A Word of Clarification
Sebuah Kata Penjelasan
Recently we began to prepare the transcription of Habakkuk’s Two Tables to be translated into the various languages represented on our website. The task of changing a spoken presentation into a written presentation is much more of a task than might be understood if one is not familiar with all the hoops that must be jumped through to turn a spoken presentation into a written presentation, along with the necessary problems of ultimately translating the material into the various languages on the website. We just started our copy-editing of the first of the ninety-five presentations and I discovered another hoop that we must also jump through. It has to do with the progressive development of this message from 1989 until our current history.
Baru-baru ini kami mulai menyiapkan transkripsi dari Dua Tabel Habakuk untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang terwakili di situs web kami. Tugas mengubah suatu penyajian lisan menjadi suatu penyajian tertulis jauh lebih merupakan suatu pekerjaan daripada yang mungkin dipahami apabila seseorang tidak mengenal semua tahapan yang harus dilalui untuk mengubah suatu penyajian lisan menjadi suatu penyajian tertulis, beserta persoalan-persoalan yang niscaya menyertai penerjemahan materi tersebut ke dalam berbagai bahasa di situs web itu. Kami baru saja memulai penyuntingan naskah kami atas presentasi yang pertama dari sembilan puluh lima presentasi itu, dan saya menemukan satu tahapan lagi yang juga harus kami lalui. Hal itu berkaitan dengan perkembangan progresif dari pekabaran ini sejak tahun 1989 hingga sejarah kita sekarang.
In the presentations of about fifteen years ago there were truths that were in their infant state of understanding. The first of those truths that I must clarify is the arrival of the second angel in Millerite history. I understood at that time that the second angel arrived when the Protestant churches began to close their doors against Miller’s presentation of the first angel’s message, in conjunction with the termination of the year 1843. William Miller worked upon a reckoning of time that he believed identified that the years of 1843 began on March 22, 1843 and ended on March 22, 1844. He had thought the three prophecies that ultimately were placed upon the two sacred charts would terminate in the year of 1843, and he believed that year ended on March 22, 1844. He was wrong on two points.
Dalam presentasi-presentasi sekitar lima belas tahun yang lalu, terdapat kebenaran-kebenaran yang masih berada dalam tahap awal pemahaman. Kebenaran pertama yang harus saya jelaskan adalah kedatangan malaikat kedua dalam sejarah Millerit. Pada waktu itu saya memahami bahwa malaikat kedua datang ketika gereja-gereja Protestan mulai menutup pintu mereka terhadap penyajian Miller tentang pekabaran malaikat pertama, berkenaan dengan berakhirnya tahun 1843. William Miller bekerja berdasarkan suatu perhitungan waktu yang ia yakini menunjukkan bahwa tahun-tahun 1843 dimulai pada 22 Maret 1843 dan berakhir pada 22 Maret 1844. Ia telah berpikir bahwa tiga nubuatan yang pada akhirnya ditempatkan pada dua bagan suci itu akan berakhir pada tahun 1843, dan ia percaya bahwa tahun itu berakhir pada 22 Maret 1844. Ia keliru dalam dua hal.
The three prophecies of the 1335 days of Daniel twelve, the 2520 years of the “seven times” of Leviticus twenty-six and the 2300 days of Daniel eight were understood by Miller to concluded in March of 1844. The Lord thereafter guided Samuel Snow to not only understand that the prophecies ended not in 1843, but 1844; but Snow also began to apply the Karite reckoning of time, that was not the time application Miller had been employing. Miller had been using the Rabbinic/equinox-based reckoning of time that based the year upon spring to spring.
Tiga nubuatan tentang 1335 hari dalam Daniel pasal dua belas, 2520 tahun dari “tujuh masa” dalam Imamat pasal dua puluh enam, dan 2300 hari dalam Daniel pasal delapan dipahami oleh Miller berakhir pada bulan Maret 1844. Sesudah itu Tuhan menuntun Samuel Snow untuk bukan hanya memahami bahwa nubuatan-nubuatan itu berakhir bukan pada tahun 1843, melainkan 1844; tetapi Snow juga mulai menerapkan perhitungan waktu Karait, yang bukanlah penerapan waktu yang telah digunakan Miller. Miller telah menggunakan perhitungan waktu Rabinik/berdasarkan ekuinoks, yang mendasarkan tahun dari musim semi ke musim semi.
When we were presenting Habakkuk’s Two Tables, we had not understood this historical reality and were using Miller’s experience to mark March 22, 1844 as the arrival of the second and the beginning of the tarrying time. I understood, and still do that the arrival of that angel corresponded to when the Protestants rejected Miller’s message of the first angel, and the following passage was my point of reference.
Ketika kami sedang menyajikan Dua Lohe Habakuk, kami belum memahami kenyataan historis ini dan sedang menggunakan pengalaman Miller untuk menandai 22 Maret 1844 sebagai kedatangan malaikat kedua dan permulaan masa penangguhan. Saya memahami, dan masih memahami, bahwa kedatangan malaikat itu bersesuaian dengan saat kaum Protestan menolak pekabaran malaikat pertama yang dibawa Miller, dan petikan berikut adalah acuan saya.
“In June, 1842, Mr. Miller gave his second course of lectures at the Casco Street church in Portland. I felt it a great privilege to attend these lectures; for I had fallen under discouragements, and did not feel prepared to meet my Saviour. This second course created much more excitement in the city than the first. With few exceptions, the different denominations closed the doors of their churches against Mr. Miller. Many discourses from the various pulpits sought to expose the alleged fanatical errors of the lecturer; but crowds of anxious listeners attended his meetings, and many were unable to enter the house. The congregations were unusually quiet and attentive.” Life Sketches, 27.
“Pada bulan Juni 1842, Tn. Miller menyampaikan rangkaian kuliah keduanya di gereja Casco Street di Portland. Saya merasa suatu hak istimewa yang besar dapat menghadiri kuliah-kuliah itu; sebab saya telah jatuh ke dalam keputusasaan, dan tidak merasa siap untuk berjumpa dengan Juruselamat saya. Rangkaian kuliah kedua ini menimbulkan jauh lebih banyak kegemparan di kota itu daripada yang pertama. Dengan sedikit pengecualian, berbagai denominasi menutup pintu gereja mereka terhadap Tn. Miller. Banyak khotbah dari berbagai mimbar berusaha menyingkapkan apa yang dituduhkan sebagai kesalahan-kesalahan fanatik dari sang penceramah; tetapi kerumunan pendengar yang cemas menghadiri pertemuan-pertemuannya, dan banyak yang tidak dapat masuk ke dalam gedung itu. Jemaat-jemaat itu luar biasa tenang dan penuh perhatian.” Life Sketches, 27.
I understood the closing of the doors to Miller’s message marked the beginning of the rejection of the first angel, and in agreement with Miller’s understanding of the Rabbinic/equinox-based reckoning of time I assumed that March 22, 1844 marked the conclusion of 1843. Miller’s presentation in Portland in June of 1842 is actually a waymark that identifies a progressive rejection that ultimately concluded on April 18, 1844, but at the time of the presentations we had not recognized Samuel Snow’s application of the Karaite reckoning of time.
Aku memahami bahwa penutupan pintu-pintu terhadap pekabaran Miller menandai permulaan penolakan terhadap malaikat pertama, dan selaras dengan pemahaman Miller tentang perhitungan waktu Rabinik/berdasarkan ekuinoks, aku berasumsi bahwa 22 Maret 1844 menandai berakhirnya tahun 1843. Penyampaian Miller di Portland pada bulan Juni 1842 sebenarnya merupakan suatu waymark yang mengidentifikasi suatu penolakan yang bersifat progresif, yang pada akhirnya berakhir pada 18 April 1844, tetapi pada waktu penyampaian-penyampaian itu kami belum mengenali penerapan Samuel Snow atas perhitungan waktu Karaite.
In the first presentation we began to copy-edit I began to see that what was recorded at that time seems to contradict what we now teach. It does and it doesn’t. It is simply an emphasis upon the progressive arrival of the second angel, and also an illustration of the progressive unsealing of this message, as was the case also in Millerite history. This note of clarification should address those who have stumbled over our identification of April 19, 1844 as the first Millerite disappointment and what was taught in the past.
Dalam presentasi pertama yang mulai kami sunting, saya mulai melihat bahwa apa yang dicatat pada waktu itu tampaknya bertentangan dengan apa yang sekarang kami ajarkan. Ya dan tidak. Itu semata-mata merupakan suatu penekanan pada kedatangan malaikat kedua yang bersifat progresif, dan juga suatu ilustrasi tentang penyingkapan bertahap dari pekabaran ini, sebagaimana juga terjadi dalam sejarah Millerit. Catatan klarifikasi ini seharusnya menanggapi mereka yang telah tersandung karena pengidentifikasian kami atas 19 April 1844 sebagai kekecewaan Millerit yang pertama dan atas apa yang diajarkan pada masa lalu.
“The first and second messages were given in 1843 and 1844, and we are now under the proclamation of the third; but all three of the messages are still to be proclaimed. It is just as essential now as ever before that they shall be repeated to those who are seeking for the truth. By pen and voice we are to sound the proclamation, showing their order, and the application of the prophecies that bring us to the third angel’s message. There cannot be a third without the first and second. These messages we are to give to the world in publications, in discourses, showing in the line of prophetic history the things that have been and the things that will be.” Selected Messages, book 2, 104.
“Pekabaran pertama dan kedua telah diberikan pada tahun 1843 dan 1844, dan kini kita berada di bawah pemakluman pekabaran ketiga; namun ketiga pekabaran itu masih harus diproklamasikan. Sekarang sama pentingnya seperti sebelumnya bahwa pekabaran-pekabaran itu harus diulangi kepada mereka yang sedang mencari kebenaran. Melalui pena dan suara kita harus mengumandangkan pemakluman itu, dengan menunjukkan urutannya, dan penerapan nubuatan-nubuatan yang membawa kita kepada pekabaran malaikat ketiga. Tidak mungkin ada pekabaran ketiga tanpa yang pertama dan kedua. Pekabaran-pekabaran ini harus kita sampaikan kepada dunia melalui publikasi-publikasi, dalam khotbah-khotbah, dengan memperlihatkan dalam rangkaian sejarah nubuatan hal-hal yang telah terjadi dan hal-hal yang akan terjadi.” Selected Messages, buku 2, 104.
Habakkuk's Two Tables 1 of 95
Dua Tabel Habakuk 1 dari 95
Introduction to Habakkuk's Two Tables and the Midnight Cry
Pendahuluan tentang Dua Tabel Habakuk dan Seruan Tengah Malam
In this series, we will be looking at Habakkuk's two tables—the 1843 and 1850 Charts—over an extended period. We will begin by putting the Midnight Cry in place. As mentioned, much of the initial presentations will be review for those familiar with this message, but since we are preparing a series that may be studied by people new to this message, we must lay out some basic ideas for them. We will start with the Midnight Cry, focusing on an aspect found in Ellen White's first vision. Let's read the first paragraph from Christian Experience and Teachings, page 57.
Dalam seri ini, kita akan menelaah dua tabel Habakuk—Bagan 1843 dan 1850—selama suatu jangka waktu yang panjang. Kita akan memulai dengan menempatkan Seruan Tengah Malam pada posisinya. Sebagaimana telah disebutkan, sebagian besar presentasi awal akan merupakan tinjauan bagi mereka yang telah akrab dengan pekabaran ini, tetapi karena kita sedang mempersiapkan suatu seri yang mungkin akan dipelajari oleh orang-orang yang baru mengenal pekabaran ini, kita harus mengemukakan beberapa gagasan dasar bagi mereka. Kita akan memulai dengan Seruan Tengah Malam, dengan memusatkan perhatian pada suatu aspek yang terdapat dalam penglihatan pertama Ellen White. Marilah kita membaca paragraf pertama dari Christian Experience and Teachings, halaman 57.
"It was not long after the passing of time in 1844 that my first open vision was given me. I was visiting Mrs. Haines in Portland, Maine, a dear sister in Christ, whose heart was knit with mine. Five of us, all women, were kneeling quietly at the family altar. While we were praying, the power of God came upon me as never before."
Tidak lama setelah berlalunya masa pada tahun 1844, penglihatan terbuka pertama saya diberikan kepada saya. Saya sedang mengunjungi Ny. Haines di Portland, Maine, seorang saudari yang terkasih di dalam Kristus, yang hatinya terpaut dengan hati saya. Berlima, semuanya perempuan, sedang berlutut dengan tenang di altar keluarga. Sementara kami sedang berdoa, kuasa Allah turun ke atas saya seperti belum pernah sebelumnya.
These five women, whose hearts were knit with Sister White, were not opposing any manifestation of the power of God. Notably, they were all women, representing the church, and there were five of them, which can be seen as five wise virgins. This is simply an observation.
Kelima perempuan ini, yang hatinya terikat erat dengan Sister White, tidak menentang manifestasi apa pun dari kuasa Allah. Patut dicatat, mereka semuanya adalah perempuan, yang melambangkan gereja, dan jumlah mereka lima orang, yang dapat dipandang sebagai lima gadis bijaksana. Ini hanyalah suatu pengamatan.
"I seemed to be surrounded with light and to be rising higher and higher from the earth. I turned to look for the advent people in the world, but could not find them, when a voice said to me, 'Look again and look a little higher.' At this, I raised my eyes and saw a straight and narrow path cast up high above the world. On this path, the Advent people were traveling to the city, which was at the farther end of the path. They had a bright light set up behind them at the beginning of the path, which an angel told me was the Midnight Cry. This light shone all along the path and gave light for their feet so that they might not stumble. If they kept their eyes fixed on Jesus, who was just before them, leading them to the city, they were safe. But soon some grew weary and said the city was a great way off, and they expected to have entered it before. Then Jesus would encourage them by raising His glorious right arm, and from His arm came a light which waved over the advent band, and they shouted 'Alleluia!' Others rashly denied the light behind them and said that it was not God that had led them out so far. The light behind them went out, leaving their feet in perfect darkness, and they stumbled and lost sight of the mark and of Jesus, and fell off the path down into the dark and wicked world below."
Tampaknya aku dikelilingi oleh terang dan sedang naik makin tinggi dari bumi. Aku menoleh untuk mencari umat Advent di dunia, tetapi tidak dapat menemukan mereka, ketika suatu suara berkata kepadaku, “Lihatlah lagi dan pandanglah sedikit lebih tinggi.” Maka aku mengangkat mataku dan melihat suatu jalan yang lurus dan sempit, terbentang tinggi di atas dunia. Di atas jalan ini, umat Advent sedang berjalan menuju kota, yang terletak di ujung jalan itu. Mereka mempunyai suatu terang yang cemerlang dipasang di belakang mereka pada permulaan jalan itu, yang diberitahukan oleh seorang malaikat kepadaku sebagai Seruan Tengah Malam. Terang ini bersinar sepanjang jalan itu dan memberi terang bagi kaki mereka supaya mereka jangan tersandung. Jika mereka tetap mengarahkan pandangan mereka kepada Yesus, yang tepat berada di hadapan mereka, memimpin mereka ke kota itu, mereka selamat. Tetapi tidak lama kemudian sebagian menjadi letih dan berkata bahwa kota itu masih sangat jauh, dan mereka mengharapkan telah memasukinya lebih dahulu. Lalu Yesus menguatkan mereka dengan mengangkat lengan kanan-Nya yang mulia, dan dari lengan-Nya terpancar suatu terang yang melambai-lambai di atas rombongan Advent itu, dan mereka berseru, “Haleluya!” Yang lain dengan gegabah menyangkal terang yang ada di belakang mereka dan berkata bahwa bukan Allah yang telah memimpin mereka keluar sejauh itu. Maka terang di belakang mereka padam, meninggalkan kaki mereka dalam kegelapan yang sempurna, dan mereka tersandung, lalu kehilangan pandangan akan tanda itu dan akan Yesus, dan jatuh dari jalan itu ke bawah, ke dalam dunia yang gelap dan jahat.
William Miller and the Midnight Cry
William Miller dan Seruan Tengah Malam
In this first presentation, after establishing a few points, we will discuss the Low Hampton Conference of Adventists in December 1844. At this conference, some Millerites gathered, and William Miller rejected the understanding of the Midnight Cry. The logic here is that this vision, while for all of us, was especially for William Miller.
Dalam presentasi pertama ini, setelah menetapkan beberapa pokok, kita akan membahas Konferensi Advent di Low Hampton pada bulan Desember 1844. Pada konferensi ini, beberapa orang Millerit berkumpul, dan William Miller menolak pemahaman tentang Seruan Tengah Malam. Logikanya di sini adalah bahwa penglihatan ini, sekalipun ditujukan bagi kita semua, secara khusus diperuntukkan bagi William Miller.
In that same month, William Miller denied the light behind them—the Midnight Cry—which would cause him to fall off the path to the wicked world below. We will explore the implications of this. Historical evidence shows that the Millerites all believed they were fulfilling the parable of the ten virgins; it was common knowledge among them. We will show that William Miller had an understanding of what the Midnight Cry was. Miller believed the Midnight Cry was the judgment hour message of Daniel 8:14 and Revelation 14:6-9. He believed the message he began proclaiming in the early 1830s was the Midnight Cry, 'Behold, the bridegroom cometh,' and that Jesus was coming to the world as the bridegroom.
Pada bulan yang sama itu, William Miller menyangkal terang di belakang mereka—Seruan Tengah Malam—yang akan menyebabkan dia jatuh dari jalan itu ke dunia fasik di bawah. Kita akan menyelidiki implikasi-implikasi dari hal ini. Bukti sejarah menunjukkan bahwa semua orang Millerit percaya bahwa mereka sedang menggenapi perumpamaan tentang sepuluh gadis; hal itu merupakan pengetahuan umum di antara mereka. Kita akan menunjukkan bahwa William Miller memiliki pemahaman tentang apa itu Seruan Tengah Malam. Miller percaya bahwa Seruan Tengah Malam adalah pekabaran jam penghakiman dari Daniel 8:14 dan Wahyu 14:6-9. Ia percaya bahwa pekabaran yang mulai ia beritakan pada awal tahun 1830-an adalah Seruan Tengah Malam, “Lihatlah, mempelai laki-laki datang,” dan bahwa Yesus sedang datang ke dunia sebagai mempelai laki-laki.
For most of Millerite history, they believed they were fulfilling the parable of the ten virgins, but they thought the Midnight Cry described the message they had been proclaiming. However, by the summer of 1844, a new and correct understanding emerged: the Midnight Cry was the Seventh Month movement, with Jesus expected to come on the tenth day of the seventh month. That was the true Midnight Cry. When Miller rejected the true Midnight Cry in December 1844, he was rejecting the history of the summer of 1844 and reverting to his earlier position that it was just the general message from the 1830s. Understanding the dynamics of the Midnight Cry is crucial. If you do not understand the 2520 as the Millerites did, you cannot understand the Midnight Cry. If you cannot understand the Midnight Cry as the Millerites did, you fall off the path to the wicked world below.
Sepanjang sebagian besar sejarah Millerit, mereka percaya bahwa mereka sedang menggenapi perumpamaan tentang sepuluh gadis, tetapi mereka menganggap bahwa Seruan Tengah Malam menggambarkan pekabaran yang telah mereka beritakan. Namun, pada musim panas tahun 1844, muncul suatu pemahaman yang baru dan benar: Seruan Tengah Malam adalah gerakan Bulan Ketujuh, dengan Yesus diharapkan datang pada hari kesepuluh bulan yang ketujuh. Itulah Seruan Tengah Malam yang sejati. Ketika Miller menolak Seruan Tengah Malam yang sejati pada bulan Desember 1844, ia sedang menolak sejarah musim panas tahun 1844 dan kembali kepada posisinya yang terdahulu, yaitu bahwa itu hanyalah pekabaran umum dari tahun 1830-an. Memahami dinamika Seruan Tengah Malam sangatlah penting. Jika Anda tidak memahami 2520 sebagaimana dipahami oleh kaum Millerit, Anda tidak dapat memahami Seruan Tengah Malam. Jika Anda tidak dapat memahami Seruan Tengah Malam sebagaimana dipahami oleh kaum Millerit, Anda akan jatuh dari jalan itu ke dunia orang fasik yang di bawah.
In this presentation, we will start with some truths on the chart that are openly rejected by Adventism today. The Biblical Research Institute of the Seventh-day Adventist Church and most Adventist theologians reject the 2520. We will address this biblically as we proceed, but initially, we will show that Ellen White fully endorses the 2520. The Institute and most theologians also reject the pioneer understanding of the Daily. We will show that rejecting the pioneer understanding of the Daily being paganism is rejecting the spirit of prophecy. The Institute also publicly rejects the pioneer understanding of the trumpets—the Fifth and Sixth Trumpet. We will begin by showing that rejecting the pioneer understanding of the trumpets is rejecting the Spirit of Prophecy.
Dalam presentasi ini, kita akan memulai dengan beberapa kebenaran pada bagan yang dewasa ini secara terbuka ditolak oleh Adventisme. Biblical Research Institute dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan sebagian besar teolog Advent menolak 2520. Seiring kita melanjutkan pembahasan, kita akan membahas hal ini secara biblika, tetapi mula-mula kita akan menunjukkan bahwa Ellen White sepenuhnya mendukung 2520. Institut tersebut dan sebagian besar teolog juga menolak pemahaman para perintis mengenai Yang Harian. Kita akan menunjukkan bahwa menolak pemahaman para perintis bahwa Yang Harian adalah kekafiran berarti menolak roh nubuat. Institut tersebut juga secara terbuka menolak pemahaman para perintis mengenai sangkakala-sangkakala—Sangkakala Kelima dan Keenam. Kita akan mulai dengan menunjukkan bahwa menolak pemahaman para perintis mengenai sangkakala-sangkakala berarti menolak Roh Nubuat.
Today, most Adventists are vague at best about the 1290 and the 1335. Without the pioneer understanding of the 1335, there is no biblical justification for identifying the tarrying time that began on March 22, 1844. Without understanding the tarrying time, one cannot grasp the dynamics of the Midnight Cry. Without understanding the Midnight Cry, one falls off the path to the wicked world below. We will show these truths on the chart in terms of the clear endorsement of the Spirit of Prophecy, and then dissect them from the Word of God. But first, we need to see what surrounded Millerite history and what produced the Midnight Cry.
Pada masa kini, kebanyakan orang Advent paling baik hanya memiliki pemahaman yang samar-samar tentang 1290 dan 1335. Tanpa pemahaman para perintis mengenai 1335, tidak ada pembenaran alkitabiah untuk mengidentifikasi masa penantian yang dimulai pada 22 Maret 1844. Tanpa memahami masa penantian itu, seseorang tidak dapat menangkap dinamika Seruan Tengah Malam. Tanpa memahami Seruan Tengah Malam, seseorang akan jatuh dari jalan itu ke dunia fasik di bawah. Kami akan menunjukkan kebenaran-kebenaran ini pada bagan dalam kaitannya dengan dukungan yang jelas dari Roh Nubuat, lalu menguraikannya dari Firman Allah. Tetapi terlebih dahulu, kita perlu melihat apa yang melingkupi sejarah Millerit dan apa yang menghasilkan Seruan Tengah Malam.
Millerite History and the Arrival of the First Angel
Sejarah Kaum Millerit dan Kedatangan Malaikat Pertama
We begin with Uriah Smith from Thoughts on Daniel and Revelation, page 521, to show the Millerite history and address 1798. Uriah Smith writes, 'The chronology of the events of Revelation 10 is further ascertained from the fact that this angel is identical with the first angel of Revelation 14.' In Revelation 10, a mighty angel comes down from heaven with a little book open in his hand. Ellen White informs us that this mighty angel is Jesus Christ, and the little book is the Book of Daniel. By the end of chapter ten, John is told to eat the little book, which will be sweet in his mouth and bitter in his stomach. John represents the Millerite history, where the message of Daniel is sweet but leads to bitter disappointment. The mighty angel of Revelation 10, according to the pioneers, is the first angel of Revelation 14—they are the same angel.
Kita mulai dengan Uriah Smith dari Thoughts on Daniel and Revelation, halaman 521, untuk menunjukkan sejarah Millerit dan menyinggung tahun 1798. Uriah Smith menulis, “Kronologi peristiwa-peristiwa dalam Wahyu 10 lebih lanjut dipastikan dari fakta bahwa malaikat ini identik dengan malaikat pertama dalam Wahyu 14.” Dalam Wahyu 10, seorang malaikat yang perkasa turun dari surga dengan sebuah kitab kecil yang terbuka di tangannya. Ellen White memberitahukan kepada kita bahwa malaikat yang perkasa ini adalah Yesus Kristus, dan kitab kecil itu adalah Kitab Daniel. Menjelang akhir pasal sepuluh, Yohanes diperintahkan untuk memakan kitab kecil itu, yang akan manis di mulutnya dan pahit di perutnya. Yohanes melambangkan sejarah Millerit, ketika pekabaran Daniel terasa manis tetapi berujung pada kekecewaan yang pahit. Malaikat yang perkasa dalam Wahyu 10, menurut para perintis, adalah malaikat pertama dalam Wahyu 14—mereka adalah malaikat yang sama.
We often do not spend much time being specific about these angels in Revelation, but we should. The mighty angel in Revelation 10 is also the angel that William Miller believed was fulfilling the Midnight Cry by accomplishing the work of the first angel of Revelation 14: 'Fear God and give Him glory, for the hour of His judgment is come.' The hour of His judgment refers to Daniel 8:14. These angels identify different aspects of the work accomplished.
Kita sering tidak meluangkan banyak waktu untuk secara khusus membahas malaikat-malaikat ini dalam Wahyu, tetapi seharusnya kita melakukannya. Malaikat yang perkasa dalam Wahyu 10 juga adalah malaikat yang menurut keyakinan William Miller sedang menggenapi Seruan Tengah Malam dengan melaksanakan pekerjaan malaikat pertama dari Wahyu 14: “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya.” Saat penghakiman-Nya mengacu kepada Daniel 8:14. Malaikat-malaikat ini menandai berbagai aspek dari pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Returning to Uriah Smith: 'The chronology of the events of Revelation 10 is further ascertained from the fact that this angel is identical with the first angel of Revelation 14.' He explains what ties them together: both have a special message to proclaim, both utter their proclamation with a loud voice, both use similar language referring to the Creator, and both proclaim time—one swearing that time should be no more, and the other proclaiming the hour of God's judgment has come. The message of Revelation 14:6 is located on this side of the commencement of the time of the end.
Kembali kepada Uriah Smith: “Kronologi peristiwa-peristiwa dalam Wahyu 10 semakin dipastikan oleh kenyataan bahwa malaikat ini identik dengan malaikat pertama dalam Wahyu 14.” Ia menjelaskan apa yang mengikat keduanya bersama-sama: keduanya mempunyai suatu pekabaran khusus untuk diberitakan, keduanya menyuarakan pemberitaan mereka dengan suara nyaring, keduanya menggunakan bahasa yang serupa yang merujuk kepada Sang Pencipta, dan keduanya memberitakan waktu—yang satu bersumpah bahwa waktu tidak akan ada lagi, dan yang lain memberitakan bahwa saat penghakiman Allah telah tiba. Pekabaran dalam Wahyu 14:6 terletak di sisi ini dari permulaan zaman akhir.
Uriah Smith states that the time of the end is 1798, and the message of Revelation 14 comes after that. He writes, 'But the message of Revelation 14:6 is located this side of the commencement of the time at the end. It is a proclamation of the hour of God's judgment come, and hence must have its application in the last generation. Paul did not preach the hour of judgment come. Luther and his coadjutors did not preach it. Paul reasoned of a judgment to come, indefinitely future, and Luther placed it at least three hundred years off from his day. Moreover, Paul warns the church against any such preaching as that the hour of God's judgment has come until a certain time.' In 2 Thessalonians 2:1-3, Paul says that the day of Christ is not at hand until the falling away comes first and the man of sin is revealed. Paul introduces the man of sin, the little horn, the papacy, and covers with a caution the whole period of his supremacy, which continued 1260 years, ending in 1798.
Uriah Smith menyatakan bahwa zaman akhir adalah tahun 1798, dan pekabaran Wahyu 14 datang sesudah itu. Ia menulis, “Tetapi pekabaran Wahyu 14:6 ditempatkan di sisi ini dari permulaan zaman akhir. Itu adalah suatu pemberitaan bahwa saat penghakiman Allah telah tiba, dan karena itu harus diterapkan pada generasi terakhir. Paulus tidak memberitakan bahwa saat penghakiman telah tiba. Luther dan rekan-rekan sekerjanya juga tidak memberitakannya. Paulus berbicara tentang suatu penghakiman yang akan datang, yang pada waktu itu masih berada di masa depan yang tidak ditentukan, dan Luther menempatkannya setidaknya tiga ratus tahun sesudah zamannya. Lagi pula, Paulus memperingatkan jemaat terhadap pemberitaan semacam itu, yaitu bahwa saat penghakiman Allah telah tiba, sampai suatu waktu tertentu.” Dalam 2 Tesalonika 2:1-3, Paulus mengatakan bahwa hari Kristus belum dekat sampai kemurtadan datang lebih dahulu dan manusia durhaka disingkapkan. Paulus memperkenalkan manusia durhaka itu, tanduk kecil itu, kepausan itu, dan meliputi seluruh masa supremasinya dengan suatu peringatan, yang berlangsung 1260 tahun dan berakhir pada tahun 1798.
In 1798, the restriction against proclaiming the day of Christ at hand ceased. The time of the end commenced, and the seal was taken from the little book. Since then, the angel of Revelation 14 has gone forth. Uriah Smith says, 'If you will see it,' since 1798, the first angel's message has gone forth. In 1798, the first angel of Revelation 14 arrives in history—this is the pioneer understanding. Since then, the angel of Revelation 14 has proclaimed the hour of God's judgment come, and the angel of chapter ten has taken his stand on the sea and the land, swearing that time should be no more. Their identity is unquestionable. All arguments that locate one are effective for the other. The present generation is witnessing the fulfillment of these two prophecies. In the preaching of the advent, especially from 1840 to 1844, began their full and circumstantial accomplishment.
Pada tahun 1798, pembatasan terhadap pemberitaan bahwa hari Kristus sudah dekat berakhir. Waktu kesudahan dimulai, dan meterai itu diambil dari kitab kecil itu. Sejak saat itu, malaikat dalam Wahyu 14 telah maju. Uriah Smith berkata, “Jika engkau mau melihatnya,” sejak tahun 1798, pekabaran malaikat pertama telah berjalan. Pada tahun 1798, malaikat pertama dari Wahyu 14 muncul dalam sejarah—inilah pengertian para pionir. Sejak saat itu, malaikat dari Wahyu 14 telah memberitakan bahwa saat penghakiman Allah telah tiba, dan malaikat dari pasal sepuluh telah mengambil tempatnya berdiri di atas laut dan di atas darat, bersumpah bahwa waktu tidak akan ada lagi. Jati diri mereka tidak dapat disangkal. Semua argumen yang menetapkan yang satu berlaku efektif juga bagi yang lain. Angkatan sekarang sedang menyaksikan penggenapan kedua nubuat ini. Dalam pemberitaan kedatangan Kristus, khususnya dari tahun 1840 sampai 1844, mulailah penggenapan mereka yang penuh dan terperinci.
Smith marks 1840 and 1844 in reference to the first angel of Revelation 14 arriving in 1798, but also marks the first angel in 1840, where the message is empowered. In the preaching of the advent, especially from 1840 to 1844, began their full accomplishment. The angel's position with one foot on the sea and one on the land denotes the wide extent of his proclamation. The message would cross the ocean and extend to various nations, and the advent proclamation did go to every missionary station in the world. From 1840, the first angel's message, according to Ellen White, was carried to every mission station in the world. This was accomplished when the year-day principle of Bible prophecy was confirmed with the collapse of the Ottoman Empire. We are not dealing with the details at this point, but setting the stage for the Millerite history and the dynamics of the Midnight Cry.
Smith menandai tahun 1840 dan 1844 sehubungan dengan malaikat pertama dalam Wahyu 14 yang datang pada tahun 1798, tetapi ia juga menandai malaikat pertama pada tahun 1840, ketika pekabaran itu diberi kuasa. Dalam pemberitaan tentang advent, khususnya dari tahun 1840 hingga 1844, mulailah penggenapannya yang penuh. Kedudukan malaikat itu dengan satu kaki di laut dan satu di darat menunjukkan luasnya jangkauan pemberitaannya. Pekabaran itu akan menyeberangi samudra dan meluas ke berbagai bangsa, dan proklamasi advent itu memang pergi ke setiap pos misi di dunia. Sejak tahun 1840, pekabaran malaikat pertama, menurut Ellen White, telah dibawa ke setiap pos misi di dunia. Hal ini terlaksana ketika prinsip satu hari satu tahun dalam nubuatan Alkitab diteguhkan dengan keruntuhan Kesultanan Utsmaniyah. Pada titik ini kita tidak sedang membahas rinciannya, melainkan menyiapkan latar bagi sejarah Millerite dan dinamika Seruan Tengah Malam.
Key Historical Events: 1833 and the Falling of the Stars
Peristiwa-Peristiwa Historis Penting: 1833 dan Jatuhnya Bintang-Bintang
In 1833, the falling of the stars occurred. Ellen White comments in The Great Controversy, page 333: 'In 1833, two years after Miller began to present in public the evidences of Christ's soon coming, the last of the signs appeared which were promised by the Saviour as tokens of His second advent. Said Jesus: "The stars shall fall from heaven." Matthew 24:29. And John in the Revelation declared, as he beheld in vision the scenes that should herald the day of God: "The stars of heaven fell unto the earth, even as a fig tree casteth her untimely figs, when she is shaken of a mighty wind." Revelation 6:13. This prophecy received a striking and impressive fulfillment in the great meteoric shower of November 13, 1833.'
Pada tahun 1833, terjadilah peristiwa bintang-bintang jatuh. Ellen White berkomentar dalam The Great Controversy, halaman 333: “Pada tahun 1833, dua tahun setelah Miller mulai mengemukakan di muka umum bukti-bukti tentang kedatangan Kristus yang segera, tampaklah tanda yang terakhir dari tanda-tanda yang telah dijanjikan oleh Juruselamat sebagai pertanda kedatangan-Nya yang kedua kali. Kata Yesus: ‘Bintang-bintang akan berjatuhan dari langit.’ Matius 24:29. Dan Yohanes dalam Kitab Wahyu menyatakan, ketika ia memandang dalam penglihatan pemandangan-pemandangan yang akan mendahului hari Allah: ‘Bintang-bintang di langit berjatuhan ke atas bumi, sama seperti pohon ara menggugurkan buah-buahnya yang mentah, apabila ia digoncangkan oleh angin yang besar.’ Wahyu 6:13. Nubuatan ini menerima penggenapan yang mencolok dan mengesankan dalam hujan meteor besar pada tanggal 13 November 1833.”
William Miller's testimony recounts: 'On Saturday after breakfast—in the summer of 1833, I sat down at my desk to examine some point, and as I rose to go out to work, it came home to me with more force than ever, "Go and tell it to the world." The impression was so sudden and came with such force that I settled down into my chair saying, "I can't go, Lord." "Why not?" seemed to be the response, and then all my excuses came up, my want of ability, but my distress became so great I entered into a solemn covenant with God that if He would open the way, I would go and perform my duty to the world. "What do you mean by opening the way?" seemed to come to me. Why, said I, if I should have an invitation to speak publicly in any place, I will go and tell them what I find in the Bible about the Lord's coming. Instantly all my burden was gone. And I rejoiced that I should not probably be thus called upon, for I'd never had such an invitation, my trials were not known, and I had but little expectation of being invited to any field of labor. In about a half an hour from this time, before I'd left the room, a son of Mr. Guilford of Dresden, about sixteen miles from my residence, came in and said that his father had sent for me and wished me to go home with him, supposing that he'd wish to see me on some business. I asked him what he wanted. He replied that there was to be no preaching in their church the next day, and his father wished to have me come and talk to the people on the subject of the Lord's coming. I was immediately angry with myself for having made the covenant I had. I rebelled at once against the Lord and determined not to go. I left the boy without giving him any answer and retired in great distress to a grove nearby. Then I struggled with the Lord for about an hour, endeavoring to release myself from the covenant I had made with him, but I could get no relief. It was impressed upon my conscience, "Will you make a covenant with God and break it so soon?" and the exceeding sinfulness of thus doing overwhelmed me. I finally submitted and promised the Lord that if He would sustain me, I would go, trusting in Him to give me grace and ability to perform all He should require of me. I returned to the house and found the boy still waiting. He remained till after dinner, and I returned with him to Dresden.' This is how Miller, in the summer of 1833, began to publicly present the message. In December 1833, the falling of the stars added solemnity to his message.
Kesaksian William Miller menuturkan: “Pada hari Sabtu sesudah sarapan—pada musim panas tahun 1833, aku duduk di mejaku untuk memeriksa suatu pokok persoalan, dan ketika aku bangkit untuk pergi bekerja, hal itu datang kepadaku dengan kuasa yang lebih besar daripada sebelumnya, ‘Pergilah dan beritahukanlah itu kepada dunia.’ Kesan itu demikian mendadak dan datang dengan kekuatan sedemikian rupa sehingga aku terduduk kembali di kursiku sambil berkata, ‘Aku tidak dapat pergi, Tuhan.’ ‘Mengapa tidak?’ tampaknya itulah jawabannya, lalu semua alasanku pun muncul, yaitu kekuranganku akan kemampuan; tetapi kesesakanku menjadi demikian besar sehingga aku mengadakan suatu perjanjian yang khidmat dengan Allah, bahwa jika Ia membuka jalan, aku akan pergi dan melakukan kewajibanku kepada dunia. ‘Apakah yang kau maksud dengan membuka jalan?’ tampaknya datang kepadaku. Ya, kataku, jika aku menerima suatu undangan untuk berbicara di depan umum di suatu tempat, aku akan pergi dan memberitahukan kepada mereka apa yang kudapati dalam Alkitab tentang kedatangan Tuhan. Seketika itu juga seluruh bebanku lenyap. Dan aku bersukacita bahwa agaknya aku tidak akan dipanggil demikian, sebab aku belum pernah menerima undangan seperti itu, pencobaan-pencobaanku tidak diketahui orang, dan aku hanya mempunyai sedikit harapan untuk diundang ke ladang pekerjaan mana pun. Kira-kira setengah jam kemudian, sebelum aku meninggalkan ruangan itu, seorang putra Tuan Guilford dari Dresden, kira-kira enam belas mil dari tempat tinggalku, masuk dan mengatakan bahwa ayahnya telah menyuruhnya menjemput aku dan menghendaki aku pulang bersamanya, dengan anggapan bahwa ia ingin menemuiku berkenaan dengan suatu urusan. Aku bertanya kepadanya apa yang diinginkannya. Ia menjawab bahwa tidak akan ada khotbah di gereja mereka pada hari berikutnya, dan ayahnya menghendaki agar aku datang dan berbicara kepada orang-orang tentang pokok kedatangan Tuhan. Aku segera marah kepada diriku sendiri karena telah membuat perjanjian yang telah kubuat itu. Seketika itu juga aku memberontak terhadap Tuhan dan memutuskan untuk tidak pergi. Aku meninggalkan anak itu tanpa memberinya jawaban apa pun dan mengasingkan diri dengan sangat tertekan ke sebuah belukar di dekat situ. Lalu aku bergumul dengan Tuhan selama kira-kira satu jam, berusaha membebaskan diriku dari perjanjian yang telah kubuat dengan-Nya, tetapi aku tidak memperoleh kelegaan apa pun. Hal ini ditanamkan ke dalam hati nuraniku, ‘Maukah engkau membuat perjanjian dengan Allah lalu melanggarnya begitu lekas?’ dan besarnya keberdosaan dari perbuatan demikian menenggelamkanku. Akhirnya aku menyerah dan berjanji kepada Tuhan bahwa jika Ia menopang aku, aku akan pergi, dengan percaya kepada-Nya untuk memberikan kasih karunia dan kemampuan kepadaku guna melakukan segala sesuatu yang dituntut-Nya daripadaku. Aku kembali ke rumah dan mendapati anak itu masih menunggu. Ia tetap tinggal sampai sesudah makan siang, dan aku kembali bersamanya ke Dresden.” Demikianlah Miller, pada musim panas tahun 1833, mulai menyampaikan pekabaran itu di muka umum. Pada bulan Desember 1833, kejatuhan bintang-bintang menambahkan kekhidmatan pada pekabarannya.
1840: The Fulfillment of Prophecy and the Ottoman Empire
1840: Penggenapan Nubuat dan Kekaisaran Ottoman
In 1840, Ellen White comments on a remarkable fulfillment of prophecy. This passage is often controverted in the Spirit of Prophecy, with some arguing that Uriah Smith inserted it into The Great Controversy, but these arguments are unfounded. She is speaking about the sequence of prophetic fulfillment's leading up to 1840, including the falling of the stars and the Dark Day. She writes, 'In the year 1840, another remarkable fulfillment of prophecy excited widespread interest.'
Pada tahun 1840, Ellen White mengomentari suatu penggenapan nubuat yang luar biasa. Bagian ini kerap diperselisihkan dalam Roh Nubuat, dengan sebagian orang berpendapat bahwa Uriah Smith menyisipkannya ke dalam The Great Controversy, tetapi argumen-argumen ini tidak berdasar. Ia sedang berbicara tentang rangkaian penggenapan nubuat yang mengarah kepada tahun 1840, termasuk jatuhnya bintang-bintang dan Hari Gelap. Ia menulis, “Pada tahun 1840, suatu penggenapan nubuat lain yang luar biasa membangkitkan minat yang meluas.”
She refers to biblical prophecy, not merely a human prediction by Josiah Litch. Two years before, Josiah Litch, a leading minister preaching the second advent, published an exposition of Revelation 9, predicting the fall of the Ottoman Empire. According to his calculations, this power was to be overthrown on August 11, 1840. At the specified time, Turkey, through her ambassadors, accepted the protection of the Allied Powers of Europe and thus placed herself under the control of Christian nations. The event exactly fulfilled the prediction. When it became known, multitudes were convinced of the correctness of the principles of prophetic interpretation adopted by Miller and his associates, and a wonderful impetus was given to the Advent movement. Men of learning and position united with Miller in preaching and publishing his views, and from 1840 to 1844, the work rapidly extended.
Ia merujuk kepada nubuatan Alkitab, bukan semata-mata suatu ramalan manusia oleh Josiah Litch. Dua tahun sebelumnya, Josiah Litch, seorang pendeta terkemuka yang memberitakan kedatangan kedua, menerbitkan suatu penafsiran atas Wahyu 9, yang meramalkan kejatuhan Kekaisaran Ottoman. Menurut perhitungannya, kuasa ini akan ditumbangkan pada 11 Agustus 1840. Pada waktu yang telah ditentukan itu, Turki, melalui para dutanya, menerima perlindungan Kuasa-Kuasa Sekutu Eropa dan dengan demikian menempatkan dirinya di bawah kendali bangsa-bangsa Kristen. Peristiwa itu menggenapi ramalan tersebut dengan tepat. Ketika hal itu diketahui, banyak orang menjadi yakin akan kebenaran prinsip-prinsip penafsiran nubuatan yang dianut oleh Miller dan rekan-rekannya, dan suatu dorongan yang luar biasa diberikan kepada gerakan Advent. Orang-orang yang berpendidikan dan berkedudukan bergabung dengan Miller dalam memberitakan dan menerbitkan pandangan-pandangannya, dan dari tahun 1840 sampai 1844, pekerjaan itu berkembang dengan pesat.
Uriah Smith had told us that the first angel of Revelation 14 arrived in 1798, but it is the same angel as the angel of Revelation 10. In Revelation 10, John is told to take the little book out of the angel's hand and eat it, and it will become sweet in his mouth. The Millerite message became sweet on August 11, 1840, after two years of predicting the collapse of the Ottoman Empire based on the year-day principle of Bible prophecy. When the event was exactly fulfilled, the message they had been proclaiming became sweet in their mouth.
Uriah Smith telah memberitahukan kepada kita bahwa malaikat pertama dari Wahyu 14 tiba pada tahun 1798, tetapi malaikat itu adalah malaikat yang sama dengan malaikat dalam Wahyu 10. Dalam Wahyu 10, Yohanes diberitahu untuk mengambil kitab kecil itu dari tangan malaikat tersebut dan memakannya, dan kitab itu akan menjadi manis di dalam mulutnya. Pekabaran Millerite menjadi manis pada 11 Agustus 1840, setelah dua tahun meramalkan keruntuhan Kekaisaran Ottoman berdasarkan prinsip satu hari sama dengan satu tahun dalam nubuatan Alkitab. Ketika peristiwa itu digenapi dengan tepat, pekabaran yang telah mereka beritakan menjadi manis di dalam mulut mereka.
On August 11, 1840, the message became sweet in their mouth. John is told to take the little book out of the angel's hand that has descended. The angel descends on August 11, 1840, and this angel of Revelation 10 is the same as the first angel of Revelation 14. The angel of Revelation 14 arrives in 1798 at the time of the end, but his message is empowered in 1840. Ellen White says that when the event became known, multitudes were convinced of the correctness of the principles of prophetic interpretation adopted by Miller and his associates. Since the 1930s, beginning in 1919 but especially in the 1930s, Adventism has rejected the rules of prophetic interpretation adopted by Miller and his associates—those rules being the proof text method of Bible study.
Pada tanggal 11 Agustus 1840, pekabaran itu menjadi manis di dalam mulut mereka. Yohanes diperintahkan untuk mengambil kitab kecil itu dari tangan malaikat yang telah turun. Malaikat itu turun pada tanggal 11 Agustus 1840, dan malaikat dalam Wahyu 10 ini adalah malaikat yang sama dengan malaikat pertama dalam Wahyu 14. Malaikat dalam Wahyu 14 itu datang pada tahun 1798 pada waktu akhir, tetapi pekabarannya diberi kuasa pada tahun 1840. Ellen White mengatakan bahwa ketika peristiwa itu menjadi diketahui, orang banyak diyakinkan akan kebenaran prinsip-prinsip penafsiran nubuatan yang dianut oleh Miller dan rekan-rekannya. Sejak tahun 1930-an, yang dimulai pada tahun 1919 tetapi khususnya pada tahun 1930-an, Adventisme telah menolak kaidah-kaidah penafsiran nubuatan yang dianut oleh Miller dan rekan-rekannya—kaidah-kaidah itu adalah metode proof text dalam studi Alkitab.
The 1843 Chart and the Tarrying Time
Bagan 1843 dan Masa Penundaan
The next waymark in history is the 1843 chart, produced in May 1842. Ellen White says, 'I have seen that the 1843 chart was directed by the hand of the Lord and that it should not be altered, that the figures were as He wanted them, and that His hand was over and hid a mistake in some of the figures so that none could see it until His hand was removed.' This chart is a prophetic waymark, produced in May 1842. In June 1842, the Protestant churches closed their doors and the second angel arrives.
Penanda jalan berikutnya dalam sejarah adalah bagan 1843, yang disusun pada Mei 1842. Ellen White berkata, “Aku telah melihat bahwa bagan 1843 dituntun oleh tangan Tuhan dan bahwa bagan itu tidak boleh diubah, bahwa angka-angkanya adalah sebagaimana yang Ia kehendaki, dan bahwa tangan-Nya menaungi serta menyembunyikan suatu kekeliruan dalam beberapa angka itu sehingga tidak seorang pun dapat melihatnya sampai tangan-Nya disingkirkan.” Bagan ini adalah sebuah penanda jalan nubuatan, yang disusun pada Mei 1842. Pada Juni 1842, gereja-gereja Protestan menutup pintu-pintu mereka dan malaikat kedua tiba.
From Testimonies, volume one, page 21: 'In June of 1842, Mr. Miller gave his second course of lectures at the Casco Street Church in Portland, Maine. With few exceptions, the different denominations closed the doors of their churches against Mr. Miller.' Ellen White informs us that as Seventh-day Adventist Christians, we should learn to reason from cause to effect. The cause that led the Protestant churches to close their doors was the introduction of this chart. When the chart was introduced in May, the Protestant churches determined that the Millerites were deluded fanatics.
Dari Testimonies, jilid satu, halaman 21: “Pada bulan Juni 1842, Tuan Miller menyampaikan rangkaian kuliah keduanya di Gereja Casco Street di Portland, Maine. Dengan sedikit pengecualian, berbagai denominasi menutup pintu gereja mereka terhadap Tuan Miller.” Ellen White memberitahukan kepada kita bahwa sebagai orang Kristen Masehi Advent Hari Ketujuh, kita harus belajar menalar dari sebab kepada akibat. Sebab yang mendorong gereja-gereja Protestan menutup pintu mereka adalah diperkenalkannya bagan ini. Ketika bagan itu diperkenalkan pada bulan Mei, gereja-gereja Protestan menetapkan bahwa kaum Millerit adalah fanatik yang tersesat.
The first disappointment is next. From The Great Controversy, page 393: 'As early as 1842, the direction given in this prophecy to write the vision and make it plain upon tables, that he may run that readeth it, had suggested to Charles Fitch the preparation of a prophetic chart to illustrate the visions of Daniel and Revelation.' Charles Fitch, who died just before the Great Disappointment of October 22, 1844, was used by the Lord in this history. He prepared the chart, which was published in May 1842.
Kekecewaan pertama adalah yang berikutnya. Dari The Great Controversy, halaman 393: “Seawal tahun 1842, petunjuk yang diberikan dalam nubuat ini untuk menuliskan penglihatan itu dan membuatnya jelas di atas loh-loh, supaya orang yang membacanya dapat berlari, telah mendorong Charles Fitch untuk menyiapkan sebuah bagan nubuatan guna menggambarkan penglihatan-penglihatan Daniel dan Wahyu.” Charles Fitch, yang meninggal tepat sebelum Kekecewaan Besar pada 22 Oktober 1844, telah dipakai oleh Tuhan dalam sejarah ini. Ia menyiapkan bagan tersebut, yang diterbitkan pada bulan Mei 1842.
The publication of this chart was regarded as a fulfillment of the command of Habakkuk. No one, however, noticed an apparent delay in the accomplishment of the vision. A tarrying time is presented in the same prophecy. After the disappointment, this scripture appeared significant: 'The vision is yet for an appointed time, but at the end it shall speak and not lie, though it tarry, wait for it, because it will surely come, it will not tarry. The just shall live by faith.' The tarrying time is the first disappointment, which comes on March 22, 1844. The Millerites were predicting the end of the world in 1843, using the biblical reckoning of time. When the Lord had not come by then, the first disappointment set in on March 22, 1844. That is the tarrying time.
Penerbitan bagan ini dipandang sebagai penggenapan perintah Habakuk. Namun demikian, tidak seorang pun memperhatikan adanya penundaan yang tampak dalam penggenapan penglihatan itu. Suatu masa penantian disajikan dalam nubuat yang sama. Sesudah kekecewaan itu, nas ini tampak bermakna: “Sebab penglihatan itu masih menanti saat yang telah ditetapkan, tetapi pada akhirnya ia akan berbicara dan tidak berdusta; sekalipun ia berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu pasti akan datang, itu tidak akan bertangguh. Orang benar akan hidup oleh iman.” Masa penantian itu adalah kekecewaan pertama, yang terjadi pada 22 Maret 1844. Kaum Millerit sedang meramalkan akhir dunia pada tahun 1843, dengan menggunakan perhitungan waktu menurut Alkitab. Ketika Tuhan belum datang sampai saat itu, kekecewaan pertama pun terjadi pada 22 Maret 1844. Itulah masa penantian itu.
This is the tarrying time in the parable of the ten virgins, in Habakkuk 2, and in Daniel 12. Daniel 12:11 says, 'And from the time that the daily sacrifice shall be taken away...' The pioneers understood that paganism was subdued in 508, with Clovis defeating the Visigoths. From the time that paganism is taken away and the papacy is set up (thirty years later in 538), there shall be 1290 days. The next verse says, 'Blessed is he that waiteth and cometh to the thousand three hundred and thirty-five days.' 508 plus 1335 equals 1843. 'Blessed is he that comes to 1843.' The 1335 marks the tarrying time, saying, 'Blessed is he that waiteth and cometh to 1843.' If you uphold the pioneer understanding of the daily, as Ellen White does, this is clear.
Inilah masa penangguhan dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis, dalam Habakuk 2, dan dalam Daniel 12. Daniel 12:11 mengatakan, “Dan sejak waktu korban sehari-hari dihapuskan...” Para pionir memahami bahwa paganisme ditaklukkan pada tahun 508, ketika Clovis mengalahkan bangsa Visigoth. Sejak saat paganisme disingkirkan dan kepausan ditegakkan (tiga puluh tahun kemudian pada tahun 538), akan ada 1290 hari. Ayat berikutnya mengatakan, “Berbahagialah dia yang menanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari.” 508 ditambah 1335 sama dengan 1843. “Berbahagialah dia yang sampai kepada 1843.” Angka 1335 menandai masa penangguhan, dengan mengatakan, “Berbahagialah dia yang menanti dan sampai kepada 1843.” Jika engkau mempertahankan pengertian para pionir tentang yang sehari-hari, sebagaimana Ellen White juga melakukannya, hal ini jelas.
To further clarify, Isaiah 30:18 says, 'And therefore will the Lord wait.' Here, the Lord is the bridegroom in the parable of the ten virgins, and He is tarrying. 'And therefore will the bridegroom tarry that he may be gracious unto you, and therefore will he be exalted that he may have mercy on you, for the Lord is a God of judgment. Blessed are all they that wait for Him.' This matches Daniel 12:12: 'Blessed is he who waiteth and cometh to the 1335.' The bridegroom tarries on March 22, 1844. There is a blessing attached to coming to the first disappointment and then waiting. When you get here, you are to wait. What are you waiting for? Habakkuk 2:3 says, 'For the vision is yet for an appointed time, but at the end it shall speak and not lie, though it tarry, wait for it.' The blessing of coming to the 1335 is the blessing of coming to this history, where the Lord will accomplish the Midnight Cry.
Untuk memperjelas lebih lanjut, Yesaya 30:18 berkata, ‘Sebab itu TUHAN menanti-nantikan.’ Di sini, Tuhan adalah mempelai laki-laki dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis, dan Ia sedang bertangguh. ‘Dan sebab itu mempelai laki-laki akan bertangguh, supaya ia berkenan menunjukkan kasih karunia kepadamu, dan sebab itu ia akan ditinggikan, supaya ia mengasihani kamu, karena TUHAN adalah Allah yang menghakimi. Berbahagialah semua orang yang menantikan Dia.’ Hal ini selaras dengan Daniel 12:12: ‘Berbahagialah dia yang tetap menanti dan mencapai 1335 itu.’ Mempelai laki-laki bertangguh pada 22 Maret 1844. Ada suatu berkat yang melekat pada datang kepada kekecewaan pertama lalu menanti. Ketika engkau tiba di sini, engkau harus menanti. Apa yang engkau nantikan? Habakuk 2:3 berkata, ‘Sebab penglihatan itu masih menanti saat yang telah ditetapkan, tetapi pada akhirnya itu akan berbicara dan tidak berdusta; sekalipun itu bertangguh, nantikanlah itu.’ Berkat dari datang kepada 1335 itu adalah berkat dari datang kepada sejarah ini, di mana Tuhan akan menggenapi Seruan Tengah Malam.
Not everyone will be allowed to participate in the Midnight Cry. Some people traveled along with the Millerites not because of their own personal experience with Jesus Christ or personal study of God's Word, but out of fear. Before the Midnight Cry arrives, the Lord separates these brethren from the movement. The first disappointment is part of the process preparing for the Midnight Cry. According to Ellen White, if we do not understand this, we fall off the path to the wicked world below.
Tidak setiap orang akan diizinkan untuk turut ambil bagian dalam Seruan Tengah Malam. Sebagian orang berjalan bersama kaum Milleris bukan karena pengalaman pribadi mereka sendiri dengan Yesus Kristus atau karena penyelidikan pribadi atas Firman Allah, melainkan karena takut. Sebelum Seruan Tengah Malam tiba, Tuhan memisahkan saudara-saudara ini dari pergerakan itu. Kekecewaan pertama merupakan bagian dari proses persiapan bagi Seruan Tengah Malam. Menurut Ellen White, jika kita tidak memahami hal ini, kita akan jatuh dari jalan itu ke dunia fasik di bawah.
The Empowerment of the Second Angel's Message
Pemberian Kuasa kepada Pekabaran Malaikat Kedua
From Early Writings, page 238: 'Near the close of the second angel's message, I saw a great light from heaven shining upon the people of God. The rays of this light seemed bright as the sun, and I heard voices of angels crying, "Behold, the bridegroom cometh."' This was the Midnight Cry, which was to give power to the second angel's message. The pioneers understood that the first angel's message arrived in 1798 but was empowered with the collapse of the Ottoman Empire in 1840. All the messages arrive at a point in time and are thereafter empowered. The second angel's message arrives in March 22, 1844 when the Protestant churches closed their doors against the Millerite message. The Midnight Cry empowers the second angel's message. The third angel's message arrives on October 22, 1844, and is empowered when the mighty angel of Revelation 18 joins it. Every message arrives in history and is thereafter empowered. This is important to understand.
Dari Early Writings, halaman 238: "Menjelang penutupan pekabaran malaikat kedua, aku melihat suatu terang besar dari surga bersinar atas umat Allah. Sinar-sinar terang ini tampak cemerlang seperti matahari, dan aku mendengar suara-suara malaikat berseru, 'Lihatlah, mempelai laki-laki datang.'" Inilah Seruan Tengah Malam, yang memberikan kuasa kepada pekabaran malaikat kedua. Para perintis memahami bahwa pekabaran malaikat pertama tiba pada tahun 1798, tetapi diberi kuasa dengan runtuhnya Kekaisaran Ottoman pada tahun 1840. Semua pekabaran tiba pada suatu titik waktu dan sesudah itu diberi kuasa. Pekabaran malaikat kedua tiba pada 22 Maret 1844 ketika gereja-gereja Protestan menutup pintu mereka terhadap pekabaran Millerite. Seruan Tengah Malam memberi kuasa kepada pekabaran malaikat kedua. Pekabaran malaikat ketiga tiba pada 22 Oktober 1844, dan diberi kuasa ketika malaikat perkasa dari Wahyu 18 bergabung dengannya. Setiap pekabaran tiba dalam sejarah dan sesudah itu diberi kuasa. Hal ini penting untuk dipahami.
The Midnight Cry gave power to the second angel's message. Angels were sent from heaven to arouse the discouraged saints and prepare them for the great work before them. The most talented men were not the first to receive this message. William Miller was not the first to receive this message; quite the opposite, he was the last to receive it. He was the most talented in understanding the message, while Samuel Snow was the first. Those who had formerly led in the work were the last to receive and help swell the cry. Historically, the last person to accept the message of the Midnight Cry was William Miller.
Seruan Tengah Malam memberikan kuasa kepada pekabaran malaikat kedua. Malaikat-malaikat diutus dari surga untuk membangunkan orang-orang kudus yang tawar hati dan mempersiapkan mereka bagi pekerjaan besar yang ada di hadapan mereka. Orang-orang yang paling berbakat bukanlah yang pertama menerima pekabaran ini. William Miller bukanlah yang pertama menerima pekabaran ini; sebaliknya, dialah yang terakhir menerimanya. Ia adalah yang paling berbakat dalam memahami pekabaran itu, sedangkan Samuel Snow adalah yang pertama. Mereka yang sebelumnya memimpin dalam pekerjaan itu adalah yang terakhir menerima dan turut memperbesar seruan tersebut. Secara historis, orang terakhir yang menerima pekabaran Seruan Tengah Malam adalah William Miller.
From The Great Controversy, 376: During the empowerment of the Midnight Cry, about 50,000 left the churches. As Miller's work tended to build up the churches, it was initially regarded with favor, but as ministers and religious leaders decided against the Advent doctrine and desired to suppress all agitation on the subject, they opposed it from the pulpit and denied their members the privilege of attending preaching on the second advent or even speaking of their hope in social meetings. Leaders in the Adventist Church today who forbid the teaching of this message in the church and even in private homes are prefigured here in the Millerite movement.
Dari The Great Controversy, 376: Selama pemberdayaan Seruan Tengah Malam, sekitar 50.000 orang meninggalkan gereja-gereja. Karena pekerjaan Miller cenderung membangun gereja-gereja, pada mulanya hal itu dipandang dengan baik; tetapi ketika para pendeta dan pemimpin agama memutuskan menentang doktrin Advent dan berkehendak menekan segala kegelisahan mengenai pokok tersebut, mereka menentangnya dari mimbar dan menyangkal kepada para anggotanya hak istimewa untuk menghadiri khotbah tentang kedatangan kedua atau bahkan membicarakan pengharapan mereka dalam pertemuan-pertemuan sosial. Para pemimpin dalam Gereja Advent hari ini yang melarang pengajaran pekabaran ini di dalam gereja dan bahkan di rumah-rumah pribadi telah dilambangkan lebih dahulu di sini dalam gerakan Millerit.
Believers found themselves in great trial and perplexity. They loved their churches and were reluctant to separate, but as they saw the testimony of God's Word suppressed and their right to investigate the prophecies denied, they felt that loyalty to God forbade them to submit. Those who sought to shut out the testimony of God's Word could not be regarded as constituting the Church of Christ. Hence, they felt justified in separating from their former connection. In the summer of 1844, about 50,000 withdrew from the churches.
Orang-orang percaya mendapati diri mereka berada dalam pencobaan besar dan kebingungan. Mereka mengasihi gereja-gereja mereka dan enggan memisahkan diri, tetapi ketika mereka melihat kesaksian Firman Allah ditekan dan hak mereka untuk menyelidiki nubuatan-nubuatan disangkal, mereka merasa bahwa kesetiaan kepada Allah melarang mereka untuk tunduk. Mereka yang berusaha menutup jalan bagi kesaksian Firman Allah tidak dapat dipandang sebagai yang membentuk Gereja Kristus. Oleh sebab itu, mereka merasa beralasan untuk memisahkan diri dari persekutuan mereka yang dahulu. Pada musim panas tahun 1844, sekitar 50.000 orang menarik diri dari gereja-gereja.
Miller's Understanding and the True Midnight Cry
Pemahaman Miller dan Seruan Tengah Malam yang Sejati
From Elder Damsteegt's book, Foundation of Seventh-day Adventist Message and Mission, Miller believed that the proclamation of Daniel 8:14 and the first angel of Revelation 14 was the Midnight Cry—'Behold, the bridegroom cometh.' He believed this message was identifying the second coming of Christ. Miller thought the entire history was the Midnight Cry, but Ellen White states the Midnight Cry was accomplished at a specific point. Samuel Snow titled his presentation 'The True Midnight Cry' to distinguish it from the Millerite teaching that the Midnight Cry was the general message.
Dari buku Elder Damsteegt, Foundation of Seventh-day Adventist Message and Mission, Miller percaya bahwa pemberitaan Daniel 8:14 dan malaikat pertama dari Wahyu 14 adalah Seruan Tengah Malam—“Lihatlah, mempelai laki-laki datang.” Ia percaya bahwa pekabaran ini menunjuk kepada kedatangan Kristus yang kedua kali. Miller menganggap seluruh sejarah itu adalah Seruan Tengah Malam, tetapi Ellen White menyatakan bahwa Seruan Tengah Malam itu digenapi pada suatu titik tertentu. Samuel Snow memberi judul presentasinya “Seruan Tengah Malam yang Benar” untuk membedakannya dari ajaran Millerit bahwa Seruan Tengah Malam adalah pekabaran umum.
The most spiritual received the message first, and those who had formerly led in the work were the last to receive and help swell the cry. William Miller, who had led the work from 1833 onward, struggled with the Midnight Cry message when it came in August 1844. He was unsure about separating from the churches and had been teaching another understanding of the Midnight Cry for many years.
Orang-orang yang paling rohaniah menerima pekabaran itu terlebih dahulu, dan mereka yang sebelumnya telah memimpin dalam pekerjaan itu adalah yang terakhir menerimanya serta turut memperbesar seruan itu. William Miller, yang telah memimpin pekerjaan itu sejak tahun 1833 dan seterusnya, bergumul dengan pekabaran Seruan Tengah Malam ketika pekabaran itu datang pada bulan Agustus 1844. Ia merasa ragu mengenai pemisahan diri dari gereja-gereja dan telah mengajarkan pemahaman lain tentang Seruan Tengah Malam selama bertahun-tahun.
William Miller wrote, 'I'd never been positive as to any particular day for the Lord's appearing, believing that no man could know the day and hour. In all my published lectures, it will be seen on the title page, about the year 1843. In all my oral lectures, I invariably told my audiences that the periods would terminate in 1843 if there were no mistake in my calculation, but that I could not say the end might not come even before that time, and that they should be continually prepared. In 1842, some of the brethren preached with great positiveness, the exact year, and censured me for putting in an "if."' In May 1842, the 1843 chart was published, and the brethren told Miller to remove the 'if' from his presentation.
William Miller menulis, 'Aku tidak pernah bersikap pasti mengenai hari tertentu bagi kedatangan Tuhan, sebab aku percaya bahwa tidak seorang pun dapat mengetahui hari dan saatnya. Dalam semua kuliahku yang telah diterbitkan, hal itu dapat dilihat pada halaman judul, sekitar tahun 1843. Dalam semua kuliah lisanku, aku senantiasa mengatakan kepada para pendengarku bahwa masa-masa itu akan berakhir pada tahun 1843 jika tidak ada kesalahan dalam perhitunganku, tetapi aku tidak dapat mengatakan bahwa kesudahan itu mungkin tidak akan datang bahkan sebelum waktu itu, dan bahwa mereka harus senantiasa bersiap sedia. Pada tahun 1842, beberapa saudara memberitakan dengan sangat tegas tahun yang tepat itu, dan mencela aku karena memasukkan sebuah "jika".' Pada bulan Mei 1842, bagan 1843 diterbitkan, dan saudara-saudara itu memberitahukan kepada Miller agar menghapus kata 'jika' dari pemaparannya.
Miller continued, 'The public press had also published that I'd fixed upon a definite day, the twenty-third of April, for the Lord's advent. Therefore, in December of that year, as I could see no error in my reckoning, I published my belief that sometime between March 21, 1843, and March 21, 1844, the Lord would come.' Miller had already concluded the tenth day of the seventh month, and long before Samuel Snow used this conclusion to proclaim the Midnight Cry, Miller had written about it. Miller was the one the Lord used to put together the logic that Samuel Snow employed to identify October 22, 1844.
Miller melanjutkan, “Pers umum juga telah memberitakan bahwa saya telah menetapkan suatu hari tertentu, yaitu tanggal dua puluh tiga April, bagi kedatangan Tuhan. Oleh karena itu, pada bulan Desember tahun itu, karena saya tidak dapat melihat adanya kesalahan dalam perhitungan saya, saya menerbitkan keyakinan saya bahwa pada suatu waktu antara 21 Maret 1843 dan 21 Maret 1844, Tuhan akan datang.” Miller telah lebih dahulu menyimpulkan hari kesepuluh bulan ketujuh, dan jauh sebelum Samuel Snow menggunakan kesimpulan ini untuk memberitakan Seruan Tengah Malam, Miller telah menulis tentang hal itu. Millerlah orang yang Tuhan gunakan untuk menyusun logika yang dipakai Samuel Snow untuk menetapkan 22 Oktober 1844.
Miller wrote, 'During the year 1843, the most violent denunciations were heaped upon me and those associated with me by the press and some pulpits. Our motives were assailed, our principles misrepresented, our characters traduced.' Time passed, and March 21, 1844, went by without the Lord's appearing. The disappointment was great, and many walked no more with them. Before this time, from 1840, there were an estimated 200,000 Millerites, but by this point, only 50,000 remained.
Miller menulis, “Selama tahun 1843, kecaman yang paling keras dilancarkan terhadap saya dan mereka yang bersekutu dengan saya oleh pers dan beberapa mimbar. Motif-motif kami diserang, prinsip-prinsip kami disalahgambarkan, watak kami difitnah.” Waktu berlalu, dan 21 Maret 1844 lewat tanpa kedatangan Tuhan. Kekecewaan itu besar, dan banyak orang tidak lagi berjalan bersama mereka. Sebelum waktu ini, sejak tahun 1840, diperkirakan terdapat 200.000 pengikut Miller, tetapi pada saat ini, hanya 50.000 yang tersisa.
Miller continued, 'Previously to this, in the fall of 1843, some of my brethren began to call the churches Babylon and to urge that it was the duty of Adventists to come out of them. With this, I was much grieved. Not only was the effect very bad, but I regarded it as a perversion of the Word of God, a wresting of the Scriptures.' Miller struggled with the second angel's message, making it more difficult for him to accept the true Midnight Cry message. The practice spread, and the churches were closed against them, creating hostility and separating most Adventists from their respective churches.
Miller melanjutkan, “Sebelum masa ini, pada musim gugur tahun 1843, beberapa saudara saya mulai menyebut gereja-gereja sebagai Babel dan mendesak bahwa adalah kewajiban orang-orang Advent untuk keluar dari gereja-gereja itu. Hal ini sangat mendukakan saya. Bukan saja akibatnya sangat buruk, tetapi saya menganggapnya sebagai suatu penyimpangan dari Firman Allah, suatu pemelintiran Kitab Suci.” Miller bergumul dengan pekabaran malaikat kedua, sehingga hal itu makin menyulitkannya untuk menerima pekabaran Seruan Tengah Malam yang benar. Praktik ini pun meluas, dan gereja-gereja tertutup terhadap mereka, menimbulkan permusuhan dan memisahkan sebagian besar orang Advent dari gereja-gereja mereka masing-masing.
After his published time passed, Miller acknowledged his disappointment regarding the exact period but maintained his faith. He continued his labors at the West during the summer of 1844 until the Seventh Month movement. He had no participation in this movement except for a letter written eighteen months earlier about the Mosaic Law observances pointing to that month. He did not expect that such a use would be made of those topics or that belief in such evidence would become a test of salvation. He had no fellowship with the movement until two or three weeks before October 22, 1844. In a letter to Himes on October 6, 1844, Miller wrote, 'I see a glory in the seventh month which I never saw before... Now, blessed be the name of the Lord, I see a beauty, a harmony, an agreement in the scriptures, for which I've long prayed but did not see until today. Thank the Lord, O my soul. Brother Snow, Brother Storrs, and others, be blessed for their instrumentality in opening my eyes. I'm almost home. Glory, glory, glory, glory.'
Setelah waktu yang telah dipublikasikannya berlalu, Miller mengakui kekecewaannya mengenai masa yang tepat itu, tetapi tetap mempertahankan imannya. Ia melanjutkan pekerjaannya di wilayah Barat selama musim panas tahun 1844 sampai gerakan Bulan Ketujuh. Ia tidak mengambil bagian dalam gerakan ini kecuali melalui sebuah surat yang ditulis delapan belas bulan sebelumnya tentang pemeliharaan Hukum Musa yang menunjuk kepada bulan itu. Ia tidak menduga bahwa pokok-pokok itu akan dipergunakan demikian atau bahwa kepercayaan kepada bukti semacam itu akan menjadi ujian keselamatan. Ia tidak bersekutu dengan gerakan itu sampai dua atau tiga minggu sebelum 22 Oktober 1844. Dalam sebuah surat kepada Himes pada 6 Oktober 1844, Miller menulis, 'Aku melihat suatu kemuliaan dalam bulan ketujuh yang belum pernah kulihat sebelumnya... Sekarang, terpujilah nama Tuhan, aku melihat suatu keindahan, suatu keselarasan, suatu kecocokan dalam Kitab Suci, yang telah lama kudoakan tetapi tidak kulihat sampai hari ini. Bersyukurlah kepada Tuhan, hai jiwaku. Saudara Snow, Saudara Storrs, dan yang lain-lain, diberkatilah karena perantaraan mereka dalam membuka mataku. Aku hampir sampai di rumah. Kemuliaan, kemuliaan, kemuliaan, kemuliaan.'
Afterward, Miller rethought the Midnight Cry, calling it fanaticism. Damsteegt notes that Snow got his basic outline of the Midnight Cry message from Miller's earlier work.
Sesudah itu, Miller meninjau kembali Seruan Tengah Malam itu dan menyebutnya fanatisme. Damsteegt mencatat bahwa Snow memperoleh garis besar dasar pekabaran Seruan Tengah Malam dari karya Miller yang lebih awal.
Snow's calculations, published in March 1844, aroused little attention until the Exeter camp meeting, August 12–17, 1844. There, his exact date for Christ's return stirred many Millerites, bringing their missionary endeavor to a peak. Their response became known as the Seventh Month movement. Although Millerite leaders were initially skeptical, some weeks before the expected event, they joined the movement and allowed Snow's views to be printed and supported.
Perhitungan Snow, yang diterbitkan pada bulan Maret 1844, mula-mula hanya membangkitkan sedikit perhatian sampai pertemuan perkemahan di Exeter, 12–17 Agustus 1844. Di sana, penetapan tanggal yang tepat olehnya bagi kedatangan Kristus kembali menggugah banyak orang Millerit, sehingga usaha misioner mereka mencapai puncaknya. Tanggapan mereka kemudian dikenal sebagai gerakan Bulan Ketujuh. Meskipun para pemimpin Millerit pada awalnya bersikap skeptis, beberapa minggu sebelum peristiwa yang diharapkan itu, mereka bergabung dengan gerakan tersebut dan mengizinkan pandangan-pandangan Snow dicetak serta didukung.
The Midnight Cry and Its Aftermath
Seruan Tengah Malam dan Akibatnya
Ellen White's first vision shows God's people on a path to heaven, with a light behind them called the Midnight Cry. The message Samuel Snow presented needs to be understood. In May 1842, 300 charts were printed for 300 preachers. By March 22, 1844, after the first disappointment, the chart was set aside, and many left the movement. Those who remained were to wait. At the Exeter camp meeting, Snow showed that the Lord would come on October 22, 1844, the Day of Atonement. This impelled them to proclaim the message.
Penglihatan pertama Ellen White memperlihatkan umat Allah berada di suatu jalan menuju surga, dengan sebuah terang di belakang mereka yang disebut Seruan Tengah Malam. Pekabaran yang disampaikan Samuel Snow perlu dipahami. Pada bulan Mei 1842, 300 bagan dicetak untuk 300 pengkhotbah. Menjelang 22 Maret 1844, setelah kekecewaan yang pertama, bagan itu dikesampingkan, dan banyak orang meninggalkan gerakan itu. Mereka yang tetap tinggal harus menanti. Pada perkemahan Exeter, Snow menunjukkan bahwa Tuhan akan datang pada 22 Oktober 1844, Hari Pendamaian. Hal ini mendorong mereka untuk memberitakan pekabaran itu.
Joseph Bates recounted that after the Exeter camp meeting, as he walked through the train cars, he heard voices repeating, 'Behold, the bridegroom cometh!' This movement swept over the United States in two months, leading to the Great Disappointment on October 22, 1844.
Joseph Bates menceritakan bahwa setelah perkemahan kebangunan rohani di Exeter, ketika ia berjalan melalui gerbong-gerbong kereta, ia mendengar suara-suara mengulangi, “Lihatlah, mempelai laki-laki datang!” Gerakan ini melanda seluruh Amerika Serikat dalam waktu dua bulan, yang berujung pada Kekecewaan Besar pada 22 Oktober 1844.
Damsteegt comments on the Low Hampton Conference of Adventists, December 28–29, 1844, involving Himes and Miller. Himes urged comforting the saints, arousing the Christian world, and proclaiming salvation to sinners. A few weeks later, the Advent Press resumed, and Himes declared the door of salvation open. Miller gradually gave up the extreme shut door concept and returned to his original view of the Midnight Cry. In that same month, Ellen White had her first vision, showing that those who reject the Midnight Cry fall off the path. That vision was for William Miller as much as anyone else.
Damsteegt mengomentari Konferensi Adventis di Low Hampton, 28–29 Desember 1844, yang melibatkan Himes dan Miller. Himes mendesak untuk menghibur orang-orang kudus, membangunkan dunia Kristen, dan memberitakan keselamatan kepada orang-orang berdosa. Beberapa minggu kemudian, Advent Press kembali diterbitkan, dan Himes menyatakan bahwa pintu keselamatan terbuka. Miller secara bertahap meninggalkan konsep pintu tertutup yang ekstrem dan kembali kepada pandangannya semula tentang Seruan Tengah Malam. Pada bulan yang sama itu, Ellen White memperoleh penglihatan pertamanya, yang menunjukkan bahwa mereka yang menolak Seruan Tengah Malam jatuh dari jalan itu. Penglihatan itu diperuntukkan bagi William Miller sama seperti bagi siapa pun yang lain.
William Miller's Final Test and Legacy
Ujian Terakhir dan Warisan William Miller
From Early Writings, page 257: "My attention was then called to William Miller. He looked perplexed and was bowed with anxiety and distress for his people. The company who had been united and loving in 1844 were losing their love, opposing one another, and falling into a cold, backslidden state. As he beheld this, grief wasted his strength. I saw leading men watching him, primarily Joshua Himes, and fearing lest he should receive the third angel's message." The third angel's message in this context is the Sabbath. As Miller leaned toward the light from heaven, these men would lay plans to draw his mind away. Human influence kept him in darkness and retained his influence among those who opposed the truth. Eventually, Miller raised his voice against the light from heaven—the Sabbath. He failed to receive the message that would have explained his disappointment and cast light and glory on the past. He leaned on human wisdom instead of divine. Being broken by labor and age, he was not as accountable as those who kept him from the truth. The sin rests upon them. If Miller could have seen the light of the third angel, many things would have been explained. But his brethren professed such deep love for him that he thought he could never tear away from them. God allowed him to fall under the power of death and hid him in the grave from those who drew him from the truth. Moses erred before entering the Promised Land; likewise, Miller erred as he was soon to enter the heavenly Canaan. Others led him to do this; others must account for it. But angels watch the precious dust of this servant of God and will come forth at the sound of the last trumpet.
Dari Early Writings, halaman 257: “Perhatian saya kemudian diarahkan kepada William Miller. Ia tampak bingung dan tertunduk oleh kecemasan serta kesusahan bagi umatnya. Kelompok yang telah bersatu dan saling mengasihi pada tahun 1844 sedang kehilangan kasih mereka, saling menentang, dan jatuh ke dalam keadaan yang dingin dan murtad. Ketika ia menyaksikan hal ini, dukacita menghabiskan kekuatannya. Saya melihat orang-orang terkemuka mengawasinya, terutama Joshua Himes, dan takut jangan-jangan ia menerima pekabaran malaikat ketiga.” Pekabaran malaikat ketiga dalam konteks ini adalah Sabat. Ketika Miller condong kepada terang dari surga, orang-orang ini membuat rencana untuk mengalihkan pikirannya. Pengaruh manusia menahannya dalam kegelapan dan mempertahankan pengaruhnya di antara mereka yang menentang kebenaran. Akhirnya, Miller mengangkat suaranya menentang terang dari surga—Sabat. Ia gagal menerima pekabaran yang akan menjelaskan kekecewaannya dan mencurahkan terang serta kemuliaan atas masa lampau. Ia bersandar pada hikmat manusia, bukan pada hikmat ilahi. Karena telah direnggut kekuatannya oleh kerja keras dan usia lanjut, ia tidak bertanggung jawab sebesar mereka yang menghalanginya dari kebenaran. Dosa itu tertanggung atas mereka. Seandainya Miller dapat melihat terang malaikat ketiga, banyak hal akan dijelaskan. Tetapi saudara-saudaranya mengaku memiliki kasih yang demikian mendalam baginya sehingga ia mengira tidak akan pernah dapat melepaskan diri dari mereka. Allah membiarkannya jatuh di bawah kuasa maut dan menyembunyikannya di dalam kubur dari mereka yang telah menariknya dari kebenaran. Musa bersalah sebelum memasuki Tanah Perjanjian; demikian pula, Miller bersalah ketika ia segera akan memasuki Kanaan surgawi. Orang lain menuntunnya melakukan hal ini; orang lain harus mempertanggungjawabkannya. Tetapi para malaikat menjaga debu yang berharga dari hamba Allah ini dan ia akan bangkit pada bunyi nafiri yang terakhir.
Conclusion: Lessons for Today
Kesimpulan: Pelajaran bagi Masa Kini
In conclusion, William Miller typifies Seventh-day Adventists at the end of the world. Ellen White's first vision is more for our day than for her own. At the end of the world, Seventh-day Adventists will reject the light of the Midnight Cry. The light of the Midnight Cry can only be understood by understanding this history. The first disappointment purged the Millerite movement of those there for the wrong reasons and prepared the people for the testing experience that would lead them into the Most Holy Place. Those who come to the first disappointment are blessed only if they wait for October 22, 1844. This time is designed by God to produce a people He will gather into the Most Holy Place. To reject the Midnight Cry and fall off the path is to reject this entire history.
Sebagai penutup, William Miller melambangkan umat Advent Hari Ketujuh pada akhir dunia. Penglihatan pertama Ellen White lebih ditujukan bagi zaman kita daripada bagi zamannya sendiri. Pada akhir dunia, umat Advent Hari Ketujuh akan menolak terang Seruan Tengah Malam. Terang Seruan Tengah Malam hanya dapat dipahami dengan memahami sejarah ini. Kekecewaan pertama menyucikan gerakan Millerit dari mereka yang berada di sana karena alasan-alasan yang keliru dan mempersiapkan umat itu bagi pengalaman ujian yang akan menuntun mereka masuk ke Tempat Mahakudus. Mereka yang sampai kepada kekecewaan pertama diberkati hanya jika mereka menantikan 22 Oktober 1844. Waktu ini dirancang oleh Allah untuk menghasilkan suatu umat yang akan Ia kumpulkan ke dalam Tempat Mahakudus. Menolak Seruan Tengah Malam dan jatuh dari jalan itu berarti menolak seluruh sejarah ini.
William Miller made three mistakes, and we are always tested by three tests. His first error was rejecting the Midnight Cry in December 1844. His second was listening to men instead of God, which led to his third mistake: rejecting the Sabbath. At the end of the world, Seventh-day Adventists will reject the history of the Midnight Cry and the call to return to the old paths because they listen to their leaders. In so doing, they prepare themselves for the mark of the beast, repeating Miller's three-step testing process, which begins with how they relate to the message and history of the Midnight Cry.
William Miller melakukan tiga kesalahan, dan kita senantiasa diuji oleh tiga ujian. Kekeliruan pertamanya ialah menolak Midnight Cry pada bulan Desember 1844. Kekeliruan keduanya ialah mendengarkan manusia dan bukan Allah, yang menuntunnya kepada kekeliruan ketiganya: menolak hari Sabat. Pada akhir dunia, umat Masehi Advent Hari Ketujuh akan menolak sejarah Midnight Cry dan panggilan untuk kembali ke jalan-jalan yang lama karena mereka mendengarkan para pemimpin mereka. Dengan demikian, mereka mempersiapkan diri mereka bagi tanda binatang itu, dengan mengulangi proses pengujian tiga langkah yang dialami Miller, yang dimulai dari bagaimana mereka berhubungan dengan pekabaran dan sejarah Midnight Cry.
There are only two prophecies that deal with the history from the first disappointment to the second disappointment: the 2300 days ('Though the vision tarry, wait for it') and the 2520. To reject the 2520 is to reject the Midnight Cry. To reject the Midnight Cry is to fall off the path to the wicked world below.
Hanya ada dua nubuat yang berhubungan dengan sejarah dari kekecewaan pertama sampai kekecewaan kedua: 2300 hari (“Sekalipun penglihatan itu berlambat-lambat, nantikanlah itu”) dan 2520. Menolak 2520 berarti menolak Seruan Tengah Malam. Menolak Seruan Tengah Malam berarti jatuh dari jalan itu ke dunia orang fasik di bawah.
We will address this further in the next presentation.
Hal ini akan kami bahas lebih lanjut dalam presentasi berikutnya.