maupun yang palsu. Nabi memilih kota yang sama yang dipilih dunia untuk mengabadikan pendidikan Yunani, sebab pendidikan Yunani didasarkan pada pemisahan kebenaran ke dalam mata pelajaran yang terpisah-pisah guna menghancurkan keutuhan. Pendidikan yang benar merupakan dasar yang fundamental bagi empat tema utama lainnya dari Sister White, yaitu reformasi kesehatan, kesalehan praktis, kehidupan Kristen, dan khususnya tema Kontroversi Besar.
Jesus always illustrates the end with the beginning, and the test in the Garden of Eden illustrates the test the world is now being confronted with. The test at the end is the same as every biblical test, for God never changes. A biblical test is a three-step testing process that produces two classes that are manifested at the end of the testing process. The first angel expresses the three steps as fearing God, giving Him glory, for the hour of the litmus test of judgment is come. The first step was the command not to eat of the tree of the knowledge of good and evil. Lacking the necessary fear of God, Eve failed the test of the tree and ate the fruit represented as both good and evil. Adam’s fear of God did not prevent him from entering into the rebellion of the tree, and judgment was brought upon them both, as they manifested a life without the abiding presence of Divinity.
Yesus senantiasa menggambarkan akhir dengan permulaan, dan ujian di Taman Eden menggambarkan ujian yang sekarang sedang dihadapi dunia. Ujian pada akhir adalah sama dengan setiap ujian alkitabiah, sebab Allah tidak pernah berubah. Ujian alkitabiah adalah suatu proses pengujian tiga langkah yang menghasilkan dua golongan yang dinyatakan pada akhir proses pengujian itu. Malaikat pertama mengungkapkan ketiga langkah itu sebagai takut akan Allah, memuliakan Dia, karena saat ujian batu lakmus penghakiman telah tiba. Langkah pertama adalah perintah untuk tidak makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Karena tidak memiliki takut akan Allah yang diperlukan, Hawa gagal dalam ujian pohon itu dan memakan buah yang dilambangkan sebagai yang baik maupun yang jahat. Takut Adam akan Allah tidak mencegah dia untuk turut masuk ke dalam pemberontakan pohon itu, dan penghakiman dijatuhkan atas mereka berdua, ketika mereka menyatakan suatu kehidupan tanpa kehadiran Keallahan yang tetap tinggal.
The test of the last days begins with a warning to eat the increase of knowledge that is unsealed in the revelation of Jesus Christ just before mankind’s probation comes to its end. Whether with Adventism or those outside of Adventism, the test is based upon the reception of, or the rejection of the increase of “knowledge” that is unsealed in our time. That test of knowledge is represented by the Garden’s tree of testing, that represents knowledge of either good or evil. True education was located and symbolized in Nashville, Tennessee in 1904, and false education was located and symbolized in Nashville in 1897, then re-built as a permanent structure in 1920. In the life of the prophetess true education was enshrined in Nashville, and false education was also enshrined. After her death in 1915 false education was restored in the second and permanent construction of the Parthenon temple, and true education was rejected through compromise with the world by the leadership of the Laodicean Seventh-day Adventist church.
Ujian zaman akhir dimulai dengan suatu peringatan untuk memakan pertambahan pengetahuan yang dibukakan meterainya dalam penyataan Yesus Kristus tepat sebelum masa percobaan umat manusia berakhir. Baik dalam Adventisme maupun di luar Adventisme, ujian itu didasarkan pada penerimaan atau penolakan terhadap pertambahan “pengetahuan” yang dibukakan meterainya pada zaman kita. Ujian pengetahuan itu dilambangkan oleh pohon pengujian di Taman, yang melambangkan pengetahuan tentang yang baik ataupun yang jahat. Pendidikan yang benar ditempatkan dan dilambangkan di Nashville, Tennessee pada tahun 1904, dan pendidikan yang palsu ditempatkan dan dilambangkan di Nashville pada tahun 1897, lalu dibangun kembali sebagai suatu bangunan permanen pada tahun 1920. Dalam kehidupan sang nabiah, pendidikan yang benar diabadikan di Nashville, dan pendidikan yang palsu pun diabadikan. Setelah kematiannya pada tahun 1915, pendidikan yang palsu dipulihkan dalam pembangunan kedua dan permanen dari kuil Parthenon, dan pendidikan yang benar ditolak melalui kompromi dengan dunia oleh kepemimpinan gereja Laodikia Masehi Advent Hari Ketujuh.
Nashville’s nickname, the “Athens of the South”, influenced the choice of the building as the centerpiece of the 1897 Centennial Exposition. A number of buildings at the exposition were based on ancient originals. However, the Parthenon was the only one that was an exact reproduction. Today’s Nashville, Tennessee, is famous for its music, but before there was the Johnny Cash Museum, Nashville was famous for its education, not singing.
Julukan Nashville, “Athena dari Selatan”, memengaruhi pemilihan bangunan itu sebagai pusat utama Exposition Centennial tahun 1897. Sejumlah bangunan pada pameran tersebut didasarkan pada bangunan-bangunan asli kuno. Namun, Parthenon adalah satu-satunya yang merupakan reproduksi persis. Nashville, Tennessee, pada masa kini terkenal karena musiknya, tetapi sebelum adanya Museum Johnny Cash, Nashville terkenal karena pendidikannya, bukan nyanyiannya.
By the 1850s, Nashville had already earned the nickname of the “Athens of the South” by having established numerous higher education institutions; it was the first American southern city to establish a public school system. By the end of the century, Nashville would see Fisk University, St. Cecilia Academy, Montgomery Bell Academy, Meharry Medical College, Belmont University, and Vanderbilt University all open their doors. At the time, Nashville was known to be one of the most refined and educated cities of the south, filled with wealth and culture.
Pada dasawarsa 1850-an, Nashville telah memperoleh julukan “Athena dari Selatan” karena telah mendirikan banyak lembaga pendidikan tinggi; kota itu merupakan kota pertama di wilayah selatan Amerika yang mendirikan sistem sekolah umum. Menjelang akhir abad itu, Nashville akan menyaksikan Fisk University, St. Cecilia Academy, Montgomery Bell Academy, Meharry Medical College, Belmont University, dan Vanderbilt University semuanya membuka pintu mereka. Pada masa itu, Nashville dikenal sebagai salah satu kota yang paling maju, berpendidikan, dan berbudaya di wilayah selatan, dipenuhi kekayaan dan kebudayaan.
The mystery of iniquity is both a noun and a verb in the inspired Word. Inspiration identifies Satan, and the pope, who Sister White calls Satan’s “right hand man,” as the mystery of iniquity. Yet the “mystery of iniquity” also describes the amalgamation of truth and error. Joel’s four generations of apostasy aligns with Ezekiel chapter eight’s four escalating abominations. Those two witnesses align with the first four churches of Revelation, and the third church is represented by Constantine’s compromise of Christianity combined with paganism. Those first four churches align with the history of ancient Israel, that symbolizes modern Israel’s history.
Rahasia kedurhakaan dalam Firman yang diilhamkan adalah sekaligus kata benda dan kata kerja. Ilham mengidentifikasikan Setan, dan paus, yang oleh Sister White disebut sebagai “tangan kanan” Setan, sebagai rahasia kedurhakaan. Namun, “rahasia kedurhakaan” juga menggambarkan penggabungan kebenaran dan kesalahan. Empat generasi kemurtadan dalam kitab Yoel selaras dengan empat kekejian yang semakin meningkat dalam Yehezkiel pasal delapan. Kedua saksi itu selaras dengan empat jemaat pertama dalam kitab Wahyu, dan jemaat ketiga dilambangkan oleh kompromi Konstantinus terhadap Kekristenan yang dipadukan dengan kekafiran. Empat jemaat pertama itu selaras dengan sejarah Israel kuno, yang melambangkan sejarah Israel modern.
In the third generation of ancient Israel, the kings of Israel formed alliances with the other nations that were never to be brought into alliance with God’s people. The parallel of ancient literal Israel and the Christian church as set forth in the book of Revelation is a prophetic subject set forth clearly in the study titled, Habakkuk’s Tables. Joel aligns the fourth and final generation who are “cut off” from being God’s chosen covenant people with the twenty-five elders who are bowing to the sun in Ezekiel’s four escalating abominations. That fourth generation where Laodicean Seventh-day Adventism is cut off as they bow to the sun at the Sunday law, aligns with the fourth church of Thyatira that symbolizes the reign of the papacy at either 538 or the soon-coming Sunday law. The third church of Pergamos represents “compromise” whether ancient Israel aligning with pagan kingdoms, or Constantine combining paganism with Christianity, and those two witnesses address the third generation of the earth beast of Revelation thirteen.
Dalam generasi ketiga Israel kuno, raja-raja Israel mengadakan persekutuan dengan bangsa-bangsa lain yang sama sekali tidak boleh dibawa ke dalam persekutuan dengan umat Allah. Keselarasan antara Israel harfiah kuno dan gereja Kristen sebagaimana dikemukakan dalam kitab Wahyu adalah suatu pokok nubuat yang dijelaskan dengan jelas dalam studi berjudul, Habakkuk’s Tables. Yoel menyelaraskan generasi keempat dan terakhir yang “disingkirkan” dari menjadi umat perjanjian pilihan Allah dengan dua puluh lima tua-tua yang sujud menyembah matahari dalam empat kekejian yang makin memuncak di kitab Yehezkiel. Generasi keempat itu, ketika Adventisme Hari Ketujuh Laodikia disingkirkan saat mereka sujud kepada matahari pada hukum hari Minggu, selaras dengan jemaat keempat, yaitu Tiatira, yang melambangkan pemerintahan kepausan baik pada tahun 538 maupun pada hukum hari Minggu yang akan segera datang. Jemaat ketiga, Pergamus, melambangkan “kompromi,” baik ketika Israel kuno bersekutu dengan kerajaan-kerajaan kafir, maupun ketika Konstantinus menggabungkan kekafiran dengan Kekristenan, dan kedua saksi itu berbicara kepada generasi ketiga dari binatang bumi dalam Wahyu pasal tiga belas.
The four generations of the United States, who among other truths was typified by Egypt during the bondage of 400/430 years, that concluded with Pharaoh drowning in the waters of the Red Sea. Those waters marked the end of the nation that was to be judged when God brought about deliverance for ancient Israel through the prophet Moses. The United States is judged in the period of time that judgment concludes upon God’s church, so it is to be noted that the water that ended the life of Pharaoh was brought upon Pharaoh by the release of the east wind that had been holding the waters in place as God delivered His chosen people. The east wind is the third woe that strikes at the Sunday law when the earthquake of Revelation eleven arrives.
Empat generasi Amerika Serikat, yang di antara kebenaran-kebenaran lainnya dilambangkan oleh Mesir selama masa perbudakan 400/430 tahun, berakhir dengan Firaun tenggelam di dalam air Laut Merah. Air itu menandai akhir bangsa yang harus dihakimi ketika Allah mendatangkan kelepasan bagi Israel kuno melalui nabi Musa. Amerika Serikat dihakimi dalam kurun waktu ketika penghakiman berakhir atas gereja Allah, maka perlu diperhatikan bahwa air yang mengakhiri hidup Firaun didatangkan ke atas Firaun oleh pelepasan angin timur yang telah menahan air itu pada tempatnya sementara Allah melepaskan umat pilihan-Nya. Angin timur adalah celaka yang ketiga yang menghantam hukum hari Minggu ketika gempa bumi dalam Wahyu sebelas tiba.
The generation that precedes the fourth and final generation of the earth beast is fulfilled on both the Republican and Protestant horns. The compromise of the Republican horn that was accomplished in its third generation occurred in the period surrounding the first world war, and it marked the United States turning its economic structure over to the globalists of the Federal Reserve. In that same period Laodicean Seventh-day Adventism sought to have its medical and educational work “accredited” by the standards of worldly education and medicine. As a verb the “mystery of iniquity” represents the compromise of Constantine and the kings of ancient Israel with the powers of the world. The word used by inspiration to describe the compromise is “amalgamation,” as defined in the dictionary of Ellen White’s time as; "to mix or unite in an amalgam; to blend." The tree of the knowledge of good and evil is the tree of amalgamation, the tree of compromise. “The last mighty conflict,” is the Sunday law crisis, and Satan’s preparation for that crisis is “the mystery of iniquity,” that blends human wisdom with Divine revelation.
Generasi yang mendahului generasi keempat dan terakhir dari binatang bumi digenapi pada kedua tanduk, yakni tanduk Republik dan tanduk Protestan. Kompromi dari tanduk Republik yang diselesaikan pada generasi ketiganya terjadi pada masa sekitar Perang Dunia Pertama, dan hal itu menandai penyerahan struktur ekonomi Amerika Serikat kepada para globalis dari Federal Reserve. Pada periode yang sama, Adventisme Hari Ketujuh Laodikea berupaya agar pekerjaan medis dan pendidikannya “diakreditasi” menurut standar pendidikan dan pengobatan duniawi. Sebagai sebuah kata kerja, “rahasia kedurhakaan” melambangkan kompromi Konstantinus dan raja-raja Israel kuno dengan kuasa-kuasa dunia. Kata yang digunakan oleh ilham untuk menggambarkan kompromi itu adalah “amalgamation,” sebagaimana didefinisikan dalam kamus pada zaman Ellen White sebagai: “to mix or unite in an amalgam; to blend.” Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat adalah pohon amalgamasi, pohon kompromi. “Konflik besar yang terakhir” adalah krisis undang-undang hari Minggu, dan persiapan Iblis untuk krisis itu adalah “rahasia kedurhakaan,” yang memadukan hikmat manusia dengan wahyu Ilahi.
“Satan is busily laying his plans for the last mighty conflict, when all will take sides....
“Setan sedang sibuk menyusun rencana-rencananya bagi konflik besar yang terakhir, ketika semua orang akan memihak....”
“Listen to the voices, mark the powers, that prevail in the world. Is there any voice of prayer? Do you see any sign that God is recognized? There are priests, plenty of them; but they are trampling under their feet the law of Jehovah. Their garments are stained with the blood of souls. Multitudes are sacrificing to devils. Look, you who are hesitating between obedience and disobedience. Look in imagination at the vast multitudes worshipping at Satan’s altar. Listen to the music, to the language, called higher education. But what does God declare it?—The mystery of iniquity.” Pamphlets, 004, 11.
“Dengarkanlah suara-suara itu, perhatikanlah kuasa-kuasa yang berkuasa di dunia. Adakah suara doa? Adakah engkau melihat sesuatu tanda bahwa Allah diakui? Ada imam-imam, banyak sekali; tetapi mereka menginjak-injak hukum Yehova di bawah kaki mereka. Pakaian mereka dinajiskan oleh darah jiwa-jiwa. Orang banyak mempersembahkan korban kepada setan-setan. Lihatlah, hai kamu yang bimbang antara ketaatan dan ketidaktaatan. Pandanglah dalam khayal akan orang banyak yang sangat besar sedang beribadah di mezbah Setan. Dengarkanlah musik itu, bahasa itu, yang disebut pendidikan tinggi. Tetapi apakah yang Allah nyatakan tentang hal itu?—Rahasia kedurhakaan.” Pamphlets, 004, 11.
In the last conflict when “all will take sides” the test of the Garden of Eden is repeated. The test that in the beginning was isolated to a tree in the middle of a garden, it is repeated at the end, in the entire world. Satan's work in advance of the final battle is “the mystery of iniquity,” which is defined as “higher education!” The symbol of “higher education” in the land of the earth beast is found in Nashville, Tennessee, the ‘Athens of the South,’ where the Parthenon temple is located in contrast with the true education once represented in Nashville by Madison College. The following statement from inspiration is cited in its entirety at the end of this article, but a few points should be considered at this point.
Dalam konflik terakhir, ketika “semua orang akan memihak,” ujian Taman Eden diulangi. Ujian yang pada mulanya terbatas pada sebuah pohon di tengah-tengah sebuah taman, diulangi pada akhir zaman di seluruh dunia. Pekerjaan Iblis yang mendahului pertempuran terakhir adalah “rahasia kedurhakaan,” yang didefinisikan sebagai “pendidikan tinggi!” Lambang “pendidikan tinggi” di negeri binatang bumi ditemukan di Nashville, Tennessee, ‘Athena dari Selatan,’ tempat kuil Parthenon berada, yang dikontraskan dengan pendidikan sejati yang dahulu diwakili di Nashville oleh Madison College. Pernyataan berikut dari ilham dikutip secara lengkap pada akhir artikel ini, tetapi beberapa pokok perlu dipertimbangkan pada saat ini.
“All need wisdom carefully to search out the mystery of iniquity that figures so largely in the winding up of this earth’s history....
“Semua orang membutuhkan hikmat untuk dengan saksama menyelidiki rahasia kedurhakaan yang mengambil bagian begitu besar dalam penutupan sejarah bumi ini....”
“There is no middle path to Paradise restored. The message given to man for these last days is not to become amalgamated with human devising....
“Tidak ada jalan tengah menuju Firdaus yang dipulihkan. Pekabaran yang diberikan kepada manusia untuk hari-hari terakhir ini bukanlah untuk dicampurbaurkan dengan reka cipta manusia....”
“Those whom God has exalted to high positions of trust may turn from heaven’s light to human wisdom.... All who would possess a character that would make them laborers together with God and receive the commendation of God, must separate themselves from the enemies of God, and maintain the truth which Christ gave to John to give to the world.” Manuscript Releases, volume 18, 30–36.
“Mereka yang telah ditinggikan Allah kepada kedudukan-kedudukan kepercayaan yang tinggi dapat berbalik dari terang surga kepada hikmat manusia.... Semua orang yang hendak memiliki suatu tabiat yang akan menjadikan mereka sesama pekerja dengan Allah dan menerima perkenan Allah, harus memisahkan diri dari musuh-musuh Allah, dan mempertahankan kebenaran yang Kristus berikan kepada Yohanes untuk disampaikan kepada dunia.” Manuscript Releases, volume 18, 30–36.
The “all” who need “wisdom” represents all who are brought into a testing process that ultimately produces two classes of worshippers. The “wise” are those who secure the needed “wisdom.” The testing process begins when the revelation of Jesus Christ is unsealed, just before the close of human probation. That unsealing begins an “increase of knowledge.” Those who are confronted with the test associated with the revelation of Jesus Christ will secure the “oil” of prophetic knowledge designed to guide, prepare and sanctify in advance of the arrival of the east wind at the Sunday law. The “tree of knowledge of good and evil” is the symbol of the counterfeit Bread of Heaven that is to be eaten or rejected.
“Semua” yang membutuhkan “hikmat” melambangkan semua orang yang dibawa ke dalam suatu proses pengujian yang pada akhirnya menghasilkan dua golongan penyembah. Yang “bijaksana” adalah mereka yang memperoleh “hikmat” yang diperlukan. Proses pengujian itu dimulai ketika wahyu Yesus Kristus dibuka meterainya, tepat sebelum berakhirnya masa kasihan bagi umat manusia. Pembukaan meterai itu memulai suatu “pertambahan pengetahuan.” Mereka yang dihadapkan kepada ujian yang berkaitan dengan wahyu Yesus Kristus akan memperoleh “minyak” pengetahuan nubuat yang dirancang untuk membimbing, mempersiapkan, dan menguduskan sebelum tibanya angin timur pada hukum hari Minggu. “Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” adalah lambang dari Roti Surga palsu yang harus dimakan atau ditolak.
In Galilee, at the synagogue of Capernaum Jesus lost more followers at one incident than any other time in His ministry. There the test was whether the prophetic words of Christ were literal or spiritual, and those who failed the test, failed—for they forgot that man is to live by every word that proceeds from the mouth of God. Christ had stated clearly that He was the Bread sent down from heaven and those who failed the test had blended Truth with human wisdom, represented by the Greeks.
Di Galilea, di sinagoge Kapernaum, Yesus kehilangan lebih banyak pengikut dalam satu peristiwa daripada pada waktu lain mana pun dalam pelayanan-Nya. Di sana ujian itu ialah apakah kata-kata nubuat Kristus bersifat harfiah atau rohani, dan mereka yang gagal dalam ujian itu, gagal—sebab mereka melupakan bahwa manusia harus hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kristus telah menyatakan dengan jelas bahwa Ia adalah Roti yang turun dari surga dan mereka yang gagal dalam ujian itu telah mencampurkan Kebenaran dengan hikmat manusia, yang dilambangkan oleh orang-orang Yunani.
Before Eve began the failure of the garden, Christ had instructed both Adam and Eve to not partake of the fruit of the tree of knowledge of good and evil. The first of the three steps of the everlasting gospel is the fear of God.
Sebelum Hawa memulai kegagalan di taman itu, Kristus telah memerintahkan baik Adam maupun Hawa untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Yang pertama dari tiga langkah Injil yang kekal adalah takut akan Allah.
“Let the mind grasp the stupendous truths of revelation, and it will never be content to employ its powers upon frivolous themes; it will turn with disgust from the trashy literature and idle amusements that are demoralizing the youth of today. Those who have communed with the poets and sages of the Bible, and whose souls have been stirred by the glorious deeds of the heroes of faith, will come from the rich fields of thought far more pure in heart and elevated in mind than if they had been occupied in studying the most celebrated secular authors, or in contemplating and glorifying the exploits of the Pharaohs and Herods and Caesars of the world.
“Biarlah pikiran memahami kebenaran-kebenaran agung dari wahyu, maka ia tidak akan pernah puas menggunakan kuasa-kuasanya pada tema-tema yang remeh; ia akan berpaling dengan jijik dari bacaan picisan dan hiburan sia-sia yang sedang merusak moral kaum muda pada zaman ini. Mereka yang telah bersekutu dengan para penyair dan orang-orang bijaksana dalam Alkitab, dan yang jiwanya telah digerakkan oleh perbuatan-perbuatan mulia para pahlawan iman, akan keluar dari ladang-ladang pemikiran yang kaya itu dengan hati yang jauh lebih murni dan budi yang lebih luhur daripada jika mereka sibuk mempelajari para penulis sekuler yang paling termasyhur, atau dalam merenungkan dan memuliakan berbagai tindakan Firaun, Herodes, dan Kaisar dunia ini.
“The powers of the youth are mostly dormant, because they do not make the fear of God the beginning of wisdom. The Lord gave Daniel wisdom and knowledge, because he would not be influenced by any power that would interfere with his religious principles. The reason why we have so few men of mind, of stability and solid worth, is that they think to find greatness while disconnecting from Heaven.” Messages to Young People, 255, 256.
“Kuasa-kausa kaum muda kebanyakan masih terpendam, karena mereka tidak menjadikan takut akan Allah sebagai permulaan hikmat. Tuhan memberikan kepada Daniel hikmat dan pengetahuan, karena ia tidak mau dipengaruhi oleh kuasa apa pun yang akan mengganggu prinsip-prinsip agamanya. Alasan mengapa kita memiliki begitu sedikit orang yang berakal budi, yang teguh dan bernilai kukuh, adalah karena mereka mengira dapat memperoleh kebesaran sementara memutuskan hubungan dengan Surga.” Messages to Young People, 255, 256.
Eve lost her “fear of God.” She should have trembled at the words of God, which is an attribute of the one hundred and forty-four thousand. The fear of God is the first of three tests, and it begins when the prophetic Word is unsealed, ultimately producing a class of wise and a class of foolish. The beginning for those who are destined to be wise is to tremble at God’s Word. Eve did not do this, and when confronted with the second step of the testing process she was unable to give God glory, and then was confronted with the hour of judgment where she manifested the nakedness of Laodicea.
Hawa telah kehilangan “takut akan Allah”-nya. Seharusnya ia gentar terhadap firman Allah, yang merupakan suatu sifat dari seratus empat puluh empat ribu orang itu. Takut akan Allah adalah yang pertama dari tiga ujian, dan hal itu dimulai ketika Firman nubuat dibukakan meterainya, yang pada akhirnya menghasilkan satu golongan bijaksana dan satu golongan bodoh. Permulaan bagi mereka yang ditetapkan untuk menjadi bijaksana adalah gentar terhadap firman Allah. Hawa tidak melakukan hal ini, dan ketika diperhadapkan pada langkah kedua dari proses pengujian itu ia tidak mampu memuliakan Allah, lalu kemudian diperhadapkan pada saat penghakiman ketika ia menyatakan ketelanjangan Laodikia.
“All who would perfect a Christian character must wear the yoke of Christ. If they would sit together in heavenly places in Christ Jesus, they must learn of Him while on this earth. Christ pleased not Himself. The whole of His life was the development of a pure, disinterested benevolence. He assumed human nature to demonstrate to the fallen world, to Satan and his synagogue, to the universe of heaven, to the worlds unfallen, that human nature, united with His divine nature, could become entirely obedient to the law of God. All need to enquire, ‘What must I do to be saved?’ God requires humble, contrite hearts, that tremble at His word. It is only from the divine altar that we can receive the celestial torch, which, when received, will give us a full view of our incompetence, and reveal to us the dignity and glory of Christ. When this is seen, God places us under the guidance of the Holy Spirit, and it will lead us into all truth.” Bible Echo, July 20, 1896.
“Semua orang yang hendak menyempurnakan tabiat Kristen harus memikul kuk Kristus. Jika mereka hendak duduk bersama-sama di tempat-tempat surgawi dalam Kristus Yesus, mereka harus belajar daripada-Nya selagi berada di bumi ini. Kristus tidak berkenan kepada diri-Nya sendiri. Seluruh hidup-Nya merupakan pengembangan kebajikan yang murni dan tanpa pamrih. Ia mengambil natur manusia untuk menunjukkan kepada dunia yang telah jatuh, kepada Iblis dan sinagogenya, kepada semesta surga, kepada dunia-dunia yang tidak jatuh, bahwa natur manusia, yang dipersatukan dengan natur ilahi-Nya, dapat menjadi sepenuhnya taat kepada hukum Allah. Semua orang perlu bertanya, ‘Apakah yang harus kuperbuat supaya aku selamat?’ Allah menuntut hati yang rendah dan remuk, yang gemetar terhadap firman-Nya. Hanya dari mezbah ilahi kita dapat menerima obor surgawi, yang apabila diterima, akan memberi kita pandangan yang penuh tentang ketidakcakapan kita, dan menyatakan kepada kita martabat dan kemuliaan Kristus. Ketika hal ini terlihat, Allah menempatkan kita di bawah bimbingan Roh Kudus, dan Ia akan menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran.” Bible Echo, 20 Juli 1896.
The amalgamation of truth and error is the work of Satan which is identified as the mystery of iniquity. The compromise of all mankind in the final movements of the investigative judgment is enshrined in the Parthenon temple in Nashville, Tennessee.
Peleburan kebenaran dan kesesatan adalah pekerjaan Setan yang diidentifikasi sebagai rahasia kedurhakaan. Kompromi seluruh umat manusia dalam pergerakan-pergerakan terakhir penghakiman pemeriksaan diabadikan dalam kuil Parthenon di Nashville, Tennessee.
“It is not wise to send our youth to universities where they devote their time to gaining a knowledge of Greek and Latin, while their heads and hearts are being filled with the sentiments of the infidel authors whom they study in order to master these languages. They gain a knowledge that is not at all necessary, or in harmony with the lessons of the great Teacher. Generally those educated in this way have much self-esteem. They think they have reached the height of higher education, and carry themselves proudly, as though they were no longer learners. They are spoiled for the service of God. The time, means, and study that many have expended in gaining a comparatively useless education should have been used in gaining an education that would make them all-round men and women, fitted for practical life. Such an education would be of the highest value to them.
“Tidaklah bijaksana mengirim kaum muda kita ke universitas-universitas tempat mereka mencurahkan waktu mereka untuk memperoleh pengetahuan tentang bahasa Yunani dan Latin, sementara kepala dan hati mereka dipenuhi dengan perasaan-perasaan para penulis kafir yang mereka pelajari agar dapat menguasai bahasa-bahasa itu. Mereka memperoleh suatu pengetahuan yang sama sekali tidak diperlukan, ataupun selaras dengan pelajaran-pelajaran dari Sang Guru Agung. Pada umumnya mereka yang dididik dengan cara ini memiliki harga diri yang sangat tinggi. Mereka menganggap bahwa mereka telah mencapai puncak pendidikan tinggi, dan bersikap dengan sombong, seolah-olah mereka bukan lagi orang-orang yang sedang belajar. Mereka menjadi rusak bagi pelayanan kepada Allah. Waktu, sarana, dan pembelajaran yang telah dicurahkan banyak orang untuk memperoleh pendidikan yang secara perbandingan tidak berguna seharusnya dipakai untuk memperoleh suatu pendidikan yang akan menjadikan mereka pria dan wanita yang berkembang seutuhnya, diperlengkapi bagi kehidupan praktis. Pendidikan semacam itu akan menjadi sangat bernilai bagi mereka.
“What do students carry with them when they leave our schools? Where are they going? What are they going to do? Have they the knowledge that will enable them to teach others? Have they been educated to be wise fathers and mothers? Can they stand at the head of a family as wise instructors? In their home life can they so instruct their children that theirs will be a family that God can behold with pleasure, because it is a symbol of the family in heaven? Have they received the only education that can truly be called ‘higher education’?
“Apa yang dibawa para siswa ketika mereka meninggalkan sekolah-sekolah kita? Ke manakah mereka pergi? Apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka memiliki pengetahuan yang akan memampukan mereka mengajar orang lain? Sudahkah mereka dididik untuk menjadi ayah dan ibu yang bijaksana? Dapatkah mereka berdiri sebagai kepala keluarga sebagai pengajar yang arif? Dalam kehidupan rumah tangga mereka, dapatkah mereka mendidik anak-anak mereka sedemikian rupa sehingga keluarga mereka menjadi keluarga yang dapat dipandang Allah dengan senang, karena itu adalah lambang keluarga di surga? Sudahkah mereka menerima satu-satunya pendidikan yang sungguh-sungguh dapat disebut ‘pendidikan tinggi’?”
“What is higher education? No education can be called higher education unless it bears the similitude of heaven, unless it leads young men and young women to be Christlike, and fits them to stand at the head of their families in the place of God. If, during his school life, a young man has failed to gain a knowledge of Greek and Latin and the sentiments contained in the works of infidel authors, he has not sustained much loss. If Jesus Christ had deemed this kind of education essential, would he not have given it to his disciples, whom he was educating to do the greatest work ever committed to mortals, to represent him in the world? But, instead, he placed sacred truth in their hands, to be given to the world in its simplicity.
“Apakah pendidikan tinggi itu? Tidak ada pendidikan yang dapat disebut pendidikan tinggi kecuali apabila pendidikan itu memancarkan keserupaan dengan surga, kecuali apabila pendidikan itu menuntun kaum muda pria dan kaum muda wanita untuk menjadi serupa dengan Kristus, dan mempersiapkan mereka untuk berdiri sebagai kepala keluarga mereka di tempat Allah. Jika, selama masa sekolahnya, seorang pemuda gagal memperoleh pengetahuan tentang bahasa Yunani dan Latin serta gagasan-gagasan yang terkandung dalam karya para penulis kafir, ia tidak mengalami banyak kerugian. Jika Yesus Kristus menganggap jenis pendidikan ini penting, tidakkah Ia akan memberikannya kepada murid-murid-Nya, yang sedang dididik-Nya untuk melaksanakan pekerjaan terbesar yang pernah dipercayakan kepada manusia fana, yaitu mewakili Dia di dunia? Tetapi sebaliknya, Ia menempatkan kebenaran yang kudus ke dalam tangan mereka, untuk diberikan kepada dunia dalam kesederhanaannya.
“There are times when Greek and Latin scholars are needed. Some must study these languages. This is well. But not all, and not many, should study them. Those who think that a knowledge of Greek and Latin is essential to a higher education, cannot see afar off. Neither is a knowledge of the mysteries of that which the men of the world call science necessary for entrance into the kingdom of God. It is Satan who fills the mind with sophistry and tradition, which exclude the true higher education, and which will perish with the learner.
“Ada saat-saat ketika para sarjana bahasa Yunani dan Latin diperlukan. Sebagian orang harus mempelajari bahasa-bahasa ini. Hal itu baik. Tetapi tidak semua orang, dan tidak banyak orang, harus mempelajarinya. Mereka yang berpikir bahwa pengetahuan tentang bahasa Yunani dan Latin adalah sesuatu yang penting bagi pendidikan yang lebih tinggi, tidak dapat melihat jauh ke depan. Demikian pula, pengetahuan tentang misteri-misteri dari apa yang oleh orang-orang dunia disebut ilmu pengetahuan tidaklah perlu untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Satanalah yang memenuhi pikiran dengan sofistri dan tradisi, yang menyingkirkan pendidikan tinggi yang sejati, dan yang akan binasa bersama dengan si pelajar.
“Those who have received a false education do not look heavenward. They cannot see the One who is the true Light, ‘which lighteth every man that cometh into the world.’ They look upon eternal realities as phantoms, calling an atom a world, and a world an atom. Of many who have received the so-called higher education, God declares, ‘Thou art weighed in the balances, and art found wanting,’—wanting in a knowledge of practical business, wanting in a knowledge of how to make the best use of time, wanting in a knowledge of how to labor for Jesus.” Review and Herald, August 17, 1897.
“Mereka yang telah menerima pendidikan yang palsu tidak memandang ke surga. Mereka tidak dapat melihat Dia yang adalah Terang yang sejati, ‘yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia.’ Mereka memandang kenyataan-kenyataan kekal sebagai hantu belaka, menyebut sebuah atom sebagai dunia, dan sebuah dunia sebagai atom. Tentang banyak orang yang telah menerima apa yang disebut pendidikan yang lebih tinggi itu, Allah menyatakan, ‘Engkau ditimbang dengan neraca dan didapati kurang,’—kurang dalam pengetahuan tentang urusan-urusan praktis, kurang dalam pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kurang dalam pengetahuan tentang bagaimana bekerja bagi Yesus.” Review and Herald, 17 Agustus 1897.
The warning of the fireballs of Nashville is not an arbitrary city, it is a direct judgment brought upon Seventh-day Adventists, the United States and the world. The fireballs of Nashville represent different attributes for the various categories of Adventism, the earth beast and the world. The fireballs of Nashville are God’s judgment upon false education, symbolized by the tree of knowledge of good and evil.
Peringatan melalui bola-bola api di Nashville bukanlah terhadap sebuah kota secara sewenang-wenang; itu adalah suatu penghakiman langsung yang didatangkan atas umat Masehi Advent Hari Ketujuh, Amerika Serikat, dan dunia. Bola-bola api di Nashville melambangkan atribut-atribut yang berbeda bagi berbagai kategori Adventisme, binatang bumi, dan dunia. Bola-bola api di Nashville adalah penghakiman Allah atas pendidikan palsu, yang dilambangkan oleh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
We will continue this study in the next article.
Kita akan melanjutkan kajian ini dalam artikel berikutnya.
“By a variety of images the Lord Jesus represented to John the wicked character and seductive influence of those who have been distinguished for their persecution of God’s people. All need wisdom carefully to search out the mystery of iniquity that figures so largely in the winding up of this earth’s history. God’s presentation of the detestable works of the inhabitants of the ruling powers of the world who bind themselves into secret societies and confederacies, not honoring the law of God, should enable the people who have the light of truth to keep clear of all these evils. More and more will all false religionists of the world manifest their evil doings; for there are but two parties, those who keep the commandments of God and those who war against God’s holy law....
“Dengan berbagai gambaran Tuhan Yesus memperlihatkan kepada Yohanes tabiat fasik dan pengaruh yang menggoda dari mereka yang telah dikenal karena penganiayaan mereka terhadap umat Allah. Semua orang memerlukan hikmat untuk dengan saksama menyelidiki rahasia kedurhakaan yang memegang peranan begitu besar dalam penutupan sejarah bumi ini. Penyingkapan Allah mengenai perbuatan-perbuatan keji para penghuni kuasa-kuasa yang memerintah dunia, yang mengikatkan diri mereka ke dalam perkumpulan-perkumpulan rahasia dan persekutuan-persekutuan, dengan tidak menghormati hukum Allah, seharusnya memampukan umat yang memiliki terang kebenaran untuk menjaga diri tetap bersih dari semua kejahatan ini. Semakin lama semakin nyatalah semua penganut agama palsu di dunia ini dalam perbuatan-perbuatan jahat mereka; karena hanya ada dua golongan, yaitu mereka yang menuruti perintah-perintah Allah dan mereka yang berperang melawan hukum Allah yang kudus....”
“The enmity between the seed of the woman and the serpent is clearly defined by the Lord. ‘And I will put enmity between thee and the woman, and between thy seed and her seed; it shall bruise thy head, and thou shalt bruise his heel.’ ‘And unto Adam He said, Because thou hast hearkened unto the voice of thy wife, and hast eaten of the tree, of which I commanded thee, saying, Thou shalt not eat of it: cursed is the ground for thy sake; in sorrow shalt thou eat of it all the days of thy life; thorns also and thistles shall it bring forth to thee; and thou shalt eat of the herb of the field; in the sweat of thy face shalt thou eat bread, till thou return unto the ground; for out of it wast thou taken: for dust thou art, and unto dust shalt thou return.’
“Permusuhan antara benih perempuan dan ular itu ditetapkan dengan jelas oleh Tuhan. ‘Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; ia akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.’ ‘Lalu kepada Adam Ia berfirman, Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari pohon yang telah Kuperintahkan kepadamu dengan firman: Janganlah engkau memakannya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu daripadanya seumur hidupmu; semak duri dan rumput duri akan dihasilkannya bagimu, dan engkau akan memakan tumbuh-tumbuhan di padang; dengan berpeluh engkau akan makan roti, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, sebab dari situlah engkau diambil; karena engkau debu, dan engkau akan kembali menjadi debu.’”
“By following his own way, by acting in harmony with Satan’s temptations and in opposition to the known will of God, man vainly attempted to elevate and bless himself. Thus he gained an experimental knowledge of disobedience to God’s commandments. Thus he knew good and evil; thus he lost his fidelity and loyalty to God and opened the floodgates of evil and suffering to the whole human family. How many today are making the same experiment! When will man learn that the only means for his safety is through a full confidence in a ‘thus saith the Lord’?
“Dengan mengikuti jalannya sendiri, dengan bertindak selaras dengan pencobaan Iblis dan berlawanan dengan kehendak Allah yang telah diketahuinya, manusia dengan sia-sia berusaha meninggikan dan memberkati dirinya sendiri. Dengan demikian ia memperoleh pengetahuan berdasarkan pengalaman tentang ketidaktaatan terhadap perintah-perintah Allah. Dengan demikian ia mengenal yang baik dan yang jahat; dengan demikian ia kehilangan kesetiaan dan loyalitasnya kepada Allah serta membuka pintu air kejahatan dan penderitaan bagi seluruh keluarga manusia. Betapa banyak orang pada zaman ini sedang melakukan percobaan yang sama! Bilakah manusia akan belajar bahwa satu-satunya sarana bagi keselamatannya adalah melalui kepercayaan yang penuh pada suatu ‘demikianlah firman Tuhan’?”
“Satan is seeking to intrude his own inventions upon the children of God through human methods. He is seeking to be received as God, or even to be placed above God.
“Iblis sedang berusaha menyusupkan rekaannya sendiri kepada anak-anak Allah melalui cara-cara manusia. Ia berusaha untuk diterima sebagai Allah, atau bahkan ditempatkan di atas Allah.
“In changing the Sabbath to the first day of the week, he leads men to disbelieve God’s declarations, and so to regard their own ways and plans that they appear exceeding wise in their own eyes and in their perverted judgment. Through human policy he leads men to regard the expressed commandments of God as of less force than human tradition, and to regard a deviation from that law which is always holy and just and good, as of little account. He sees that by thus preventing human agencies from walking as obedient children in harmony with God, he can hinder the accomplishment of God’s work in our world.
“Dengan mengubah hari Sabat menjadi hari pertama dalam pekan, ia menuntun manusia untuk tidak mempercayai pernyataan-pernyataan Allah, dan dengan demikian memandang jalan-jalan serta rencana-rencana mereka sendiri seolah-olah tampak sangat bijaksana dalam pandangan mereka sendiri dan dalam pertimbangan mereka yang telah diselewengkan. Melalui kebijakan manusia ia menuntun manusia untuk menganggap perintah-perintah Allah yang dinyatakan secara jelas sebagai kurang berkuasa daripada tradisi manusia, dan menganggap penyimpangan dari hukum itu, yang senantiasa kudus, adil, dan baik, sebagai perkara yang kecil. Ia melihat bahwa dengan demikian mencegah sarana-sarana manusia berjalan sebagai anak-anak yang taat dalam keselarasan dengan Allah, ia dapat menghalangi terlaksananya pekerjaan Allah di dunia kita.”
“But Satan’s connivings with human agencies who stand in responsible positions are just as much to be feared and shunned now after the experiment of sin has been tried, as it was in the case of our first parents. I am instructed to say that the men who are placed in positions of responsibility in the work of God have overestimated their right to control others. The position a man occupies does not change his character. Some have seemed to feel that they must devise for churches and for sanitariums and that there was to be no questioning of their judgment. Let them learn of Jesus at every step. He should be the chief authority for every man.
“Tetapi persekongkolan Iblis dengan sarana-sarana manusia yang berdiri dalam kedudukan yang bertanggung jawab sama patut ditakuti dan dihindari sekarang sesudah percobaan dosa telah dijalankan, sebagaimana halnya dalam kasus nenek moyang kita yang pertama. Saya diinstruksikan untuk mengatakan bahwa orang-orang yang ditempatkan dalam posisi tanggung jawab dalam pekerjaan Allah telah melebih-lebihkan hak mereka untuk mengendalikan orang lain. Kedudukan yang diduduki seseorang tidak mengubah tabiatnya. Sebagian orang tampaknya merasa bahwa mereka harus merancang bagi gereja-gereja dan bagi sanatorium-sanatorium, dan bahwa tidak boleh ada pertanyaan terhadap pertimbangan mereka. Biarlah mereka belajar dari Yesus pada setiap langkah. Dialah yang harus menjadi otoritas tertinggi bagi setiap orang.”
“The One who has often been our Instructor says, ‘How hard it is for man to walk humbly with his God, in a contrite spirit taking God’s way and rejecting Satan’s propositions which seem to present great worldly advantages.’ The influence of man’s having his own way in the place of firmly standing on the solid foundation that God alone has laid, has been repeated over and over again. Refusing to walk in the straight paths that God has signified will bring them to confusion and will not teach wisdom to others who have the same test and trial. When will man learn that God is God, and not a man that He should change?
“Ia yang kerap kali telah menjadi Pengajar kita berfirman, ‘Betapa sukarnya bagi manusia untuk hidup dengan rendah hati di hadapan Allahnya, dengan roh yang remuk hati menempuh jalan Allah dan menolak usul-usul Setan yang tampaknya menawarkan keuntungan-keuntungan duniawi yang besar.’ Pengaruh dari tindakan manusia mengikuti kehendaknya sendiri, sebagai ganti berdiri teguh di atas dasar yang kokoh yang hanya Allah sendiri telah letakkan, telah berulang kali tampak. Menolak berjalan di jalan-jalan lurus yang telah Allah nyatakan akan membawa mereka kepada kekacauan dan tidak akan mengajarkan hikmat kepada orang lain yang mengalami ujian dan pencobaan yang sama. Bilakah manusia akan belajar bahwa Allah adalah Allah, dan bukan manusia sehingga Ia berubah?”
“Some who have departed from the right way have been in a continual fever to grasp responsibilities that God has not laid upon them. God calls upon every minister and every physician to maintain the simplicity of the truth. The Son of God who is revealed in both the Old and New Testaments is the Saviour of our world today. From Him every medical missionary is to receive his training. Unless he shall separate himself from the prince of the power of the air, he will mislead souls who have confidence in him. Let all beware of men who are so educated and uplifted that their plans cannot be understood by the common people.
“Sebagian orang yang telah menyimpang dari jalan yang benar terus-menerus berada dalam kegairahan yang berkobar-kobar untuk memegang tanggung jawab yang tidak dibebankan Allah kepada mereka. Allah memanggil setiap pelayan Injil dan setiap tabib untuk mempertahankan kesederhanaan kebenaran. Anak Allah, yang dinyatakan baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah Juruselamat dunia kita pada masa kini. Dari-Nya setiap misionaris medis harus menerima pelatihannya. Kecuali ia memisahkan dirinya dari penghulu kuasa udara, ia akan menyesatkan jiwa-jiwa yang menaruh kepercayaan kepadanya. Hendaklah semua orang waspada terhadap orang-orang yang demikian terdidik dan ditinggikan sehingga rencana-rencana mereka tidak dapat dipahami oleh orang-orang biasa.
“The intrigues of sin surpass infinite conception. Every calamity, every suffering and death, is an evidence not only of the power of evil but of the truth of the living God. Having known the truth, the word of the living God, which abideth forever, and which through obedience gives life, man’s weakness in conforming to Satan’s ingenuity is surpassingly strange. All who are taught of God recognize Christ as His Son. All who disbelieve the known declarations of God demonstrate the popularity of sin, and are not working on the side of life and immortality which are brought to light through perfect sanctification of the truth. Unless they make a change in character, in words, and in spirit, souls will be lost.
“Muslihat dosa melampaui segala pemahaman yang tak terbatas. Setiap malapetaka, setiap penderitaan dan kematian, adalah bukti bukan hanya tentang kuasa kejahatan, melainkan juga tentang kebenaran Allah yang hidup. Setelah mengenal kebenaran, firman Allah yang hidup, yang tetap untuk selama-lamanya, dan yang melalui penurutan memberikan hidup, kelemahan manusia dalam menyesuaikan diri dengan kecerdikan Iblis sungguh amat mengherankan. Semua yang diajar oleh Allah mengenal Kristus sebagai Anak-Nya. Semua yang tidak percaya kepada pernyataan-pernyataan Allah yang telah diketahui menunjukkan betapa besarnya daya tarik dosa, dan tidak bekerja di pihak kehidupan dan keabadian yang dinyatakan melalui pengudusan kebenaran yang sempurna. Kecuali mereka mengadakan perubahan dalam tabiat, dalam perkataan, dan dalam roh, jiwa-jiwa akan binasa.
“There is no middle path to Paradise restored. The message given to man for these last days is not to become amalgamated with human devising. We are not to lean upon the policy of worldly lawyers. We must be humble men of prayer, not acting like those who are blinded by Satan’s agencies.
“Tidak ada jalan tengah menuju Firdaus yang dipulihkan. Pekabaran yang diberikan kepada manusia untuk hari-hari terakhir ini tidak boleh bercampur dengan reka daya manusia. Kita tidak boleh bersandar pada kebijakan para ahli hukum duniawi. Kita harus menjadi orang-orang yang rendah hati dalam doa, tidak bertindak seperti mereka yang telah dibutakan oleh sarana-sarana Iblis.
“Many have a faith, but not a faith that works by love and purifies the soul. Saving faith is not simply a mere belief of the truth. ‘The devils also believe, and tremble.’ The inspiration of the Spirit of God gives to men a faith that is an impelling power that molds character, and leads men higher than mere formal actions. The words, the actions, and the spirit are to bear testimony to the fact that we are followers of Christ.
“Banyak orang memiliki iman, tetapi bukan iman yang bekerja oleh kasih dan menyucikan jiwa. Iman yang menyelamatkan bukan sekadar kepercayaan belaka kepada kebenaran. ‘Setan-setan pun percaya, dan gemetar.’ Ilham Roh Allah memberikan kepada manusia suatu iman yang merupakan kuasa pendorong yang membentuk tabiat, dan menuntun manusia lebih tinggi daripada tindakan-tindakan formal belaka. Perkataan, perbuatan, dan roh harus memberi kesaksian tentang kenyataan bahwa kita adalah pengikut Kristus.
“The greatest light and blessing that God has bestowed is not a security against transgression and apostasy in these last days. Those whom God has exalted to high positions of trust may turn from heaven’s light to human wisdom. Their light will then become darkness, their God-entrusted capabilities a snare, their character an offense to God. God will not be mocked. A departure from Him has been and always will be followed by its sure results. The commission of acts that displease God will, unless decidedly repented of and forsaken, instead of seeking to justify them, lead the evildoer on step by step in deception till many sins are committed with impunity. All who would possess a character that would make them laborers together with God and receive the commendation of God, must separate themselves from the enemies of God, and maintain the truth which Christ gave to John to give to the world.” Manuscript Releases, volume 18, 30–36.
“Terang dan berkat terbesar yang telah Allah anugerahkan bukanlah suatu jaminan terhadap pelanggaran dan kemurtadan pada akhir zaman ini. Mereka yang telah Allah tinggikan ke kedudukan-kedudukan kepercayaan yang tinggi dapat berpaling dari terang surga kepada hikmat manusia. Maka terang mereka akan menjadi kegelapan, kemampuan-kemampuan yang dipercayakan Allah kepada mereka menjadi jerat, tabiat mereka menjadi suatu pelanggaran di hadapan Allah. Allah tidak dapat dipermainkan. Penyimpangan dari-Nya telah dan akan selalu diikuti oleh akibat-akibatnya yang pasti. Perbuatan-perbuatan yang tidak menyenangkan Allah, kecuali dengan tegas disesali dan ditinggalkan, alih-alih berusaha membenarkannya, akan menuntun si pelaku kejahatan selangkah demi selangkah ke dalam penipuan sampai banyak dosa dilakukan tanpa hukuman. Semua orang yang hendak memiliki tabiat yang akan menjadikan mereka rekan sekerja dengan Allah dan menerima perkenan Allah, harus memisahkan diri dari musuh-musuh Allah, dan mempertahankan kebenaran yang Kristus berikan kepada Yohanes untuk diberikan kepada dunia.” Manuscript Releases, volume 18, 30–36.